Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 241 S2 (Tiada Titik Terang)


__ADS_3

Ivan melangkah memasuki perusahaan IT milik Ariq dengan cepat. Ia tidak mempedulikan resepsionis yang berusaha menahannya.


“Maafkan kami tuan, tuan Ariq tidak ingin bertemu siapa pun,” resepsionis yang bername tag Lisa berusaha menahan langkah Ivan.


Bukan tanpa alasan mereka menghalangi Ivan, jauh hari sebelumnya Ariq sudah memberitahukan serta menunjukkan foto Ivan, agar tidak diizinkan menemuinya.


“Saya  ipar tuan Ariq. Bagaimana mungkin ia melarang saudaranya untuk bertemu dengannya,” Ivan tetap memaksa masuk.


Resepsionis segera menghubungi Ariq melalui sambungan telpon. Ia menceritakan bahwa  orang  yang sudah di-black list masih  memaksa masuk.


Ariq tinggal geleng-geleng kepala melihat kelakuan Ivan dari layar laptop yang terhubung dengan cctv dalam ruang kerjanya.


“Biarkan saja dia masuk,” akhirnya Ariq mengizinkan resepsionis untuk membiarkan Ivan menemuinya.


“Assalamu’alaikum .... “ Ivan langsung menerobos masuk ke dalam ruangan Ariq tanpa menyapa sekretaris Ariq yang masih sibuk menghadapi laptop.


“Wa’alaikumussalam,” Ariq menjawab cepat tanpa memalingkan wajahnya dari layar laptop.


Tanpa menunggu tawaran Ariq, Ivan langsung menghempaskan tubuhnya di kursi berhadapan dengan Ariq.


“Aku ingin mengetahui keberadaan istriku,” Ivan langsung menyatakan keinginannya tanpa basa-basi.


Ariq menatapnya sekilas, kemudian melanjutkan pekerjaannya memeriksa beberapa email yang masuk melalui laptop.


“Istri mana yang kamu maksud?”


“Tentu saja Rara,” tandas Ivan cepat.


“Heh!” Ariq memasang wajah sinis, “Untuk apa kamu kembali. Bukankah kamu telah berbahagia dengan keluarga kecilmu. Bahkan kamu telah melamar  perempuan yang telah memberimu seorang anak yang jadi kebanggaanmu dan ibumu.”


“Aku tidak pernah melakukannya. Itu hanya pekerjaan orang yang tidak bertanggung jawab,” sanggah Ivan cepat.


Ariq memandang Ivan dengan wajah sinis, “Lalu untuk apa kamu kemari? Bukankah kamu sudah bahagia bersama cinta pertamamu yang telah memberimu seorang anak. Bukannya kami tidak tau, semua video masa lalumu telah tersebar luas di media luar.”


“Itu tidak benar,” bantah Ivan, “Aku tidak pernah menikah dengan Claudia.”

__ADS_1


“Benar atau tidak itu masalahmu. Biarkan Rara hidup tenang. Dia masih muda. Kami ingin ia memulai hidup baru. Seperti dirimu yang telah memilih bersama putramu dan perempuan masa lalumu.”


“Itu tidak akan terjadi. Sampai kapan pun Rara tetap istriku!”  Ivan berkata dengan tegas, “Aku hanya ingin membayar kesalahanku di masa lalu  karena tidak pernah mengetahui kalau dia ada.  Dan aku berusaha mengobati  Bryan semampuku, walau kini Allah berkehendak lain. Dia telah pergi dengan tenang …. “


Ariq melihat nada kesedihan saat Ivan mengucapkan hal itu, tapi ia tidak peduli.  Perbuatan  Ivan terhadap Khaira membuat mereka menutup pintu untuk menerima Ivan kembali dalam keluarga besar mereka.


“Apakah karena anak itu meninggal kau ingin kembali bersama Rara?” Ariq menatap Ivan dengan tajam, “Sayangnya Rara sudah tidak berada di sini. Dia telah pergi dan tidak ingin bertemu denganmu sampai kapan pun.”


