Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 204 S2 (Kunjungan Ke Bali)


__ADS_3

Begitu sampai di kamar Suite Luxuri dengan pemandangan laut yang begitu memanjakan mata membuat Ivan merasa tenang. Ia segera membersihkan diri di kamar untuk segera melaksanakan salat Zuhur. Melalui panggilan ponselnya Ivan meminta Roni memesan makan siang dan diantar langsung ke kamarnya. Ia ingin segera menelpon Khaira untuk memberikan kabar baik padanya.


Setelah melaksanakan salat Zuhur, Ivan segera menghubungi Khaira melalui vc. Ia dapat melihat wajah sendu sang istri saat menatap wajahnya di layar ponsel.


“Assalamu’alaikum …. “ Khaira mengalihkan layar ponsel ke dinding kamar tempatnya beristirahat saat di gerai.  Teringat  kata-kata Ivan yang bernada keras padanya, membuat Khaira enggan menatap wajah sang suami.


“Wa’alaikumussalam,” Ivan berkata dengan lembut, “Sayang … aku mohon maaf telah membuatmu sedih.”


Khaira diam tak menanggapi ucapan Ivan. Ia baru selesai melaksanakan salat Zuhur begitu panggilan vc masuk. Sebenarnya ia malas menjawab, tapi ia tidak ingin menjadi istri durhaka. Sedapat mungkin ia berusaha tersenyum walau pun tidak tampak ketulusan yang tergambar.


“Kamu boleh menghadiri pameran di Bali ….” Ivan berkata pelan, “Aku akan mendukung selama itu membuatmu bahagia.”


Mendengar suara Ivan yang berusaha membujuknya membuat perasaan Khaira melunak. Tapi ia belum menghadapkan wajahnya di layar ponsel.


“Aku sangat  merindukan wajah istriku  yang lagi ngambek ini …. “ Ivan berbicara sambil membaringkan tubuhnya di kasur, “Malam ini masih terasa dingin ….”


Belum ada jawaban Khaira, wajahnya pun belum muncul di layar.  Ivan menghela nafas berat. Ia masih menunggu suara istrinya, hingga sesaat kemudian wajah yang ia rindukan muncul di layar ponsel.


“Mas kapan pulangnya?”  masih dengan perasaan enggan Khaira tidak menatap wajah suaminya.


Ivan tersenyum lega, karena kerinduannya sedikit terobati mendengar suara lembut sang istri dan wajahnya yang masih dalam mode merajuk.


“Secepatnya aku akan kembali. Mudahan dalam 3 hari pekerjaan di sini bisa ditangani dengan baik.”


Khaira mulai menatap wajah Ivan. Kekesalannya langsung pudar melihat senyum dan pandangan suaminya yang  penuh arti.  Tatapan keduanya saling mengikat.


“Apa nggak bisa diwakilkan yang lain?” Khaira mulai membaringkan tubuhnya di kasur tanpa mengalihkan tatapan dari wajah  suaminya.


Terus terang ia merindukan sentuhan-sentuhan sang suami yang begitu lembut dan menghanyutkan, membuatnya perlahan dan pasti mulai melupakan almarhum Abbas walau pun selamanya nama itu tetap ada tempat tersendiri di hatinya.


Rasanya detik itu juga Ivan ingin terbang memeluk istrinya untuk berbagi kerinduan yang hampir memecahkan kepala. Ia ingin memeluk dan menciumnya serta mencurahkan segala perasaan cinta yang telah tumbuh sempurna dengan akar yang telah mengikat kuat.


“Akan ku usahakan secepatnya,” Ivan masih dalam mode berbaring dengan malas di tempat tidur, “Kapan kamu akan berangkat ke Bali?”


“Besok sore, acara pembukaannya diadakan malam hari.”

__ADS_1


“Siapa yang akan menemanimu?” rasa khawatir masih kuat menyelimuti hati Ivan.


“Bersama mbak Andini,” akhirnya senyum itu terbit di wajah Khaira, “Saat pameran di Singapura aku tidak bisa menghadiri. Kali ini aku dan mbak Andini yang akan hadir.”


“Aku akan menyiapkan pengawalan untukmu. Ridwan dan Herlan akan mendampingimu selama berada di Bali.”


“Terima kasih mas,” mata Khaira kembali berbinar karena mendapat persetujuan suaminya.


Ia sudah merencanakan dengan cepat, sesampainya  di Bali ia akan menghubungi Dewo yang di Lombok untuk membantunya mempersiapkan properti yang akan digunakan. Khaira yakin Dewo juga memiliki pegawai yang akan membantunya selama pameran perhiasan berlangsung.


“Setelah ini, aku ingin kita berdua meluangkan waktu,” suara Ivan mulai terdengar serius, “Aku ingin kita liburan berdua.”


Memandang wajah istrinya membuat rasa rindunya semakin kuat. Ia tidak ingin hanya memandang, ia ingin menyentuhnya dan berbagi kehangatan hingga beban yang ada di dalam dada hilang tak bersisa.


Mata Khaira membulat menatap wajah Ivan, rona merah langsung bersemburat di pipinya. Ia paham dengan yang suaminya katakan. Dalam hati pun ia sudah bertekad untuk menjadi istri seutuhnya buat Ivan.


Senyum langsung terbit di wajah Ivan melihat rona wajah istrinya. Dari pancaran bening Khaira, ia bisa melihat sorot kerinduan seperti yang ia rasakan, hanya saja Khaira tidak mengungkapkan secara langsung. Tapi dari perkataan yang tersirat Ivan tau, hati istrinya kini telah ia miliki seutuhnya.


