
Ivan tidak menyangka Khaira akan melakukan hal serendah itu padanya. Setiap perempuan begitu memujanya dan menginginkan kehangatan darinya. Tapi perempuan yang kini berdiri di hadapannya kembali menjatuhkan harga dirinya. Senyum yang tadinya menghias wajah Ivan langsung sirna berganti kemarahan.
Dengan kasar Ivan mulai membuka ikat pinggang dan melemparnya ke sembarang tempat. Tatapan matanya tak lepas dari Khaira yang kini sudah terlepas dari kurungannya. Jemarinya dengan cepat membuka kancing baju kemeja hitam yang menutupi dada bidangnya dan melepasnya dengan kasar.
Melihat gelagat Ivan membuat Khaira bergidik ketakutan, dengan cepat Khaira berlari menuju pintu kamar untuk keluar. Ia sudah nekat, walau hanya menggunakan bathrobe, ia yakin body guardnya di depan akan segera menolongnya dan menyelamatkan dirinya dari situasi yang mencekam ini.
Bukan Ivan namanya kalau tidak berhasil melakukan keinginannya. Ia semakin tertantang dengan apa yang ia alami sekarang. Penolakan dan perlawanan Khaira telah membangkitkan naluri kelelakiannya yang selama ini telah sirna akibat perselingkuhan orang terdekatnya.
Dengan kesal ia menangkap Khaira dan mengungkungnya dengan sekuat tenaga. Ia tidak ingin dipermainkan lagi. Cukup sudah kesabarannya bermain-main dengan kucing kecil yang ternyata sangat liar.
Dengan geram ia langsung melu*** bibir yang sejak awal manisnya sudah ia rasakan dan membuatnya ingin menikmati lebih lama.
Khaira tidak bisa berkutik, perlawanan yang ia lakukan ternyata sia-sia. Ia berusaha memalingkan muka, tangannya mencakar wajah Ivan. Tapi kedua tangan kekar itu berhasil menyatukan kedua tangan Khaira dan meletakkannya di atas kepala.
Ivan mulai membuka bathrobe yang menutup tubuh polos Khaira. Ia menelan ludah. Pemandangan yang sangat indah tersaji di depan mata. Kini ia tidak bisa berhenti. Seperti kata Edward ia mulai termakan omongannya sendiri.
“Tolong jangan lakukan itu.” Khaira berkata dengan lemah.
Tenaganya telah habis melawan sosok tegap berotot yang telah mengungkung dirinya dan membuat dirinya tidak bisa bernafas dengan benar.
Telinga Ivan seolah tuli mendengar permohonan yang terucap. Seperti takut akan melukai kulit mulus itu. Bibir Ivan mulai kembali turun merasakan sensasi dari apa yang dilihat dari mata dan ia rasakan dengan penuh perasaan.
Air mata Khaira mulai mengalir tak terbendung. Ia merasa ketakutan. Penolakan dan perlawanan yang ia lakukan tak berarti apa pun. Sosok tampan di hadapannya tanpa ragu-ragu mulai melancarkan aksinya.
__ADS_1
Bukannya Ivan tak menyadari tatapan penuh harap yang ingin dilepaskan. Tapi kemarahan, kekesalan serta rasa penasaran telah menyatu dalam dirinya, hingga suara malaikat di dalam dirinya tak ia pedulikan.
Tak sabar Ivan mulai menyatukan dirinya dan Khaira. Ia terkejut\, kenapa sulit baginya melakukan sesuatu yang sering ia lakukan bersama Sandra? Ivan menatap wajah ayu yang berurai air mata di bawahnya. Tapi akal sehat Ivan telah terkalahkan oleh na*** yang telah merasuki dirinya. Kini ia benar-benar terjebak permainan terlarang yang ia sendiri tak sanggup mengakhirinya.
Kembali Ivan mendaratkan bibirnya di telaga manis yang tampak bergetar menahan air mata kesedihan. Kini ia melakukannya dengan lembut dan penuh perasaan, walaupun tidak ada balasan sama sekali atas apa yang telah ia lakukan.
Khaira memejamkan mata menahan kesedihan sekaligus kepedihan di hati atas kesakitan yang kini ia rasakan.
Beberapa kali Ivan berusaha melakukan penya****\, tapi sulit baginya mener***s masuk. Ia merasa heran sekaligus penasaran. Kenapa sesulit ini? Tapi Ivan terus mencoba. Hingga akhirnya senyum kepuasan terbit di wajah tampannya. Sensasi yang berbeda pertama kali ia rasakan. Kehangatan langsung menjalar di hati lelaki tampan itu.
Entah berapa lama waktu yang terlewatkan Ivan tidak peduli. Ia terus memompa dengan segala kekuatan yang ia miliki, menumpahkan semua rasa yang memenuhi segenap rongga dadanya hingga plong tak tersisa.
Setelah apa yang ia inginkan terpenuhi, rasa lelah langsung menghampirinya. Ivan menatap lekat wajah ayu yang tak berdaya dengan mata terpejam di bawahnya. Ia mengecup kening Khaira dengan lembut.
