Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 125 S2 (Lamaran)


__ADS_3

Abbas masih memberikan intruksi pada Budi serta Rani chef utama di kafe ‘Damai Bersama’  miliknya dan Khaira. Mereka sengaja memilih nama itu dengan harapan siapa pun yang mampir akan selalu langgeng dan damai dengan pasangan masing-masing.


Abbas tak peduli dengan cibiran Ivan. Mantan bosnya itu tidak hanya kelakuannya yang buat ia pusing tapi mulutnya juga cabe level 10. Saat awal membaca plang nama kafe ia tertawa meremehkan. Karena  sudah hapal dengan kelakuan Ivan, Abbas menebalkan telinga agar tak terpancing dengan perkataan Ivan.


Belum selesai pembicaraan ketiganya, tanpa mengetuk pintu Ivan langsung ngeloyor dan duduk di sofa tepat di samping Abbas.


“Wah, lagi meeting ya?” Ivan nyengir di samping Abbas, “Minta kopi.”


“Kita cukupkan sampai di sini,” Abbas  mengakhiri pertemuan mereka dan memberi isyarat dengan matanya agar keduanya segera berlalu dari ruangan tak lupa dengan gerakan agar permintaan Ivan segera disiapkan.


Keduanya memahami isyarat yang diberikan Abbas dan menganggukkan kepala berbarengan. Semua pegawai Abbas sudah paham dengan kelakuan bos besar Ivan yang sering tak kenal waktu datang ke ruangan kerja bosnya.


“Baiklah. Mulai besok menu baru akan launching,” ujar Rani bersemangat, “Kami permisi bos.”


Sepeninggal kedua staf andalan sahabatnya, Ivan langsung tertawa lebar. Ia sadar kehadirannya pasti mengganggu  Abbas, tapi mana ia peduli.


“Bos bagi kopi, ha ha ha ….”


“Dasar teman gak ada akhlak.” Abbas masih serius membenahi kertas-kertas coretan beberapa menu pilihan yang tadi mereka godok bersama.


Rani kembali dengan dua cangkir kopi hitam beserta chesee chake yang tampak mengundang selera.


“Makasih Ran,” ujar Abbas pelan dan mengulurkan berkas yang telah disusunnya, “tolong simpan di atas meja kerjaku.”


Rani menganggukkan kepala dan menyambut berkas dari Abbas dan langsung menyimpannya di meja kerja Abbas.


“Ngapain siang-siang kemari? Apa nggak ada kerjaan?” tanya Abbas pelan sambil menyandarkan punggungnya di sofa untuk mencari posisi nyaman.


“Aku tau nanti malam kamu akan lamaran dengan gadis antah berantah itu. Roni sudah mempersiapkan semuanya,” Ivan berkata dengan santai.


Ia langsung menghubungi Roni untuk membawa semua perlengkapan yang telah ia persiapkan untuk sahabatnya itu.


Abbas terpana melihat 10 orang diantaranya Roni yang membawa parcel indah ke dalam ruangan kantornya. Ia melongo melihat ruangan jadi penuh sesak dengan barang-barang hantaran yang sungguh di luar dugaannya.


“Apa-apaan ini?” Abbas bertanya dengan heran sambil melihat semua pernak-pernik hantaran yang berada di hadapannya.


“Untuk sementara hanya ini yang dapat ku persiapkan untukmu,” jawab Ivan santai, “Aku yakin kamu pasti belum mempersiapkan apa pun.”


Apa yang dikatakan Ivan memang 100 % benar. Abbas memang belum mempersiapkan apa pun. Ia baru ingin keluar setelah berbicara dengan Budi dan Rani. Ia berniat mengajak ibunya yang kebetulan hari ini tidak bertugas di rumah Marisa untuk mempersiapkan beberapa hadiah kecil yang akan mereka bawa dalam kunjungan mereka nanti malam.


“Apa nggak terlalu berlebihan?” Abbas menggelengkan kepala tak percaya melihat barang seserahan yang serba branded.


“Roni yang mempersiapkan ini semua. Aku banyak berhutang budi dengan kalian berdua. Dan aku akan membantu semampuku untuk acara kalian,” ujar Ivan seraya  meraih kopi dan sekali tegukan langsung habis.


“Saya kembali ke kantor.” Roni langsung pamit tak lupa menyalami Abbas, “Selamat untuk acara lamaranmu malam ini.”


