
Khaira merasakan tidurnya kali ini yang paling nyenyak ia rasakan semenjak kepergian Abbas. Ia mulai menggeliat, dan merasa aneh saat merasakan sesuatu yang kokoh dan wangi begitu dekat. Tanpa membuka mata Khaira menghisap aroma parfum yang begitu nyaman di hidungnya. Senyum terbit di wajahnya merasakan aroma yang menenangkan membuatnya enggan membuka mata.
Ivan yang sejak satu jam yang lalu terbangun melihat semua tingkah Khaira yang sangat menggemaskan di matanya. Pemandangan di pagi hari ini adalah yang terbaik ia lalui seumur hidup. Ia berusaha menahan senyum melihat Khaira yang masih memejamkan mata menghirup aroma tubuhnya.
Tangan Khaira mulai meraba-raba sesuatu yang agak liat dan kokoh di depannya. Dengan masih memejamkan mata, ia memeluk dengan erat sesuatu yang hangat karena menyangka itu adalah guling. Tapi perasaannya tidak nyaman, guling yang ia peluk kok rasanya hidup.
Sontak Khaira membuka mata. Tatapan matanya bertemu dengan mata kelam yang sedang memandangnya lekat. Dengan perasaan malu Khaira langsung melepas pelukannya di dada Ivan. Pipinya memerah menyadari tatapan suaminya yang menahan senyum melihat perbuatannya.
“Bagaimana keadaanmu pagi ini, sudah mendingan?” Ivan bertanya dengan penuh perhatian.
Khaira hanya mengangguk. Ia menggeser tubuhnya berusaha menjauhkan diri dari Ivan yang masih enggan untuk bangkit dari tempat tidur.
Ketukan di pintu, membuat Ivan bangkit dari pembaringan. Rasanya ia malas untuk bergerak kemana pun. Ia masih ingin menikmati kebersamaan mereka berdua lebih lama. Sebelum melangkah ke pintu, ia menyempatkan diri mengecup kening Khaira yang langsung membulat matanya melihat perlakuan Ivan.
“Selamat pagi tuan. Kami ingin melihat kondisi nyonya pagi ini. Jika memang memungkinkan, siang ini nyonya boleh pulang,” ujar perawat yang bername tag Rini Hapsari dengan penuh hormat.
“Silakan,” Ivan menjawab dengan datar tanpa senyum.
Tak lama dokter yang mengontrol memasuki ruangan. Khaira terkejut melihat ada laki-laki lain yang melihatnya tidak menutup kepala. Ivan mendekat melihat Khaira yang gelisah karena dokter muda yang bername tag dr. Hendra Sihombing, Sp. OG langsung menyapanya dengan senyum hangat.
“Ada apa sayang?” Ivan segera mengusap bahu Khaira lembut.
Khaira melotot mendengar panggilan Ivan terhadapnya, tapi ia tak mungkin menjawab hanya mengalihkan tatapan dari wajah suaminya dengan malas.
“Maaf, anda suami nyonya Khaira?” dr. Hendra mengalihkan tatapan pada Ivan yang berdiri di samping bed menenangkan kegelisahan istrinya.
Ivan menganggukkan kepala dengan cepat. Ia menatap Khaira yang nampaknya ingin berbicara padanya. Ia mendekatkan telinganya.
“Saya nggak enak berbicara dengan dokter lelaki itu tanpa menggunakan hijab,” ujar Khaira lirih.
“Baiklah, aku akan membawanya ke luar ruangan.” Ivan menganggukkan kepala sambil mengedipkan mata pada Khaira, “Maaf dok, kita bicaranya di depan saja.”
Dokter Hendra mengerutkan kening memandang kedua pasangan di depannya. Tapi akhirnya ia mengikuti langkah Ivan yang sudah berjalan terlebih dahulu.
Begitu Ivan, dr. Hendra dan asistennya keluar bertepatan dengan Hasya dan Ira yang barusan datang menjenguk Khaira sekalian membawakan pakaian ganti dan sarapan pagi.
“Wah, yang udah merried kelihatan sueger,” Hasya tersenyum melihat wajah adiknya yang sudah tidak pucat seperti tadi malam.
“Udah dapat vitamin kali,” sambung Ira dengan cuek.
“Apaan sih mba ….” Khaira cemberut mendengar gurauan keduanya.
