Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 220 S2 (Sidang Keluarga)


__ADS_3

Khaira terpaku melihat Ariq, Ali, Fatih, Hasya dan Valdo berada di rumahnya sesore itu. Biasanya kedatangan mereka bersama keluarga besar, tapi kali ini tidak. Khaira yakin saudaranya telah mengetahui kebenaran tentang Ivan. Ia pasrah menghadapi semua.


Ia baru selesai melaksanakan salat Asar.  Berdasarkan chatnya siang tadi, Ivan akan kembali jam 3 sore ini. Ia tidak bersemangat seperti biasa menyambut kedatangan suaminya. Hatinya masih sakit, perasaannya belum menerima kebenaran tentang Ivan.


Semalamam ia telah menumpahkan air mata setelah mengetahui fakta yang disembunyikan Ivan darinya. Di hari jadinya yang ke-29, bukan hadiah istimewa yang ia dapat dari suaminya seperti tahun-tahun sebelumnya, tetapi kado yang benar-benar menyakitkan. Seperti langit runtuh yang menimpa kepala,  benar-benar berat bagi Khaira.


“Tabahkan dirimu ya, dek …. “ Hasya langsung memeluknya begitu Khaira menghampiri kelimanya di ruang keluarga.


Bibir Khaira terasa terkunci. Ia sudah tidak mampu berkata lagi. Air mata langsung terjun bebas membasahi wajahnya. Ia memeluk tubuh Hasya dengan erat untuk memberikan kekuatan pada hatinya yang rapuh.


“Kita akan berbicara langsung dengan Ivan. Aku tau dia akan kembali sore ini,” Ariq berkata pelan.


Ia menatap wajah Khaira yang sembab. Walau tak terucap, ia yakin adiknya telah mengetahui kenyataan sebenarnya. Feeling  seorang istri biasanya lebih sensitif terhadap sesuatu yang terjadi dalam rumah tangganya.


“Aku pasrah menjalaninya mas …. “ setelah bisa menguasai diri, akhirnya Khaira berkata dengan suara parau.


Ariq mengangguk pelan, “Kami tidak akan memaksamu. Yang menjalani kamu sendiri. Tapi kami tidak akan membiarkanmu menderita menjalani semua ini sendirian.”


“Ivan telah mengantar keduanya ke apartemen yang telah ia beli atas nama Claudia,” Ali menutup ponselnya sambil berkata dengan wajah serius, “Mereka telah tiba satu jam yang lalu.”


Khaira menggigit bibir menahan kepedihan hatinya. Sebegitu besar perhatian yang diberikan Ivan pada mereka. Haruskah Khaira tetap bertahan  dan menjadi orang ke-empat diantara Ivan dan keluarga kecilnya. Kalau bertahan, seperti ia menggenggam bara api dalam pernikahannya.


Tepat jam 5 Ivan tiba di rumahnya.  Saat memasuki halaman ia terkejut beberapa buah mobil terparkir di rumah. Ia membuka ponsel dan melihat tanggal yang tertera di sana.


“Astaga, aku telah melupakan ulang tahun Rara,” Ivan membatin dengan perasaan berkecamuk.


Bagaimana mungkin ia melupakan hari penting istrinya. Padahal tahun-tahun sebelumnya mereka selalu merayakan berdua dengan pelesiran atau liburan spesial. Ia dapat membayangkan wajah cemberut Khaira, apalagi ia tidak menyiapkan apa pun untuk kado spesial bagi istrinya.


Begitu memasuki ruangan Ivan terkejut. Iparnya sudah duduk dengan wajah tak bersahabat saat memandangnya. Ia menatap Khaira yang tampak tak bersemangat.


“Sayang …. “ tanpa mengganti pakaian, Ivan langsung menghampiri sang istri.


Khaira langsung mengulurkan tangannya meraih tangan Ivan dan menciumnya penuh kesedihan. Ia mengambil travel bag yang tergeletak di samping kursi, dan membawanya langsung ke kamar.


Melihat Khaira yang diam tak berbicara membuat Ivan merasa heran. Tanpa mempedulikan pandangan tajam sanak iparnya Ivan mengikuti langkah Khaira ke kamar.  Begitu sampai di kamar ia langsung mengurung istrinya.