“Terima kasih.” Abbas menyambut salam Roni dengan sumringah, “Semoga kamu segera menyusul.”


“Aku nggak mungkin mendahului bos selama masih jadi anak buahnya,” Roni berkata tanpa semangat sambil mengerling Ivan yang tampak santai memainkan ponsel, dan kebetulan ia juga belum menemukan calon yang tepat.


“Ku doakan kalian berdua bersama melangkah ke pelaminan,” doa tulus Abbas.


Ia mengikuti Roni hingga ke luar ruangan. Setelah mengantar Roni ke depan, Abbas kembali ke dalam ruangan dan melihat Ivan yang tampak termenung memandang ponselnya.


“Kelihatan ada masalah hingga wajah kusut seperti ini,” Abbas memandang Ivan yang masih dalam mode kening berkerut.


Ivan menghela nafas berat. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil menyandarkan tubuh di  sofa.


“Mama memintaku membawa menantu untuknya. Jika dalam 6 bulan tidak berhasil, mama akan menjodohkanku dengan putri rekan bisnisnya.”

__ADS_1


“Hua ha ha …. “ Abbas tak bisa menahan tawanya. Baru kali ini ia berani menertawakan mantan bosnya itu.


“Jangan mengejekku, ku doakan pernikahanmu tidak berjalan lama,” cetus Ivan asal.


“Hei, jangan berkata seperti itu.” Abbas terkejut mendengar ucapan Ivan.


“Aku sedang pusing. Aku nggak mungkin mengenalkan Sandra pada mama.”


“Kenapa tidak mungkin? Bukankah kamu dan Sandra sepasang kekasih dan saling mencintai?”


Ivan tertawa sumir, “Bukankah kamu sudah tau kalau aku paling malas untuk berkomitmen. Menikah dengan orang yang kucintai …. aku sendiri tidak yakin apa itu cinta. Tidak ada cinta diantara kami. Hanya dua manusia dewasa yang saling membutuhkan.”


“Tapi setidaknya pikirkan tante Laras. Di usia sekarang ini mungkin beliau ingin melihat kamu bahagia. Setidaknya kamu ada yang mengurus.”


“Kau pikir aku tidak bahagia dengan kehidupanku sekarang?” Ivan menatap Abbas dengan raut tak senang, “Uang bisa mengatur segalanya.”


“Lantas kenapa gelisah kalau kehidupanmu sekarang cukup membahagiakan?”


“Aku tidak yakin akan bersama Sandra sampai akhir,”  ujar Ivan seraya bangkit dari kursi kemudian berjalan menuju jendela.


“Sandra cantik. Dan dia memenuhi semua kriteriamu untuk seorang perempuan. Apa lagi yang kau tunggu?”


“Entahlah. Kadang aku merasa di titik jenuh dalam hubungan kami. Kau tau, hubungan tanpa status yang kami jalani.”


“Makanya itu segeralah diresmikan dalam ikatan. Jika sudah ada ikatan kita masing-masing bertanggung jawab dan itu bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Sudah saatnya kamu memikirkan perkataan tante Laras. Dia tau yang terbaik untukmu.”


“Saranmu cukup masuk akal. Akan ku pikirkan. Tapi tidak secepat ini. Banyak yang harus ku atur ulang, termasuk hubunganku dengan Sandra,” Ivan membalik badannya, “Aku akan kembali ke kantor. Semoga acara lamarannya berjalan lancar.”


“Terima kasih banyak bos. Ku doakan juga yang terbaik untukmu. Semoga bos segera menemukan seseorang yang bisa memberikan ketenangan dan kenyamanan.”


Ivan tersenyum tipis mendengar doa tulus yang diucapkan Abbas untuknya. Ia mengacungkan jempolnya pada Abbas dan berlalu dari ruangan yang kini penuh sesak dengan barang lamaran.


Dengan membawa rombongan sebanyak 5 buah mobil  Abbas dan ibunya beserta pegawainya akhirnya sampai di kediaman megah Marisa.


Bu Ila merasa senang karena Abbas akan segera bertunangan dengan cucu majikannya. Ia sangat mengagumi calon tunangan Abbas, yang memiliki jiwa sosial tinggi dan tidak pernah membeda-bedakan siapa pun yang dekat dengannya.


