
Ivan terdiam mengikuti langkah Khaira yang menggendong Fajar menuju kamar mereka. Ia menahan diri untuk berkata. Ia tau kesalahannya yang membuat Fajar dan Embun terlepas dari pengawasan memang fatal. Untunglah tidak terjadi hal yang buruk, kalau sampai ....
Ia menggelengkan kepala tidak ingin membayangkan. Karena merasa bersalah ia hanya mengamati setiap pergerakan sang istri, belum berani untuk berbuat apa pun yang akan membuat Khaira emosi padanya.
Ivan melihat Khaira yang sudah berganti baju tidur mulai naik ke peraduan tanpa memandangnya. Ia memeluk dan mencium si kembar dengan air mata yang menetes di pipinya. Ia yakin apa yang ada di pikiran Khaira sama dengan yang ia rasakan.
Dengan perasaan gundah, Ivan memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri dan membuang segala kegalauan yang masih mengganggu pikirannya. Keluar dari kamar mandi ia merasakan suasana hening yang begitu menyiksa. Ia segera memakai baju yang telah disiapkan Khaira di sofa tempat ia berdiri saat ini.
Hingga naik ke tempat tidur dan berbaring di belakang Khaira, Ivan hanya berdiam diri. Ia berharap malam segera berlalu dan yang ia lalui hanya mimpi buruk, dan besok akan berawal seperti semula. Ia menghela nafas, berusaha membuang segala keresahan yang ada dalam pikirannya.
Khaira menyadari kegelisahan suaminya. Ia tidak terpengaruh dengan omongan Hasya tentang Ivan yang berbincang dengan perempuan lain. Bukan itu, tapi si kembar yang terlepas dari pengawasan Ivan. Nasib baik ustadz Helmi menemukan keduanya tanpa kekurangan satu apa pun, kalau tidak ....
Khaira terlelap lebih dahulu dari pada Ivan. Ia membiarkan suaminya agar berpikir dan bertindak lebih hati-hati. Kali ini ia harus lebih keras dalam pengawasan si kembar. Ia tidak akan membiarkan siapa pun yang sembrono dalam menjaga kedua buah hatinya, bahkan suaminya sendiri.
Melihat tidak ada pergerakan di sampingnya, Ivan yakin bahwa Khaira sudah tertidur. Ia mengusap wajah dengan perasaan kesal. Harusnya malam ini mereka saling memanjakan dan berbagi kehangatan satu sama lain. Tapi karena kesalahan yang ia perbuat, jauh panggang dari api. Dan ia terus merutuki diri sendiri yang belum bisa fokus terhadap si kembar, sehingga mudah terpengaruh dengan hal remeh yang tidak penting.
Khaira membuka mata begitu azan Subuh berkumandang. Ia melihat tangan kokoh yang melingkar di perutnya dengan erat. Ia terus beristighfar dalam hati agar tidak berkata kasar pada suaminya. Ia sudah berdamai dengan semua masa lalu Ivan.
Apa pun yang terjadi ia sudah tak peduli. Yang jadi prioritasnya adalah menjaga dan merawat keluarga kecilnya yang kini utuh kembali. Tapi jika berhubungan dengan si kembar, ia tidak akan mentolerir apa pun bahkan siapa pun.
Ia merasa pelukan Ivan semakin kuat di pinggangnya, dengan nafas yang memburu membuat lehernya hangat dan tengkuknya mulai meremang. Khaira tak peduli. Ia mencubit tangan Ivan dengan keras membuat pelukannya mengendor, tapi hanya beberapa saat tubuhnya tertarik kembali merapat pada dada bidang suaminya.
“Bunda ... mimi syusu .... “ suara kenes Embun menghentikan aktivitas kutub utara dan selatan yang saling tarik menarik.
Fajar pun sudah duduk menghadap keduanya yang masih berbaring dengan penuh ketegangan. Mata bening Fajar memandang ayah dan bundanya yang tampak tegang.
Ivan menghela nafas berat. Putri dan pangeran kecilnya sudah bangun. Alarm sudah berbunyi. Ia memijit kepalanya yang sudah senat-senut karena keinginannya belum terpenuhi. Untuk mengambil hati sang bidadari ia segera bangkit dari peraduan.
“Ayah akan bikinkan mimi-nya ya .... “ Ivan berjalan dengan cepat meninggalkan ketiganya yang langsung bangun dan turun dari tempat tidur.
Dengan menggulung rambut dan mencepolnya Khaira segera menggandeng Fajar dan Embun mengikuti langkah Ivan menuju dapur. Mata Ivan nyalang melihat penampilan sang istri yang begitu mengganggu pikirannya. Para art belum kelihatan di dapur, membuat Khaira dengan leluasa melakukan apa pun.
Ivan menelan ludah berkali-kali. Jika tidak ada si kembar entah di sudut dapur mana dia akan menarik Khaira untuk menuntaskan hasrat yang sudah tertahan selama dua hari yang belum tersalurkan.