Melihat di sampingnya tidak ada pergerakan, Khaira bangkit dari pembaringan. Dengan terseok-seok ia meraih bathrobe yang tergeletak tak berbentuk di lantai. Ia memandang sosok rupawan yang lelap di sampingnya dengan penuh kebencian.
Sesampai di kamar mandi Khaira duduk bersimpuh air mata langsung tercurah seperti bah. Ia menepuk dadanya yang terasa sesak.
“Ya Allah kenapa nasibku seburuk ini? Dosa apa yang telah aku lakukan, sehingga mengalami …. “ batin Khaira tak mampu melanjutkan apa yang ada di otaknya. “Maafkan aku a’ tidak bisa melindungi diri sendiri. Kehormatanku telah dirampas. Hidupku hancur ….”
Tangis Khaira semakin kuat. Wajah tampan Abbas muncul di benaknya dengan raut penuh kesedihan. Khaira menumpahkan kesedihan atas nasib buruk yang ia alami. Sendirian di negeri orang tanpa saudara yang mendampingi. Dan kini ia telah ternoda. Baru saja ia mencoba bangkit memulai kehidupan baru setelah kepergian sang suami, kini ujian berat kembali menimpanya menjadi korban pelecehan oleh lelaki asing yang tak pernah ia sangka-sangka.
“Aku harus kuat demi orang-orang yang menyayangiku." Terbayang wajah satu-demi satu saudara-saudaranya, oma serta mertuanya membuat kesedihan Khaira semakin bertambah.
__ADS_1
Khaira menggosok seluruh badannya sambil berurai air mata. Ia ingin menghapus seluruh jejak yang telah ditinggalkan lelaki yang telah merampas kehormatan yang ia miliki. Setelah puas menangisi nasib Khaira bangkit dari duduknya dan mulai membersihkan diri dengan wajah penuh kebencian, “Tak akan kubiarkan kau tertawa di atas penderitaanku.”
Tak ingin larut dalam duka berkepanjangan Khaira mencoba bangkit dari keterpurukan. Ia sudah puas mengeluarkan air mata atas kepergian Abbas. Kini Allah mengujinya lagi dengan cobaan yang berbeda, dan itu kembali membuatnya trauma untuk berdekatan dengan lelaki. Hanya Abbas lelaki tulus, yang memperlakukannya dengan santun dan melindunginya dengan sepenuh hati. Tidak akan ia temui lagi sosok seperti Abbas suami tercinta yang akan selalu ia cintai sampai akhir.
Seperti kata Rheina ia harus kuat. Ia tidak boleh memikirkan diri sendiri. Bukankah Allah menyukai orang yang mampu memberikan manfaat bagi orang banyak? Dan Khaira sudah bertekad dalam hati tidak akan meratapi nasib buruk yang menimpanya.
Kepergian Abbas dan musibah yang menimpanya akan ia jadikan cambuk untuk berbuat lebih baik demi orang lain yang nasib mereka serta keluarga dan anak-anaknya berada di tangannya.
Dua jam Khaira menghempaskan semua kesedihan serta rasa sakit yang membuatnya merasa hancur. Ia tidak boleh membiarkan semua perasaan itu menghalangi langkahnya untuk maju. Ia harus kuat. Ia harus bertahan menjalani kerasnya kehidupan. Ini belum seberapa sakitnya, kehidupan terus berjalan. Siapa yang kuat dialah yang akan keluar menjadi pemenang. Dan Khaira tidak ingin menjadi pecundang. Dia harus memenangkan pertarungan ini. Lihat saja nanti.
Saat Khaira keluar dari kamar mandi, tanpa memandang sosok tegap yang berada di tempat tidur miliknya ia langsung berkemas. Ia tak peduli jam yang baru menunjukkan pukul 2 dini hari. Saat ini juga ia harus meninggalkan hotel. Ia yakin kedua bodyguardnya akan mengantarkannya langsung ke bandara.
Joe dan Charles terkejut melihat perempuan muda yang mereka jaga sudah siap dengan travel bag berdiri di hadapannya.
“Please, saya akan kembali ke Indonesia sekarang.” Khaira berkata dengan cepat, “Sesampainya di bandara silakan hubungi mas Ariq.”
“Yes, ma’am.” Joe dan Charles menjawab berbarengan.
Tanpa banyak bertanya kedua body guard itu melakukan semua yang diperintahkan Khaira. Setelah check out dari hotel perasaan lega menghampiri Khaira karena ia sudah bertekad tidak akan pernah kembali ke tempat terkutuk yang membuatnya kehilangan kehormatan.
“Selamat tinggal Paris. Ku harap tidak akan pernah kembali ke tempat ini.” Ikrar Khaira dalam hati.
Ia akan meninggalkan segala kesedihan bersama rasa sakit yang tidak akan pernah terlupakan seumur hidupnya. Cukup sekali ia dilecehkan, dan itu akan menjadi cambuk baginya untuk lebih berhati-hati dalam bersikap sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman di masa yang akan datang.
__ADS_1
Dukung terus karya saya ya, Like, kritik, saran, vote, demi keberlangsungan kehidupan Khaira dan Ivan. Sayang untuk semua reader....