Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 75


__ADS_3

Karena hujan sangat lebat tadi malam, pagi itu suasana sangat cerah. Sang  mentari yang bersinar memberi kehangatan tanpa ada awan di langit yang biri. Faiq tidak membawa Hani dan anak-anaknya  sarapan di luar. Ia memesan layanan kamar. Melihat istrinya yang kelelahan akibat ulahnya hingga menjelang subuh, akhirnya Faiq berinisiatif membangunkan si kembar dan Hasya. Ia sudah berencana membawa ketiganya bermain di Funland bagian dari fasilitas yang disediakan Mikie Holiday Resort.


Setelah ketiga anaknya  siap sedia sudah ganteng dan cantik, Faiq membawa mereka untuk menghampiri Hani yang masih terlelap.


“Sayang, kita sarapan dulu…”  Faiq membelai rambut hitam istrinya.


“Ehm…” hanya itu yang keluar dari bibir Hani. Ia tetap memejamkan mata karena tubuhnya dan matanya saling bekerja sama, membuatnya enggan untuk membuka mata dan bangun dari tempat tidurnya yang nyaman dan empuk.


Faiq tersenyum kecil. Jika tidak ada tiga bocah di hadapannya, dapat ia pastikan akan memberikan kecupan-kecupan kecil di pipi Hani yang kini semakin berisi.


“Ih, bunda macih bobok…” tanpa disuruh Hasya langsung naik ke tempat tidur.


Jemari montoknya langsung menoel-noel pipi bundanya. Melihat Hani yang tidak terganggu dengan ulahnya, Hasya jadi kesal. ia mulai menggelitik leher Hani.


Faiq dan si kembar tersenyum melihat perlakuan Hasya pada Hani. Mereka masih setia melihat aktivitas Hasya membangunkan bundanya.


“Ih, mas Faiq aku masih capek…” suara Hani terdengar manja dan menggoda di telinga Faiq.


“Bunda, hali cudah ciang. Dedek mau calapan…”


Mendengar suara kenes Hasya, sontak mata Hani terbuka lebar. Ia terkejut melihat Hasya duduk di sampingnya, serta Faiq dan si kembar yang berdiri di samping tempat tidur dengan senyum lebar.


“Mas kenapa nggak membangunkanku?” Hani memandang wajah suaminya dengan kesal. Ia merasa tidak enak hati, karena Faiq telah mengambil alih tugasnya mempersiapkan ketiga buah hati mereka.


“Mas tau kamu capek. Sekarang kita sarapan pagi dulu. Setelah selesai sarapan, mas akan bawa anak-anak bermain ke Funland. Mas ingin kamu istirahat saja, dan persiapkan diri untuk nanti malam.” Faiq mengedipkan sebelah mata saat mengatakan itu.


Hani sudah paham dengan isyarat suaminya. Ia hanya memanyunkan bibir membalas ucapan Faiq.


“Eh, bibirnya tuh dikondisikan.” Ingin rasanya Faiq  mencium bibir Hani yang begitu menggemaskan, tapi ia memikirkan ketiga bocah yang bersama mereka.


Akhirnya sarapan pagi bisa terlewati dengan santai dan penuh semangat. Faiq menyuapi Hasya yang asyik berceloteh dengan kedua kakaknya. Setelah ketiganya menyelesaikan sarapan, Faiq menghampiri Hani yang berada di rooftop menikmati suasana pagi yang tampak segar.


“Beristirahatlah. Mas tau kamu masih lelah.” Tangannya melingkar di pinggang Hani memeluknya dari belakang selama beberapa menit.


“Papa, kapan berangkatnya?” Ali sudah berdiri di belakang mereka membuat Faiq tersenyum.


“Ya. Sekarang kita berangkat.” Faiq mengecup kening Hani sesaat. “Mas jalan dulu sama anak-anak.”


“Hati-hati, mas. Ariq nggak usah terlalu capek. Dia baru sembuh.”