Fajar dan Embun duduk manis di kursi menunggu sang ayah yang masih membuat susu dengan beban pikiran yang membuatnya lamban. Penampilan istrinya yang menggunakan baju tidur kaos selutut press body tanpa lengan membuat sesuatu dalam dirinya berontak mencari pelampiasan.
“Sabar, sabar .... “ monolog Ivan dalam hati.
Ia segera mengulurkan botol susu pada si kembar yang masih menunggu dengan sabar. Fajar dan Embun langsung berlarian menuju sofa di ruang keluarga. Begitu sampai keduanya langsung membaringkan diri dengan nyaman. Khaira memposisikan diri di samping Embun.
Tatapan lekat Ivan tak beralih dari Khaira. Ia tau, sampai detik ini istrinya masih menghindari kontak mata dengannya.
__ADS_1
“Yang, hari ini kita akan mengunjungi proyek rumah sakit,” akhirnya Ivan mulai menghempas kesunyian yang terjadi. Ia khawatir Khaira berubah pikiran, “Jam 9 kita berangkat.”
Khaira menganggukkan kepala perlahan. Ia akan menelpon Ira untuk menitipkan Fajar dan Embun. Tidak mungkin ia membawa si kembar mendampingi Ivan. Kalau saja ia tidak menyetujui ajakan Ivan, tentu hari ini ia di rumah seharian memanjakan si kembar.
Ivan menarik nafas perlahan saat melewati Khaira yang sedang memasang baju si kembar. Ia melihat baju kemejanya sudah tersedia di samping si kembar yang sudah wangi. Ia merasa lega karena Khaira sudah menelpon Ira untuk menitipkan si kembar selama mereka pergi.
Selama perjalanan menuju proyek yang menghabiskan waktu satu setengah jam Khaira masih menahan diri untuk berbicara. Tak guna membahasnya, harusnya Ivan sadar skala prioritas dan yang tak penting selalu ia hadapi sehari-hari. Ia ingin suaminya menyadari sendiri tanpa harus ia mengungkapkannya.
Ivan yang menyetir sendiri berkali-kali memandang Khaira yang diam tak bergeming duduk di sampingnya. Rasanya waktu berjalan sangat lambat, karena semalaman sampai detik ini sang bidadari belum mengeluarkan suaranya.
Begitu sampai di lokasi, Ivan segera memarkirkan mobil. Tepat jam sebelas siang mereka sampai di parkiran. Ivan turun dengan cepat dan membukakan pintu buat Khaira. Ia langsung menggandeng Khaira melihat sosok Danu serta Berli dari jarak 10 meter tempat ia dan Khaira parkir saat ini.
“Assalamu’alaikum .... “ Ivan memberi salam begitu tiba di hadapan Danu.
Ternyata bukan hanya Danu dan Berli, Laura, ustadz Hanan dan ustadz Helmi juga berada di lokasi yang sama.
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” semua menjawab dengan kompak.
Ivan menyadari tatapan ustadz Helmi pada Khaira yang berdiri di sampingnya. Ia tidak menyangka ustadz Hanan beserta asistennya berada di lokasi yang sama dengan mereka.
“Bos besar akhirnya muncul juga,” ustadz Hanan tersenyum ramah padanya.
“Alhamdulillah, proyek kita sudah 85 persen rampung,” ustadz Hanan berkata dengan perasaan lega, “Saya sangat bersyukur dapat membantu untuk memberikan manfaat bagi kemaslahatan umat.”
“Apa tuan Ivan ingin melihat progresnya?” Berli menawarkan Ivan untuk mengikuti mereka yang akan berkeliling bersama.
“Bunda mau lihat?” tanpa mempedulikan pandangan suka dan tidak suka yang ada di hadapannya Ivan memandang lekat Khaira yang masih berdiam diri.
Khaira menganggukkan kepala. Ia langsung mengalungkan tangannya di lengan Ivan. Ia dapat melihat tatapan kesal Laura yang tak mengalihkan pandangan dari wajah suaminya.
Perasaan Ivan menghangat melihat kelakuan Khaira. Dengan bahagia ia berjalan berdampingan bersama Berli dan ustadz Hanan, sedangkan yang lain mengikuti mereka dari belakang.
Ternyata tindakan Khaira tidak hanya sampai disitu. Ia menyandarkan kepalanya di dada Ivan dan menempel rapat pada suaminya.
“Cih!” Laula merasa kesal atas perbuatan Khaira yang sengaja memamerkan kemesraan di hadapannya.
Khaira tersenyum dalam hati melihat Laura yang seperti cacing kepanasan menyaksikan mereka berdua. Ia teringat ucapan Laura yang begitu meremehkan dirinya dan menganggap bahwa ia bukan siapa-siapa dibanding Laura.
Ia tidak sadar bahwa perbuatannya seperti memancing di air kelruh sehingga membangunkan Singa yang sudah menahan lapar dan dahaga sejak kemaren malam. Ivan menelan salivanya menahan sesak atas tindakan Khaira yang benar-benar di luar dugaannya.
Setengah jam mereka berkeliling melihat sebagian bangunan yang mulai dilakukan pengecatan. Akhirnya mereka kembali ke tempat awal.
