
“Mas bawa stolernya sekalian,” Khaira menahan langkah Ivan yang akan menurunkan Fajar dan Embun ketika mobil telah tiba di mall Lipp* Alam Sut**. Di sini fasilitasnya lengkap. Ivan ingin memenuhi janjinya pada si kembar untuk membelikan keduanya hewan peliharaan.
Ivan akhirnya menuruti keinginan Khaira membawa stoller ke dalam mal megah yang memiliki semua kebutuhan yang diinginkan konsumennya. Keduanya menuju pet shop untuk mencarikan Kelinci serta Kucing Angora sesuai permintaan Fajar.
Embun sangat antusias melihat Kelinci dari ukuran kecil hingga paling besar yang tersedia di pet shop tersebut. Ivan melepaskannya dari stoler untuk mempermudah aktivitas Embun. Begitu pun Fajar yang tampak bersemangat dengan Kelinci mungil yang berada di dalam kandangnya.
Penataan kandang Kelinci serta taman mini yang berada di dalam pet shop itu membuat betah pengunjung. Lokasinya lumayan luas, bersih dengan sarana edukasi bagi anak-anak, tempat belajar serta permainan yang cukup aman membuat Ivan tidak khawatir membiarkan Embun mengeksplor setiap bagian dari area yang tersedia.
“Ayah, syini …. “ Embun menarik tangan Ivan yang masih menunggu Khaira dan Fajar yang masih melihat-lihat Kelinci di dalam kandang.
“Baik Sayang …. “ Ivan mengikuti langkah kecil putrinya menuju sebuah taman kecil yang dikelilingi pagar selutut orang dewasa.
Ivan meminta izin pada penjaga stand agar diperbolehkan memasuki taman kecil berpagar yang ada Kelinci ukuran sedang beberapa ekor sedang bermain di dalamnya. Setelah mendapat izin, ia langsung menggendong Embun dan menurunkannya begitu memasuki taman kecil itu.
“Ayah, Tincinya syantik …. “ Embun berjalan mendekati seekor Kelinci yang sedang makan Wortel di pojok taman.
“Cantik seperti Princess ayah,” Ivan mencium pipi putrinya dengan gemes.
Ia melihat Embun bersemangat bermain bersama Kelinci. Khaira dan Fajar mendekati mereka. Melihat Embun yang berlari-lari sambil tertawa mengejar Kelinci membuat Fajar pun terpengaruh. Ia langsung memasuki taman di mana Embun berada saat ini.
Ivan meraih tangan Khaira dan membawanya duduk di kursi yang tersedia di dalam taman kecil tempat si kembar bermain bersama.
“Bahagia melihat anak-anak bermain dengan riang,” Ivan berkata dengan senyum yang tak terlepas dari wajahnya, “Sepulangnya liburan, Mas akan membuat taman dan menyediakan kandang Kelinci untuk tempat bermain Embun dan Fajar.”
“Gak usah terlalu berlebihan,” Khaira menjawab perkataan suaminya, “Arena bermain yang ada sudah sangat memanjakan mereka. Fajar dan Embun juga perlu bersosialisasi dengan anak-anak seusianya.”
“Mas hanya ingin melindungi Fajar dan Embun dan memberikan kenyamanan bagi keduanya,” ujar Ivan sambil merangkul bahu Khaira dan mengusapnya mesra.
“Semua kita kembalikan pada Allah Mas, semuanya semata-mata hanyalah milik Allah. Jangan terlalu yakin dengan kemampuan diri …. “
Perasaan Ivan terketuk. Ia memandang istrinya lekat. Semua yang diucapkan Khaira sangat tepat. Ia melupakan ada sang Maha yang mampu merubah semua dan membuat rencana manusia menjadi tak berarti jika sudah ada campur tangan Sang Penggenggam alam semesta.
__ADS_1
“Maafkan Mas yang masih terjebak dengan pemikiran duniawi,” Ivan menggenggam jemari Khaira dan meletakkannya di pahanya, “Ternyata masih banyak kekurangan mas dalam memahami agama.”
“Tidak ada manusia yang sempurna. Kesempurnaan hanya milik Allah. Kita akan terus belajar dan terus memperbaiki diri …. “ Khaira membalas tatapan suaminya dengan lembut.
Ia menyadari kesungguhan yang terpancar di sorot mata kelam suaminya. Ia tidak mungkin mematahkan harapan suaminya yang semakin memperbaiki diri.
“Apa pun yang terjadi, tetaplah di samping Mas. Kita akan saling belajar dan saling menyempurnakan satu sama lain,” ujar Ivan pelan sambil mengecup jemari istrinya yang ada dalam.
“Mas, aku juga bukan perempuan sempurna. Banyak kekurangan dalam diriku,” Khaira berkata dengan lirih, “Ku harap Mas sabar dengan segala kekurangan yang ku miliki.”
Mendengar ucapan Khaira saat ini juga rasanya Ivan ingin memeluk tubuh ramping istrinya, tapi karena mereka berada di ruangan terbuka terpaksa ia menahan keinginannya untuk saling memberi kekuatan.