“Kita akan berbulan madu,” Ivan ingin melihat reaksi istrinya dengan memancing Khaira melalui perkataannya, “Aku sangat merindukan saat-saat itu ….”


“Sayang …. “ Ivan menyembunyikan senyumnya melihat kelakuan istrinya.


Ia mendengar ketukan di pintu kamar. Ivan yakin itu OB yang mengantarkan makan siang pesanan Roni.


“Mas sudah makan?” wajah Khaira kembali muncul di layar ponsel.


“Kelihatannya pesanan Roni baru diantar sekarang,” perlahan Ivan bangkit dari pembaringan, “Baru mau makan sekarang.”


Ia melirik jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan jam  13.00 tepat. Tanpa memutus sambungan telpon Ivan membuka pintu kamar. Dugaannya tepat, seorang OB datang membawa meja troli yang dipenuhi menu makan siang yang sangat menggugah selera.


“Terima kasih,” Ivan menganggukkan kepala begitu OB selesai menata makanan di meja yang berada di dalam kamar yang ia tempati.


“Mas ingin makan sekarang? Aku akan menutup telponnya …. “


“Tidak usah ditutup. Aku ingin menikmati makan siang ini bersamamu,” ujar Ivan sambil menghenyakkan tubuhnya di kursi.

__ADS_1


Akhirnya Khaira menemani suaminya makan sambil menceritakan hal-hal ringan lainnya saat ia bersama mertuanya serta kejadian yang ia alami  sehari-hari.


Perbincangan keduanya berakhir ketika Ivan menyelesaikan makan siang dan segera berkemas untuk menghadiri rapat bersama dinas pariwisata yang akan menjadi kliennya kali ini dalam membuat film dokumenter Wonderfull Lombok Sumbawa.


“Jaga dirimu baik-baik. Jaga kesehatan,” Ivan menatap istrinya lekat ketika hendak mengakhiri perbincangan.


“Mas juga sama, selalu jaga kesehatan. Aku akan menunggu.”


“I love you ….” Ivan berkata dengan isyarat bibirnya.


“Love you too ….” Khaira kini tanpa sungkan menjawab ucapan Ivan dengan senyum yang terukir di wajahnya.


Perbincangan dengan Khaira telah membuat semangat Ivan bangkit kembali. Tepat jam dua siang, Ivan bersama Roni sudah duduk mengikuti meeting bersama tim Wonderfull Sumbawa yang terdiri atas 5 orang dari dinas terkait, tiga orang laki-laki yang usianya sebaya Ivan dan seorang perempuan yang usianya di atas Ivan. Kedua orang yang sudah dikenal Ivan turut berada di dalam ruangan rapat tersebut, yakni Adam dan Meli.


Roni mengamati perilaku Meli yang berusaha menarik perhatian bosnya. Tapi Ivan tetap cuek tak mempedulikan Meli  yang  mondar-mandir menawarkan minuman dan snack di sampingnya. Ia fokus  mendengar hal-hal penting yang diinginkan kliennya dalam pembuatan film dokumenter yang rencananya akan dimulai besok pagi untuk pemilihan lokasi.


Begitu acara selesai, Ivan bergegas meninggalkan ruangan. Ia sudah mendapat garis besar rancangan yang akan dibuat untuk pembuatan film dokumenter.


“Tuan Ivan!” Adam memanggil Ivan yang berjalan dengan cepat.


Ivan menghentikan langkahnya menunggu Adam yang berjalan diikuti Meli yang tanpa malu-malu menunjukkan rasa sukanya pada Ivan.


“Saya ingin mengundang anda untuk makan malam bersama,” Adam memandangnya penuh harap. Sebagai tuan rumah yang baik ia ingin menunjukkan keramahan lokal penduduk setempat.


“Maaf tuan Adam, malam nanti saya akan mengikuti zoom meeting dengan pegawai saya untuk memulai rancangan proyek yang anda inginkan,” Ivan menolak dengan halus, “Saya ingin menyelesaikan proyek ini secepatnya, apalagi tenggat waktu yang pihak anda berikan sangat singkat hanya 7 hari, otomatis dalam waktu 3 hari semua sudah harus berjalan.”


Adam mengagumi ritme kerja Ivan yang begitu rapih dengan manajemen yang baik. Wajarlah kalau banyak perusahaan yang ingin bekerja sama dengan dirinya. Integritas dan keprofesionalannya  sudah terbukti selama lima tahun terakhir perusahaannya menjadi yang nomor satu di negeri ini.


Malam itu Roni masih di kamar  Ivan untuk melaksanakan zoom meeting  bersama bagian  production house. Kali ini Ivan memilih tim Bagong cs yang menangani film dokumenter. Ia meminta Hari yang datang bersama rombongan Bagong cs. Roni akan kembali ke kantor untuk meng-handle tugas Ivan, karena Hari akan menggantikannya mendampingi Ivan di lapangan.


Siang ini tepat jam 10 dengan cuaca yang sangat cerah, Khaira bersama rombongan yang terdiri atas 5 orang sudah mendarat di bandara internasional Ngurah Rai Bali. Perjalanan selama kurang lebih 2 jam cukup melelahkan bagi Khaira. Sesampainya di hotel ia ingin segera mengistirahatkan dirinya dengan nyaman di tempat tidur.


 


***Dukung terus ya\, jangan lupa komentarnya dipanjangin\, untuk semangat author di dunia Khaira dan Ivan. Sayang pada readerku. Happy weekend .... ***

__ADS_1


__ADS_2