“Wah, rumah calon bos megah sekali. Tampaknya mbak Khaira masih keturunan sultan,” celetuk Rani yang semobil dengan Budi, kebetulan keduanya memang sepasang kekasih, “Aku sama sekali nggak nyangka mbak Khaira orang berada. Penampilannya selama ini begitu sederhana.”


“Mungkin karena kesederhanaannya lah yang buat mas Abbas jatuh hati padanya,” jawab Ari salah satu pegawai yang mereka anggap paling senior karena umurnya juga sudah 40 tahun.


“Betul mas Ari,” sambung Rani cepat.


“Padahal saat kuliah, banyak juga gadis kaya yang berusaha mendekati mas Abbas. Tapi mas Abbas orangnya agak pendiam juga sih. Eh, taunya udah gandengan sama cucu pemilik gerai berlian terkemuka di Jakarta,” sambung Rani.


Di mobil Avanza sejuta umat milik Abbas, ia yang tidak memiliki keluarga terdekat di Jakarta membawa pak Hasan ketua RT di dekat rumahnya sebagai orang yang dituakan untuk mewakili dirinya dan ibunya dalam meminang Khaira di tengah keluarga besarnya.


Khaira terpaku dari kamar atas saat melihat lima buah mobil memasuki pekarangan rumahnya. Ia tidak menyangka saat melihat Abbas datang membawa rombongan yang terdiri atas puluhan orang. Untung saja kakak iparnya cepat tanggap.


Sejak awal mereka sudah mengantisipasi dan memberi gambaran paling simpel pada Khaira bahwa acara lamaran walaupun tidak formal tetap harus dibuat susunan acaranya.


Hasya tidak beranjak dari kamar adiknya itu. Ia telah mempersiapkan kebaya couple yang akan dipakai Khaira dan Abbas, dan itu di luar pengetahuan Khaira. Ia terus mengomel karena Khaira selalu protes dengan aturan-aturan yang mereka buat bersama suami, ipar dan kakak serta adiknya di malam lamaran ini.


“Walaupun lamaran biasa hanya sekedar omongan dua keluarga, kamu harus tetap berdandan. Ini penting untuk langkah ke depannya,” ujar Hasya masih dengan omelan panjangnya sambil memasang peniti di jilbab Khaira yang belum terpasang dengan rapi.


“Ya, deh. Dari pada bumil ceramah terus. Aku nurut aja,” Khaira mengalah dengan duduk tenang membiarkan Hasya me-make over wajahnya.


“Mbak, tamunya udah datang,” terdengar suara Junior  menghentikan pembicaraan keduanya.


“Ntar, kamu duluan aja,” Hasya menjawab panggilan Junior dan segera memberikan sentuhan akhir dengan memakaikan bross berlian di jilbab Khaira.

__ADS_1


Khaira terpaku begitu melihat pemandangan di hadapannya. Ruang tamu sudah dihiasi dengan pernak-pernik yang memanjakan mata. Sudut matanya melihat Abbas yang penampilannya sangat berbeda dari biasa.


Senyum Abbas terkembang melihat sang pujaan kini sudah berada di hadapan. Perasaan berdebar hinggap di dadanya. Tak menyangka malam ini adalah awal dari membuka hubungan baru di antara keduanya untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.


“Tatapannya udah dulu. Acara akan segera dimulai.” Fatih berkelakar membuat Khaira merasa malu dengan para tamu yang memenuhi ruang tamu keluarga mereka. Ia tidak menyangka Abbas akan membawa rombongan serta seserahan branded yang biasa ia lihat saat lamaran saudara-saudaranya yang lain. Ia jadi merasa terharu atas apa yang telah dilakukan Abbas untuknya.


“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh …. “ Ali mulai membuka acara dan menyampaikan sepatah dua kata mewakili Marisa sebagai tuan rumah calon mempelai perempuan.


Acara sambutan telah selesai, dari pihak Abbas yang diwakili pak Hasan juga langsung menyampaikan maksud kedatangan rombongan Abbas untuk meminang putri dari keluarga almarhum Faiq Al Fareza.


“Kami sangat berterima kasih atas niat baik saudara Abbas Setyawan yang ingin mengikat adinda kami Khaira Althafunnissa dalam jalinan pertunangan yang insya Allah akan ke jenjang selanjutnya yaitu gerbang pernikahan.” Ariq berkata dengan serius sambil memandang Abbas yang menatapnya dengan tersenyum penuh hormat.


