
Gigi sangat terkejut mendengar Fery menceritakan pertemuannya dengan Adi yang telah menceritakan kebenaran padanya. Untung saja sekarang mereka sekarang berada di dalam mobil menuju pulang, sehingga tidak membuat yang lain khawatir atas sikap emosional keduanya.
“Aku sangat marah, hingga ingin meninju Tama dan membuatnya babak belur.” Fery masih menunjukkan kekesalan, karena ia begitu menyayangi si kembar dan si mungil.
Gigi menggeleng-gelengkan kepala tak percaya, “Kasihan Hani. Aku dapat memahami kesakitan atas pengkhianatan seorang suami, apalagi sampai menyuruh menggugurkan kandungan karena tidak percaya dengan janinnya sendiri. Tetapi lihatlah, Allah ingin menunjukkan kebenaran kepada tuan Tama, wajah dede Sasya semuanya milik tuan Tama. Hanya matanya milik Hani. Biarkan mereka hidup selamanya dengan penyesalan.” geram Gigi akhirnya setelah mobil memasuki kawasan menuju rumah mereka. Sepasang suami istri itu saling merutuk setelah mengetahui bahwa Aditama Prayoga lah suami sahabat mereka.
Malam itu, di rumah Hani sedang berkumpul kedua belah pihak keluarga, karena Hasya sudah diperbolehkan untuk dibawa pulang. Sekalian mereka mulai membahas persiapan pernikahan Hani dan Faiq yang tinggal dua minggu lagi.
Hani masih berada di kamar untuk menidurkan Hasya, sementara si kembar sudah berada di kamarnya bersama Lina. Keduanya merasa kelelahan karena kecapaian bermain seharian setelah adiknya dibawa kembali ke rumah.
Hanif menghela nafas berat. Ia mengingat percakapan terakhir dengan Adi, hingga saat ini ia belum sempat menceritakan hal tersebut kepada Faiq. Ia akan menceritakan semua ucapan serta keinginan Adi untuk berkumpul kembali dengan keluarganya.
“Sampai di mana persiapan pernikahan kalian?” Darmawan menatap Faiq dengan penuh perhatian. “Ayah udah tidak sabar membawa cucu-cucu ayah ke rumah, dan ayah ingin pensiun dari perusahaan secepatnya.”
“Sudah 90% ayah.” Sela Hanif cepat, karena ia yang sudah diserahi tanggung jawab oleh Faiq untuk menangani semua urusan pernikahan mereka. “Semua sudah kami tangani, dibantu mbak Caca dan mbak Gigi.”
“Bagaimana rencanamu kedepannya…?” Darmawan mengalihkan pandangan kembali pada Faiq yang masih membaca chat grup kantor di ponselnya. “Ayah harap kamu segera memenuhi janjimu.”
“Aku sudah mengajukan pensiun dini sebulan yang lalu. Tinggal menunggu tiga bulan lagi untuk mengakhiri masa jabatan sebagai ASN.”
“Syukurlah, ayah senang mendengarnya.” Darmawan tersenyum puas. “Ayah sangat menunggu saat itu.”
Hanif menghela nafas, “Sebenarnya ada kabar yang tidak terlalu baik untuk mbak Hani dan mas Faiq…”
Serentak ketiganya memandang wajah Hanif mendengar ucapannya yang bernada kekhawatiran. Mereka tidak menginginkan masalah besar mengganggu kelancaran proses pernikahan Faiq dan Hani.
“Apa maksudmu?” kejar Marisa cepat. Ia tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa putra dan calon menantu kesayangannya.
“Helen tidak mungkin melahirkan seorang anak untuk tuan Adi. Dia memikirkan untuk rujuk dengan mbak Hani…” Hanif mulai menceritakan secara panjang lebar hasil pertemuannya siang itu bersama Adi di kafetaria rumah sakit.
__ADS_1
Faiq mengepal kedua tangannya dengan gusar. Ia merasa geram mendengar cerita Hanif. Ia menghela nafas sejenak, untuk memikirkan langkah yang akan ia tempuh jika Adi bersikeras untuk melakukan semua keinginannya.
“Mama sudah curiga melihat gerak-gerik Linda, saat menjenguk dede di rumah sakit kemarin. Ia mulai mengajak si kembar berbicara, dan mengakrabkan diri dengan mereka…” Marisa mengingat kembali segala tingkah Linda ketika itu.
Darmawan mengetuk-ngetuk meja di depannya dengan jemari tangannya. Apa yang ia bicarakan di masa lalu akhirnya menjadi kenyataan. Belum juga Faiq menikahi Hani, cobaan sudah menguji kekuatan cinta antara mereka.
“Semuanya ku serahkan pada Rara…” Faiq berkata pelan, ketika melihat Hani sudah duduk diantara mereka bertiga.
“Ada apa sebenarnya?” Hani yang barusan gabung di antara mereka merasa heran melihat suasana yang tampak tegang.
Faiq menatap Hani dengan lekat, “Helen mengalami keguguran, dan sudah divonis tidak akan bisa melahirkan keturunan Adi. Bagaimana jika Adi ingin rujuk denganmu serta membawa anak-anak kembali?”
Hani menghela nafas dengan perasaan gelisah. Pantas saja dalam pertemuan terakhir mereka sikap Adi sangat berubah dari biasanya. Tatapannya begitu sendu dan tak bersemangat. Serta tingkahnya yang begitu perhatian pada Hasya saat berada di rumah sakit.
“Bagaimana menurutmu, Ra?” Marisa menatap Hani dengan lembut. “Kamu pikirkan baik-baik langkah yang harus kamu ambil demi masa depanmu dan anak-anak.”
