Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 216 S2 (Makan Malam Bersama)


__ADS_3

Khaira baru saja mengoleskan lipstick dan merapikan riasan wajahnya. Ia tersenyum mendengar omelan Ivan yang memintanya tidak usah berdandan berlebihan. Ia melotot saat kedua kali  Ivan  ‘nyosor’ untuk menghapus  lipstick yang dinilainya terlalu terang.


“Mas … “ Khaira menahan wajah Ivan yang sudah dekat dengan wajahnya, “Jadi pergi atau tidak?”


“Tidak usah terlalu cantik. Memangnya kamu ingin membuat lelaki di luaran menatapmu tanpa berkedip,” Ivan berkata dengan nada tidak senang.


“Udah cantik dari sononya kok,” Khaira menggoda suaminya sambil mengedip-ngedipkan mata dan membelai dagu Ivan.


Melihat kelakuan istrinya membuat Ivan semakin gemes. Tanpa diduga Khaira, Ivan langsung mengangkat tubuh istrinya dan membaringkan di tempat tidur. Ia langsung mengungkungnya, tak membiarkan Khaira menghindar dari keinginan yang sudah tiga minggu ia tahan.


“Masss …. “ Khaira mencoba berkelit.


Untuk kesekian kali ia tak bisa menolak keinginan suaminya yang begitu menginginkan dan memuja dirinya.


Beberapa saat kemudian ….


Ivan tersenyum puas. Dengan bersiul-siul kecil ia merapikan dasinya sendiri, membiarkan Khaira yang masih sibuk memilih gaun, karena keisengan dirinya menggoda Ivan kini ia sendiri yang ngedumel harus mandi dan berdandan ulang.


Mata Ivan membulat melihat penampilan Khaira yang memakai gaun malam berwarna  krem yang dipadukan dengan jilbab syar’i membuat penampilannya selalu membuat Ivan terpukau.


“Jadi pergi nggak?”  Khaira menatap suaminya dengan bibir manyun.


Ivan melirik jam di pergelangan tangannya. Mereka sudah terlambat satu jam dari perjanjian awal.


“Mas, dosa lho tidak menghadiri undangan …. “ Khaira mencoba mengingatkan Ivan yang masih terpaku melihat penampilannya.


“Kenapa dandanannya menor? Lelaki mana lagi yang ingin kau pikat?” Ivan tidak senang melihat penampilan istrinya.


Khaira geleng-geleng kepala. Bukan sekali dua, mereka terlambat menghadiri undangan gara-gara kecemburuan Ivan setiap melihatnya berdandan.


“Mana mungkin aku memikat lelaki lain, jika seorang Alexander Ivandra adalah lelaki terbaik yang ku miliki. Kekuatan dan keperkasaannya mengalahkan Gatot Kaca si otot kawat tulang besi. Bahkan laki-laki super tak mampu menandingi keperkasaannya …” Khaira tau, hanya dengan rayuan saja bisa membuat suaminya luluh, ditambah goyang  uleknya, mana mungkin Ivan bisa berpaling.


Resep dan ajaran ngawur Hasya yang ia anggap remeh ternyata ampuh dan manjur untuk membuat suaminya tak bisa jauh dan lepas darinya.


Hidung Ivan mulai kembang kempes mendengar puja-puji sang istri. Tapi ia berusaha menahan perasaan bahagia atas pujian sang bidadari pemilik hatinya.


“Apa kamu pernah berhubungan dengan si Gatot itu?”  Ivan paling senang kalau sudah mendapat pujian dari sang istri.


“Pernah,” Khaira melirik suaminya sekilas, “Teman SD-ku namanya Gatot Herlambang.”


“Ha ha ha …. “ Ivan langsung tertawa mendengar jawaban ngelantur sang istri.

__ADS_1


Setelah perdebatan receh, keduanya langsung keluar dari kamar sambil bergandengan tangan. Khaira menghela nafas lega, karena berhasil meyakinkan suami untuk segera menghadiri undangan makan malam dari teman lamanya.