__ADS_1
Khaira menghapus keringat di dahi Ivan yang mengalir menganak sungai. Ia merasa kasian melihat sang suami yang menyeka keringat dengan punggung tangannya.
“Yang bawa istri enak ternyata,” kembali ustadz Hanan berkata sambil tersenyum.
“Pantas saja selama ini tuan Ivan gak mau berkunjung, karena tidak ada yang mendampingi,” Berli berkata sambil tersenyum samar, “Karena sekarang sudah ada pengawal, jadi betah turun ke proyek.”
Ivan tersenyum mendengar perkataan ambigu ustadz Hanan dan Berli. Tapi ia merasa sangat bersyukur serta bahagia atas semua perhatian yang ditunjukkan Khaira padanya dihadapan semua orang.
“Kita langsung makan di Palm Court Four Seasons .... “ ujar Berli sambil melihat jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 12 tepat.
“Saya setuju. Kita belum pernah merayakan kerjasama yang telah terjalin,” ustadz Hanan mengiyakan perkataan Berli, “Pantas saja perut rasanya beda, udah waktunya jam makan.”
Sebelum memasuki restoran mewah yang berada dalam lingkungan Hotel Jakarta, ustadz Hanan, dan yang lain memisahkan diri untuk melaksanakan salat Zuhur. Merasa tidak nyaman, Berli akhirnya mengikuti langkah mereka, kecuali Laura yang tinggal sendirian dengan alasan dapat tamu bulanan.
Khaira duduk di pojokan berdampingan dengan Ivan. Ia hanya makan secukupnya saja dan melayani keinginan Ivan yang tampak berselera menikmati hidangan Western yang menjadi favoritnya. Dasar Laura tak tau malu ia pun duduk diantara Berli dan di samping Ivan.
Setelah menikmati makan siang dengan menu Western, mereka masih terlibat percakapan ringan. Khaira melihat bekas saos di sudut bibir Ivan. Laura sudah bersiap mengulurkan tissu pada Ivan, dengan sigap Khaira mengelap saos di sudut bibir suaminya, membuat Laura kecewa.
“Saya berharap jika proyek pembangunan rumah sakit ini selesai, tuan Ivan akan memberikan mega proyek lainnya pada kami,” ujar Berli penuh harap.
“Aamiin .... “ ustadz Hanan langsung mengaminkan ucapan Berli dengan tulus.
Khaira tersenyum dalam hati melihat Laura yang memandangnya dengan raut kesal. Sebenarnya tak ada sedikitpun keinginannya untuk memamerkan kemesraan antara dirinya dan Ivan. Tapi semenjak kedatangan mereka, tingkah Laura mulai over akting, berbicara lembut mendayu dengan gaya yang dibuat-buat.
Ia menjadi risi dengan sikap Laura yang sok imut di hadapan para lelaki yang berada di antara mereka. Dari sudut matanya ia melihat ustadz Hanan dan ustadz Helmi yang geleng-geleng kepala atas sikap Laura yang sok perhatian untuk menarik simpati para lelaki yang tampangnya di atas rata-rata, khususnya suaminya sendiri yang menjadi fokus perhatian Laura.
Blousenya yang tipis dengan rok di atas lutut membuat ustadz Hanan dan ustadz Helmi tidak pernah melayangkan pandangan pada Laura. Keduanya menyibukkan diri berbicara dengan Ivan dan Danu, sesekali dengan Berli yang berdampingan dengan Laura.
Khaira tidak tau apa yang dibicarakan Ivan dan Danu dengan serius di pojok ruangan saat ia kembali dari toilet. Wajah Ivan tampak tegang. Ia khawatir ada masalah yang membuat suaminya terlibat pembicaraan berdua dengan asistennya.
Begitu terpisah dari rombongan saat keluar dari restoran, Khaira segera melepaskan kaitan tangannya di lengan kokoh Ivan. Cukup baginya bersandiwara di depan Laura yang begitu kentara mendambakan suaminya. Ia harus bisa menjaga sang suami dari godaan perempuan jablai di luaran sana, bahkan berpura-pura menampilkan kemesraan yang membuatnya geli sendiri.
Khaira terkejut, Ivan menyatukan jemarinya dan membawanya berjalan dengan cepat tapi tidak menuju pintu ke luar tapi ke meja resepsionis hotel dan langsung memesan kamar tanpa meminta persetujuan darinya.
“Masss ..... “ Khaira memandang Ivan penuh tanya.
“Ada yang harus diselesaikan saat ini juga,” senyum misterius tergambar di wajah Ivan.
Khaira bergidik melihat kilat gairah yang terpancar dari sorot mata suaminya. Terpaksa ia mengikuti langkah Ivan yang terburu-buru memasuki lift dan menekan tombol 14 dengan tangan kirinya yang tak melepas genggaman di tangannya.
***Hayoo\, siapa yang suka memancing di air keruh dan membangunkan Singa yang sedang tidur. Angkat tangan! Dukung terus ya ...Sayang Otor untuk readerku semua .... ***
__ADS_1