Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 242 S2 (Dua Malaikat Kecil Yang Menggemaskan)


__ADS_3

Ivan terpaku di studio foto miliknya. Ia membongkar foto lama yang masih tersimpan dalam album yang tertinggal di rumah lamanya dan membawa ke studio foto. Ia lebih senang mengurung diri di ruangan sederhana yang dialih fungsikan menjadi ruang kerjanya.


Karena sekarang ia tinggal memiliki  perusahaan iklan serta studio foto, waktu yang ia punya lebih banyak. Ia tidak berhubungan lagi dengan rumah produksi serta manajemen artis yang telah dikuasai  Ardi sepenuhnya.


Ivan tidak menyesali apa yang telah ia lepas. Malahan ia bersyukur karena mempunyai waktu lebih banyak untuk menemukan Khaira dan  mulai melakukan pencarian.


“Pagi bos,”  Danu asisten barunya yang seorang fotografer handal sudah datang bekerja sepagi itu dan merasa heran melihat bosnya sudah stand by menekuri beberapa foto di meja kerja.


“Pagi,” Ivan menjawab datar.


Tangannya masih memegang foto lama  saat Abbas dan  Khaira berfoto bersama dengan latar senja. Itulah momen keduanya berada dalam satu frame. Senyum Abbas dan Khaira tampak menyatu di senja yang teduh dan menenangkan.


Perasaan cemburu sempat hadir mengusik hati kecil Ivan menyaksikan keduanya yang saling bertatapan walau pun tanpa bersentuhan. Padahal Ivan sadar, bahwa Abbas tidak berada di dunia yang sama dengannya, bahkan dialah yang memiliki kehormatan Khaira tetap saja kecemburuan dan perasaan kesal  itu ada, karena ia tau Abbaslah  lelaki pertama yang mengisi hati Khaira.


Untuk membuang rasa yang bergejolak di dada Ivan mengambil gambar lain. Senyum tipis menghiasi wajah tampannya saat menatap lekat wajah ayu Khaira yang bermandi keringat setelah melaksanakan ospek di kampus dan menunggu antrian wudhu untuk melaksanakan salat. Wajah polos tanpa sentuhan make up. Ia telah  memperbesar  gambar itu.


“Sayang di mana engkau saat ini?”  jemarinya membelai wajah yang ada di dalam foto tersebut dengan perasaan berkecamuk.


“Bos, apa anda sudah menemukan lokasi untuk membangun rumah sakit itu?” pertanyaan Danu kembali mengganggu aktivitas Ivan.


“Sampai saat ini belum ada lokasi yang cocok,” jawab Ivan seketika.


“Saya mempunyai saudara yang memiliki beberapa bidang tanah yang letaknya strategis dan luas. Mungkin bos tertarik untuk melihat lokasinya,” Danu berusaha menawarkan solusi pada Ivan yang kini mengerutkan jidatnya mendengar ucapannya.


“Di mana tempatnya?” tampak ketertarikan di wajah Ivan mendengar perkataan Danu.


“Agak di pinggiran kota sih ... waktu tempuh ke sana mungkin sekitar 7 sampai delapan jam.”


“Jika tidak ada tempat lain, mungkin kita bisa melihatnya,” ujar Ivan mengakhiri percakapan keduanya di pagi itu.


Ia kembali meletakkan gambar Khaira di atas meja kerjanya. Keinginannya untuk membangun rumah sakit kanker bagi anak yang kurang mampu sebagai dedikasi atas kepergian Bryan belum terwujud, karena terkendala lokasi yang belum ada.


Beberapa tawaran  sudah masuk, tetapi lahannya terlalu sempit dan tidak strategis. Ivan menginginkan lahan yang luas. Dalam bayangannya di dalam kawasan rumah sakit tersebut akan dibangun kawasan ramah anak yang akan diisi dengan arena bermain serta taman sebagai tempat untuk relaksasi dengan demikian anak-anak yang memiliki penyakit kronis dan mematikan akan memiliki semangat hidup sehingga akan membantu proses penyembuhan pada anak.


Dari modal yang ia tanam dan bekerja sama dengan Edward semakin menambah pundi-pundi kekayaan yang sampai saat ini terus meningkat. Ivan sudah tidak memusingkan masalah keuangan. Apa pun yang ia inginkan semua sudah berada dalam genggaman.

