
Khaira merasa lega karena Sandra akhirnya keluar dari kamar inapnya dan Ivan. Ia sungguh tak mengerti dengan sikapnya yang tidak tau malu dan tidak tau diri. Entah apa sebutan yang pantas disematkan pada manusia yang kelakuannya seperti Sandra.
Setelah tidak ada siapa pun yang tertinggal, Khaira segera menghubungi Ariq untuk memberitahukan bahwa mereka tidak akan pulang.
“Kenapa gak pulang?” Ariq mencoba menahan senyum mendengar Khaira yang menelponnya.
“Mas Ivan kondisinya kurang fit mas. Dia tidak mampu membawa mobil,” Khaira pun menceritakan bahwa mereka baru mampir ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisi Ivan.
“Apa diagnosis dokter?” tak ayal Ariq turut khawatir mendengar kondisi Ivan.
“Dokter bilang hanya kelelahan dan perlu istirahat yang cukup.”
“Sekarang mana Ivan?”
“Mas Ivan baru saja tertidur habis minum obat.”
“Baiklah, jaga diri kalian.”
“Mas, Fajar dan Embun bagaimana?” Khaira tak bisa menahan kerinduan dengan menanyakan kedua buah hatinya.
“Tenang saja. Mereka baru tidur bersama Ira.”
“Terima kasih mas. Maaf merepotkan mas dan mbak Ira …. “ Khaira merasa tidak nyaman karena meninggalkan si kembar.
“Semoga suamimu segera pulih,” Ariq turut mendoakan kesembuhan Ivan. Ia pun turut cemas dengan cerita Khaira mengenai kondisi Ivan.
“Aamiin. Assalamu’alaikum ….. “
“Wa’alaikumussalam warahmatullah.”
Khaira segera menutup ponselnya dan mendekat ke tempat tidur. Ia meraba dahi suaminya yang masih sedingin es dengan keringat yang mengucur deras.
Khaira merasa khawatir. Ia sudah memberikan obat untuk kedua kalinya setelah salat Isya, tapi belum ada perubahan sama sekali dengan kondisi suaminya. Ia melihat Ivan yang menggigil kedinginan.
“Mas …. “ Khaira memanggil Ivan tapi tidak ada jawaban, “Ya Allah, apa yang harus ku lakukan?”
Khaira bingung tidak tau harus berbuat apa. Tidak ada orang yang dapat ia mintai pertolongan. Ia merasa segan jika harus kembali menelpon Hari atau pun Roni. Ia malas bertemu dengan Sandra yang selalu membuat kekesalannya meningkat.
__ADS_1
Tiba-tiba ia teringat dengan mbak Hasya. Ia yakin saudarinya pasti tau cara menangani kondisi yang tengah dialami suaminya. Dengan cepat Khaira mengeluarkan ponsel dari dalam tas kecil yang terletak di atas meja sofa.
“Assalamu’alaikum …. “ suara Hasya langsung terdengar begitu ponsel tersambung.
“Mbak, mas Ivan …. “ suara Khaira tercekat di tenggorokan tidak tega melihat keadaan Ivan yang semakin mengkhawatirkan.
“Apa yang terjadi?” Hasya terkejut mendengar suara Khaira yang mulai terdengar parau.
Dengan terbata-bata Khaira menceritakan kondisi Ivan sejak mereka turun dari rumah hingga detik ini. Air matanya mulai menetes tidak tega melihat Ivan yang menggulung dirinya dalam selimut.
“Mana mbak pengen lihat?”
Khaira segera mengarahkan kamera ponsel pada Ivan yang masih mengeluarkan keringat dingin dan tubuhnya menggigil.
“Kurasa Ivan terkena Hipotermia,” Hasya berkata dengan keyakinan penuh.
“Apa penyebabnya mbak? Apa yang harus ku lakukan?” Khaira sudah tidak sabar mendengar ucapan Hasya.
“Aku yakin suamimu terlalu capek sehingga antibodinya tidak mampu melawan hingga kondisinya drop. Bisa jadi selama hampir tiga minggu di rumah sakit dan berada dalam kondisi suhu yang rendah membuatnya seperti ini. Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit?” Hasya langsung menyarankan Khaira membawa suaminya untuk opname.
“Mas Ivan gak mau Mbak. Udah minum obat dua kali. Siang tadi kami sudah ke rumah sakit,” Khaira berkata dengan putus asa.
“Skin to skin?” Khaira bingung dengan perkataan Hasya.
Hasya segera menjelaskan metode skin to skin. Khaira mendengarkan dengan serius, karena baru kali ini ia mendengar ada metode untuk memindahkan panas dari satu tubuh ke tubuh yang lain. Ia merasa malu ketika Hasya mengakhiri penjelasannya.
“Apa gak ada cara lain mbak?”
“Ealah, kamu itu,” Hasya mulai menceramahi adiknya, “Kalian itu suami istri. Lebih dari sekedar skin to skin malah …. “
“Tapi mbak ….”
“Kamu itu dibilangin gak percaya. Hanya itu cara satu-satunya agar tubuh Ivan kembali hangat. Kalau tidak segera ditangani dapat menyebabkan henti jantung, gangguan sistem pernafasan bahkan ke ….”
“Mbak?” Khaira memotong perkataan Hasya, “Baiklah mbak, aku akan melakukannya. Terima kasih mbak. Assalamu’alaikum.”
