
Telah lama sendiri
Dalam langkah sepi
Tak pernah kukira
Bahwa akhirnya
Tiada dirimu
Di sisiku
Meski waktu datang dan berlalu sampai kau tiada bertahan
Semua tak kan mampu mengubahku
Hanyalah kau yang ada di relungku
Hanyalah dirimu mampu membuatku jatuh dan mencinta
Kau bukan hanya sekedar indah
Kau tak akan terganti
Tak pernah kuduga (tak pernah ku duga)
Bahwa akhirnya (dirimu dirimu oh)
Tergugat janjimu
Dan janjiku (dan janjiku)
Meski waktu datang dan berlalu sampai kau tiada bertahan
Semua tak kan mampu mengubahku
Hanyalah kau yang ada di relungku
Hanyalah dirimu mampu membuatku jatuh dan mencinta
Kau bukan hanya sekedar indah
Kau tak akan terganti (tak akan terganti)
Meski waktu datang dan berlalu sampai kau tiada bertahan
Semua tak kan mampu mengubahku
Hanyalah kau yang ada di relungku
Hanyalah dirimu mampu membuatku jatuh dan mencinta
Kau bukan hanya sekedar indah
Kau tak akan terganti
Kau tak akan terganti
__ADS_1
Ivan tersenyum mendengar alunan lagu yang terdengar dari tape yang mengalun di mobil Rusli yang membawanya pulang menuju rumah mamanya. Dua minggu lagi ia akan menempati rumah barunya. Perasaan bahagia menyelimuti sanubari Ivan. Tak lama lama ia akan bertetangga dengan Khaira dan anak-anaknya. Ia akan berjuang sendiri untuk mengembalikan semua pada tempatnya.
Ia akan bersabar dan selalu meminta pada sang Pemilik Hati agar mengembalikan rasa cinta yang pernah ada pada Khaira untuk menerima dirinya kembali. Ia tak peduli berapa masa yang harus ia habiskan untuk mendapatkan kepercayaan Khaira demi buah hati yang telah mereka miliki.
Saat memasuki rumah, ia mendengar suara gelak tawa memenuhi dapur. Ivan merasa heran, rumah yang biasanya sepi kini terdengar lebih ramai.
“Lha, ini orangnya. Sudah beberapa hari ini tidak kembali ke rumah,” suara Laras mengejutkan Ivan yang baru melangkahkan kakinya ke dapur.
Rasa haus serta penasaran dengan suara tawa membuatnya melangkahkan kaki ke dapur. Ivan terkejut melihat Laura berada di dapur berdua mamanya dan sedang memasak bersama. Tatapan mengarah pada Laura dengan kening berkerut.
Senyum Laras terkembang melihat Ivan yang tak mengalihkan tatapan dari perempuan muda yang kini bersamanya.
“Kamu ingat tante Virna teman arisan mama,” Laras berkata dengan perasaan senang saat melihat Ivan berjalan mendekat, “Laura adalah putri tunggalnya.”
“Aku mengenalnya,” jawab Ivan cepat, “Kami bekerja bersama.”
Laura merasa puas mendengar jawaban Ivan. Tak disangka sebulan yang lalu ia mengikuti mamanya arisan dan bertemu dengan Laras. Ia pergi bersama Bobby. Kebetulan mamanya minta diantar ke mall untuk arisan rutin alumni SMA.
Melihat seorang bocah lelaki, membuat Laras terkenang kembali dengan Bryan, cucunya yang telah pergi. Dari obrolan ringan antara ia dan Laura, akhirnya Laras mengetahui bahwa Ivan mengenal Bobby dan Laura.
“Mama senang kamu pulang hari ini. Kita akan makan malam bersama Laura dan Bobby.” Laras berkata dengan penuh semangat.
Ivan memandang mamanya sekilas. Ia yakin, pasti mamanya mulai merencanakan sesuatu menyangkut masa depannya. Tatapannya beralih pada Laura yang juga memandangnya dengan antusias.
“Mas Ivan kemana sudah berapa hari ini nggak kelihatan di proyek. Bobby juga merasa kangen .... “ Laura berkata dengan manja berusaha menarik perhatiannya.