Walau pun Abbas hanya seorang pemuda biasa, tapi Ariq cukup kagum dengan keuletan dan kejujuran pemuda yang tak lama lagi bakal menjadi iparnya. Ia dan saudaranya yang lain, tanpa sepengetahuan Khaira telah mengikuti Abbas dari awal untuk melihat, apakah dia cukup layak untuk menjadi pendamping adik perempuan bontot kesayangan mereka.


Melihat kesungguhan Abbas dan perjalanan hubungan mereka yang sudah berlangsung hampir 6 tahun membuat Ariq dan saudaranya yang lain yakin untuk menerima lamaran Abbas pada kesayangan mereka.


Saat pemasangan cincin yang dilakukan bu Illa, airmata Khaira tak berhenti menetes. Ia merasa terharu, karena hubungan mereka sudah disetujui oleh keluarga besar mereka. Tinggal satu langkah untuk menuju pernikahan yang akan segera menyatukan mereka dalam ikatan cinta yang sesungguhnya.


Setelah pemasangan cincin dan pengambilan beberapa foto, akhirnya para undangan yang datang segera dipersilahkan menikmati hidangan yang telah disediakan.


“Wah, yang udah tunangan berduaan terooss …. “ Junior mengganggu Khaira yang kini duduk berdampingan dengan Abbas.


“Apaan si de!” Khaira mencibir pada Junior yang bolak-balik jalan di hadapan mereka sengaja membuat Khaira kesal.


“Sudahlah. Ini kan malam kita, biarin aja …. “ Abbas tersenyum membujuk Khaira yang kesal dengan tingkah Junior.


“Aa mau makan apa biar ku ambilkan,” ujar Khaira begitu biang pengganggu sudah anteng menikmati makan malam bersama yang lain.


“Rasa lapar dan dahagaku sudah hilang saat bersamamu,” ujar Abbas serius.


“Ih, aa mah …. “ Khaira mencubit tangan Abbas dengan pipi merona.


“Serius. Aku udah nggak sabar membayangkan 4 minggu lagi kita akan segera bersama,” Abbas mengulum senyum membayangkan mereka berdua duduk di pelaminan.


“Eh, a… kok bawa barang seserahan lamaran dengan rombongan sebanyak ini? Sengaja bikin surprise buat aku ya?” akhirnya Khaira teringat dengan sesuatu yang terus mengganjal di pikirannya tadi.


“Pastilah. Untuk seseorang yang istimewa seperti kamu,” ujar Abbas lirih.


Ia merasa berdosa, jika berkata jujur Khaira pasti kecewa karena semuanya dipersiapkan oleh Ivan.  Hanya cincin sederhana untuk pertunangan yang telah dibelikan ibunya sebagai pengikat  buat Khaira.


“Aa nggak seharusnya repot seperti itu. Aku kan udah bilang, yang sederhana saja aku sudah bahagia.”


Abbas meraih jemari Khaira  dan menggenggamnya mesra. Ia menatap wajah ayu dengan mata indah yang membuatnya jatuh cinta untuk pertama kali saat melihatnya.


“Aa akan mengupayakan yang terbaik buat kamu. Karena aa tau, keluargamu pasti tidak ingin adik mereka merasa kekurangan jika kita menikah kelak.”


“Aa nggak usah khawatir. Keluargaku tidak akan mencampuri kehidupan rumah tangga kita kelak.”


“Eh, belum muhrim.” Junior sudah muncul lagi di depan mereka, “Masih satu bulan lagi baru boleh pegang-pegangan …. “


Khaira menjadi dongkol dengan ulah adiknya. Melepas  genggaman jemari Abbas ia melempar Junior dengan tisu yang berada di atas meja.


Akhirnya rombongan Abbas segera berpamitan karena waktu tak terasa sudah menunjukkan pukul 10 malam. Dengan berat hati Khaira melepas sang pujaan yang tak lama lagi akan berganti status  menjadi  suami.


Menyebut kata suami membuat Khaira jadi malu sendiri. Ia berguling-guling di tempat tidur, sambil mengecup cincin belah rotan sederhana yang disarungkan bu Illa di jari manisnya.


“Ya, Allah lancarkanlah segala urusan kami hingga sampai ke jenjang pernikahan,” doa Khaira dalam hati sambil mengecup cincin yang melingkar di jari manisnya.


Akhirnya ia memejamkan mata dalam buncahan kebahagiaan yang memenuhi relung hati sanubarinya.

__ADS_1


__ADS_2