Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 27


__ADS_3

Suara anak kecil dan beberapa orang dewasa terdengar menghentikan keheningan diantara keduanya. Dari kejauhan Adi melihat serombongan berjalan menuju ke arah mereka. Ruang penginapan ibu dan anak memang berada di lantai yang sama. Ia terpaku melihat Marisa, Darmawan, si kembar, juga pasangan Gigi dan Fery.


“Jeng Linda…” Marisa menghentikan langkahnya melihat Linda yang termenung masih memikirkan nasib menantunya.


Linda mengangkat mukanya. Tatapannya teralihkan pada Ariq dan Ali yang digandeng Darmawan. Keduanya semakin besar dan sangat tampan.


“Siapa yang sakit?” Marisa kembali mengejutkan lamunannya, dan berjalan menghampiri Linda yang masih terpaku menatap si kembar. “Kenapa kalian berada di sini, siapa yang sakit?”


“Helen.” Akhirnya Linda tersadar begitu Marisa mengulang pertanyaannya. Matanya kini kembali terarah pada si kembar yang menarik-narik tangan Darmawan.


“Opa, ayo kita lihat dedek. Aku rindu dedek opa…” Ariq terus menarik tangan Darmawan. Ia tak mempedulikan tatapan sendu Linda yang memandang padanya dan Ali.


Darmawan menatap istrinya, “Aku duluan dengan si kembar. Silakan kalian mengobrol terlebih dahulu.” Ia tersenyum ke arah Adi dan Linda.


“Silakan, om.” Adi menganggukkan kepala seraya melayangkan pandangan kepada Ariq dan Ali yang berlalu dari hadapannya. Kepedihan kembali menggayut di dadanya. Matanya berkabut menahan airmata yang ingin meluncur menahan kerinduan. Putra kembarnya begitu dekat, tetapi tak bisa ia sentuh.


“Apa boleh aku menjenguk menantumu, jeng?” Marisa berusaha menunjukkan empatinya pada Linda, karena ia belum mengetahui permasalahan yang sedang terjadi.


“Maafkan aku, Jeng. Menantuku sedang ingin sendiri. Ia mengalami keguguran lagi.” Akhirnya Linda menceritakan keadaan Helen yang sebenarnya. Walaupun kenyataan sebenarnya ada fakta terburuk yang akan menjadi rahasia yang akan ia simpan selamanya. Ia malu jika Marisa mengetahui kondisi menantu kebanggaannya.


“Innalillahi wainnailaihi roji’un. Aku turut berduka cita. Semoga cepat dapat gantinya ya…” Marisa berusaha menghibur hati sahabatnya itu.


“Kamu sendiri kenapa berada di rumah sakit ini?” akhirnya Linda tak dapat menahan rasa ingin tahunya karena melihat Marisa datang serombongan.

__ADS_1


“Dede Sasya demam tinggi, juga dirawat inap di sini. Si kembar udah nggak tahan pengen lihat si dede. Makanya sepulang dari sekolah udah dijemput sama opanya untuk berangkat langsung kemari.” Marisa menceritakan keadaan yang terjadi.


Linda terenyuh mendengar ucapan Marisa. Rasa sakit dan kecewa yang sempat hadir karena keadaan Helen kini hilang begitu saja melihat Marisa serta kedua cucu yang tidak pernah diakuinya.


“Aku permisi dulu, Jeng.” Marisa memohon diri karena tak sabar ingin mengetahui perkembangan si mungil.


Linda menahan langkah Marisa, “Apa aku boleh melihatnya bersamamu?” Linda bertanya penuh harap.


“Baiklah.” Marisa mengiyakan permintaan Linda.


“Mama mau ikut tante Marisa. Apa kamu ingin tetap di sini?” Linda menatap Adi seksama, karena melihat Adi yang masih termenung menekuri lantai.


Adi mengalihkan pandangan pada Linda, “Aku akan kembali ke ruangan Helen. Nanti aku akan menyusul mama.”


Linda mengangguk dan segera berjalan beriringan dengan Marisa. Perasaan berdebar melingkupi Linda. Ia tidak tau, apa yang kini terjadi dengan jantungnya. Ia tidak memikirkan apa yang akan ia katakan saat  bertemu mantan menantu dan cucu-cucunya nanti, yang ia inginkan sekarang hanya melihat wajah ketiga cucunya.


