Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 108


__ADS_3

“Sayang, besok matamu sudah bisa dioperasi.” Ujar Faiq lembut, “Sudah ada seorang dermawan yang mendonorkan matanya buatmu.”


Hani hanya diam mendengar ucapan suaminya. Ia merasa ada sesuatu yang tergores di hatinya. Tapi ia tidak tau apa itu. Seharian ini, mata kanan sebelah bawahnya terus mengerjab. Bukannya percaya dengan tahayul atau primbon, tapi setiap Hani berada di kondisi mata kanan mengerjab ia akan mengalami kesedihan.


Faiq mendorong kursi roda yang diduduki Hani membawanya ke sebuah taman dekat area kamar inap istrinya. Setelah melihat Junior yang kini semakin sehat, ia merasa bersyukur.


Hani mengelus dadanya yang tiba-tiba terasa sesak. Kesedihan tiba-tiba menggelayuti perasaannya.


“Yang …. “  Faiq memanggil istrinya dengan lirih.


Ia berjongkok di hadapan Hani yang wajahnya tampak murung. Kedua jemarinya menggenggam jemari Hani yang masih tampak pucat, karena sudah berapa hari tidak terkena sinar mentari.


“Bukankah kita sudah berjanji tidak akan ada rahasia lagi walau sekecil apapun ….”  Faiq memandang wajah ayu istrinya yang sedih tak bersemangat.


Hani menghela nafas berat. Ia merasakan kehangatan dari genggaman tangan suaminya. Tapi tidak bisa mengurangi kegundahan di hatinya. Air mata tanpa terasa meluncur di pipi mulusnya.


Kebahagiaan berbalut kesedihan merayapi hati Faiq dalam waktu bersamaan. Bagaimana tidak, ia sedang berduka karena Adi baru saja meninggal. Dan sebelum waktu 6 jam kornea mata Adi harus segera diangkat untuk diberikan pada Hani. Sedangkan operasi harus dilakukan sebelum 12 jam begitu  pengambilan kornea mata dari sang pendonor yang sudah meninggal


Dan yang ia pikirkan bagaimana caranya menyampaikan pada Hani dan anak-anaknya berita kematian Adi. Ia khawatir Hani akan syok, karena walau bagaimana pun Adi adalah ayah dari anak-anaknya. Jika Hani mengetahui kronologis meninggalnya Adi tentu akan membuat Hani  semakin berduka.


Ia yakin ada ikatan batin antara Hani dan Adi. Walau pun Hani tidak mengatakan tapi ia paham, Adi pernah mengisi hari-harinya selama 4 tahun, dan Adi adalah ayah dari putra-putrinya. Tentu tidak semudah itu bagi Hani untuk melupakannya, walau pun di bibir ia tidak mengakuinya, tapi saat keberadaan Adi di antara  mereka, ia dapat melihat Hani masih tampak tegang saat berbicara dengan sang mantan.


“Yang …. “  Faiq meremas jemari Hani dengan lembut, “Apa ada yang mengganggu pikiranmu. Katakanlah biar kita hadapi bersama …. “


“Aku tidak tau, entah kenapa hatiku terasa remuk tak bersisa …. “ Hani kembali menepuk dadanya yang terasa sesak.


Bayangan senyum Adi sempat melintas di benaknya. Hani tidak mengerti kenapa wajah Adi begitu lekat bermain di kepalanya. Ia berusaha memejamkan mata, tetapi tak mampu menghilangkan senyum yang tulus dengan tatapan tajam dari mata hitam milik sang mantan.


Faiq berdiri tegak. Ia menggendong Hani dan mendudukannya di bangku taman. Matanya tak bergeming memandang wajah Hani yang masih saja murung. Faiq menggeser duduknya dan langsung mendekap Hani dengan erat. Ia tau penyebab kegundahan sang istri, tapi Faiq belum berani memberitahu Hani kabar kepergian Adi. Ia akan berterus-terang tentang  Adi jika Hani selesai dioperasi. Jika diceritakan sekarang, Faiq khawatir akan berpengaruh pada psikis Hani.


Merasakan pelukan suaminya yang menyalurkan kehangatan padanya membuat air mata Hani semakin deras. Ia menumpahkan kegundahan hatinya. Setelah isakan Hani mulai berhenti, Faiq melepaskan pelukannya. Ia menghapus air mata istrinya yang masih menggantung di pelupuk matanya.

__ADS_1


“Bagaimana perasaanmu sekarang, apa sudah lebih tenang?”  Faiq mengangkat dagu Hani yang tertunduk.


Dengan lemah Hani menganggukkan kepala. Menangis selama 20 menit cukup mengangkat kegundahan yang mendera hatinya.


“Mas, aku ingin kembali ke dalam ruangan.” Ujar Hani lirih.


“Baiklah sayang. Kita akan kembali ke dalam. Terlalu lama di luar terkena udara dan polusi juga tidak baik buatmu.” Faiq menjawab dengan lembut.


Ia langsung mengangkat tubuh istrinya dan mendudukkan kembali ke kursi roda. Dengan pelan ia mendorong kursi roda untuk kembali ke ruang inap Hani.


“Sayang, sekarang kamu harus istirahat.  Pulihkan tenaga untuk operasi besok.” Faiq berkata dengan lembut.


Setelah membaringkan Hani di tempat tidur, Faiq memandang wajahnya yang lebih cerah sesudah puas menangis. Ia tak bisa membayangkan bagaimana reaksi Hani saat mengetahui Adi meninggal dunia karena melindungi mereka dari kejahatan Hesti yang ingin menabrak mobil yang sedang ia parkir di taman kota.