Hasratnya yang sudah sampai di ujung kepala sudah tidak bisa ia tunda. Ivan tidak mempedulikan keberadaan saudara Khaira yang menunggu di bawah, Ivan segera menuntaskan hasratnya selama 5 hari berjauhan dengan sang istri.

__ADS_1


Berusaha menyembunyikan kesedihan  Khaira melayani keinginan Ivan, walau hatinya kini terasa hambar. Ia akan sangat berdosa jika menolak keinginan sang suami.


Setelah keinginannya terpenuhi Ivan memberikan kecupan hangat di kening istrinya. Ia dapat melihat raut wajah sendu Khaira, tapi karena badannya sudah terasa lengket Ivan mengenyampingkan keinginanannya untuk bertanya pada Khaira. Ia segera melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Air mata Khaira menetes perlahan begitu pintu kamar mandi sudah tertutup. Dengan berbagai perasaan yang bercampur baur ia segera membereskan tempat tidur yang berantakan akibat ulah suaminya.


Senyum sinis terpancar di wajah saudara Khaira begitu Ivan turun kembali menemui  mereka. Tidak enak juga bagi Ivan mengurung dirinya dan Khaira terlalu lama di kamar.  Masih ada waktu nanti malam pikirnya saat teringat bahwa masih ada saudara Khaira yang bertamu.


“Sampai kapan kau akan menyembunyikan semua fakta ini dari kami?” Ariq langsung memberondong Ivan dengan pertanyaan yang sudah ia siapkan sejak awal.


Ivan mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan  Ariq.  Pikirannya belum sinkron karena saat tiba di rumah keinginannya hanya satu menuntaskan kerinduan dan hasrat di dada ketika bertemu sang istri.


Dengan langkah pelan Khaira berjalan mendekat. Tangannya membawa amplop besar yang diberikan Sandra saat menemuinya tadi siang. Ia menghempaskan tubuhnya duduk di samping Ivan berhadapan dengan ipar-iparnya dan Valdo.


“Kamu tidak selamanya bisa menyembunyikan fakta tentang Bryan Alexandra putramu dan Claudia,”  Ariq berkata dengan suara tajam.


Ivan langsung terhenyak. Ia tidak menyangka kebenaran ini akan langsung diungkap sebelum ia membicarakan dengan istrinya. Bahkan iparnya langsung menyidangnya. Ia mengalihkan pandangan pada  Khaira yang menatapnya dengan mata  penuh luka. Ini yang ia khawatirkan. Ia tak bisa melihat istrinya bersedih. Tapi semua sudah terjadi.  Ia harus menjelaskan semua rencana yang sudah ia susun selama di rumah sakit mendampingi Bryan. Ia tidak  bisa memilih salah satu diantara keduanya.


“Sayang, kamu harus percaya padaku …. “ Ivan meraih tangan istrinya.


Ivan menggenggam tangan istrinya erat, “Ini bukan kesalahanmu. Semua adalah masa lalu.  Takdir yang sudah tidak bisa ku hindari. Kita akan bersama menghadapi semua ini."


“Entah masih berapa banyak lagi anakmu yang berada di luaran sana,” Ali turut menyampaikan pendapatnya.


“Kalian boleh memakiku, tapi jangan menghakimi anakku. Dia tidak bersalah,” Ivan menjadi kesal karena Bryan jadi terlibat dalam masalah kali ini.


Sedangkan ia baru saja merasa lega, karena kondisi Bryan semakin membaik. Tinggal mencari donor untuk melakukan tranplantasi sum-sum tulang belakang, maka dipastikan akan semakin mempercepat kesembuhan Bryan seperti manusia normal lainnya.


“Itulah yang ku khawatirkan dari awal,” Ariq langsung memotong perkataan Ivan, “Aku tidak memaksa, sekarang keputusan ada di tangan kalian berdua.”


Khaira menekan dadanya dengan kuat. Bayangan tentang foto-foto kebahagiaan yang ditampilkan wajah Ivan bersama Claudia dan Bryan membuatnya merasa sesak. Ia tidak siap jika harus berbagi dengan perempuan lain. Lebih baik ia yang mundur demi kebahagiaan mereka.


Apa lagi mengingat Ivan telah memberikan fasilitas mewah bagi Claudia dan anaknya. Itu memang hal yang wajar, mengingat Claudia adalah ibu dari putra yang sangat ia inginkan.  Tapi kebohongan Ivan yang  menyembunyikan semuanya dan tidak menceritakan dari awal,  yang membuat Khaira semakin terluka.  Untuk apa bertahan  jika pada akhirnya Ivan akan memilih Claudia, karena ada anak diantara mereka.