“Mohon berikan aku alamat Rara. Aku ingin bertemu dengannya.” Ivan  berusaha meminta dengan sopan, karena Ariq terus menolak untuk memberitahukan tempat tinggal Khaira yang baru.


“Dasar keras kepala,” Ariq merasa kesal menghadapi Ivan yang tidak mau menyerah dengan segala alasan yang ia berikan.


“Aku tidak akan menuntut Rara untuk memberiku seorang anak. Aku mencintainya, dan ingin bersamanya sampai akhir.”


Ariq tersenyum sinis, “Rara sudah tidak berminat untuk hidup bersama denganmu. Dia lebih memilih pergi. Hormatilah keputusannya.”


“Apa dia tidak memikirkan perasaanku?” timbul rasa penyesalan Ivan mengingat apa yang pernah ia katakan sehingga menyakiti perasaan istrinya, “Tolong beri aku kesempatan. Jika mas Ariq memberikan alamat Rara, biarkan aku berjuang agar Rara menerimaku kembali.”


“Oh tuan Alexander Ivandra yang terhormat, saat kamu membawa anak dan mengizinkan kekasih masa lalumu datang  ke rumah, apa kamu memikirkan perasaan Rara? Sudahlah nikmati saja hidupmu sekarang. Mungkin masih ada anak-anak lain akibat pergaulanmu di masa lalu.”


Ivan merasa tersinggung mendengar perkataan Ariq, tapi ia tidak mampu untuk menjawab karena itu memang kenyataan yang telah terjadi. Ia hanya menghela nafas menahan emosi dan perasaan rindu teramat dalam pada sosok istrinya.


“Bagaimana mungkin ia melakukannya. Tolong berikan aku alamatnya,” Ivan masih memohon pada Ariq mengharap belas kasihnya, “Aku berjanji tidak akan menyia-nyiakannya.”


“Selama ini kamu hidup dalam kebohongan, tetapi Rara terus menutupi semuanya dari kami dan menganggap semua baik-baik saja,” Ariq menatap Ivan sinis, “Perempuan mana yang sanggup menjalani kehidupan berumah tangga dengan banyak drama di dalamnya.”


Ivan terdiam. Ia mengakui kesalahannya memang sudah fatal. Tapi tak bolehkah ia berharap untuk bersama kembali dengan istrinya. Ia menatap Ariq dengan wajah penuh harap  agar iparnya bisa memenuhi keinginannya.


“Selama ini kami menghargai keputusan kamu dan Rara untuk membawa Bryan dalam rumah tangga kalian, walau pun kami merasa khawatir  suatu saat kamu akan memilih Bryan dan ibunya. Dan seperti dugaan kami, semua itu terjadi. Jadi sekarang kami atas nama keluarga akan melindungi Rara, dan menghormati keinginannya untuk tidak bertemu dan bersamamu lagi.”


Ivan menggelengkan kepala tak percaya. Sebenci itukah Khaira padanya sehingga tidak ingin menemuinya.


“Tenanglah, Rara tidak akan menuntutmu. Seperti keinginanmu saat melepas Rara. Sekali ia melangkah tidak mungkin baginya untuk kembali.  Seperti keinginanmu yang telah melepas, begitu pun kami. Sekarang tidak ada ikatan lagi antara kalian berdua maupun kami saudara-saudaranya. Kalian hanyalah dua orang asing yang tidak saling mengenal, begitupun kami” tegas Ariq.


“Sampai kapan pun aku tidak akan menceraikan Rara. Dan siapa pun tidak bisa menikahinya,”  Ivan tidak terima dengan perkataan Ariq yang telah memutus ikatan pernikahan yang terjadi antara ia dan Khaira.

__ADS_1


“Oh tuan Alexander, semua bisa dikendalikan uang.”


“Aku akan terus mencarinya, walau dunia tidak mendukungku,” tantang Ivan.


Dengan kesal Ivan meninggalkan ruang  kerja Ariq. Kedatangannya ternyata sia-sia. Ariq tidak memberikan apa yang ia inginkan. Ia harus mencari sendiri untuk menemukan Khaira tanpa melibatkan sanak iparnya, karena mereka telah memutuskan  untuk memisahkan mereka. Ia akan berjuang dan membawa Khaira kembali ke rumah mereka yang sudah lama kosong tak berpenghuni.