“Ok, sayangku.”


Mendengar ucapan Faiq, Hani hanya mengulum senyum. Faiq mengecup perut Hani, “Papa tinggal dulu, nak. Jangan merepotin bunda ya…”


Hani membelai kepala suaminya yang masih berjongkok mengelus perutnya. Akhirnya ia melepas suami dan anak-anaknya yang akan turun bermain ke Funland. Karena belum musim liburan suasana lebih sepi, dan itu membuat  Faiq tenang mendampingi anak-anak bermain.


Seharian Faiq membawa ketiganya bermain di Funland. Saat waktu salat Magrib, ia kembali ke kamar untuk melaksanakan salat berjama’ah bersama Hani yang kini sudah lebih segar karena telah beristirahat cukup. Ia memesan makan malam di kamar, karena anak-anak tampak sudah terlalu capek karena mencoba berbagai arena permainan yang tersedia di Funland.


Setelah ketiganya sudah nyenyak menyambut impian masing-masing. Faiq dan Hani baru selesai melaksanakan salat Isya berjamaah.

__ADS_1


Hani mencium tangan suaminya, “Maafkan aku, mas. Belum bisa menjadi istri yang sempurna untukmu.”


Faiq mengangkat dagu Hani hingga mata mereka bertatapan dengan lekat, “Kamu adalah makhluk paling sempurna untuk mas. Mas lah yang harus belajar lebih banyak untuk menjadi suami yang baik. Mas kurang peka terhadap keinginanmu. Tapi di waktu yang akan datang, ingatkan mas jika mulai membuatmu tidak nyaman. Beritahukan hal yang tidak kamu sukai, karena mas akan terus belajar untuk menjadi suami dan papa yang terbaik untuk anak-anak kita.”


Hani menggenggam jemari Faiq, “Aku bukanlah wanita yang sempurna. Aku juga memiliki rasa cemburu. Tapi demi kebahagiaan anak-anak, rasa cemburu bisa ku tepiskan.”


“Mas senang jika kamu memiliki rasa cemburu. Artinya mas tidak merasakan cinta sepihak.”


“Aku menyayangi mas Faiq dari lubuk hatiku terdalam. Mas Faiq telah mengajarkanku arti cinta yang sesungguhnya.  Bersama mas Faiq aku merasa dihargai sebagai seorang perempuan. Aku selalu memohon kepada Yang Kuasa,  untuk selalu menjaga keutuhan keluarga kita.”


“Terima kasih, sayang. Mulai saat ini mas akan berusaha membagi waktu untuk anak-anak seperti di awal kebersamaan kita.”


“Apakah urusan mas dan mbak Hesti sudah selesai? Aku tidak ingin dibelakang hari terjadi kesalahpahaman diantara kita.”


Faiq menatap Hani dengan serius, “Percayalah. Dari awal mas hanya menganggap Hesti rekan kerja, tidak lebih. Jadi jangan pernah curiga dengan kemungkinan yang tak akan pernah terjadi.”


“Mas…” Hani menggenggam tangan Faiq, “Aku percaya padamu. Tapi bagaimana dengan Hesti atau perempuan lain yang bisa saja menginginkan mas Faiq menjadi imam dalam rumah tangga mereka. Kita tidak bisa mengetahui apa yang bakal terjadi di masa depan…”


Faiq mengecup jemari Hani, “Aku telah menceraikan Hesti dan memberikan aset berupa apartemen dan kendaraan disertai perjanjian. Jika terjadi hal-hal yang tak diinginkan di masa depan aku akan menuntutnya.” Faiq berusaha meyakinkan Hani.


“Kegagalan pernikahan pertama membuatku trauma. Aku tidak ingin itu terjadi pada kita.” Hani menatap Faiq dengan lekat, “Aku takut dibohongi. Dan aku tidak menolerir kebohongan sekecil apa pun dalam rumah tangga kita.”


