
Sebuah tangan membelai kepala Khaira yang masih tertelungkup menangis di tangga. Ia mendongak, bu Ila tersenyum lembut padanya sambil menggelengkan kepala dan duduk di sampingnya.
“Maafkan saya buu … karena tidak bisa menjaga kehormatan hu … hu … hu …. “ isak Khaira langsung memeluk mertuanya dengan erat.
Bu Ila menepuk pundak Khaira berusaha menahan air matanya yang ingin tumpah. Ia berusaha menguatkan menantunya. Walau pun merasa kecewa, tapi ia tau semua sudah menjadi skenario Allah. Sebagai insan beriman mereka hanya menjalani semua yang sudah ditakdirkan. Ia pun ingin menantunya bahagia, karena tidak mungkin Khaira menjanda seumur hidup sedangkan usianya masih sangat muda.
“Abbas tidak akan tenang melihatmu terus berduka seperti ini,” ujar bu Ila lirih. Ia pun akan merelakan Khaira menikah dengan lelaki yang telah melamar Khaira pada saudaranya.
“Saya tidak sanggup melupakan a Abbas buu ….” suara Khaira tergetar masih terisak.
“Fokus pada kandunganmu, jangan pikirkan yang lain. Seorang ibu hamil tidak boleh bersedih, karena bayi yang berada di dalam kandungan akan merasakan kesedihan bundanya,” bu Ila tersenyum lembut berusaha menenangkan menantunya.
Khaira tercekat mendengar perkataan mertuanya. Ia melepas pelukan bu Ila dan menatap wajah yang semakin menua di hadapannya.
“Apa yang harus saya lakukan bu?” Khaira menggenggam kedua tangan bu Ila dengan berurai air mata.
“Berikan ayah untuk bayi yang kamu kandung, dan temukan kebahagiaan untukmu dan calon anakmu,” suara bu Ila bergetar saat mengucapkan itu. Ia teringat pada almarhum Abbas putra kesayangannya yang telah pergi mendahului mereka.
Khaira kembali memeluk mertuanya dengan perasaan sedih. Keduanya yang paling tau rasanya kehilangan. Dan malam ini mereka berdua saling menguatkan satu sama lain untuk menghadapi hari esok yang masih panjang dengan segala rintangan yang bakal mereka temui selama melalui perjalanan panjang kehidupan.
Ia kini pasrah dengan nasibnya. Setelah percakapan yang terjadi antara ia dan mertuanya perasaan Khaira sedikit lega. Setelah puas menumpahkan air mata dan segala sesak di dada dengan mengadu kepada Sang Penggenggam jiwa dan raga, akhirnya Khaira merebahkan diri di pembaringan. Ia menatap plafon kamar sambil menghela nafas berusaha membuang sesak yang masih menggumpal di dada. Khaira berharap Abbas akan mengunjunginya di penghujung malam ini, untuk membungkus kerinduan yang masih tersisa.
Pagi itu Ariq tersenyum mendengar laporan Margo salah satu tim IT di perusahaannya, ketika seseorang telah berhasil meretas pengamanan data keluarganya, untuk mengambil foto-foto keluarga yang ia simpan di drive khusus keluarga. Sedangkan untuk data perusahaan ia melakukan pengamanan berlapis yang tidak sembarang orang bisa mengaksesnya.
“Biarkan saja,” Ariq berkata dengan santai sambil mengamati kinerja tim IT yang memperkuat pengamanan data rahasia perusahaan secara berkala.
“Apa nggak masalah bos?” Margo penasaran melihat Ariq yang tetap santai malah duduk di sampingnya, “Tampaknya dia juga telah meretas ponsel mbak Rara …. “
“Calon adik iparku.”
__ADS_1
“Wah, mbak Rara sudah ketemu jodoh?” Margo tak percaya mendengar ucapan Ariq.
Ariq mengangguk kalem. Ia tau, pegawainya yang jomblo akut dan brewokan itu udah lama naksir Khaira, tapi tidak berani mengungkapkan perasaannya. Tidak ada yang tau bahwa Rara pernah menikah, karena terlalu singkat. Ariq dan keluarga sepakat merahasiakan semua di muka umum. Ia melihat Margo menghela nafas berat.
“Aku tidak keberatan kamu jadi iparku. Sayangnya Rara bukan tipemu,” Ariq meledek Margo yang terdiam.
“Mana saya berani bos. Mbak Rara seperti rembulan, sedangkan saya hanya seekor pungguk,” Margo mengungkapkan ganjalan yang selama ini ia tahan.
“Saya dan adik-adik telah dididik kedua orang tua, bahwa tidak boleh membeda-bedakan orang karena status sosial. Semua adalah ujian dan setiap manusia sama di sisi Allah. Hanya amalan yang membedakan manusia di sisi-Nya,”
“Sayang ya bos. Padahal saat pernikahan bos saya tu udah naksir berat sama mbak Rara yang baru masuk SMA.” Margo membayangkan pertemuan pertama pada adik bosnya.