__ADS_1


Hanya satu kekurangan yang terasa menyakitkan. Ia kesepian di tengah belantara kota yang berdetak berpacu semakin cepat setiap hari. Ia tidak tau sampai kapan kesendirian ini akan berakhir.


Hari-hari berlalu hingga tak terasa sudah memasuki tahun ke tiga  Ivan mencari keberadaan Khaira. Ia tak mengindahkan perkataan Laras yang memintanya melupakan Khaira. Ia masih memiliki keyakinan bahwa suatu saat mereka akan bertemu dan ia tetap membawa cinta yang sama di dalam hatinya.


Sementara itu di pondok pesantren al-Ijtihad, sepasang batita sedang berlari-lari kecil dengan riang gembira.


“Embun ... Fajar .... “ Khaira kewalahan mengikuti kedua malaikat kecilnya yang asyik bermain dan berlari mengitari kolam kecil yang berisi aneka ikan hias.


Semenjak melahirkan si kembar, atas persetujuan saudaranya Khaira kini membangun rumah sederhana yang tanahnya sudah dibayar Ariq yang lokasinya berseberangan dengan pondok. Lahannya sangat luas. Walau pun rumah yang dibangun terbilang sederhana, tetapi isinya sangat komplit. Saudara Khaira telah melengkapi fasilitas di rumah yang terdiri atas 4 kamar itu dengan semua kehidupan perkotaan termasuk menyediakan area bermain bagi si kembar.


Ariq juga mempekerjakan dua pengawal untuk menjaga keamanan saudarinya serta dua orang babby sitter dan dua orang art yang membantu aktivitas keseharian Khaira.


Ustadzah Fatimah tersenyum memandang dua batita yang sangat lucu dan menggemaskan, membuatnya melupakan kepenatan setelah sehari-hari menjalani aktivitas sebagai pengelola pondok pesantren yang kini semakin berkembang.


Ustadz Hanan yang sedang berbincang dengan beberapa rekan ustadz yang lainnya berkali-kali mencuri pandang pada perempuan muda yang sudah enam bulan belakangan ini mulai mencuri hatinya secara perlahan.


Pernikahannya dengan ustadzah Fatimah kini memasuki tahun ke 17.  Sampai detik ini Yang Kuasa masih belum mempercayakan keduanya momongan. Untunglah dengan kehadiran Khaira dan bocah kembarnya membuat suasana di keluarganya menjadi hangat.


Ia mengingat percakapannya dengan istrinya beberapa bulan yang lalu. Hal itu terus mengusik pikirannya sehingga membuatnya mulai memperhatikan perempuan yang kini telah dikaruniai sepasang bocah kembar yang sangat menarik perhatian semua yang ada di pondok. Dengan keberadaan keduanya membuat suasana pondok menjadi ramai dan lebih hidup karena tingkah mereka yang selalu membuat perhatian terfokus padanya.


“Bi ... “ suara lembut istrinya menghentikan ustadz Hanan yang sedang membuat beberapa desain bangunan di laptopnya.


Di kamar mereka terdapat meja rendah yang membuatnya tetap nyaman untuk lesehan di lantai saat mengerjakan beberapa desain yang menjadi pesanan beberapa kontraktor besar yang menggunakan jasanya.


Sebagai pengasuh dan pimpinan pondok pesantren, ustadz Hanan memiliki profesi lain. Sebelum mengambil alih kepemimpinan pondok dari almarhum ayahnya, ustadz Hanan telah bekerja menjadi arsitek pada Dinas PU dan Perumahan Rakyat. Jabatannya cukup prestisius sebagai Kepala Bidang. Saat almarhum ayahnya yang mulai merintis pondok meninggal dunia, akhirnya ia mengundurkan diri dari instansi tempatnya bekerja. Walau pun demikian, keahlian dan tenaganya tetap dimanfaatkan sehingga ia tetap menerima job sebagai arsitek.


Terlahir sebagai anak orang berada yang memiliki tanah dan lahan di mana-mana tidak membuat Hanan muda lepas kendali. Pendidikan Agama telah mengakar pada dirinya sejak kecil, hal itulah yang membuatnya melepas jabatan di instansi yang telah membuatnya memiliki kekayaan yang tidak sedikit.


Namun kini pemikirannya mulai terganggu atas keinginan istrinya agar ia menikah kembali demi memperoleh keturunan yang sampai detik ini tidak bisa diberikan sang istri.


Ustadz Hanan segera mematikan laptopnya dan duduk menghadapi ustadzah Fatimah yang kini mulai berbaring di pahanya.


