
Ivan tersenyum mendengar guyonan ipar-iparnya. Ia menatap Khaira penuh arti. Tapi yang ditatap acuh tak acuh menggoda Babby A yang bermain di pangkuan Hasya.
“Gimana suasana di rumah baru ini. Udah ada peningkatan?” Valdo melayangkan pandangan pada Ivan yang tak bergeming tetap memandang Khaira yang kini menggendong Babby A dan membawanya berjalan di tepi kolam.
Ariq dan Ali menajamkan pendengarannya mendengar pertanyaan yang ditujukan Valdo pada Ivan. Rasa penasaran turut bersarang di otak keduanya, apalagi melihat Khaira yang tampak masih mengacuhkan suaminya di hadapan mereka.
“Masih butuh waktu untuk meyakinkan Rara untuk membuka hatinya padaku,” tanpa rasa malu Ivan mengungkapkan ganjalan di hatinya pada ipar-iparnya yang masih betah duduk di gazebo itu.
Valdo menatapnya dengan perasaan iba, “Kasian nasibmu dek. Tapi wajar sih Rara bersikap seperti itu, dia tu belum pernah berhubungan dengan lelaki mana pun. Bersyukurlah kamu menjadi lelaki pertama yang menyentuhnya …. “
Ariq dan Ali tinggal geleng-geleng kepala mendengar ucapan Valdo yang to the point. Walau dalam hati mereka bersyukur atas sikap Rara pada Ivan.
“Ku harap waktu yang diberikan Rara bisa lebih lama lagi,” akhirnya Ali tak bisa menahan diri untuk tidak berkomentar, “Biar kamu tau, semuanya butuh waktu.”
“Mas Ali …. “ Ariq menengahi pembicaraan yang mulai memanas.
Ivan hanya tersenyum menanggapi pembicaraan yang terjadi. Ia sekarang berusaha menjadi manusia lebih baik. Dan ia yakin kesabarannya akan berbuah manis. Cukup Khaira tidak membencinya saja sudah cukup.
“Adek itu orang yang perhatian dan penyayang,” Hasya menatap Khaira yang masih bermain dengan Babby A di dekat kolam ikan, “Hanya saja ia sudah terbiasa dengan kehadiran Abbas di sisinya. Kalian menikah baru satu mingguan. Mbak yakin kamu bisa membuktikan pada kami juga Rara bahwa kamu lelaki yang terbaik setelah Abbas.”
“Terima kasih mbak,” Ivan senang mendengar ucapan Hasya, “Sampai kapan pun aku akan menunggu saat itu.”
Obrolan ringan mereka berakhir karena bu Ila datang memberitahukan bahwa para pekerja yang akan menyelesaikan pemasangan tenda mulai berdatangan di depan.
Junior dan Fatih kebagian mengawasi pemasangan tenda. Sedangkan Ariq dan Ali hanya mengawasi saja. Sementara Ira dan Azkia menyiapkan parcel yang baru saja diantar dari toko yang telah mereka pesan secara dadakan.
“De, kamu istirahat dulu,” Hasya langsung menghampiri Khaira yang melihat orang memasang tenda di halaman rumahnya.
Padahal Khaira merasa senang melihat keramaian di rumahnya. Dan ia ikut menyibukkan diri membawakan minuman dingin tanpa mempedulikan tatapan Ivan yang kini duduk bersama Ariq dan Ali di teras rumah melihat pekerja yang jumlahnya sebanyak 8 orang.
“Bentar lagi ya mbak …. “ Khaira menatap Hasya penuh permohonan.
“Nggak. Ntar kamu capek.” Hasnya melotot tak senang.
“Baiklah,” tak bersemangat Khaira berjalan menuju kamar.
Ivan tersenyum melihat Hasya yang memandangnya sambil mengacungkan jempol. Melihat kesungguhan yang terpancar di wajah adik iparnya membuat Hasya merasa sedikit kasihan. Tapi mau bagaimana lagi, semua memang perlu waktu dan butuh proses yang tidak instant. Dan ia hanya berharap semoga Ivan memiliki stok kesabaran yang tak terbatas.
Begitu para pekerja telah menyelesaikan semua pekerjaan Azan yang menandakan telah masuk waktu Zuhur berkumandang di masjid.
“Kita salat di masjid depan saja. Saya dan pak Kusni biasa berjama’ah di sana,” ujar Ivan sambil memandang Ariq dan Ali bergantian.
“Boleh, aku setuju,” Fatih menjawab seketika.