“Maafkan aku. Kali ini proyek yang ku jalani sangat berat,” jawab Ivan pendek.
“Kita makan malam bersama ya,” pinta Laras, “Bobby lagi tiduran di kamar tamu. Mama senang ia dan Laura main di rumah.”
Ivan menghela nafas pelan. Ia sudah dapat menebak drama yang sedang dipermainkan di hadapannya. Tanpa berbicara ia mengambil air dingin di dalam kulkas. Setelah menghilangkan dahaganya Ivan kembali ke kamar.
“Selamat malam Uncle,” Bobby yang sudah duduk manis di samping Laura menyapanya dengan santun.
“Selamat malam juga Anak pintar,” balas Ivan ramah.
“Uncle udah lama tidak kelihatan, Bobby kangen .... “
Mendengar perkataan Bobby, Ivan mengerutkan kening. Ia tau mulai sekarang harus menjaga jarak aman jika tidak ingin orang lain menyalahartikan sikapny. Tanpa membalas perkataan Bobby ia hanya tersenyum menanggapi.
Perbuatan Ivan tak lepas dari pandangan Laura dan Laras. Ia segera mengambil menu yang terhidang untuk menghindari sikap berlebihan Laura yang terlalu nyata di hadapannya.
Laras hanya menghela nafas melihat sikap dingin yang ditunjukkan Ivan terhadap Laura. Padahal ia mulai berangan untuk segera memiliki mantu baru di rumahnya.
Ivan tidak menanggapi pembicaraan yang terjadi selama makan malam berlangsung. Pikirannya hanya tertuju pada Khaira dan si kembar.
“Apa yang sedang mereka lakukan sekarang ini?” desah Ivan sambil menghela nafas panjang.
Matanya tak lepas dari ponsel yang kini sudah berada dalam genggamannya. Dengan linccah jemarinya mulai mengirim pesan pada Danu. Ia sudah menebak drama yang akan terjadi selanjutnya.
“Alhamdulillah makan malamnya sangat enak,” Laras tersenyum bahagia, “Kamu sangat pandai memasak Laura. Tante senang dengan semua menu yang dihidangkan malam ini.”
“Jika Tante senang, Saya nggak keberatan memasak buat Tante .... “ senyum mengembang di bibir Laura mendengar pujian Laras.
“Mom, besok pagi Bobby les piano .... “ Bobby kelihatan tak bersemangat melihat mamanya yang masih asyik bercengkrama dengan Laras.
Tatapan Laras kembali tertuju pada Bobby, “Besok main ke tempat Eyang lagi ya.”
__ADS_1
“Baik Eyang .... “ Bobby mengangguk pelan.
Ivan menggelengkan kepala dengan drama yang ada. Tapi ia tak mau ambil pusing dengan semua yang terjadi fokusnya hanya satu, dan yang lain non sense.
“Tante, saya dan Bobby pamit pulang. Kasian juga Bobby udah capek seharian,” Laura mulai bangkit dari kursi.
Ia melirik Ivan yang masih tak bergeming dengan ponsel di tangannya. Wajahnya begitu serius memandang ponsel dengan jemari kokohnya yang lincah menulis di sana.
“Van, bisa nganterin Laura dan Bobby pulang. Tadi siang mama yang mengajaknya mampir ke rumah saat bertemu di mall.”
Laura merasa senang mendengar perkataan Laras. Ia yakin sudah mendapat lampu hijau dari perempuan setengah baya itu. Jalan mulus akan ia lalui untuk mendapatkan hati sang duda tajir yang telah mencuri hatinya dan sang putra.
Suara bell di pintu terdengar hingga ke ruang makan. Tak lama terdengar langkah kaki mendekati mereka.
“Selamat malam Bos, Nyonya .... “ saapan Danu mengejutkan Laura dan Laras.
“Malam Danu,” senyum Ivan tergambar di wajah melihat asistennya sudah berdiri di hadapan, “Tolong antarkan nona Laura dan Bobby kembali ke rumah mereka. Setelah itu kamu langsung kembali ke mari. Masih ada beberapa hal yang ingin ku bahas denganmu, untuk proyek kita besok.”