Tanpa melepaskan genggaman tangan di tangan istrinya, Ivan melangkah pasti menuju meja yang telah dipesan oleh George. Saat tiba di sana sudah tampak sosok George dengan seorang perempuan seusia dirinya.


Perempuan bule berambut pirang yang berpenampilan elegan tersebut langsung berdiri cepat begitu melihat kehadiran Ivan dan istrinya.


“Maafkan keterlambatan kami,” dengan santai Ivan menyapa George dan perempuan yang pernah mengisi kehidupan masa lalunya.


George tersenyum tipis sambil menganggukkan kepala. Ia memandang Khaira tanpa mengedipkan mata.


“My wife ….” Ivan mengenalkan keduanya pada Khaira, “Mereka berdua temanku saat masih kuliah di Boston.”


George mengulurkan tangannya pada  Khaira, dengan cepat Khaira menangkupkan kedua tangannya sambil menyunggingkan senyum.


“George …. “ karena Khaira tidak menyambut uluran tangannya akhirnya George menyebut namanya sendiri.


“Claudia …. “


“Khaira …. “


Ivan tersenyum sambil mengelus pundak istrinya saat Khaira berjabatan tangan dengan Claudia yang tampak gugup saat bertemu kembali dengannya.


“I’m fine,” Claudia menjawab sekilas.


Ia dapat melihat bagaimana raut wajah Ivan yang tampak mengagumi sang istri yang memang sangat cantik dan lebih muda darinya. Saat mengetahui keberhasilan Ivan dalam mengelola usahanya timbul rasa sesal di hati Claudia karena meninggalkan sang kekasih.


George segera memberi tanda pada pelayan untuk memesan makan malam istimewa yang disediakan pihak restoran.


Percakapan ringan mulai terjadi antara Ivan dan George membahas bisnis mereka ketika makan malam belum dihidangkan.


Khaira merasa curiga melihat tatapan penuh damba yang terpancar dari Claudia pada suaminya. Tapi ia berusaha menahan perasaannya, apalagi sikap Ivan yang santai tak peduli dengan keberadaan Claudia diantara mereka.


Ivan berbisik pada Khaira untuk ke toilet. Ia hanya menganggukkan  kepala sekilas pada Claudia dan George. Dengan cepat George menyusulnya.


Kini tinggal Khaira dan Claudia yang tertinggal. Melihat Khaira yang tampak tenang dengan penampilan elegan membuat Cladia yakin, bahwa Ivanlah yang telah memfasilitasi semua barang branded yang melekat di tubuh Khaira. Timbul kecemburuan yang sangat besar di hatinya.


“Tampaknya Alex sangat memanjakanmu,” suara sinis Claudia seperti sindiran langsung terdengar.


Khaira tersenyum tipis, “Bukankah sudah kewajiban seorang suami untuk memberikan semua kebutuhan bagi istrinya?” Khaira berkata santai sambil mengedikkan bahu, “Saya lihat suami anda juga memperhatikan semua kebutuhan anda Mrs. Claudia.”


“Apa kamu tidak ingin mengetahui masa lalu suamimu Mrs. Alexander?” tatapan tak senang terpancar di mata Claudia saat memandang Khaira, “Dia seorang raja pesta yang biasa menghabiskan malam  di klub bersama dengan gadis yang berbeda.”

__ADS_1


Khaira menggelengkan kepala dengan senyum yang tak hilang dari wajahnya, “Setiap orang mempunyai masa lalu. Aku pun memiliki masa lalu yang tidak baik. Haruskah aku menuntut kesempurnaan seseorang,  disaat aku sendiri mempunyai kenangan buruk di masa lalu.”


Claudia semakin tak senang melihat perempuan muda di depannya yang selalu membalikkan setiap perkataannya dengan baik malah membuatnya semakin tak berharga.


Sementara itu di toilet pria Ivan dan George masih terlibat percakapan ringan sambil menceritakan masa lalu mereka.