“Mungkin memang bukan jodohmu. Padahal untuk kriteria seorang laki-laki kamu termasuk tipe Rara.”
Perasaan Margo semakin tak menentu. Ia mengenal keluarga Ariq karena dulu sempat bertetangga saat ia masih ikut kedua orang tua di kompleks oma Marisa.
“Sudahlah,” Ariq tidak ingin pegawainya melamunkan masa yang telah lewat. Ia bangkit dari samping Margo dan menepuk pundaknya pelan, “Semoga kamu segera menemukan jodoh yang terbaik untukmu.”
Ivan merasa puas saat Yoga berhasil meretas pengamanan untuk mengetahui kediaman Marissa pemilik Kara Jewellery yang akan ia kunjungi nanti malam. Senyum tak lepas dari wajahnya.
Sesudah mengunjungi pembuatan iklan perusahaan Peter yang sudah dimulai seminggu ini Ivan mengajak Roni untuk mampir makan siang di sebuah restoran sea food. Entah kenapa hari ini ia ingin menikmati cumi bakar dan lobster. Padahal ia termasuk anti dengan kedua makanan itu. Tapi saat melewati restoran yang menyediakan makanan laut, keinginannya semakin kuat.
“Mampir Ron.” Ivan menepuk pundak Roni yang masih fokus memandang ke depan.
Roni merasa ragu saat tatapan Ivan mengarah pada restoran sea food yang baru mereka lewati, tapi melihat mata Ivan yang tak beralih dari restoran membuatnya memutar arah.
Keheranan Roni semakin bertambah. Ia melihat Ivan makan sangat banyak hingga keringatan, sesuatu yang tak pernah ia lihat.
“Take away satu porsi seperti yang sudah kita makan,” Ivan meletakkan uang merah sebanyak delapan lembar di atas meja membuat jidat Roni mengerut seketika.
__ADS_1
Ia merasa heran dengan kelakuan Ivan. Selera makannya jadi berubah. Tanpa banyak bicara Roni mengikuti semua perintahnya. Walau pun dalam hati sebuah pertanyaan mengganggu pemikirannya, tapi ia tak berani untuk menanyakannya melihat Ivan yang sibuk mengecek email di ponselnya.
Ivan meminta Roni membelokkan mobilnya saat melewati kompleks perumahan mewah yang belum pernah ia masuki. Keheranan Roni semakin menjadi saat Ivan memintanya turun untuk mengantarkan menu yang telah dipesan di restoran tadi.
Senyum lebar tampak di wajah Ivan saat Roni sudah kembali ke mobil dengan wajah penuh tanda tanya.
“Rumah siapa itu bos?” akhirnya Roni tak bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya, karena saat mengantarkan paket makanan yang menyambutnya hanya satpam penunggu gerbang.
“Langsung kembali ke kantor.” Ivan malas menjawab pertanyaan Roni.
Roni tak berani bertanya lagi, apalagi melihat Ivan kini dalam mode serius. Ia menyimpan tanda tanya besar di kepala saat mobil mereka berlalu dari rumah megah itu.
Sementara itu Khaira baru selesai melaksanakan salat Zuhur. Ia merasa lapar, tapi tidak tau pingin makan apa. Semenjak kembali ke rumah oma sore kemarin ia jadi tidak bersemangat untuk makan, hanya minum susu dan vitamin yang telah disediakan Hasya.
Saat membuka sajian di meja makan, matanya langsung cerah. Apa yang ada dalam pikirannya tiba-tiba sudah tersedia di meja makan.
Oma Marisa dan bu Ila tersenyum melihat keantusiasan Khaira melihat menu yang tersaji. Keduanya mengira bahwa Khaira memesan makanan online, karena nama restoran terpampang di paper bag saat salah satu art membawa paket dari pak satpam.
Setelah ketiganya selesai menikmati makan siang, oma Marisa belum beranjak dari kursinya. Ia ingin mendengar keputusan akhir Khaira akan pertemuan dua keluarga yang akan dilaksanakan nanti malam.
“Bagaimana perasaanmu sekarang?” Marisa menatap cucu perempuan kesayangannya dengan lekat, “Oma menginginkan yang terbaik untukmu dan janin yang kau kandung.”
Khaira menatap bu Ila yang menganggukkan kepala berusaha memberi kekuatan padanya lewat senyum hangat yang mengulas di bibirnya.
“Saya akan menerima lamaran ayah bayi saya oma,” Khaira berkata lirih.
“Alhamdulillah ….” Marisa merasa lega mendengar jawaban Khaira.
__ADS_1
Semoga author khilaf sampai esok .... Jangan lupa dukungan akan membuat author lebih semangat. Sayang semua ....