__ADS_1
Ivan merasa senang karena semua iparnya ikut salat Zuhur berjama’ah di masjid Babussalam yang tidak jauh dari rumah mereka.
“Aku berharap Rara bisa membuka hati secepatnya padamu,” ujar Ariq saat mereka berjalan berbarengan menuju ke rumah setelah melaksanakan salat di masjid Babussalam.
Kini ia menyadari bahwa telah banyak perubahan positif pada diri adik iparnya. Kesan sombong dan angkuh saat pertemuan pertama mereka sudah tidak kelihatan di wajah Ivan. Ia juga mengikuti perkembangan Ivan yang mulai melaksanakan salat secara teratur dan tepat waktu di tempat kerjanya.
Tidak perlu ditanya siapa orang yang selalu melaporkan perilaku adik iparnya itu. Yang pasti Ariq merasa tenang. Walau terkadang ia juga masih khawatir dengan perilaku model dan artis yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginan.
“Terima kasih atas dukungan mas Ariq. Aku akan mengingatnya,” Ivan tersenyum dengan perasaan bahagia karena akhirnya Ariq pun menginginkan yang terbaik untuknya dan Khaira.
“Bagaimana menurutmu dengan yang diperbincangkan tadi?” Ariq berusaha mengungkit perasaan Ivan.
“Maksudnya?” Ivan menatap Ariq dengan raut tak mengerti.
“Tetanggamu,” sela Ali cepat. Ia turut menyimak pembicaraan Ivan dan Ariq.
“Nggaklah,” jawab Ivan cepat, “Saya dari dulu setia walau mata kadang tak bisa bohong.”
“Huh! Ini yang ku khawatirkan.” Ali menatap Ivan dengan kesal, “Baguslah Rara tidak membuka hatinya dengan cepat padamu.”
Ivan tersenyum, “Aku telah belajar banyak dari pengalaman almarhum Abbas dan hubungan yang terjalin antara mereka berdua. Aku bukanlah Abbas, tapi aku akan membuat Khaira tidak menyesal menerimaku sebagai suaminya. Dan aku jamin itu.”
Senyum meremehkan terbit di wajah Ali mendengar perkataan Ivan. Ia sedikit kesal mendengar jawaban ambigu Ivan, walau dalam hati ia yakin melihat keseriusan di wajah Ivan saat bersama Khaira.
Semua mata saudara Khaira tak berkedip saat ia melayani Ivan di meja makan lebih santai dari biasa, tidak ada lagi ketegangan yang tergambar dari sikapnya. Malah senyum tak hilang dari wajahnya saat mengambilkan menu yang akan disantap sang suami.
“Tampaknya masa penantian akan berakhir,” Junior memulai lagi canda recehnya sambil mencibir Khaira yang duduk di sampingnya.
“Mas bisa nggak kalo makannya tenang dikit …. “ Afifah mulai protes dengan sikap suaminya yang pecicilan nggak pernah berubah dan nggak lihat tempat.
Junior terdiam mendengar ucapan istrinya. Ia memandang Afifah sekilas. Ia tau sifat istrinya memang 11 12 dengan Khaira, dan itu selalu jadi bahan buatnya untuk merubah suasana yang tenang menjadi ramai dengan canda recehnya.
“Bisa honey …. “ Junior menatap Afifah sambil mengedipkan sebelah mata yang dibalas Afifah dengan cibiran.
“Kalian berdua itu sama saja,” Ira mulai membuka suara, “Kalau lagi makan jangan kebanyakan ngobrol. Kapan selesainya ….”
“Benar mba.” Rheina menyela, “Masih banyak kerjaan yang harus diselesaikan. Selesai makan siang masing-masing jaga posnya.”
“Ha?” Junior menatap Rheina tak percaya.
Rheina tersenyum puas. Ia sudah membagi tugas untuk ipar-iparnya mengoordinasi spot penting untuk menjamu tamu yang akan berdatangan habis Ashar nanti.
Begitu makan siang selesai, Khaira langsung kembali ke kamar untuk beristirahat. Badannya terasa lelah apalagi saat menemani Babby A bermain. Ia membiarkan semua saudaranya yang kembali ke aktivitas masing-masing.
__ADS_1
Ivan dan ipar-iparnya baru kembali dari masjid melaksanakan salat Ashar. Hasya sudah berdiri di depan kamarnya dengan membawa baju couple yang akan ia dan Khaira pakai untuk menyambut tamu yang akan segera berdatangan.
“Ade belum kelihatan dari tadi. Mbak nggak ada waktu untuk membangunkannya. Nih pakaian untuk kalian berdua.” Hasya segera berlalu dari hadapannya.
