Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 106


__ADS_3

Faiq terkejut saat membuka notif pesan masuk dari Johan yang mengatakan ingin bertemu dengannya. Jam baru menunjukkan pukul 8 malam. Ia baru menyelesaikan solat Isya dan tetap setia mendampingi Hani sambil membaca ayat suci al-Qur’an dari aplikasi ponselnya. Faiq segera mengakhiri membaca al-Qur’an.


“Sayang, cepatlah sadar. Apa pun yang terjadi padamu, kita akan melalui ini bersama-sama. Bangunlah, tidakkah kamu ingin melihat jagoan kecil kita?”  Setitik air mata Faiq mengalir saat ia mengecup kening istrinya dengan penuh kasih.


Ketukan di pintu menghentikan jemari Faiq yang membelai lembut pipi chubby Hani. Ia melangkah menuju pintu, membukanya dan langsung melangkah ke luar begitu melihat Johan berdiri di hadapannya.


“Ada keperluan apa kamu malam-malam datang kemari?” Faiq menatap Johan dengan rasa keheranan.


“Maafkan saya tuan Faiq,” Johan menatapnya dengan raut sedih.


“Apa yang terjadi, kenapa wajahmu tampak kusut seperti itu?”


Keduanya duduk berdampingan di depan kamar inap Hani.


“Tuan Adi mengalami kecelakaan hebat dan sekarang dalam kondisi kritis. Tadi bos ingin bertemu dengan anda. Tapi sekarang ia dalam kondisi tidak sadar. Saya hanya ingin mengabarkan pada tuan Faiq.”


Faiq terperangah tak percaya, “Dimana ia mengalami kecelakaan?” sontak ia berdiri.


“Saat sebuah mobil merah ingin menabrak anda dan nyonya, tuan Adi melihatnya dan langsung menghadang mobil tersebut, hingga tabrakan keras terjadi.”


“Astagfirullahaladjim!” Faiq tak bisa membayangkan sedahsyat apa kejadian itu. Mobilnya saja terseret dua meter yang mengakibatkan Hani mengalami cidera.


Rudi tiba-tiba muncul di luar dugaan Faiq. Ia berdiri diantara keduanya dengan wajah tegang. Dari awal ia sudah mencurigai mobil berwarna merah yang kondisinya mengenaskan akibat tabrakan keras dengan mobil hitam adalah milik Hesti.  Ia ingat nomor kendaraan yang diberikan Faiq pada saat perpisahan terjadi antara bosnya dan Hesti.


Tapi karena kondisi Hani yang sangat kritis, dengan terpaksa ia mengalihkan perhatiannya dan membantu Faiq membawa Hani ke rumah sakit agar segera mendapatkan penanganan.


Begitu Faiq menyuruhnya kembali, Rudi menuju TKP hingga ia melihat dengan jelas mobil yang ia yakini kepunyaan Hesti  dan kecurigaannya tepat.


“Bagaimana kondisi pemilik mobil ini?” Rudi bertanya pada seorang lelaki tua yang berdiri tidak jauh dari police line yang telah  terpasang.


“Yang saya lihat tadi seorang perempuan muda dalam kondisi tubuh yang mengenaskan telah dibawa ke rumah sakit dengan seorang lelaki dari mobil hitam itu.” Si bapak menunjuk mobil mewah hitam yang juga dalam kondisi hancur.


“Kenapa kamu kembali ke sini?” Faiq mengalihkan tatapannya dari Johan pada Rudi yang wajahnya tegang.


“Hestilah yang ingin menabrak mobil bos dan nyonya. Sekarang keadaannya juga kritis.” Rudi berkata dengan serius.


Johan menatap Rudi dan Faiq bergantian. Ia terkejut. Keduanya mengenal sang pemilik mobil merah.


“Yang mengendarai sedan hitam adalah tuan Adi. Dia lah yang menghadang mobil merah yang ingin menabrak tuan dan mbak Hani.”


“Ya Allah, bang Tama.” Faiq mematung mendengar ucapan Johan.