“Sampai kapan pun kamu lah yang menyempurnakan segala kekurangan yang ada pada Mas,” Ivan berkata dengan sungguh-sungguh, “Jangan pernah melepaskan genggaman tangan Mas.”
Khaira tersenyum dan menganggukkan kepala. Tatapan keduanya kembali pada Fajar dan Embun yang masih asyik dengan aktivitasnya. Ivan dan Khaira berjalan berdampingan mendekati keduanya.
Ivan melangkah menemani Embun yang kini mulai memberi makan kelinci dengan semangat setelah sang ayah berada di sampingnya.
“Ayah, Tincinya mau maem …. “ Embun mengulurkan wortel dan sayuran hijau yang berada dalam tempat makan Kelinci di hadapannya.
“Secukupnya aja Sayang. Nanti Kelincinya kekenyangan,” ujar Ivan menatap putrinya dengan lembut, jemarinya menghapus keringat di dahi Embun dengan sapu tangan yang ada di saku celananya dengan penuh kasih.
Sementara itu Khaira memandang Fajar yang asyik memperhatikan Kelinci yang sedang makan di dalam tempat yang sudah tersedia di dalam kandang. Tatapan Fajar begitu fokus tak teralihkan.
“Mas gak mau suapin Kelincinya?” tanya Khaira lembut, karena ia melihat sekilas pada Embun dan suaminya yang masing-masing memegang wortel yang langsung dimakan dua ekor Kelinci besar.
“Bunda, atu mau Tucing …. “ Fajar mulai bosan melihat aktivitas Kelinci yang kini mulai bergerak lincah. Sejak awal ia memang menginginkan Kucing sebagai hewan peliharaannya.
“Baiklah,” Khaira menganggukkan kepala, “Kita bilang sama ayah dulu ya ….”
Fajar mengangguk. Khaira menggandeng tangan mungilnya mendekati suaminya yang masih asyik menemani Embun yang kini mulai tampak sudah kelelahan setelah bermain bersama kelinci.
__ADS_1
“Mas, Fajar pengen liat Kucing …. “ Khaira tepat berdiri di samping suaminya yang masih berjongkok menunggu Embun yang duduk di sampingnya.
Ivan mengangguk tersenyum. Ia melihat Fajar yang tampak kelelahan. Tatapannya beralih pada Embun.
“Princess ayah mau Kelinci yang mana?” Ivan menunjuk lima Kelinci yang ada.
“Emm …. “ seperti orang dewasa Embun mengetuk-ngetukkan jemarinya di pipi.
Melihat tingkah Embun, Ivan dan Khaira bertukar senyum. Keduanya paham bahwa putri mereka kebingungan memilih Kelinci yang akan dibeli Ivan untuk memenuhi keinginan putrinya.
“Yang warna putih itu cantik De …. “ Khaira menunjuk Kelinci putih yang melompat-lompat riang, “Yang berwarna coklat itu juga lucu. Bunda suka liatnya.”
Embun melihat arah telunjuk Khaira. Ia merasa senang dengan pilihan bundanya. Ivan tersenyum puas karena Khaira bisa membuat semuanya menjadi lebih cepat.
“Baiklah, yang dua ekor ayah yang pilih.”
Ivan segera menghampiri pemilik pet shop untuk menyelesaikan pembayaran dan meminta untuk mengirim semua yang telah ia dan Khaira pilih agar diantar ke rumah mereka.
Kini mereka berempat memasuki pet shop yang menyediakan beberapa jenis Kucing untuk peliharaan. Fajar sangat senang melihat beraneka jenis Kucing yang tersedia. Khaira mendampinginya yang berjalan mengitari satu demi satu kandang untuk mencari Kucing yang sesuai dengan keinginannya.
“Bunda, Mas mau yang itu …. “ Fajar menunjuk seekor Kucing Angora tri warna sedang berbaring manja di dalam kandangnya.
Khaira menganggukkan kepala, karena Fajar telah mendapatkan keinginannya. Embun sudah tampak kelelahan. Ia hanya menatap dari stoler tanpa ada keinginan untuk memilih seperti yang dilakukan saudara kembarnya.
Ivan segera melakukan pembayaran dan menuliskan alamat agar pemilik pet shop bisa mengantarkan hewan piaraan yang telah dipilih putranya.
Keduanya berjalan berdampingan mendorong stoler meninggalkan pet shop untuk membeli keperluan lainnya. Untung saja mal yang mereka kunjungi terlengkap dan menyediakan semua keperluan keluarga hingga mereka tidak perlu berpindah ke tempat lain.
“Mas salat Ashar dulu Sayang …. “ Ivan berhenti melangkah dan menunjuk mushola yang tersedia di dalam mall, “Sudah masuk waktunya.”
“Benar Mas. Gak terasa sudah tiga jam kita menemani si kembar. Pantas saja keduanya sudah tertidur.”
__ADS_1
“Mas senang melihat senyum dan mendengar tawa bahagia Fajar dan Embun. Keinginan keduanya telah tercapai untuk memiliki hewan peliharaan.”
Ivan segera memasuki mushola sedangkan Khaira menunggu di kursi yang letaknya berhadapan dengan mushola tempat suaminya melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim.