
Ivan tidak melepaskan pandangannya dari dua sosok yang saling menguatkan di tempat periksa. Ingin rasanya ia memeluk dan merangkul keduanya setelah mengetahui semua yang terjadi. Bagaimana bisa ia tak mengetahui kehamilan istrinya dan meninggalkannya begitu saja.
Kenyataan yang benar-benar membahagiakan sekaligus memilukan. Ia sangat bahagia mengetahui bahwa akhirnya ia memiliki darah daging buah cinta dengan perempuan yang selalu ia damba. Tapi disaat bersamaan ia harus menahan kesedihan, karena bukan namanya yang tertulis sebagai ayah kandung dari kedua buah hatinya, tetapi lelaki yang telah dipanggil terlebih dahulu menghadap ilahi bahkan namanya masih tertera sebagai ayah dari anaknya.
Ivan melangkah keluar dari kamar, tidak sanggup ia menahan gejolak kepedihan yang hadir menyesakkan dada. Inikah hukuman yang harus ia terima atas perbuatannya saat meninggalkan Khaira demi anak yang begitu ia puja karena satu-satunya keturunan yang ia miliki.
Ia menghempaskan tubuh dengan rasa sesal yang berkepanjangan. Ia tak mempedulikan tatapan heran yang tergambar dari wajah ustadz Helmi yang duduk di sampingnya.
“Ada masalah tuan Ivan?” ustadz Helmi langsung bertanya melihat sikap Ivan yang tampak berbeda.
Ivan tidak kuasa menjawab pertanyaan ustadz Helmi. Ia harus berpikir dengan tenang. Ia tak boleh gegabah dalam mengambil sikap. Semua harus dipikirkan secara matang. Ia harus menyelidiki semua tanpa harus melibatkan pihak Khaira.
Ia yakin ada campur tangan saudara Khaira yang membuat semua terjadi seperti ini. Ia tidak bisa tinggal diam. Ivan akan bermain halus, agar Khaira tidak semakin menjauh darinya. Ia yakin jika ia kembali memaksakan kehendak, kemungkinan keluarga Khaira akan membawa istri dan anak-anaknya semakin jauh darinya. Tidak apa ia mengalah demi kebahagiaan mereka di masa yang akan datang.
Ivan mengusap wajahnya dengan kedua tangan bertepatan dengan suara azan yang menandakan telah masuk waktu Zuhur.
“Kita salat dulu di masjid depan tuan Ivan,” ustadz Helmi segera bangkit dari kursi yang dibalas Ivan dengan anggukan.
Saat memanjatkan doa setelah melaksanakan salat, bibir Ivan sudah tidak mampu berucap. Air matanya kembali mengalir menganak sungai. Sudah tidak ada lagi yang dapat ia katakan selain bersyukur mengetahui bahwa ia telah dikaruniai sepasang anak kembar.
Ia tau tidak mudah untuk melunakkan hati Khaira, tapi ia tetap berusaha mencari jalan terbaik. Ia tidak sanggup jika harus terpisah lagi, apa lagi ada si kembar yang akan menjadi pengikat mereka.
“Ya Allah, ampunilah hamba yang penuh dosa ini. Berikan jalan terbaik bagi hamba untuk bersama istri dan anak-anak hamba ya Allah. Janganlah Engkau memberi cobaan di luar kesanggupan hamba,” Ivan melantunkan doa dari lubuk hatinya yang terdalam, disaat bibirnya sudah tak sanggup untuk berkata-kata lagi.
Saat Ivan mengakhiri doanya, ia terkejut melihat suasana masjid mulai sepi. Para jamaah tinggal dua sampai tiga orang termasuk dirinya yang masih berada di dalam masjid. Ia segera bangkit dan berjalan menuju pintu keluar. Ustadz Helmi sudah menunggunya di teras masjid yang teduh dan adem itu.
Tanpa berbicara keduanya kembali menyeberang menuju Puskesmas yang mulai sepi dari pasien yang berobat jalan. Ivan dengan cepat menuju ruangan dimana ia meninggalkan Khaira dan putranya.
Ia tertegun, ruangan sudah kosong tidak ada seorang pun yang tertinggal di dalamnya. Ia melihat seorang lelaki gagah berpakaian putih melangkah menuju ruang praktek.
“Permisi Dok,” tanpa membuang waktu Ivan langsung menghampiri lelaki gagah tersebut.
Keduanya tak bisa menyembunyikan keterkejutan saat sudah berhadapan.
“Ivan .... “ Anwar langsung menyapanya karena tak memungkinkan untuk menghindar. Ia harus bersikap tenang dan pura-pura tidak mengetahui apa pun.
“Anwar .... “ Ivan masih mengingat sosok lelaki gagah teman dekat Khaira yang sempat menjadi rivalnya untuk mendekati istrinya, “Bagaimana kabarmu sekarang?”
“Aku baik-baik saja,” Anwar terpaksa menjawab basa-basi Ivan sekadar bersikap sopan padanya, “Apa yang membuatmu datang kemari?”
“Kemana Rara dan putraku?” Ivan langsung mengakui kepemilikannya pada Anwar yang tertegun mendengar pertanyaannya.
Kini Anwar yakin bahwa Ivan telah mengetahui kebenaran yang berusaha ditutupi Khaira dan saudaranya. Ia menghela nafas pelan.
“Mas Ali dan mas Fatih menjemput Rara setengah jam yang lalu,” jawab Anwar tenang.
Ivan menatap Anwar dengan tajam. Ia yakin bahwa Anwar telah mengetahui kebenaran tentang putranya.
“Maafkan kami, pelayanan telah ditutup. Jika tidak ada keperluan lain, silakan meninggalkan tempat ini,” Anwar berkata sambil tersenyum kecut karena melihat Ivan tidak bergeming masih berdiri dengan tegak.
Ivan menghela nafas berat. Kesabarannya sedang diuji. Jika ingin berhasil, maka ia harus mulai belajar untuk sabar dan menanganinya dengan kepala dingin. Ia harus merubah strategi dalam berperang.
“Baiklah, terima kasih atas bantuan anda dr. Anwar. Assalamu’alaikum,” Ivan berpamitan sambil menganggukkan kepala.
“Wa’alaikumussalam warahmatullah,” Anwar langsung membalik badan tidak ingin berlama-lama berdiri melihat Ivan yang langsung berjalan menuju mobil diikuti ustadz Helmi.
“Mana ustadzah Aisya dan Fajar?” ustadz Helmi tak bisa menyembunyikan rasa penasaran karena melihat Ivan berjalan sendiri.
“Sudah dijemput saudaranya,” jawab Ivan tak bersemangat.
Mobil yang ia kendarai akhirnya kembali menuju pondok pesantren yang kini mulai sepi. Sudah tidak banyak mobil dinas yang berada di sepanjang jalan memasuki lokasi pondok. Tinggal dua buah mobil pribadi yang tersisa. Kendaraan roda dua yang parkir di pekarangan rumah ustadz Hanan juga dapat dihitung dengan jari.
Mata Ivan tajam melihat tiga buah mobil keluar dari pekarangan rumah ustadz Hanan. Ia tidak bisa melihat dengan jelas orang yang berada di dalam mobil, karena kaca yang gelap. Mungkin tamu penting dan pejabat daerah yang telah selesai menjalankan tugasnya pikir Ivan santai begitu memarkirkan mobilnya di perkarangan.
Ia dan ustadz Helmi segera turun begitu mobil sudah dimatikan dan terparkir dengan rapi. Saat sampai di teras rumah ustadz Helmi masih ada Laura beserta putranya. Berli dan Danu bersama ustadz Hanan masih tampak berbincang serius.
“Assalamu’alaikum,” Ivan dan ustadz Helmi kompak memberi salam begitu sampai di teras rumah.
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” ustadz Hanan menjawab dengan cepat.
Sinar bahagia terpancar di mata Laura melihat kehadiran Ivan. Tapi ia masih menahan diri untuk mendekat, karena tidak nyaman dengan para ustadz dan kyai yang masih berada di dalam ruangan yang sama.
“Bagaimana keadaan Fajar?” ustadz Helmi tak bisa menahan rasa ingin taunya begitu sudah duduk di hadapan ustadz Hanan, “Saat kami menjemputnya sepulang salat Zuhur, Fajar dan bundanya sudah tidak berada di tempat.”