“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.” Yang berada di dalam ruangan menjawab salam mereka dengan kompak.


“Dede sayang, apanya yang sakit?” Marisa mengelus rambut Hasya dengan lembut begitu ia berdiri di samping tempat tidur Hasya.


“Tatit paya, oma?” ia memegang kepalanya membuat Marisa merasa gemes dan langsung mengecup keningnya. “Dede bau, beyum mandi oma…”


“Cucu oma yang paling wangi.” Marisa langsung mencium pipi kiri dan kanan Hasya secara bergantian. Aroma minyak telon dan bedak bayi membuatnya merasa tenang.  Airmata Marisa menetes menyaksikan jarum infus yang ditanamkan di tangan si mungil. Ia mengusap lembut jemari montok yang kini tertanam jarum infus di sana.

__ADS_1


Linda melihat pemandangan itu dengan dada bergetar. Perasaannya berkecamuk. Keinginannya untuk menyentuh Hasya tidak bisa ia lawan, “Apa boleh eyang menciummu sayang?” tanpa memikirkan perasaan malu, ia bertanya dengan penuh harap.


Hani tidak menyangka Linda akan  berbuat seperti itu, tapi ia tidak bisa menahan keinginan Linda, walau bagaimanapun darah Linda mengalir pada anaknya. Hani menatap Hasya yang tampak diam tak bergeming.


“Dede sayang, eyang pengen cium dede, apa boleh?” Hani memandang Hasya sambil mengelus pipinya yang tetap chubby.


“Boyeh, eyang…” suara Hasya begitu menggemaskan.


Dengan perasaan yang sukar dilukiskan, Linda akhirnya bisa menyentuh cucu yang pernah ia tolak. Air matanya langsung bercucuran saat bibirnya mulai mengecup kening Hasya dan mencium pucuk kepalanya beberapa saat, sambil memejamkan mata. Wangi aroma bayi langsung menyeruak memenuhi hidungnya.


“Eyang tenapa nangis?” Hasya menatap Linda dengan mata beningnya. Ia merasa heran melihat teman omanya meneteskan air mata.


Marisa membelai rambut Hasya, “Eyang baru kehilangan cucunya, Jadi kita turut prihatin atas kemalangan eyang. Semoga Eyang segera mendapatkan pengganti cucunya lagi…”


Hani terkejut mendengar perkataan Marisa. Selama ini ia memang menutup akses tentang kehidupan Adi beserta keluarga barunya.  Ia pun tidak ingin mengetahui kehidupan sang mantan. Hani menyangka bahwa Helen sedang mengandung anak kedua. Entah sudah berapa tahun umur anak mereka yang pertama, pasti lebih muda dari Hasya, itulah yang ada dipikiran Hani sekarang.


“Putrimu sangat cantik, Hani…” ucapan Linda terdengar tulus di telinga Hani. Ia memandang mantan menantunya dengan lekat. Menantu yang selama ini ia tolak. Padahal ia menyadari, semenjak kepergian Hani dan anak-anak dari rumah, tiada lagi kehangatan serta canda tawa suara si kembar, yang membuat suasana rumah lebih ceria. Sikap Helen yang kasar dan tidak pernah menghargainya sebagai mertua membuat Linda cukup tersiksa. Tetapi karena keegoisannya sendiri, ia berusaha memaklumi watak Helen yang kini menjadi boomerang dalam rumah tangga anaknya.


Baru kali ini Hani mendengar suara mertuanya berkata manis padanya. Selama mereka berumah tangga sangat jarang Linda berbicara padanya  Hani hanya seperti seorang babu di rumah mereka yang megah. Tiada satupun yang membela Hani, karena ayah mertuanya sangat jarang berada di rumah, begitupun suaminya yang disibukkan dengan urusan perusahaan, tak pernah berada di sampingnya, apalagi membantunya mengurus si kembar. Hani hanya dianggap sebagai mesin pencetak anak.


“Wajahnya sangat mirip ayahnya…” Linda berbicara lirih, tetapi cukup terdengar di telinga Marisa dan Hani.


“Tentu saja, Jeng. Masak cucuku tampangnya mirip tetangga. Yok, kita gabung di sofa…” Marisa berusaha mengalihkan pembicaraan Linda. Melihat tingkah Linda dan perkataan yang baru ia dengar, Marisa yakin sahabatnya itu mulai merencanakan sesuatu.

__ADS_1


 


 


__ADS_2