
Ivan baru saja pulang melaksanakan salat Magrib di masjid komplek yang berjarak sekitar 10 meter dari rumahnya bersama pak Imron dan pak Ilyas, sopir dan satpam penjaga rumah. Saat melewati rumah tante Ratna ia melihat beberapa buah mobil terparkir. Ivan langsung membuka pintu pagar rumahnya.
“Tetangga baru ya?” sebuah suara perempuan kembali terdengar menyapa Ivan.
Ia langsung menoleh ke samping. Dari perbatasan pagar depan yang rendah dua orang perempuan yang sedang berbincang menatapnya dengan penuh kekaguman.
“Benar bu,” jawab Ivan sambil menganggukkan kepala.
“Kok ibu sih,” perempuan yang berdandan menor dan berpakaian seksi tersebut tidak senang mendengar perkataan Ivan, “Kami ini teman satu sanggar senamnya jeng Ratna lho,”
“Siapa nama mas-nya?” perempuan yang satunya langsung mengulurkan tangan mengajak salaman.
“Eh, mas Ivan baru pulang dari masjid ya….?” Suara tante Ratna membuat Ivan semakin tidak nyaman.
“Maaf tante saya pamit. Masih ada keperluan,” Ivan mempercepat langkahnya tanpa mempedulikan uluran tangan perempuan yang menatapnya tanpa berkedip.
Ia tidak ingin terjebak dengan ketiga perempuan yang menatapnya dengan pandangan yang sudah biasa ia terima sehari-hari. Saat memasuki rumah keheningan terjadi. Ivan langsung berjalan ke kamar.
Sayup-sayup ia mendengar suara bacaan al-Qur’an. Senyum terbit di wajah Ivan. Ia merasakan ketenangan ketika memasuki kamar. Khaira yang masih membaca al-Qur’an tidak menyadari bahwa suaminya sudah berada di kamar dan melihat gerak-geriknya. Ivan menghenyakkan tubuhnya di atas pembaringan, mendengarkan dengan seksama bacaan istrinya. Ia memang belum terbiasa membaca al-Qur’an, tetapi sekarang di kantor pun ia mulai membiasakan diri memutar murrotal al-Qur’an dari ponselnya.
Begitu selesai dengan bacaannya, Khaira menyimpan al-Qur’an di atas nakas. Ia segera membuka mukena, melipatnya dan menyimpannya dengan rapi. Ia terkejut saat membalik badan melihat Ivan duduk di tempat tidur memandang lekat padanya.
Khaira berjalan menghampiri suaminya yang masih menggunakan baju koko dan sarung. Tanpa berkata apa pun ia meraih jemari Ivan dan menciumnya.
Ivan merasa terharu melihat perbuatan sang istri. Sudah hampir seminggu mereka berumah tangga, banyak kebaikan yang ia lihat dalam keseharian istrinya. Hanya saja, Khaira jarang memulai percakapan. Walau pun ia berusaha memancing pembicaraan, tetap saja Khaira hanya menjawab secukupnya, dan saat berbicara pun Khaira tidak pernah menatap wajahnya.
Semua keperluan dirinya sehari-hari sekarang sudah diambil alih istrinya. Ivan tidak perlu bersusah payah menyiapkan pakaiannya sendiri, semua sudah siap sedia saat ia keluar dari kamar mandi. Ia merasa senang karena selera pakaian Khaira sama dengannya, sehingga apa pun yang disiapkan Khaira selalu pantas ia kenakan. Kehangatan meliputi hatinya dengan semua yang telah dilakukan Khaira untuknya.
Khaira berusaha melepas jemarinya yang masih berada dalam genggaman Ivan, tapi tangan kokoh itu menggenggamnya dengan erat. Ivan langsung berdiri menyejajarkan dirinya dan Khaira. Genggaman tangan berubah jadi rangkulan erat di pinggang Khaira. Keduanya berdiri berhadapan dengan jarak yang dekat.