Laras menatap Ivan dengan perasaan kecewa. Harapannya agar Ivan segera membuka hati pada Laura tidak berhasil. Putranya itu begitu kokoh membangun benteng pertahanan diri dari segala usaha yang sudah beberapa kali ia lakukan.
Ia berharap saat bertemu Laura dan Bobby serta mendengar cerita Laura tentang segala kebaikan Ivan dan sikap royal Ivan pada Bobby akan mampu mengobati segala kesedihan yang melanda Ivan. ,
“Biarlah waktu yang akan menjawab semua,” batin Laras sedih.
Ia tidak bisa memaksakan kehendak pada Ivan. Ia sangat hapal dan faham dengan semua sikap dan perilaku Ivan yang tidak mudah tergoyahkan jika sudah memutuskan sesuatu.
“Permisi Tante, mas Ivan .... “ suara Laura terdengar tidak bersemangat saat berpamitan. Ia segera menggandeng Bobby berjalan meninggalkan ruang makan tanpa menoleh lagi.
“Permisi Bos, Nyonya ... assalamu’alaikum .... “ pamit Danu sambil menundukkan kepala dengan sopan.
“Wa’alaikumussalam,” dengan cepat Ivan menjawab.
Ia segera menghabiskan air putih yang terhidang di atas meja dihadapannya. Segala perbuatannya tak lepas dari pandangan Laras. Ivan tidak ingin membuka percakapan lagi dengan mamanya.
“Jika Danu kembali, aku akan menunggunya di ruang kerja,” pamit Ivan pada Laras yang masih memandangnya dengan raut kesedihan.
“Baiklah,” Laras hanya berkata pelan.
Ia tidak ingin mengganggu Ivan dengan perkataan yang tidak bermanfaat. Ia tau, sekarang ini putranya sedang menyelesaikan proyek pembuatan rumah sakit kanker anak, karena dedikasinya atas kepergian Bryan. Di tambah lagi perasaan menyesal Ivan dengan kepergian Khaira dari rumah mereka, tentu tidak mudah bagi Ivan untuk memulai semua dari awal. Dan ia menyadari semuanya.
Sepanjang perjalanan menuju rumah Laura, terjadi keheningan di dalam mobil. Laura masih memikirkan cara untuk mengambil hati Ivan. Ide cemerlang muncul di kepalanya. Kenapa ia tidak memanfaatkan asisten Ivan saja. Pasti Danu tau banyak tentang kehidupan Ivan.
“Bos anda sangat tertutup,” Laura memberanikan diri membuka percakapan dengan Danu yang tampak diam seribu bahasa, “Aku menyukai lelaki pendiam seperti dia.”
Danu mencibir. Untung saja lampu di dalam mobil tidak menyala, jadi Laura tidak melihat raut wajahnya.
“Aku yakin kamu tau kehidupan pribadi mas Ivan .... “ Laura berusaha mengajak Danu berbicara, “Aku mendengar bahwa ia berduka karena kepergian putranya. Mas Ivan juga berpisah dengan istrinya karena kepergian putranya.”
Danu diam tak bergeming. Ia malas menanggapi omongan perempuan yang sok tau dengan kehidupan pribadi bosnya.
“Mas Danu .... “ Laura menyentuh bahu Danu yang duduk di depannya.
“Ya .... “ Danu terpaksa menjawab panggilan Laura. Padahal sebenarnya ia merasa malas, apalagi setelah Ivan menceritakan semua permasalahan yang ia hadapi.
“Mas bisa bantu aku mendekati mas Ivan kan?” ujar Laura pelan, “Aku sangat bersimpatik dengan keadaannya.”
“Maafkan saya Nyonya,” Danu menyela dengan cepat, “Saya tidak bisa mencampuradukkan masalah pribadi dengan masalah kerjaan.”
__ADS_1
Laura merasa tidak senang mendengar ucapan Danu. Ia terdiam hingga akhirnya mobil berbelok memasuki komplek perumahan tempat ia tinggal bersama kedua orangtuanya semenjak perceraian terjadi antara ia dan Dedi suaminya.