Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 137 S2 (Dari Mata)


__ADS_3

Dengan perasaan kesal Roni kembali ke kantor. Saat Ivan meninggalkannya, Roni langsung menikmati hidangan yang tersedia. Ia merasa kenyang dan sangat puas menyantap menu makan siang yang baginya sangat istimewa, karena mengingatkan pada masakan ibunya di kampung.


Suara ponsel mengejutkan Roni yang masih santai merasakan nikmatnya menjadi bos karena Gita dan Bagus melayaninya selama menikmati hidangan yang tersedia.


“Kembali ke kantor sekarang.” Suara datar Ivan langsung hinggap di telinga begitu ponsel ia dekatkan.


“Baik, bos. Terima kasih atas traktirannya.” Dengan senyum masam Roni menyimpan kembali ponselnya saat tidak ada jawaban dari Ivan.


Satu jam kemudian ia sudah sampai di kantor. Saat sudah tiba di dalam ruangan ia tersenyum tipis, melihat Ivan menikmati makan siang bersama Denis sepupunya yang seorang arsitek  yang telah lama tinggal di Jepang.


“Tuan Denis kapan tiba?” Roni menyapa Denis yang telah menyelesaikan makan siangnya dan mulai menghisap rokok dengan santai.


“Tadi pagi.” Denis menjawab santai, “Bagaimana kabarmu? Masih betah kerja di sini?”


“Bagaimana bisa nggak betah? Setiap hari melihat yang cantik dan wangi.” Sindir Ivan dengan ketus. Gambaran kekesalan masih terlihat di wajahnya.


“Wajahmu dari tadi ku lihat kesal, kelihatan tidak menikmati makanan yang ku bawa. Ada masalah apa?” Denis kembali memandang sepupunya yang kini menghempaskan tubuhnya di kursi kerja.


Ivan tak menjawab. Ia membalikkan kursi membelakangi Denis dan Roni yang berpandangan tak mengerti melihat sikap anehnya.


Roni menghubungi  Gisel memintanya membereskan sisa makan siang bosnya dengan cepat.  Saat berada dalam ruangan, melihat  kumpulan lelaki rupawan dalam satu ruangan membuang  Gisel bersemangat. Ia sengaja melambatkan pekerjaannya berusaha menebar pesona. Sambil menyelam minum air, pikirnya sambil tersenyum dalam hati.


“Aku ingin ruangan ini bersih dalam waktu lima menit.”


Gisel tersentak, perintah sultan tak bisa dilawan. Dengan cepat ia menyatukan kotak nasi yang masih tergeletak tak karuan. Belum lima menit meja sofa sudah bersih seperti sedia kala. Sambil mengelus ia keluar dari ruangan sambil tersenyum kecut.


“Dasar bos uedan. Untung cakep!” desisnya lirih.


Denis tertawa kecil mendengar ucapan Ivan yang masih dalam mode tak ramah. Ia memandang Roni sekilas.


“Sudah berapa lama bosmu tidak bercinta? Aku yakin kekasihnya saat ini di luar kota. Lihat saja wajahnya seperti singa yang siap menerkam.”


Lemparan pen mendarat tepat di bahu Denis yang masih menertawakan Ivan yang masih dalam mode bete, membuatnya berhenti tertawa.


“Apa perkataanku benar? Sudah berapa lama Sandra ke luar kota?” Denis bertanya dengan wajah serius. Ia masih ingat dengan Sandra kekasih sepupunya yang seorang model terkenal dan digilai banyak pengusaha.


“Jangan pernah menyebut namanya di hadapanku!” Ivan berkata dengan kasar.


Denis mengerutkan jidatnya sambil tersenyum tipis, “Wah, ku kira tahun ini kalian naik ke pelaminan.” Ia teringat chat terakhir dengan Ivan 5 bulan yang lalu saat Ivan mengirimkan gambar cincin berlian seolah mengisyaratkan bahwa ia akan mengakhiri masa lajangnya.

__ADS_1


Ivan menatap Denis dengan perasaan kesal, “Lu sendiri ngapain sampe saat ini masih melajang di usia menjelang 40? Apa masih ingin bermain dengan ****** di luaran?”


“Ha ha ha ….” Denis tertawa dengan keras, “Aku sudah tobat. Sekarang pengen cari perempuan baik-baik. Targetku akhir tahun sudah punya pendamping. Makanya aku pulkam, dalam rangka mau cari istri buat dunia dan akhirat.”