“Sangat menyedihkan kami mengetahui hal ini dari orang lain,”  Hasya mulai berkata sinis, “Apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan istrimu mengetahui kamu memberikan segala fasilitas untuk perempuan masa lalumu, bahkan melewatkan malam ulang  tahun ade hanya untuk menyenangkan mereka.”


“Putraku sakit. Dan aku tidak mungkin membiarkannya,” Ivan berkata cukup keras, “Terserah apa pendapat kalian, aku tidak mungkin membiarkan putraku satu-satunya menjalani semua ini sendiri. Aku akan mengusahakan semua yang terbaik untuk putraku."

__ADS_1


“Baiklah mas. Sekarang keputusan ada di tanganmu. Fokuslah untuk kesembuhan Bryan putramu.” Khaira berkata dengan suara bergetar.


Ivan tertegun. Ia menatap Khaira yang kini semakin pasrah dengan matanya yang penuh butiran air yang mengalir terjun bebas.


“Sayang …. “ Ivan tidak menyangka Khaira menyerahkan semua padanya.


“Aku tau, kamu akan memberikan keluarga yang utuh pada Bryan.” Khaira berkata pelan sambil menghapus air mata yang tak berhenti mengalir, “Kamu lelaki yang bertanggung jawab, biar aku yang mundur. Aku merelakan jika terjadi perpisahan antara kita. Apalagi ada anak antara mas dan Claudia. Putra yang sangat mas Ivan dambakan dan akan menjadi pewaris dan penerus keturunan mas Ivan …. “


Karena serius membahas masalah Ivan, mereka tidak menyadari kehadiran Marisa yang tiba-tiba datang di sore itu.


Marisa mendengar cerita Ila bahwa hari ini saudara Khaira akan  mengunjungi rumah Ivan untuk merayakan ulang tahun Khaira.


“Dasar anak-anak. Mereka tidak memberitahuku kalau ada acara di kediaman Rara,” Marisa mulai bersiap, “Tolong ambilkan pakaian terbaikku. Aku harus mengucapkan selamat ulang tahun pada Rara dan memberikan doa terbaik untuknya dan Ivan demi kebahagiaan rumah tangga mereka.”


Dengan penuh semangat Marisa berdandan. Ia sendiri merasa heran, biasanya Hasya dan Valdo-lah yang datang menjemputnya untuk pergi  mengunjungi Khaira dan Ivan. Sudah lama juga mereka tidak berkumpul bersama.


“Kamu tak usah ikut,” Marisa mencegah Ila yang ingin mendampinginya pergi ke rumah Khaira.  Ia benar-benar merasa sehat sore ini.


Tapi begitu tiba di ruang keluarga, ia tidak menyangka mendengar pembicaraan yang membuatnya  terkejut  dan seperti dihantam badai  seketika.


“Ivan memiliki seorang putra dan membiayai perempuan lain?” Marisa tidak bisa menahan diri lagi saat berhadapan dengan cucu-cucunya.


“Oma …. “ Fatih langsung berlari melihat Marisa  yang menekan dadanya dengan posisi tubuh langsung jatuh.


Untung saja Valdo pun bergerak cepat membantu Fatih menahan tubuh Marisa yang sudah tidak bertulang mendengar berita yang membuatnya kehilangan kekuatan.


Sontak ruangan yang tadinya panas menjadi semakin tegang karena Marisa langsung terdiam dengan wajah kaku.


“Oma …. “ Khaira langsung menjerit melihat Marisa yang kaku tak bergerak.


“Cepat. Kita langsung ke rumah sakit terdekat.” Ariq langsung memberi komando.


Kini semuanya terdiam menunggu dr. Abimanyu, Sp. JP., yang telah menangani Marisa di ruang ICU. Ali tampak tegang. Ia berdiri mondar-mandir menunggu di depan ruang IGD.


 


*** Eng ing eng ....  apa yang terjadi reader. Pantau terus ya.  Jangan marah sama author . Kita sedihnya berjama'ah.  Dukung\, kritik saran dan vote-nya. Aku pada kalian semua sayang ..... ***

__ADS_1


__ADS_2