“Terima kasih mba,” Ivan menyambut paper bag dari tangan Hasya sambil menganggukkan kepala.
Dengan perlahan ia berjalan menuju tempat tidur. Melihat tidak ada pergerakan, ia yakin istrinya masih terlelap.
“Sayang …. “ Ivan menepuk pipi Khaira yang makin berisi.
Khaira tidak terusik sedikitpun. Ia masih terlelap dalam damai. Ivan langsung membaringkan tubuh di sisi istrinya. Jemarinya mulai membelai rambut Khaira dengan lembut. Merapikan anak rambut yang berjatuhan di kening istrinya. Setelah puas menatap wajah ayu istrinya tatapan Ivan beralih turun.
Khaira merasakan kehangatan menyapu bibirnya, dan aroma wangi maskulin yang selalu menemaninya di malam hari terasa begitu dekat. Ia membuka mata bersamaan dengan Ivan yang menjauhkan wajah darinya.
“Sudah bangun?” Ivan menatapnya lekat, sambil jemarinya membelai bibir Khaira yang basah akibat permainan kilatnya.
“Aku belum salat Ashar,” tanpa mempedulikan Ivan yang masih dalam posisi berbaring Khaira langsung bangkit dan berjalan menuju kamar mandi.
Ivan tinggal geleng-geleng kepala menyaksikan spontanitas Khaira tanpa melihat padanya. Akhirnya Ivan pun bangkit dari pembaringan dan segera mengganti baju koko dengan pakaian couple yang telah disiapkan Hasya untuk mereka berdua.
Saat Khaira keluar dari kamar mandi, ia melihat kamar sepi sudah tidak tampak keberadaan suaminya di sana. Ia menghela nafas lega.
Setelah melaksanakan salat Ashar, ia langsung keluar dari kamar. Saat berjalan menuju ruang tamu perasaannya terharu begitu melihat para undangan sudah memenuhi ruangan yang telah ditata dengan apik.
Ivan yang sejak tadi masih berdiri menunggu kehadirannya langsung menggandengnya untuk duduk bersama oma Marisa, bu Ila dan saudaranya yang lain.
Pak Ustadz H. Subhan selaku imam masjid kompleks sudah datang bersama dengan perwakilan beberapa pondok pesantren dan panti asuhan untuk segera memulai acara.
Setelah sepatah dua kata yang disampaikan Ivan selaku tuan rumah, akhirnya acara ditutup dengan pembacaan doa yang dipimpin langsung oleh Ustadz H. Subhan.
Ivan merasa terharu dengan doa yang disampaikan oleh pak ustadz, yang memohonkan keselamatan keberkahan untuk rumah baru mereka.
“ … semoga rumah ini menjadi baiti jannati untuk keluarga pak Alexander Ivandra dan ibu Khaira Althafunnisa, yang didalamnya selalu tercurah keberkahan sehingga keluarga kecil ini selalu sakinah, mawahdah dan warahmah di dalam lindungan Allah swt dan diberikan keturunan yang saleh, sholeha jadi kebanggaan orang tua tidak hanya di dunia bahkan di akhirat. Aamiin ya Rabbal aalaamiin….”
Semua turut mengaminkan doa penutup yang telah disampaikan oleh ustadz Subhan. Air mata Khaira tak terasa menetes di pipinya. Ia membelai perutnya yang kini mulai terasa menonjol dengan perasaan hangat.
Ivan melihat semua gerak-gerik istrinya dengan perasaan terharu. Ia membelai pundak Khaira yang sedang menghapus air mata dengan tissue yang berada di hadapannya. Kalau tidak ada orang lain sudah ia peluk untuk berbagi kehangatan yang kini mengalir di hati sanubarinya. Ia berharap doa yang disampaikan ustadz Subhan dapat membantu mencairkan salju di hati Khaira.
Setelah acara selesai, kini Rheina dan Azkia sibuk membagikan parcel dibantu Hasya dan Afifah. Sedangkan Ira melayani tamu dari kelurga tante Laras yang sengaja ia undang untuk menghadiri acara syukuran pindahan rumah anak dan menantunya.
Om Sadewo dan rombongan datang setelah ustadz Subhan serta perwakilan ponpes dan panti asuhan pulang. Semua keluarga besar Laras hadir pengen mengetahui rumah milik Ivan yang mereka dengar sangat mewah dan megah.
__ADS_1
*** Dukung terus ya\, kalian baca kisah Khaira dan Ivan. Author senang baca komennya biar semangat up sampe nanti malam. Ya ya ya .... ***