Ivan membelai rambut ikal Khaira yang panjangnya melewati bahu. Tatapannya lekat memandang wajah ayu yang menatapnya tanpa makna. Belum ada rasa cinta yang tergambar di mata bening itu. Ivan mendaratkan kecupan di kening istrinya. Ia tetap sabar menunggu salju mencair dari tatapan mata Khaira. Ivan langsung memeluk tubuh istrinya dengan sepenuh perasaan.
Khaira hanya terdiam dengan perbuatan suaminya. Rasanya ia ingin menolak setiap perlakuan Ivan, tapi mengingat semua yang dikatakan oma dan mbak Hasya ia hanya bertindak pasif tanpa ada niat untuk membalas semua perlakuan suaminya.
“Malam ini kita cari makan di luar ya. Aku kangen dengan bebek goreng pak Kusno,” ujar Ivan ketika sudah melepaskan Khaira dari pelukannya.
Khaira mengangguk datar tanpa keinginan menjawab perkataan suaminya. Ia segera berlalu menuju walk-in closet untuk mengambilkan pakaian ganti Ivan. Dalam hati ia merasa senang kebetulan sudah tiga hari belakangan ini pengen makanan yang jadi favoritnya selama hamil.
Ia tidak menyadari Ivan mengikuti langkahnya dari belakang, karena sibuk dengan pikirannya sendiri. Setelah mengambil kaos santai dan celana pendek yang berada di dalam lemari ia segera berbalik.
“Astaghfirulah,” Khaira terkejut melihat Ivan yang berada di hadapannya hanya menggunakan boxer yang menatapnya tanpa dosa.
Khaira mengulurkan pakaian pada Ivan dengan menundukkan wajahnya. Ia tidak terbiasa dengan kondisi seperti ini, wajahnya memerah menahan malu melihat lelaki dewasa bertelanjang dada walau pun itu suaminya sendiri.
Ivan sengaja mempermainkan istrinya. Bukannya mengambil pakaian tapi ia menarik tangan Khaira hingga tubuh Khaira menabrak dada bidangnya.
Khaira menahan nafas, mencium aroma wangi yang selalu menjadi candunya saat tidur. Ia merasakan jantung Ivan yang berdetak cepat. Wajahnya langsung memerah. Jantungnya terasa berdisko. Ia menolak tubuh Ivan, matanya langsung memandang wajah Ivan dengan kesal. Ia benci dengan situasi ini, yang membuatnya teringat malam kelam itu.
Melihat kekesalan yang tergambar di wajah Khaira, Ivan menyadarinya. Ia tersenyum tanpa perasaan berdosa, dan mendaratkan bibirnya sekilas di telaga madu yang telah ia incar sejak tadi.
“Kita masih punya banyak waktu. Aku tidak akan memaksamu,” ujar Ivan pelan sambil memandang Khaira lekat.
__ADS_1
Saat memasuki warung kaki lima pak Kusno, jemari Ivan tak terlepas menggandeng tangan istrinya. Ia memang harus membiasakan Khaira untuk menerima sentuhan-sentuhan kecilnya. Ia yakin trauma Khaira atas perbuatannya yang menyebabkan kehamilan istrinya belum hilang. Dan ia yakin masih perlu waktu untuk membiasakan istrinya agar bergantung padanya sehingga tidak ada penolakan berarti di masa yang akan datang.
Pagi itu rumah keduanya sudah mulai ramai untuk persiapan mengadakan syukuran yang dilaksanakan setelah salat Ashar.
Hasya dan Ira sudah mondar mandir mengoordinir kathering A2H yang mempersiapkan menu untuk menjamu para tamu yang akan datang pada syukuran rumah baru Ivan dan Khaira, sedangkan Rheina serta Azkia dan timnya menyusun meja prasmanan di halaman depan yang sudah dipasangi beberapa tenda.
Oma Marisa meminta mereka mengundang beberapa pesantren yang lokasinya masih di wilayah yang sama, baik Khaira maupun Ivan menyetujui saran oma. Mereka pun ingin berbagi dengan kalangan yang tidak mampu.