Malam itu Ivan duduk di ruang kerja di rumah mamanya. Ia malas untuk kembali dan membenahi semua yang tertinggal di rumah lamanya. Tak berarti baginya pulang ke rumah jika tanpa kehadiran Khaira yang mendampinginya.


Ia mencoba menghidupkan ponsel Khaira yang sengaja ditinggal di brankas tempat penyimpanan barang serta surat-surat penting yang ia miliki. Ia berharap menemukan titik terang dari ponsel yang tertinggal.


Setelah batre full, Ivan segera melepas charge yang terpasang. Ia langsung menghidupkannya. Dengan mudah ia membuka ponsel Khaira karena tidak ada pengaman apa pun yang terpasang.


Ia mengerutkan kening saat  melihat pesan suara dari nomor yang tidak dikenal masuk dalam ponsel yang berada di tangannya. Penasaran Ivan langsung meng-klik pada tombol pesan.


“Ivan tidak pernah mencintai istrinya. Dia menikahi Khaira karena kasian pada janda temannya sendiri .... “ suara perempuan terdengar lantang berbicara di dalam rekaaman tersebut.


“Are tou sure .... “


“Tunangan perempuan itu meninggal karena membawa moge yang akan digunakan Ivan untuk melamarku. Karena rasa bersalahnyalah Ivan terpaksa menikahinya. Karena itulah kami berpisah.”


Ivan terkejut mendengar pembicaraan di dalam rekaman yang berada di dalam ponsel Khaira. Ia mengepal tangannya menahan emosi. Ia mengenal suara perempuan yang sedang berbicara. Mereka adalah Sandra dan Claudia.


Tatapan Ivan beralih pada tanggal pengiriman, kepalanya terasa berdenyut melihat tanggal yang tertera, tiga hari sebelum terjadinya peristiwa terceburnya Bryan ke kolam renang. Ia menggelengkan kepala tak percaya bahwa Claudia dan Sandra telah merencanakan sesuatu yang buruk pada hubungannya dan Khaira.


Jemarinya kembali membuka beberapa video yang terkirim dari nomor tidak terkenal. Mata Ivan membulat tak percaya. Video lamanya saat masih berhubungan dengan Claudia terkirim tanpa ada sensor sedikitpun. Ivan bahkan merasa jijik melihatnya.


Dengan cepat ia menghapus semua  video yang membuatnya merasa tidak punya harga diri. Claudia benar-benar membuatnya semakin buruk dalam pandangan Khaira.


“Astagfirullahal’adjim ...  ya Allah ampunilah kesalahan hamba-Mu di masa lalu,” Ivan benar-benar tak berdaya menghadapi semua kenyataan dan masa lalunya yang sangat buruk yang kini telah diketahui Khaira.


Dari awal ia tidak pernah berterus terang bahwa dirinyalah penyebab kepergian Abbas, walau pun semua tak lepas dari takdir yang Kuasa.


Ivan  terpekur menatap ponsel Khaira yang kini telah kosong dari semua yang membuatnya benci akan masa lalu yang pernah ia lewati.


Ia  dapat melihat perubahan Khaira dua hari sebelum kepergian mereka dari rumah. Tampak raut sedih sudah menggelayut pada raut bening istrinya. Tapi karena perhatiannya fokus pada Bryan membuatnya tidak mempedulikan kesedihan istrinya. Bagi Ivan semuanya baik-baik saja.

__ADS_1


Ivan terus menyesali diri. Kini ia merasa harus lebih gigih dalam berjuang untuk menemukan Khaira. Ia tidak akan menyerah sebelum istrinya menerimanya kembali untuk bersama mengarung biduk rumah tangga.


Ia akan menindak pihak-pihak yang telah memojokkan dririnya serta kehidupannya di  masa lalu. kini ia tak akan bersabar. ia akan memproses pihak-pihak yang telah melakukan pekerjaan yang bertentangan dengan dirinya. ia tak peduli, semuanya akan ia lawan untuk mendapatkan kembali simpati sang istri.


__ADS_2