
Setelah Adi merasa agak tenang, karena telah mencurahkan kegundahan hatinya, ia meminta Johan untuk kembali ke kantor. Begitu Johan hilang dari hadapannya, Adi hendak kembali ke ruang inap Helen. Saat ia berjalan menuju ke paviliun Anggrek, tempat Helen dirawat, ia melihat Faiq menggendong Hasya yang diikuti Hani serta Gigi. Wajah mereka menunjukkan kekhawatiran. Ia belum berani mendekati hanya melihat dari kejauhan. Setelah mengetahui ruang inap Hasya, Adi kembali ke paviliun Helen.
Adi memasuki ruangan tempat Helen di rawat, dan melihatnya masih terlelap dibawah pengaruh obat tidur. Linda sedari tadi sudah meninggalkan rumah sakit. Adi menatap wajahnya dengan perasaan yang sulit diartikan. Mengetahui kebohongan yang dilakukan Helen, membuat jiwa lelakinya merasa terluka.
Taklama kemudian terdengar desahan Helen. Dengan perlahan ia membuka mata. Yang pertama ia lihat tampak sosok Adi yang bersandar di sofa dengan mata terpejam. Helen meraba perutnya. Ia terpaku, tidak ada lagi tonjolan yang mulai terasa di perut rampingnya.
“Apakah janinku hilang lagi..” Helen berguman dalam hati. Kesedihan langsung mendera di jiwanya. Teringat Gilang membuat kemarahan menggelegak di dadanya. Ia menyalahkan Gilang atas keguguran kandungannya kali ini.
Helen mengalihkan pandangan pada Adi yang nampak lelah di sofa. Dengkuran halus terdengar sampai ke telinga Helen. Ia tidak tau apa yang harus ia lakukan sekarang. Jika Adi tau kebenarannya, ia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Sementara janin yang ada dalam kandungannya adalah harapan terakhir untuk bersama Adi. Helen sadar, usianya sudah tidak muda, ditambah riwayat kehamilan yang telah disampaikan Sari membuatnya merasa gentar.
“Mas…” Helen memanggilnya dengan lirih. Rasa perih terasa di bawah perutnya. Ia meringis merasakan kesakitan di bawah sana.
Adi yang masih terlelap mendengar sayup-sayup suara membuatnya terbangun dari tidur. Ia segera membuka mata. Tampak Helen kesakitan berusaha bersandar di tepi ranjang. Dengan pelan Adi bangkit dari sofa dan berjalan mendekati Helen. Tanpa banyak bicara ia membetulkan posisi sandaran Helen dengan mengatur posisi tempat tidur.
Helen menyadari sikap Adi yang tampak dingin dan tak banyak bicara. Ia pun tak berani membuka percakapan. Ia hanya membiarkan ketika Adi mulai menyusun dua buah bantal di belakang Helen. Kemudian ia kembali ke sofa, dan mulai membuka ponselnya. Helen hanya menghela nafas.
“Aku akan ke kantor, masih ada meeting dengan beberapa klien. Seorang perawat akan menemanimu.” Akhirnya Adi bangkit dari sofa begitu membaca chat dari Johan. Tanpa menoleh ke belakang ia langsung meninggalkan ruangan itu.
“Selamat sore, nyonya…” seorang perawat yang usianya lebih muda dari Helen memasuki ruangan sambil membawa menu makan siang. “Tuan Aditama meminta saya untuk mengurus anda selama masih menjalani perawatan di sini. Nama saya Idayanti, panggil saja Ida.”
Helen tercekat. Adi tidak memberinya kecupan sayang seperti yang selama ini selalu ia lakukan saat akan meninggalkannya bekerja. Ia khawatir Sari telah menceritakan rahasia yang telah ia tutupi puluhan tahun.
“Nyonya harus makan sekarang agar kondisinya segera pulih.” Ida mendekatkan nasi lengkap dengan sayur dan lauk serta buah-buahan.
Helen menelan ludah dengan getir. Ia benar-benar merasa sebatang kara sekarang. Mamanya telah lama meninggal dunia semenjak dia SMP. Papanya tinggal di Australia dengan keluarga barunya, sementara hubungan ia dan Linda tidak seperti yang orang lain kira. Dengan susah payah Helen berusaha menelan makanan melalui tenggorokan. Ia harus berusaha menarik simpati Adi, agar ia mampu bertahan hidup di belantara metropolitan yang sangat kejam.
Masih di rumah sakit, ternyata Adi tidak berangkat ke kantor, melainkan mencari kamar Hasya yang dirawat inap. Ia menghubungi Lilian seorang dokter Anak yang merupakan sepupu jauhnya dan kebetulan bekerja di rumah sakit itu. Setelah mendapat informasi tentang keberadaan kamar Hasya, Adi segera menuju lift untuk kembali ke lantai dua.
__ADS_1
Di depan ruangan yang sudah ia yakini keberadaan Hasya, tanpa mengetuk terlebih dahulu Adi langsung masuk. Ia tak bisa menahan perasaannya ingin mengetahui keadaan si mungil. Kini harapannya hanya pada darah dagingnya yang kini bersama Hani.
Hani masih terpaku memandang wajah Hasya yang kini tertidur pulas setelah mendapatkan penanganan dari dokter anak. Sore nanti hasil observasi Hasya baru keluar. Hani bersyukur ketika mengetahui Hasya demam tinggi, ia masih di rumah. Perasaannya tidak enak, karena sedari pagi Hasya kelihatan lesu tidak aktif dan lincah seperti biasa.
Setelah makan siang, Hani kembali melihatnya di kamar. Ternyata Hasya masih tergolek baring memeluk boneka kelincinya. Hani langsung meletakkan tangannya di dahi Hasya. Ia terkejut, panasnya semakin meninggi.
“Astaghfirullahaladjim. Mbak Lina….” Dengan gopoh Hani langsung menggendong Hasya yang masih tergolek lemah.
Mendengar panggilan majikannya Lina yang masih di dapur menyelesaikan makan siang langsung berlari kecil menghampiri Hani.
“Apa yang terjadi, bu?” Lina buru-buru mengelap mulutnya yang masih belepotan sisa makanan dengan tissue.
“Kita harus bawa dedek ke rumah sakit sekarang.”
Faiq yang kebetulan mampir untuk makan siang bersama terkejut melihat Hani yang kesulitan menggendong Hasya.
“Suhu badannya tinggi. Kami akan ke rumah sakit.” jawab Hani cepat.
“Baiklah. Aku akan mengantar kalian.”
Disinilah ia berada. Tangannya tak melepaskan genggaman pada si mungil. Air matanya menetes mengalir membasahi pipinya yang tirus. Faiq baru saja pergi, karena ada keperluan di kantor yang belum ia selesaikan, dan berjanji akan menemaninya menjaga Hasya sepulang kerja. Sedangkan Gigi harus menjemput Fery yang baru kembali dari Bali.
Zikir tak putus-putus Hani lantunkan dari bibirnya. Ia memohon kepada sang Kuasa agar segera mengangkat penyakit putrinya. Ia tak tega melihat si mungil yang super aktif kini terbaring dalam keadaan lemah tak berdaya. Tangannya tak lepas menggenggam jemari montok yang terbalut jarum infus.
Hani tidak menyadari bahwa Adi telah berdiri di belakangnya. Pemandangan di depannya membuat dada Adi bergetar hebat. Kakinya terasa lemah. Ia jatuh terpuruk di belakang Hani, membuat Hani terkejut.
“Maafkan atas kesalahanku selama ini, Han…” Adi berkata dengan suara parau. Tak kuasa airmatanya menetes, hal yang tak pernah ia alami. Kini ia benar-benar emosional. Keegoisannya telah runtuh tak bersisa dalam dadanya. “Tuhan telah memberikan hukuman padaku.”