Berhubung ini hari Sabtu, semuanya sejak pagi sudah berkumpul di rumah Ivan dan Khaira. Masing-masing menyiapkan segala kebutuhan untuk anak mereka yang masih kecil, sehingga tidak kerepotan jika sudah berkumpul nanti.
“Rumahmu bagus, de ….” ujar Ira saat pertama menginjakkan kaki memasuki pintu rumah Khaira.
“Terima kasih mba,” Khaira tersenyum seraya mempersilakan Ira beserta rombongannya memasuki rumah miliknya.
Ariq menatap sekeliling rumah sambil tersenyum tipis. Ia dapat melihat kesungguhan Ivan untuk memberikan kenyamanan pada adik kesayangan mereka.
Hingga rombongan Ali, Fatih, dan Junior beserta Hasya datang, mendadak rumah yang sepi langsung heboh. Anak-anak yang berlarian ke sana-kemari, kaum ibu yang asyik ngumpul di dapur dan bapak-bapak yang duduk bersantai di pekarangan belakang rumah.
“Wahh … lagi pada ngumpul ya?” suara ramah dari balik pintu pembatas terdengar menghentikan pembicaraan kaum laki-laki.
“Tante Ratna, silakan ….” Ivan dengan ramah membiarkan perempuan itu membuka pintu samping dan berjalan melewati mereka.
Tampak tangannya penuh membawa paket berisi buah-buahan segar. Penampilannya membuat Ariq, Ali dan Fatih berpandangan dengan kening berkerut, sedangkan Valdo dan Junior senyum-senyum cengengesan melihatnya.
Pagi ini tante Ratna memakai dress selutut berwarna hijau dengan lengan tanggung, sehingga membuatnya nampak segar dipandang.
“Saya ke dalam dulu ya, mau bawain oleh-oleh buat dek Rara, kebetulan suami baru pulang tadi malam.” Dengan santai tanpa dosa tante Ratna berjalan melenggang meninggalkan hawa yang berbeda di kepala para lelaki itu.
“Nggak nyangka ya mas Ivan tetanggaan dengan yang bikin mata suegerr tiap hari,” Valdo mulai menyuarakan isi hatinya.
“Ntar didengar mbak Hasya …. “ Junior mulai mengolok Valdo.
“Bagiku itu biasa. Yang topless pun sudah tidak ada pengaruhnya buatku,” jawab Ivan santai. Ia tersenyum, ingat candaannya kemaren membuat Khaira kesal hingga menangis. Dan ia berjanji tidak akan mengulangi hal receh itu lagi.
“Yang benar?” Junior memandang ipar barunya tidak percaya.
“Memang seperti itu kenyataannya,” Ivan berkata seadanya.
“Pastilah!” Fatih menyela dengan cepat, “Kamu sudah keseringan main, jadi tidak ada pengaruhnya lagi.”
Ivan merasa kesal mendengar sindiran Fatih. Tapi mau gimana lagi apa yang diucapkan Fatih memang tepat dan mengena. Ia terdiam tidak berkomentar, karena semua hanya masa lalu yang tidak ingin ia ingat lagi. Buku kenakalan masa lalu telah ia musnahkan tak bersisa.
Ariq dan Ali hanya diam tidak menanggapi perbincangan adik dan ipar-iparnya. Keduanya masih membahas masalah pekerjaan.
Sementara itu di ruang keluarga yang menjadi basis Khaira dan para perempuan merasa terkejut dengan kehadiran tante Ratna.
Rheina dan Azkia sampai melongo melihat perempuan dengan pakaian serba terbuka itu hadir di antara mereka.
“Ini oleh-oleh suami saya lho dek Rara. Mas Iqbal belum sempat mampir kemari.” Tante Ratna meletakkan parcel buah-buahan di atas meja.
“Terima kasih tante,” Khaira tersenyum ramah. Ia langsung memperkenalkan saudara serta ipar-iparnya pada tante Ratna.