Khaira segera menutup ponselnya. Ia melangkah naik ke tempat tidur. Dengan berbagai perasaan berkecamuk di kepala dan rasa malu teramat sangat, Khaira melepas bathrobe yang ia gunakan, yang menyisakan br* dan cd yang masih menutupi area vitalnya.
__ADS_1
“Ya Allah, semoga dengan ikhtiar hamba bisa mengangkat semua penyakit suami hamba ya Allah …. “ Khaira berdoa dan meminta dengan tulus dari hati sanubari terdalam untuk kesembuhan Ivan.
Perlahan ia membuka gasper dan melepas celana panjang yang masih melekat di tubuh suaminya, hingga menyisakan boxer saja.
Tangan Ivan mengepal dengan kuat. Bibirnya semakin pucat menahan dinginnya suhu ruangan. Matanya sudah tidak mampu terangkat. Tapi ia menyadari ketika Khaira mulai melepas gasper hingga menyisakan boxer yang menutup organ intimnya.
Khaira segera membaringkan diri di samping Ivan. Ia berusaha memiringkan tubuh kokoh Ivan agar menghadapnya dan memeluk tubuhnya dengan erat. Dengan membuang rasa malu, Khaira meletakkan kepala Ivan di dadanya berusaha menghangatkan sesuai yang ia mampu.
Bibir Khaira tak berhenti melafazkan zikir meminta kepada Allah untuk memberikan kesembuhan pada suaminya. Ia membayangkan wajah Fajar dan Embun yang masih sangat membutuhkan kasih sayang seorang ayah, apalagi kedekatan keduanya dengan Ivan dan ketergantungan mereka pada sang ayah.
Perasaan Khaira mulai agak tenang, karena bibir Ivan sudah tidak lagi sepucat kapas. Ia membelai kepala Ivan dengan penuh kasih. Keringat dingin yang mengalir sudah mulai berkurang dan wajah Ivan yang tadinya pucat berangsur-angsur normal kembali.
Melihat suaminya yang mulai bernafas dengan tenang perasaan Khaira benar-benar lega. Tak henti ia berucap syukur di dalam hati. Tangannya terus membelai rambut hitam Ivan, sesekali ia mencium kepala Ivan dengan perasaan yang sukar dilukiskan.
Merasa suaminya sudah tertidur dengan tenang, Khaira-pun tak bisa menahan kantuk. Tangannya masih melingkar di kepala Ivan.
Ivan membuka mata ketika merasakan sesuatu yang lembut dengan aroma wangi yang begitu ia kenal terasa menghangatkan tubuhnya. Ia terpana, tak tau harus berkata apa melihat keindahan yang tersaji di depan mata. Ia mengerjapkan mata berkali-kali, khawatir bahwa ia sedang bermimpi dan yang ia lihat dan rasakan sekarang karena dirinya sedang berada di dimensi lain.
Tapi apa yang ada di depan mata adalah nyata. Dan ia tak mampu berucap apa pun selain mengagumi semua pemandangan indah yang membuat matanya langsung segar, dan tak ingin terpejam kembali.
Ivan melihat Khaira masih terlelap dalam tidurnya. Kehangatan langsung mengalir seperti darah yang memompa ke seluruh tubuhnya. Ivan mengecup dua buk** kembar yang masih terbungkus dengan indahnya. Tidak ada pergerakan dari sang pemilik keindahan ragawi.
Ivan menaikkan posisi kepalanya hingga berada di leher yang putih dan jenjang membuat imajinasinya bermain ingin membuat lukisan di sana. Keharuman aroma tubuh istrinya membuat Ivan menekan mati-matian hasrat yang kini mulai naik ke kepala.
Ia membelai kulit mulus dan halus milik istrinya, menyentuhnya dengan segenap cinta yang semakin menggelora di dalam dada. Keindahan ragawi yang sudah tiga tahun terlepas dari kehidupannya.
Rasanya tak puas Ivan mengagumi keindahan ciptaan Yang Kuasa dalam sosok istrinya yang begitu ia dambakan selama ini.
Ivan membelai rambut hitam panjang Khaira dengan perasaan yang sukar dilukiskan. Setelah puas mencium dan membuat beberapa lukisan abstrak di leher dan dada istrinya. Ivan merasakan pergerakan Khaira. Dengan cepat ia memejamkan mata dan kembali ke posisi semula.
Khaira membuka mata, merasakan hawa panas di lehernya. Ia melihat Ivan yang masih terpejam tapi tangannya begitu erat memeluk tubuhnya sehingga ia tak bisa bergerak. Ia meraba dahi Ivan.
“Alhamdulillah ya Allah,” Khaira berkata lirih ketika merasakan suhu tubuh Ivan normal kembali.
Ia segera mengangkat tangan Ivan yang masih memeluknya erat. Khaira mendecih, tangan Ivan seperti terpaku dengan kuat. Malah menarik tubuhnya semakin erat ke dalam pelukannya. Ia khawatir Ivan terbangun jika memaksa melepas pelukan di tubuhnya.
“Yang …. “ suara Ivan menghentikan aktivitasnya.
__ADS_1
*** Hayooo para pemirsaku tercinta. Udah banyak yang mau nimpuk author khan\, sekalian mo nyantet online Sandra. Tenang .... kita ikuti alurnya. Tak ada konflik berat lagi\, semua tinggal yang bikin baper aja antara babang Ivan dan akak Rara. Sayang reader semua .... ***