__ADS_1


Dengan cepat Faiq mengikuti langkah Johan. Ia meminta Rudi untuk menghubungi Hanif serta Marisa dan Darmawan. Faiq tidak menyangka  tabrakan itu memang disengaja dan bukan kecelakaan biasa. Lebih parahnya lagi, Hesti lah pelaku utama dari kejadian tabrakan itu.


Begitu memasuki ruang IGD ia terpaku melihat Adi dengan kondisi  yang sangat mengkhawatirkan. Lehernya mengalami patah hingga disangga dengan neckcollar. Kakinya sebelah kanan tergantung dan dipasang pen.


Jantung Faiq berdetak cepat. Tak bisa ia bayangkan jika tidak ada Adi, bagaimana ia dan istrinya saat ini. Ia melihat Linda dengan kondisi yang sangat menyedihkan, mata tuanya tampak bengkak. Faiq menghampiri Linda yang duduk di samping Adi.


“Tante ….” Faiq memanggilnya dengan lirih, “Saya turut berduka atas kejadian yang menimpa bang Tama.”


“Nak Reza …. “ Air mata Linda kembali menetes melihat kedatangan Faiq. “Tante tidak menyangka Adi mengalami nasib naas seperti hari ini.”


Faiq terpekur. Ia tidak mampu menjawab perkataan Linda. Matanya nanar memandang Adi yang masih belum sadarkan diri. Adi telah menjadi tameng untuknya dan juga Hani. Dada Faiq bergolak menahan kemarahan. Hesti kembali membuat ulah.


“Saya permisi tante. Ada yang harus saya bereskan sekarang.”


“Baiklah, Reza. Tante juga ikut prihatin atas nasib yang menimpa Hani. Semoga ia segera sadar dan pulih seperti sedia kala.”


Faiq mengangguk mendengar ucapan Linda. Johan sudah berdiri di depan pintu menunggunya.


“Apa tuan ingin menuntut nona Hesti? Kondisinya juga tidak begitu baik. Ia dirawat di sebelah sana.”  Johan menunjuk bagian pojok dari ruang IGD tersebut.


Dengan cepat Faiq melangkah menuju pojok yang ditunjuk Johan. Melihat wajah Faiq yang tegang membuat Johan mengikuti langkahnya. Sesampainya Faiq di sana ia melihat Dewi yang menangis histeris meratapi keadaan Hesti yang lebih buruk dari Adi.


Andre memandang Faiq dengan perasaan tidak nyaman. Ia dan ibunya ke rumah sakit karena dihubungi teman Hesti yang kebetulan berada di lokasi yang sama. Begitu mereka sampai di ruangan IGD, Rudi yang kebetulan berbicara dengan Johan langsung menunjukkan tempat Hesti.


Melihat Dewi yang meratapi nasib putrinya membuat Faiq membatalkan niatnya untuk melihat Hesti.  Dengan perasaan geram bercampur kesal ia meninggalkan Dewi yang masih berduka dengan kondisi putrinya. Kalau menurutkan emosi ingin rasanya ia mencekik pelaku yang membuat istrinya mengalami cacat. Dengan tangan terkepal Faiq keluar dari ruangan IGD.


Langkah panjang Faiq membawanya kembali ke ruangan Hani. Kali ini ia harus memecahkan masalah dengan kepala dingin. Dan yang prioritas harus ia dahulukan. Masalah lain akan ia serahkan pada pihak yang berwenang.


Faiq menatap wajah tenang Hani yang masih terlelap. Jemarinya membelai pipi istrinya yang  tampak chubby. Pada kehamilan istrinya kali ini semua kebutuhan dan keinginannya selalu terpenuhi, dan semua orang memanjakan Hani, apalagi dirinya. Faiq telah belajar dari pengalaman Hani hamil Fatih dan Khaira yang banyak dilalui dengan kerikil-kerikil tajam. Kali ini ia berusaha menjadi tameng untuk istrinya. Tapi ....