“Kamu pandai memilih perempuan. Rata-rata mantanmu adalah perempuan pilihan,” George berkata dengan serius.


“Apa maksudmu?” Ivan menatap George dari pantulan kaca wastafel dengan kening berkerut.


“Istrimu  sangat menarik,” George berterus terang pada Ivan, “Wajarlah kamu melepaskan perempuan-perempuan yang pernah dekat denganmu termasuk Sandra.”


Ivan menatap George tajam. Ia merasa heran George mengenal Sandra,  yang kini ia sendiri pun sudah tidak tau lagi dimana keberadaannya. Semenjak kejadian pingsannya Khaira di resepsi  pernikahan mereka, Ivan memang langsung memecatnya dari agensi. Ia tidak peduli apa pun yang akan terjadi pada kekasih yang telah mengkhianatinya. Ia tidak ingin seseorang mengganggu rumah tangga mereka yang baru saja terbina.


“Aku sudah menghapus kenangan mereka. Masa depanku bersama dengan istriku, siapa pun yang coba mengganggu aku tak akan tinggal diam,” ujar Ivan tegas.


“Aku sangat senang dengan pelayanan Sandra,” George tersenyum tipis, “Kami dua kali berkencan saat Sandra ada pemotretan di Singapura.”


Ivan enggan mengomentari perkataan George. Ia tidak ingin berlama-lama di toilet. Ia khawatir Claudia akan membuka masa lalu dan menceritakan keberadaan anak mereka yang kini sudah berusia 10 tahun.


“Aku senang memakai barang milikmu,” George berusaha memanasi Ivan yang masih bersikap tenang, “Dan aku menantikan saat istrimu merasakan kenikmatan saat berbagi keringat denganku.”


Kini Ivan berbalik menatap George dengan kesal. Ia merasa menyesal telah memenuhi undangan makan malam George. Ia pikir dengan berjalannya waktu watak George yang selalu ingin bersaing dengannya berubah.


Tapi Ivan keliru, George masih pria yang sama dan selalu ingin bersaing dengannya dan menikmati semua fasilitas miliknya.


“Cobalah bermimpi, karena di kenyataan semua itu tidak akan terjadi,” Ivan berkata sinis.


Ia bertekad di dalam hati akan memberikan pengamanan penuh bagi istrinya. Walau pun ia yakin bukan hanya dirinya yang menjaga Khaira. Empat pengawal sang putri masih selalu ada mendampingi adik kesayangan mereka.


Saat keduanya kembali, Khaira tampak santai sedangkan Claudia berwajah tegang karena tidak mampu menandingi perempuan muda yang  ia pandang sebelah mata karena penampilan yang ia nilai kuno. Tetapi kenyataannya ia lah yang kalah sebelum bertanding.


“Sayang, kita pulang sekarang?” Ivan berkata dengan mesra membuat kedua bule di hadapannya melengos tak senang.


“Apa tidak ada lagi yang ingin kalian bicarakan?” Khaira menatap Ivan dengan raut bingung, karena ia tidak mendengar keduanya membicarakan masalah kerjaan.


Ivan menggelengkan kepala dengan cepat. Ia malas melihat pandangan George yang tak terlepas dari sang istri. Apalagi mendengar perkataannya barusan membuat Ivan tak ingin bertemu George. Ia akan memikirkan cara lain untuk membahas masalah putranya bersama Claudia tanpa harus melibatkan keduanya dalam pertemuan di waktu yang akan datang.


 


*** Pasti readerku sudah punya bayangan akan dibawa kemana dan seperti apa kisah selanjutnya Ivan dan Khaira dalam menghadapi badai rumah tangga. Readerku memang maha tau. Konfliknya tidak akan seberat yang terjadi pada orang tua mereka. Tapi cukup menghabiskan dua atau tiga box tissue. He he he .... Jangan lupa dukungannya dengan me-like\, komen dan vote di hari Senin ya .... "

__ADS_1


__ADS_2