“Apapun yang menjadi pilihanmu, kami semua akan mendukung.” Darmawan memberikan pandangannya.
“Jika mas Faiq menginginkan aku kembali padanya, lebih baik aku tidak menikah lagi seumur hidup. Aku mampu mengurus anak-anak sendiri.” Ujar Hani lirih.
Senyum cerah terbit di wajah Faiq. “Bagaimana mungkin aku membatalkan pernikahan yang tinggal sepuluh hari lagi, sayang.” Ia mengedipkan sebelah matanya dengan bahagia mendengar ucapan pujaan hatinya.
Semua merasa tenang mendengar perkataan keduanya. Marisa dan Darmawan menghela nafas dengan lega. Pembicaraan mereka terus berlanjut, hingga akhirnya Hanif teringat sesuatu.
“Yang jadi pemikiranku sekarang adalah langkah-langkah selanjutnya yang harus kita tempuh jika tuan Aditama ingin mengambil hak asuh untuk anak-anaknya.” Hanif mengalihkan topik pembeicaraan mereka.
Hani tertegun, “Kenapa mereka ingin mengambil hak asuh si kembar, bukannya mereka tidak menginginkan cucu yang berasal dari keluarga miskin.” Hani berkata dengan keras. Teringat ucapan Rusdi pengacara keluarga itu yang mengatakan bahwa tidak ada hubungan dan ikatan apapun yang terjadi antara mereka begitu akad hibah dan waris telah selesai.
“Persoalannya tidak sesepele itu, sayang…” Faiq berusaha menenangkan Hani yang sudah terlanjur tidak ingin mengingat keluarga Aditama.
__ADS_1
“Mereka tidak pernah menginginkan si kembar, karena nyonya Helen akan memberikan keturunannya sebagai pewaris keluarga itu.” Hani berkata dengan berderai air mata. “Kenapa mereka tidak membiarkan aku dan anak-anak hidup tenang?”
Faiq tak tahan melihat kesedihan yang menimpa Hani. Ia menarik Hani dan merengkuhnya ke dalam pelukan. Semuanya terdiam melihat perlakuan Faiq. Ia dapat merasakan kesedihan yang dialami Hani. Tangannya membelai kepala Hani yang tertutup jilbab. Kemejanya terasa basah sudah dipenuhi air mata Hani.
“Sebaiknya nak Hanif nggak usah kembali ke Medan. Lebih baik buka praktek pengacara di sini saja.” Darmawan mulai membuka suaranya saat melihat Hani sudah tenang. “Jika kamu di sini, kita akan mudah untuk menghadapi Aditama dan pengacaranya.”
Hanif tertegun, tawaran Darmawan cukup masuk akal. Ia memang sudah merencanakan hal itu sejak awal, apalagi semenjak ia dekat dengan Wulan, rasanya ia tak bisa jauh dari mereka.
“Setelah pernikahan Faiq dan Hani selesai. Ibu dan ayah akan melamarkan Wulan pada keluarganya untukmu.” Marisa memahami kegundahan Hanif.
“Ibu dan ayah, kami aja belum selesai, udah mau ngurus bocah satu itu.” Faiq menatap Hanif dengan raut pura-pura tak suka.
“Belum apa-apa, mas Faiq udah cemburu.” Hanif tersenyum geli. Ia sekarang lebih tenang menjalani kehidupan. Begitu pernikahan Faiq dan Hanif selesai ia akan menuruti saran Darmawan untuk memulai mendirikan usaha sendiri.
Faiq tidak mengikuti kedua orangtuanya pulang. Ia masih duduk bersama dengan Hani. Baru kali ini ia dapat kesempatan berduaan bersama Hani. Setelah melihat Hani mulai tenang. Ia mulai berbicara.
“Mendengar perkataan Hanif, aku yakin Aditama tidak main-main dengan niatnya untuk mengambil hak asuh si kembar.”
Hani menatap Faiq dengan sendu, “Aku tidak menyangka mereka akan melakukan itu. Bagaimana dengan anak pertama mereka yang dikandung nyonya Helen sehingga mereka memutuskan menikah? Ku rasa ia sudah seumuran dede Sasya.”
Faiq menatap Hani dengan sorot teduhnya, “Sampai saat ini Helen belum pernah melahirkan satupun keturunan untuk Adi. Karena kegugurannya kali ini ia divonis tidak akan pernah bisa melahirkan bayi. Rahimnya sudah cacat.”
“Astagfirullahaladjim…” Hani menutup rapat mulutnya. Ia benar-benar tak percaya mendengar ucapan Faiq. Rasa ketakutan tiba-tiba menyelimuti hatinya, dan Faiq menyadari itu.
“Kamu nggak usah khawatir. Kami akan berjuang untuk mempertahankan si kembar. Aku akan mengumpulkan berkas-berkas tuntutan Adi di persidangan kemarin, sebagai senjata untuk membungkam pihak mereka.”
Mata Hani berkaca-kaca menatap Faiq. Ia tidak akan sanggup jika harus dipisahkan dengan ketiga anaknya yang sejak kecil berada dalam pengasuhannya. Mereka tidak tau, bagaimana ia dengan segenap kasih sayang dan air mata berjuang sendirian untuk membesarkan ketiga buah hatinya tanpa bantuan serta kehangatan dari seorang ayah ataupun seorang nenek yang tidak mengakui keberadaan mereka. Keduanya saling menatap penuh arti. Dan Hani yakin ia akan lebih kuat, karena ada Faiq yang akan mendampinginya memperjuangkan si kembar dan si mungil.
__ADS_1