“Sayang …. “ Faiq terkejut melihat Hani yang mulai menggerakkan jemarinya.


“Mas …. “ Hani mulai membuka matanya.


Kegelapan melingkupi Hani. Ia tidak melihat apa-apa, tapi ia meyakini ada Faiq di sampingnya karena ada genggaman erat di jemarinya.


“Kenapa semua terasa gelap? Apa yang terjadi?”


“Sayang, semua akan baik-baik saja.” Faiq berusaha menenangkan Hani.


“Mas, apa yang terjadi dengan penglihatanku?” Hani merasakan kejanggalan saat membuka mata. Sontak tangannya meraba perutnya yang kini rata. Ia pun teringat sesuatu, “Mas apa aku sudah melahirkan? Bagaimana keadaan bayiku?”

__ADS_1


“Jangan khawatir, junior telah lahir dengan selamat.” Faiq mengecup kening istrinya dengan lembut. “Ia sangat sehat.”


Hani menghela nafas. Ia tau ada yang disembunyikan suaminya. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya menunggu.


Taklama kemudian dr. Billy dan asistennya memasuki ruangan. Faiq terdiam memperhatikan dr. Billy yang menyapa istrinya.


“Selamat pagi Nyonya Hani. Bagaimana kabar anda pagi ini? Apa ada keluhan?” Ia bertanya penuh perhatian.


Hani terdiam. Ia tidak bisa melihat apa pun, tetapi ia merasa tangan yang hangat saat memeriksa pergelangan tangannya.


“Bagaimana penglihatan anda?” dr. Billy memandang mata Hani yang bulat dan teduh.


“Dok, apa saya akan buta selamanya?” tembak Hani langsung.


Ia yakin, Faiq tidak akan mau berterus terang padanya. Sementara ia sendiri tidak bisa hanya berdiam diri menunggu ketidakpastian yang hanya membuatnya jadi manusia tak berguna.


“Sayang, kita akan melalui ini bersama.” Ujar Faiq lembut.


“Tiga hari ke depan, kita akan mulai pengobatan mata anda. Nyonya tidak usah khawatir. Penglihatan anda akan kembali lagi.” Dr. Billy berkata dengan ramah.


“Kami permisi tuan, nyonya …. “ dr. Billy dan asistennya berlalu dari hadapan mereka.


Hani terdiam kembali. Ia mengelus perutnya yang terasa nyeri. Dengan pelan ia menyandarkan tubuhnya ke bantal yang tersusun di belakangnya.


“Assalamu’alaikum ….” Terdengar ketukan di depan pintu bersama suara orang memberi salam.


“Wa’alaikumussalam.” Faiq dan Hani menjawab berbarengan.


Hanif memasuki ruangan dengan wajah sedih. Di belakangnya ternyata ada Darmawan dan Marisa  yang juga menampakkan wajah berduka.


“Hanif …. “ Hani memanggil nama adiknya dengan lirih.


Hanif berjalan mendekat. Ia menggenggam jemari tangan kakaknya dengan erat. Ia merasa sedih melihat kemalangan yang selalu menimpa kembarannya itu.


“Jangan khawatir, mas Faiq akan menangani semuanya.” Hanif memandang wajah kembarannya dengan perasaan berkecamuk.


“Putramu sangat tampan.” Ujar Marisa tersenyum bahagia. “Dia sangat kuat sekali. Ibu bangga padamu.”


Hani hanya diam mendengar percakapan yang terjadi.


“Sayang …. “

__ADS_1


Hani merasakan kecupan ringan di keningnya. Matanya mengabur. Tanpa terasa tetesan bening mengalir di wajahnya. Ia baru saja merasakan kebahagiaan. Tetapi musibah kembali datang menghampirinya. Tapi Hani yakin, sebesar apapun musibah yang datang itu sudah menjadi ketetapan ilahi. Yang dapat ia lakukan hanyalah tetap berprasangka baik kepada sang Pencipta, karena dibalik musibah ada hikmah yang bakal ia rasakan.


__ADS_2