Hanif masuk ruangan dengan wajah sedih. Ia baru saja mengikuti prosesi penguburan Adi. Setelah singgah sebentar untuk mandi dan berganti pakaian, Hanif  kembali ke rumah sakit. Semalam-malaman ia dan Johan berjaga di sisi Adi, karena dokter sudah mengingatkan bahwa  kondisi Adi sudah tidak memungkinkan untuk  dilakukan operasi. Sebagai pengacara Adi, banyak yang harus ia urus termasuk pemindahan aset-aset milik Adi kepada penerusnya.


Begitu Adi dinyatakan meninggal dunia, Hanif langsung berbenah di kediaman nyonya Linda untuk mempersiapkan segala sesuatu  termasuk menghubungi pak Ustadz yang rumahnya dekat dengan masjid di kompleks untuk melaksanakan fardhu kifayah (segala sesuatu yang berkaitan dengan proses pengurusan jenazah dari memandikan, mengafani, menyolatkan hingga menguburkan jenazah secara islami).


“Nif, kita semua berduka atas kepergian bang Tama.” Faiq berkata dengan pelan, khawatir Hani mendengar pembicaraan mereka, “Aku mohon, jangan tampakkan kesedihan kita saat bersama Rara. Aku belum siap mengatakan hal ini pada Rara, apalagi ia besok akan menjalani operasi tranplantasi kornea mata …. “


Hanif memandang Faiq dengan raut yang sukar dilukiskan. Ia benar-benar berduka. Ia bekerja dengan Adi belum sampai dua tahun. Tapi sikap Adi sangat baik padanya. Tiada lagi kesombongan yang  selama ini ia lihat dan ia dengar.


Tadi malam ia bersama Johan dan Adi masih sempat berbincang. Rusdi pengacara perusahaan juga hadir bersama Linda. Hanif tidak kuasa meneteskan air mata saat Adi menyerahkan seluruh aset yang ia miliki untuk ketiga putra-putrinya dengan Linda dan Rusdi sebagai saksi.


Linda   pasrah menerima semua keputusan Adi.  Ia  tak bisa menahan tangis  melihat keadaan putra kesayangannya.


“Maafkan aku, ma. Aku belum bisa membahagiakan mama …. “ ujar Adi lirih membuat perasaan Linda bagai diiris-iris sembilu.


Linda meraih tangan Adi yang digip. Ia membelai tangan putra tunggalnya yang sudah kehilangan rasa. Menciumnya dengan sepenuh hati.


“Mama lah yang bersalah dan berdosa padamu …. “ Linda berkata dengan air mata yang terjun bebas di pipi tirusnya.

__ADS_1


Adi menggelengkan kepala sambil mengerjabkan mata menahan agar air matanya tidak tumpah. Ia tidak ingin menyalahkan mamanya. Ia lelaki yang bertanggung jawab, siapa pun yang merayu, jika ia kuat dan mampu bertahan maka sekuat apa pun angin yang berhembus tak akan merobohkan pohon yang akarnya kokoh.


Dan ia siap menanggung resiko atas kesalahan fatal yang ia lakukan selama ini. Ia tidak mungkin menyalahkan orang lain, jika segala keputusan berada di tangannya.


“Nif …. “ suara Adi terdengar lirih di telinga Hanif.


Ia  memberi isyarat dengan matanya agar Hanif mendekat. Dengan perlahan Hanif menghampiri Adi dan berdiri di sampingnya.


“Aku minta maaf atas kesalahanku padamu serta Hani.”  Ujar Adi pelan.


Hanif menggelengkan kepala cepat. Ia memegang tangan Adi yang terbalut gip. Tak sanggup ia melihat bos sekaligus mantan iparnya yang selalu tampil perfect, tapi kini tak berdaya di bed rumah sakit dengan perban yang membalut seluruh tubuhnya.


“Kami sudah memaafkan mu mas, jauh sebelum mas Adi memintanya. Sekarang mas Adi harus sembuh. Anak-anak masih membutuhkan ayahnya.” Hanif berusaha menyemangatinya.


Adi tersenyum tipis.  Kilas balik perjalanan rumah tangganya selama 4 tahun bersama Hani tergambar dengan jelas. Bayangan perilaku dingin pada Hani dan si kembar menari-nari di pelupuk matanya.


Kelembutan dan kasih sayang Hani tidak ada pengaruhnya dalam kehidupan Adi yang sudah terbiasa bersikap kaku dan dingin. Kehadiran Hani hanya sebagai pelepas hasrat biologisnya sebagai seorang lelaki dewasa, tanpa melibatkan sedikit pun perasaan di dalamnya.


Saat kelahiran si kembar, kebekuan Adi sempat melunak. Ia mulai memperhatikan Hani dan si kembar walaupun hanya sekedar memandang tanpa pernah menyentuh  putra kembarnya. Hingga kehadiran Helen menghancurkan sekeping rasa yang baru mulai tumbuh dalam hatinya.


“Mas ….” Suara Hanif memutus lamunan Adi.


“Aku ingin bertemu Reza …. “ guman lirih Adi terdengar di telinga Hanif.


Ia segera membisikkan pada Johan untuk menemui Faiq dan memintanya ke ruangan Adi. Dan di hadapan Faiq lah Adi menghembuskan nafas terakhir membawa penyesalan yang tak akan pernah berakhir.


“Ku harap mas Faiq mengingat  semua ucapan mas Adi.” Ujar Hanif setelah kebekuan hatinya mengingat menit-menit terakhir kebersamaan ia dan Adi telah mencair.


“Aku akan selalu mengingatnya.”  Faiq berkata dengan tegas.


Ia tidak akan menyia-nyiakan Hani dan anak-anak. Perkataan dan pesan terakhir Adi akan menjadi cambuk bagi dirinya untuk lebih waspada dalam menjaga istri dan anak-anaknya di masa depan.

__ADS_1


__ADS_2