Roni menatap dua saudara tersebut dengan perasaan prihatin. Laki-laki mapan tapi masih lajang. Tapi Roni menggelengkan kepala mengingat nasibnya tak jauh sama dengan mereka. Sampai saat ini dia juga belum menemukan pasangan hidup. Senyumannya terkembang mengingat sebuah raut ayu bermata sendu.


“Ngapain kamu cengegesan?” Ivan menatap Roni dengan raut penuh selidik.


“Bu … bukan apa-apa bos.” Roni menjawab dengan cepat.


“Apa sekarang kamu mulai tertarik dengan seorang perempuan? Siapa dia?” Ivan memberondong Roni dengan pertanyaan yang membuat muka Roni memerah.


“Ha ha ha ….” Denis kembali tertawa keras menyaksikan kelakuan bos dan asisten yang sama-sama jomblo akut, “Di depan tuh ada cewek dianggurin, menururutku cukup menarik.”


“Maaf bukan tipe saya,” Roni menjawab cepat.


Bayangan mata sendu kembali berkelebat di matanya. Sesempatnya Roni berdoa dalam hati segera dipertemukan kembali dengan janda Abbas. Ia sudah menyukainya sejak awal bertemu. Mata sendu tapi menyiratkan karakter yang kuat dari seorang perempuan muda yang tidak mudah ditindas, sesuai dengan kriterianya tentang seorang perempuan.


“Ambil aja kalo lo mau.” Ivan mencibir Denis, “Tipe seperti itu udah nggak  membuatku on.”


Kontan saja perkataan Ivan membuat Denis tertawa makin keras, “Penyakitmu udah sangat akut. Entah perempuan mana yang bisa menyembuhkannya. Aku akan membiayai pesta pernikahanmu jika saat itu terjadi. Kamu tinggal sebut mau dilaksanakan di mana dan mau bulan madu di mana, aku yang akan membiayai.”


“Ku ingat itu.” Ivan menatap Denis dengan kesal mendengar olok-olok sepupunya.


Mata itu terus bermain-main di pelupuk matanya. Bayangan senyum manis serta suara lembutnya membuat Ivan terlena sesaat dalam pesona yang membuatnya melupakan kekesalan yang terjadi.


“Hei kalian berdua. Apa yang kalian lamunkan? Jangan-jangan kalian melamunkan orang yang sama …. ” Denis merasa heran melihat Ivan dan Roni sama-sama terjebak dalam lamunan masing-masing.


Sontak Ivan dan Roni saling berpandangan. Dengan cepat Roni berjalan mendekati meja Ivan.


“Saya kembali ke ruangan. Jika bos ada keperluan, saya stand by di tempat.” Roni membungkukkan badan sambil melemparkan senyum ke arah Denis yang tersenyum lebar padanya yang dibalas Ivan dengan anggukan kepala.


Ivan bangkit dari kursi kerjanya, dan menghempaskan tubuhnya di sofa menghadapi Denis yang kini duduk dengan posisi tegak.


“Apa yang terjadi dengan hubunganmu dan Sandra? Bukankah dia  kekasih idamanmu?” Denis bertanya dengan hati-hati.


Ivan menghela nafas berat. Sebenarnya ia malas untuk menceritakan permasalahan pribadinya. Tapi kedekatan yang terjadi antara ia dan Denis, membuat keduanya tidak pernah menyimpan rahasia satu sama lain. Ia juga menceritakan keinginan mamanya yang akan menjodohkan dirinya dengan putri relasinya jika dalam waktu yang tersisa 3 bulan ke depan belum mengenalkan kekasihnya pada sang mama.


“Kenapa kamu nggak nikah kontrak saja … toh banyak yang mau melakukan hal itu. Kalian bisa membuat perjanjian yang sama-sama menguntungkan,” Denis berkata dengan serius mendengar Ivan yang tampak tertekan dengan kondisi yang ia jalani.

__ADS_1


“Mencari  perempuan yang mau menikah kontrak bukanlah perkara mudah. Aku malas untuk memikirkan hal seperti itu,” Ivan berkata dengan nada getir, “Aku baru saja mengakhiri hubungan dengan Sandra. Aku malas untuk memulai lagi.”