“Sayang, sebagai orang muslim kita tentu tahu 3 hal yang dibolehkan untuk melakukan kebohongan. Berdasarkan HR. Muslim, …‘Belum pernah aku dengar, kalimat (bohong) yang diberi keringanan untuk diucapkan manusia selain dalam 3 hal: Ketika perang, dalam rangka mendamaikan antar-sesama, dan suami berbohong kepada istrinya atau istri berbohong pada suaminya (jika untuk kebaikan).’ Tinggal dilihat asas kepentingan dari perilaku bohong itu, apakah merugikan salah satu pihak atau tidak.” Faiq membelai kepala Hani yang masih tertutup mukena.


“Tetap saja kebohongan akan terasa menyakitkan jika ketauan pada akhirnya.”


“Eh, kita datang ke mari untuk liburan, kok jadi membahas yang tidak penting?” Faiq mulai bangkit dari tikar sembahyang.


“Sayang, mas akan berusaha untuk menjaga kepercayaanmu. Jadi jangan pernah berpikir untuk meninggalkan mas, apapun yang terjadi akan kita hadapi bersama, oke.”


Hani mengangguk. Ia merasa lega sudah mengeluarkan segala unek-unek yang mengganjal di pikirannya. Ia siap mendampingi Faiq dalam segala suka maupun duka, dan akan setia menjadi makmum yang taat pada suaminya semata-mata mengharapkan ridha Allah.


Malam itu tanpa sepengetahuan Hani, Faiq telah mempersiapkan makan malam romantis di dalam kamar mereka. Saat Hani naik ke atas untuk melihat ketiga buah hatinya, dengan cepat Faiq meminta pihak hotel mempersiapkan ide yang telah ia rencanakan sejak mengetahui kehamilan istrinya.


Setengah jam Hani di ruangan anak-anaknya, membelai serta mencium kening sambil mengucapkan doa terbaik untuk mereka. Begitu telah puas mengamati ketiganya Hani langsung kembali ke kamar mereka.


Saat turun ke bawah lampu kamar yang tadinya terang benderang mendadak gelap. Hani merasa khawatir. Ia turun dengan perlahan. Sebuah tangan kekar meraih pinggangnya.


“Mas…” Hani yakin kalau itu Faiq, dari aroma parfum tubuhnya yang menguar.


Jemari Faiq menutup kedua mata Hani dari belakang. Ia ingin memberikan makan malam romantis untuk malam terakhir mereka menginap di Mikie Holiday and Resort.


Setelah sampai di meja yang di sulap sedemikian indah, Faiq segera melepaskan jemari tangannya di kedua mata Hani.


Hani terpaku. Selama ia menjadi seorang istri, baru kali ini mendapat kejutan makan malam romantis. Menu Steamboat sudah terhidang menggugah selera.


“Kenapa mas harus serepot ini?”


“Mas ingin merayakan kehamilanmu, karena hal inilah yang mas inginkan. Ayah dan ibu sudah lama menginginkan seorang cucu. Tapi Allah malah memberi dua cucu.” Faiq tersenyum dengan wajah penuh semangat.

__ADS_1


“Alhamdulillah, Allah memberikan keberkahan dan kepercayaan pada kita secepat ini.” Hani mengelus perutnya dengan lembut.


Faiq merasa Hani  bingung melihat menu yang dihidangkan. Dengan telaten ia menyuapi Hani dan dirinya sendiri, hingga menu yang ia pesan habis tak bersisa. Ia ingin memanjakan istrinya hal yang selama ini belum sempat Faiq lakukan.


Setelah selesai menikmati makan malam romantis, Faiq mengulurkan sebuah kotak berukuran sedang. Hani tidak menyangka akan mendapat kejutan  lagi dari Faiq. Ia membuka kotak yang sudah dihias dengan pita indah.


Matanya membulat melihat sebuah kalung berlian cantik limited edition. Ia memandang Faiq tak percaya.


“Ini terlalu berlebihan, mas.”