__ADS_1
Ia merasa lega karena selang infus sudah dilepas perawat. Jadi ia bebas bergerak. Ia ingin segera ke kamar mandi. Panggilan alam yang tak bisa ditolak saat bangun di pagi hari, dan ia ingin segera mandi karena badannya terasa lengket. Dengan perlahan Khaira mulai menurunkan kakinya satu demi satu dari tempat tidur.
“Ini baju ganti buatmu,” Hasya segera meletakkan paper bag di atas tempat tidur.
“Mba, tolong aku …. “ Khaira merasakan kakinya lemah untuk dibawa melangkah, saat sudah menurunkan kedua kakinya.
“Aku saja mbak,” dengan cepat Ivan merangkul pinggang Khaira yang masih tampak lemah, “Biar ku gendong saja.”
“Nggak usah,” dengan cepat Khaira menolak. Ia yakin Ivan nggak akan memaksanya karena ada Hasya dan Ira diantara mereka.
Tapi dengan santai Ivan segera mengangkat tubuh istrinya dan membawanya hingga masuk ke kamar mandi. Dengan santai ia menyandarkan diri di pintu mengamati gerak-gerak gerik Khaira.
“Tuan Ivan yang terhormat, bisakah anda meninggalkan saya sendiri?” Khaira merasa tidak enak karena Ivan dengan santai menunggunya di dalam kamar mandi.
“Aku khawatir kamu pingsan lagi di sini. Aku ingin memastikan anakku baik-baik saja,” jawabnya sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana pendeknya.
Mata Khaira melotot memandang Ivan dengan kesal. Ia tak habis pikir dengan cara pikir lelaki batu yang masih menatapnya dengan santai.
Khaira belum melakukan aktivitas apa pun melihat Ivan yang masih berada di dalam ruangan yang sama dengannya. Ia hanya melihat Ivan yang mencuci muka dan menyikat giginya di wastafel dan berkumur dengan salah satu merk yang biasa iklannya seliweran di tv.
“Saya mohon,” akhirnya Khaira menurunkan volume suaranya, “Mas Ivan sayang, bisakah kau membiarkan ibu dari anakmu ini melakukan aktivitasnya tanpa terganggu?”
Mendengar perkataan Khaira senyum cerah langsung tergambar di wajah Ivan, “Wah, aku senang mendengarnya. Baiklah sayang, aku akan membiarkanmu melakukan aktivitasmu.”
Ivan langsung keluar dari kamar mandi membuat Khaira merasa lega. Setelah membuang hajat, Khaira langsung mandi. Selama mandi ia mulai berpikir dengan yang terjadi antara dirinya dan Ivan.
Apakah Ivan akan memegang janjinya, bahwa ia tidak akan menyentuhnya selama ia belum membuka hati pada suaminya? Bagaimana jika Ivan kembali memaksanya?
Khaira menggelengkan kepala. Ia tak sanggup memikirkannya. Ia ingin semua mengalir seperti air. Biarkan semua berproses. Ia masih perlu waktu untuk menata hati, karena ia tau, sampai saat ini nama Abbas masih melekat di hatinya.
Selesai mandi Khaira baru tersadar kalau ia belum membawa baju ganti dari Hasya yang masih tergeletak di atas bed. Beruntunglah di dalam kamar mandi VIP itu terdapat handuk yang akan ia gunakan untuk membungkus tubuhnya. Dengan pelan ia membuka pintu. Ivan masih menunggunya sambil memainkan ponselnya.
Tatapan Ivan terfokus pada Khaira yang hanya menggunakan handuk yang menutupi tubuh mulusnya. Ia menelan ludah. Pemandangan yang kembali menggoda iman. Sekelebat bayangan malam itu kembali tergambar di mata Ivan.
“Tahan dirimu Ivan,” monolognya dalam hati.
Keinginannnya untuk membalas chat Roni langsung ambyar melihat pemandangan yang menyegarkan. Kalau tidak memikirkan ada saudara ipar serta membuat Khaira simpati padanya sudah ia tarik sekarang juga dan akan ia kurung Khaira di kamar mandi untuk melakukan aktivitas olah raga pagi bersamanya.
“Sudah selesai?” nada suara Ivan terdengar berat saat menanyakan itu.
Khaira hanya menganggukkan kepala tanpa menjawab pertanyaan Ivan. Ia berusaha berjalan sendiri dengan pelan. Ivan tidak sabar melihat kelakuan Khaira.
__ADS_1
“Eh …. “ Khaira tak mampu menghindar ketika tangan kokoh itu mengangkat dan menggendongnya dengan cepat.