“Umi ingin Abi menikah kembali .... “


“Deg!” perasaan ustadz Hanan tidak nyaman mendengar perkataan sang istri.

__ADS_1


Ustadzah Fatimah memandang lekat wajah suaminya yang kini tertunduk memandang wajahnya. Keduanya saling bertatapan penuh makna.


“Kenapa Umi tba-tiba mengatakan hal ini pada Abi?” ustadz Hanan memandang lekat istrinya.


“Aku menyayanginya seperti adikku sendiri,” ustadzah Fatimah berkata pelan sambil melamun membayangkan wajah Khaira yang sudah ia anggap seperti saudari sendiri, “Kasian Fajar dan Embun. Mereka berdua memerlukan figur seorang ayah.”


Ustadz Hanan terdiam. Ia tidak bisa memberikan jawaban secepat itu pada istrinya. Perlu waktu lebih lama buatnya untuk berpikir.


“Apa Umi rela dimadu?” ustadz Hanan berkata pelan. Ia tau pertanyaannya sangat sensitif yang tentu tidak semua perempuan sanggup mendengar bahkan menjalaninya.


Di luar dugaan ustadzah Fatimah mengangguk. Ia menyadari kondisi dirinya yang semakin tua, dengan usia menginjak 40 tahun sulit untuk memperoleh keturunan. Jemarinya mulai membelai rahang suaminya.


“Perempuan mana yang rela dimadu, apalagi oleh perempuan di luaran yang di akhir zaman ini sudah tidak memiliki rasa malu,” ustadzah Fatimah berkata lirih, “Tapi bundanya Fajar dan Embun adalah perempuan yang berbeda.”


Suasana begitu hening dan dingin di malam itu. Ustadz Hanan masih mendengarkan ucapan istrinya yang terdiam beberapa saat.


“Dia perempuan terbaik yang pernah ku kenal. Kriteria seorang bidadari surga ku temukan dalam dirinya,” ustadzah Fatimah berkata seolah berguman, khawatir ada yang mendengar perkatannya selain ia dan suaminya.


“Bagaimana ia bersikap, berperilaku serta kesehariannya yang tidak pernah mengeluh dalam menjalani kehidupan ini membuatku kagum padanya,” ujar ustadzah Fatimah pelan, “Kehadirannya memberikan manfaat terbesar bagiku bahkan terhadap pondok ini.”


Ustadz Hanan terdiam. Memang ia akui semenjak kehadiran Khaira di pondok mereka begitu banyak perubahan yang terjadi. Padahal jika ia mau, tanpa bantuan Khaira dan saudaranya semua bisa terpenuhi.


Tetapi terkadang ia terlalu lama untuk mengambil keputusan dalam menyikapi segala kekurangan yang ada di pondok apalagi istrinya dan para pengurus pesantren tidak mengeluh dengan segala keterbatasan yang ada, mereka menerima dan menjalani dengan ikhlas.


“Jika Abi setuju, Umi yang akan meminangnya buat Abi .... “ ujar ustadzah Fatimah pelan.


“Kenapa Umi bisa memutuskan secepat ini?” ustadz Hanan terkejut mendengar ucapan istrinya, “Abi tidak mungkin menikahi perempuan lain.”


Ustadzah Fatimah tersenyum. Ia tau bagaimana perasaan suaminya terhadapnya. Tapi ia juga memikirkan perasaan keluarga ustadz Hanan yang sudah sejak lama menginginkan keturunan sebagai penerus keluarga mereka, apalagi ustadz Hanan lelaki satu-satunya diantara 3 saudari perempuannya yang lain.


“Umi tidak ingin laki-laki lain yang memiliki bundanya si kembar,” ustadzah Fatimah berkata dengan pasti, “Umi hanya ingin mereka bersama kita selamanya.”


“Semuanya tidak semudah itu Umi .... “ ustadz Hanan menghela nafas berat, “Banyak yang perlu kita pikirkan. Bundanya si kembar memiliki saudara. Dan yang Abi pikirkan, apa mungkin ia menerima lamaran Umi.”


“Ustadz .... “

__ADS_1


Langsung saja lamunan ustadz Hanan buyar ketika ustadz Ilman memanggilnya dan memberikan kertas laporan bulanan kegiatan pondok yang harus ia tanda tangani. Ia menggelengkan kepala berusaha melupakan perkataan istrinya yang sampai saat ini terus mengganggu pikirannya.


__ADS_2