“Kamu dan anak-anaklah yang paling berharga. Maafkan mas yang melupakan hari ulang tahunmu. Mas telah mempersiapkan ini saat pulang dari Surabaya.”


Faiq menyibak ke depan rambut sebahu Hani yang menutupi leher mulusnya. Tanpa menunggu persetuan Hani,  ia memasangkan kalung berlian tersebut.


“Ini sangat indah. Terima kasih mas.” Hani meraba kalung berlian yang kini terpasang cantik di lehernya.


“Kamulah mahkluk terindah yang Allah ciptakan untuk menemani mas menjalani hidup hingga akhir,” Faiq merengkuh Hani ke dalam pelukannya.


Malam itu mereka lewati dengan penuh kemesraan. Faiq tak bisa menyembunyikan rasa bahagia. Keinginannya untuk mengajak Hani dan anak-anak kembali ke Jakarta dipenuhi Hani.


Wulan dan Hanif  sedih bercampur lega saat mengantar rombongan kembali ke Jakarta. Tetapi mbah Darmi lebih memilih menetap di Medan. Ia merasa nyaman dekat dengan bu Sarmi mertua Faiq yang sudah sama-sama sepuh.


Di bandara Kualanamu yang akan membawa mereka kembali ke Jakarta suasana terasa haru. Wulan lama memeluk Hani.


“Semoga mbak selalu sehat, hingga melahirkan nanti…” Wulan menghapus air mata yang tidak bisa ia bendung.


Tatapannya beralih pada ketiga bocah yang selalu menyemarakkan hari-harinya. Ia akan kesepian tanpa mereka.


“Sayang tante…” Ia memeluk dan mencium mereka satu demi satu.


Hanif memeluk Faiq, “Aku titip mbak Hani. Jangan sampai membuat mbak Hani bersedih lagi. Aku tidak tau apa yang akan terjadi kedepannya jika sampai terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.”


“Aku akan mengingat setiap ucapanmu.” Faiq menepuk bahu Hanif dengan kuat.


Tiba giliran Hanif memeluk Hani. Keduanya saling meneteskan air mata. Hani memeluk saudara satu-satunya yang ia punya. Sandaran terkuat di saat yang lain menjauh.


“Ku harap mulai hari ini kebahagiaanlah yang akan mbak rasakan.” Ucap Hanif tulus.


“Terima kasih telah menjadi sandaranku disaat-saat terpuruk. Aku akan sangat merindukan kalian.” Air mata Hani semakin deras. Berat rasanya kali ini ia berpisah jauh dari Hanif  dan juga Wulan. Mereka adalah keluarga satu-satunya yang ia miliki.


“Sayang…” Faiq menggenggam jemari Hani yang tampak bergetar saat melepaskan pelukannya dari Hanif.


Lambaian perpisahan terasa begitu syahdu di sore yang sangat cerah. Tapi tak mampu menghapus rasa sesak di dada Hani.


“Hanif akan lebih sering mengunjungi kita, percayalah. Aku akan mengusahakan agar ia mau kembali ke Jakarta dan bekerja sebagai pengacara perusahaan.”


Saat sudah duduk di dalam kursi pesawat, Faiq berusaha menghibur istrinya. Ia memahami kesedihan Hani karena terpisah jarak yang begitu jauh dengan saudaranya.


Sambil memeluk Hasya, Hani menghapus butiran air mata yang masih mengalir menganak sungai.

__ADS_1


“Biar Sasya sama mas aja…”  Faiq meraih Hasya yang mulai mengantuk dan menidurkan di pangkuannya.


Lia dan si kembar tampak adem di deretan depan sambil membaca majalah anak-anak yang sempat Faiq belikan di toko buku. Ia tidak ingin anak-anaknya bebas menggunakan ponsel dan tab. Ia lebih senang membelikan buku bacaan yang sesuai umur dan membantu tumbuh kembang mereka.


__ADS_2