“Hei, hilang satu tumbuh seribu. Masih banyak perempuan baik yang berada di luaran. Aku sekarang berusaha memperbaiki diri. Laki-laki baik, pasti akan ketemu jodoh perempuan yang baik pula.”


“Cih!” Ivan tersenyum mengejek Denis yang kini tampak serius dengan ucapannya, “Gayamu. Tak ku sangka seorang cassanova sepertimu bisa insyaf.”


“Aku serius, nggak masalah gadis atau janda. Aku hanya ingin mendapatkan ketenangan. Di usia kita sekarang tidak cocok lagi untuk bersenang-senang. Jika ketemu yang klop akan ku kejar hingga naik pelaminan.”


“Semoga   segera bertemu yang kamu cari,” Ivan berkata dengan tulus, mendengar perkataan Denis tak ayal membuat ia teringat almarhum temannya.


“Kenapa kamu kelihatan tidak bersemangat?” Denis melihat Ivan yang kini wajahnya berubah sedih.


Ivan menghela nafas berat. Bayangan senyum dan tawa Abbas yang sering memperoloknya hadir mengganggu lamunannya, “Belum lama ini aku kehilangan seorang teman, bisa ku katakan sahabat sejati. Dan kepergiannya bukan hanya menyisakan duka buatku, tapi ibu serta istrinya yang kini mungkin telah melahirkan anaknya.”


Kening Denis langsung berkerut mendengar perkataan Ivan. Ia  tak ingin mengomentari ucapan Ivan, tapi ia justru tertarik mendengar kelanjutan ceritanya.


“Keduanya menikah saat Abbas dalam keadaan sekarat. Satu jam kemudian ia meninggal dunia,”  Ivan menghembuskan nafas dengan kuat, berusaha membuang beban yang masih terasa berat di dadanya, “... sampai sekarang aku masih belum siap untuk menemui keluarga almarhum.”


“Apa kesalahan yang kau perbuat sehingga segan untuk menemui keluarganya?”


Dengan terpaksa Ivan mengulang kembali kronologis kepergian Abbas karena memenuhi keinginannya untuk mempersiapkan lamaran buat Sandra.


Denis terdiam. Kini ia memahami ketertutupan Ivan. Ini bukan hanya perkara patah hati dan terkhianati, tapi lebih kepada perasaan kehilangan teramat dalam. Ia dapat merasakan kegundahan yang kini dialami sepupunya.


“Kenapa tidak kau nikahi saja janda temanmu itu? Mungkin bisa menghapus perasaan bersalah yang kau rasakan selama ini,” Denis berkata langsung menohok perasaan Ivan, “Ku kira tante Laras nggak akan keberatan.”


“Tapi aku tidak mencintainya, dan dia bukan tipeku .... “


Bayangan  pertemuan pertama saat di rumah sakit berkelebat di benak Ivan. Bagaimana mungkin ia memperistri seorang perempuan yang jauh dari kriteria wanita idaman yang selama ini berada di sekelilingnya.


“Kamu cari istri atau cari bintang iklan untuk televisi? Cinta itu bisa datang kapan saja.” Denis mendengus tak senang mendengar jawaban Ivan, “Sudahlah, aku pulang sekarang.”


“Waktu masih panjang, aku masih ingin ngobrol denganmu. Sudah lama aku tidak mempunyai teman ngobrol yang menyenangkan.”


“Huh!” Denis mendengus dengan nada ejekan, “Berbicara denganmu tidak ada manfaatnya. Mendingan aku mengitari Jakarta mencari pemandangan yang menyegarkan.”


“Katanya sudah tobat ....”


“Kebetulan nanti malam aku ada janji temu dengan  teman lamaku seorang dokter bedah. Dia memintaku untuk merancang bangunan rumah sakit yang akan dihadiahkan pada istrinya yang ingin mengelola rumah sakit anak di pinggiran kota,” Denis bangkit dari kursi dan merapikan jasnya yang tampak kusut.

__ADS_1


“Baiklah,” Ivan bangkit dari kursinya mengantarkan Denis yang kini berjalan menuju pintu, “Semoga bisnismu lancar dan ketemu jodoh yang tepat.”


“Doa yang sama untukmu.” Denis menepuk pundak  Ivan berusaha menyemangati sepupunya yang hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala.


__ADS_2