Rasanya jarak antara kamar mandi dan bed terlalu dekat, membuat Ivan tidak bisa berlama-lama mencium aroma wangi dari tubuh istrinya saat ia menggendongnya. Sampai ke rumah pun ia sanggup menggendongnya, karena Ivan ingin merasakan aroma wangi itu lebih lama, walau pun belum bisa melakukan lebih, tapi hal sekecil ini sudah membuatnya bahagia.
“Aih, pasangan penganten baru mah pengennya nempel terus …. “ Ira yang masih berbenah bed sempat menggoda keduanya.
“Melakukan yang lain pun belum bisa mbak. Pengantin perempuannya sudah pingsan duluan,” jawab Ivan santai membuat Khaira langsung mencubit lengannya.
Senyum terbit di wajah Ivan melihat Khaira yang bersikap atraktif mendengar perkataannya dengan Ira. Tanpa mempedulikan kehadiran Ira dan Hasya, ia meraih tengkuk istrinya dan langsung mendaratkan bibirnya di telaga madu yang sudah ingin ia cicipi sejak bangun tidur.
Sontak saja perbuatan Ivan membuat kedua kakak iparnya memandang ke lain. Mereka tidak menyangka Ivan melakukan perbuatan itu di hadapan keduanya.
Khaira langsung mendorong tubuh Ivan dengan kuat. Ia merasa malu terhadap Hasya dan Ira, tapi lelaki pemaksa itu melakukannya tanpa perasaan. Setelah puas Ivan melepaskannya sambil menyunggingkan senyum cerah.
“Kamu itu apa nggak malu sama kakak iparmu ini.” Hasya langsung menegur Ivan yang telah menyudahi aktivitasnya tanpa perasaan dosa.
Ivan tersenyum, “Mumpung ada mba berdua nggak mungkin ada penolakan,” jawab Ivan santai.
Jawaban Ivan membuat Ira dan Hasya berpandangan tak mengerti. Sementara Khaira hanya membuang muka saat Ivan menatapnya dengan senyum yang masih menghias wajah tampannya.
“Hari ini kita akan kembali ke rumah oma,” Hasya berkata sambil memandang Ivan yang dibalas Ivan dengan anggukan.
“Saya percayakan semuanya pada mbak,” jawab Ivan cepat.
Tatapannya beralih pada Khaira yang masih terpaku di atas bed. Rasanya berat Ivan meninggalkan perempuan yang telah menjadi istrinya itu. Tapi ia masih mengurus beberapa hal yang berkaitan dengan pekerjaan seharian ini. Dan itu tidak bisa digantikan siapa pun.
“Sayang, aku akan berangkat ke kantor pagi ini. Secepatnya aku akan menyusulmu di rumah oma. Mudah-mudahan rumah kita bisa ditempati secepatnya. Kita akan segera pindah.”
Khaira terpaku mendengar perkataan Ivan. Ia akan pindah dan ikut suaminya. Hal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Ketukan di pintu kembali mengejutkan mereka. Dengan cepat Ivan membukakan pintu. Ternyata Roni yang datang mengantarkan pakaian kerja dan akan mengantarnya ke kantor.
Begitu Ivan memasuki kamar mandi, Hasya dan Ira senyam-senyum melihat wajah Khaira yang memerah menahan malu atas perbuatan Ivan yang tak pandang tempat.
Hasya langsung menyiapkan sarapan yang telah ia bawa untuk adik dan iparnya yang akan berangkat bekerja. Khaira pun telah selesai berganti pakaian. Kini penampilannya lebih segar dengan gamis berwarna krem dan jilbab motif membuatnya tampak fresh dan anggun.
Perasaan Ivan sangat bahagia, saat Khaira mulai melayaninya sarapan pagi seadanya di ruang VIP rumah sakit tempat Khaira berada sekarang. Kebahagiaan yang sederhana, yang penting orang yang menemani dan berada di dekat kita, itulah kebahagiaan yang sebenarnya.
Tiba di rumah oma, Khaira merasakan sesuatu yang hilang di hatinya. Tapi ia tidak tau apa itu. Dengan digandeng Junior ia melangkah dengan pelan. Beruntung ia tidak perlu kembali ke kamar atas, kamar tamu bawah telah disulap menjadi kamarnya. barang-barang miliknya pun sudah dibawa pindah ke kamar yang sekarang ia tempati.
***Dukung terus ya\, komentar\, kritik dan saran selalu ku tunggu. ***
__ADS_1