__ADS_1
“Oh, jadi mbak Rheina pemilik butik terkenal itu iparnya dek Rara. Wah, nggak nyangka ya …. “ tante Ratna memandang Khaira dan Rheina bergantian.
“Begitulah tante …. “ Rheina berusaha ramah pada tamu adik iparnya.
Hasya menyambut uluran tangan tante Ratna dengan wajah datar. Ia merasa tidak nyaman melihat penampilan perempuan tetangga baru adiknya.
Ira dan Azkia menyambut tamu Khaira dengan wajah berkerut. Mereka yang sudah terbiasa di lingkungan yang serba syar’i hanya mengelus dada melihat penampilan yang sangat di luar dugaan mereka.
Melihat saudara Khaira yang berpandangan satu sama lain tante Ratna merasa tidak nyaman. Ia merasa kehadiran dirinya tidak tepat dan mengganggu suasana di pagi itu.
“Nggak apa-apa tante, silakan duduk,” Khaira mengambilkan kursi tunggal untuk memberikan tempat pada tamunya.
“Nggak usah de. Tante dan suami juga mau pergi ke rumah mertua. Ntar malem aja ya mampir ke sini lagi. Takut pulangnya kesorean.”
“Baiklah tante. Terima kasih oleh-olehnya ya …. “
Khaira mengikuti langkah tante Ratna. Keduanya berjalan beriringan hingga sampai di pintu samping yang biasa dilewati tante Ratna saat ke rumahnya.
“Wah, diantar sampai ke sini,” tante Ratna merasa senang karena Khaira mengikutinya hingga ke pintu pembatas rumah mereka.
“Semoga perjalanan tante dan suami lancar,” ujar Khaira sambil menyunggingkan senyumnya.
“Aamiin,” tante Ratna segera berlalu dan menghilang di balik pintu rumahnya.
Taklama kemudian semua yang berada di dalam rumah menyusul para suami yang masih duduk santai menikmati suasana pagi yang begitu nyaman.
“Seneng ya dapat pemandangan seger di pagi hari?” Hasya langsung menghenyakkan tubuhnya di samping Valdo yang menikmati kopi hangat.
“Benar mbak. Mas Valdo yang paling semangat tadi. Sampai nggak kedip tuh mata ….” Junior langsung mengadu pada Hasya dengan penuh semangat.
“Kamu itu de, mas tadi hanya bercanda,” Valdo menatap Junior dengan perasaan kesal karena Junior tidak membelanya bahkan melebih-lebihkan.
Ariq, Ali dan Fatih tersenyum mendengar obrolan ketiganya. Gazebo yang tadinya luas kini padat saat semuanya berkumpul menjadi satu.
Ivan langsung duduk merapat pada Khaira yang santai mendengr obrolan Hasya dan suaminya serta Junior.
“Nggak nyangka ya tante pemersatu bangsa tetanggaan sama kalian,” Rheina mencibir sambil menatap Ali yang memandangnya tak mengerti.
“Oh, yang viral di medsos itu ya mbak?” Azkia menatap Rheina penasaran.
“Siapa lagi?” sambung Hasya cepat. Ia masih kesal dengan aduan Junior, “Ntar malem ngga ada jatah.”
Valdo terkejut mendengar bisikan Hasya di telinganya. Matanya langsung membulat memandang istrinya yang kini mengalihkan tatapan pada Ivan dan Khaira.
“Itu sih bukan tante pemersatu bangsa ….” Junior kembali menyela.
“Lantas apaan?” Rheina menatap Junior penasaran.
“Pemecah kosentrasi bangsa,” Junior berkata sekenanya, “ Lihat aja ntar malem, pasti ada yang nggak kebagian kamar karena udah dikunci dari dalam. Ha ha ha ….”
*** Mana kritik dan saran serta votenya. Dukung terus ya biar author khilaf. Apalagi kalau baca komen reader buat author lebih semangat ....***
__ADS_1