__ADS_1
Hani terkesiap mendengar perkataan Adi. Dadanya bergemuruh menahan kesakitan yang selama ini berusaha ia sembuhkan. Betapa mudah Adi meminta maaf setelah sekian lama membiarkan ia dan anak-anak berjuang sendirian. Ia diam tak bergeming.
“Tidakkah kau bisa memaafkanku. Aku ingin kita berkumpul kembali. Hanya kita dan anak-anak.” Rasa percaya diri Adi muncul kembali melihat Hani yang diam. Ia berusaha bangkit dan berjalan menghampiri Hani dan berdiri tepat di sampingnya.
Tangan kekar Adi hendak meraih jemari Hani yang membelai tangan Hasya, dengan cepat Hani mengalihkan tangannya. Matanya tetap memandang wajah polos Hasya yang tenang dalam tidurnya. Ia tidak membenci Adi, karena rasa itu telah ia kubur, karena membiarkan perasaan benci, berarti rasa cinta pasti masih ada. Karena benci dan cinta hanya setipis kain yang bisa sobek setiap saat. Walaupun Adi berada di hadapannya, ia hanya menganggapnya orang asing.
“Sebesar apa kemarahanmu, hingga tak bisa memaafkanku…” Adi menatap Hani dengan lekat. Ia memang belum mengerti sifat asli Hani. Walaupun mereka berumah tangga hampir 4 tahun, tetapi kesibukan tak membuatnya dekat dan mengenal watak perempuan yang kini hanya sebagai mantan istrinya.
Ruangan hening sejenak. Hani tetap mengunci mulutnya. Ia malas berbasa-basi untuk urusan yang tak penting. Zikir dalam hati semakin ia perpanjang. Di tambah doa-doa yang ia panjatkan untuk kesembuhan putrinya serta menenangkan diri menghadapi sang mantan.
Rasa sesak hinggap di dada Adi melihat kebekuan perempuan di sampingnya. Begitu parahkah luka hati yang ia torehkan, sehingga perempuan itu tak mengeluarkan suara lembut penuh kasih yang dulu selalu keluar dari bibir mungilnya.
Pintu ruangan terbuka. Keduanya menoleh serempak. Hanif yang berjalan diiringi Wulan terkejut melihat keberadaan Adi ruang ponakannya.
“Apa yang anda lakukan disini, tuan Aditama Prayoga?” sinis Hanif dengan raut tak senang melihatnya berusaha mendekati saudari dan ponakannya.
“Aku hanya ingin melihat keadaan putriku.” Jawab Adi tenang. Jemarinya menyentuh rambut kriwil Hasya dan membelainya dengan lembut. Baru kali ini Adi dapat menyentuhnya, selama ini selalu penolakan yang ia terima dari putri cantiknya itu.
“Cih, bukankah anda sendiri yang membuangnya. Jadi untuk apa anda menjilat ludah sendiri?” Hanif berkata dengan geram. Sampai saat ini dendamnya atas perlakuan Adi terhadap kembarannya masih sangat kuat. Rasanya ia belum puas jika tidak memaki bahkan membuat hancur wajah tampan didepannya itu.
“Dek…” Hani menggelengkan kepala mendengar suara Hanif yang mulai meninggi. Ia khawatir Hasya yang masih dibawah pengaruh obat akan terganggu mendengar suara mereka. “Bawalah tuan ini keluar dari ruangan. Mbak khawatir dede terbangun…”
Mendengar ucapan Hani tanpa keinginan untuk menyebut namanya membuat Adi tertegun, Hani hanya menganggapnya sebagai orang asing. Ia begitu terpukul melihat sikap Hani yang tidak mempedulikannya.
“Baiklah.” Hanif mengangguk menyetujui perkataan Hani. “Mari tuan Aditama Prayoga, lebih baik kita mencari tempat yang tenang.”
__ADS_1