Ustadz Hanan tersenyum, “Tadi barusan tuan Ariq dan saudaranya menjemput si kembar dan bundanya. Mereka khawatir dengan kondisi Fajar. Jadi mereka akan membawanya ke rumah sakit untuk memastikan bahwa Fajar tidak kenapa-napa.”
“Kemana mereka pergi?” Ivan langsung menyambar dengan cepat. Kali ini ia tidak boleh lengah.
Sontak semua mata tertuju pada Ivan mendengar suaranya yang penuh kekhawatiran. Tapi ia tidak peduli.
“Ustadzah Aisya tidak bilang apa pun. Hanya bilang ingin cuti untuk beberapa waktu,” jawab ustadz Hanan tetap dengan raut tenang.
“Baiklah ustadz dan para kyai yang saya hormat,” Ivan memandang para tetua pengasuh pondok pesantren, “Saya sangat berterima kasih atas dukungannya. Dan saya pamit undur diri masih ada yang perlu saya kerjakan. Untuk segala keperluan menyangkut pembangunan rumah sakit akan saya serahkan pada asisten saya Danu. Permisi, assalamu’alaikum .... “
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” semua menjawab kompak dan memandang Ivan bingung.
Ivan dengan terburu-buru memasuki mobilnya. Ia tidak ingin ketinggalan dari rombongan Khaira. Ia tidak peduli, walau sampai ke ujung dunia pun akan ia kejar. Karena ia bukan hanya memperjuangkan istri tetapi juga si kembar darah dagingnya yang tak pernah ia sadari kehadirannya.
__ADS_1
“Apa yang terjadi dengan mas Ivan? Kenapa ia begitu terburu-buru?” rasa penasaran begitu kuat mengganggu pikiran Laura.
Berli memahami sorot kekecewaan yang tergambar di wajah sekretarisnya. Tapi ia malas berkomentar. Mereka kembali melanjutkan perbincangan seputar proyek pembangunan yang akan segera di mulai besok pagi.
Danu membuka ponselnya saat merasa ada pesan masuk. Ia membacanya dengan seksama. Ivan telah mengiriminya pesan, bahwa ia akan bepergian selama beberapa hari ke depan untuk keperluan mendesak yang tidak bisa diwakilkan. Segala urusan pembiayaan ia serahkan sepenuhnya agar Danu dan Baron mengelola semuanya.
Danu segera menyimpan kembali ponsel ke saku celananya. Ia akan melaksanakan semua permintaan Ivan, dan akan menceritakan langsung permintaan sang bos pada klien yang sedang ia hadapi sekarang.
“Apa yang terjadi?” Berli tak bisa menyembunyikan rasa ingin taunya begitu Danu mengerutkan jidat saat membuka ponsel dan menyimpannya kembali.
“Bos memberikan wewenang pada saya dan Baron untuk mengurus semua pembiayaan selama proses pembangunan rumah sakit kanker ini,” ujar Danu sambil mengambil tas kerja Ivan yang tertinggal di hadapannya.
“Lalu bosmu kemana?” ustadz Hanan merasa heran karena Ivan tidak sempat menceritakan alasan kepergiannya yang begitu mendadak.
“Saya juga tidak tau Ustadz,” Danu menjawab dengan perasaan tidak nyaman, saat semua mata tertuju padanya.
“Semoga saja urusan Ivan dipermudah dan dilancarkan sehingga kita bisa bergabung bersama kembali,” ustadz Hanan berkata dengan wajah teduhnya.
Ivan memacu mobilnya dengan kecepatan sedang berusaha mengimbangi rombongan yang masih berada di depannya. Begitu tiba di persimpangan, ia kehilangan jejak akibat terjebak lampu merah. Dengan kesal ia memukul dashboard mobil. Begitu lampu hijau menyala kembali, Ivan memacu dengan kecepatan penuh. Tetapi apa daya tidak ada jejak yang tertinggal.
Ivan kembali ke rumah mamanya dengan perasaan kecewa. Tapi kekecewaannya langsung hilang mengingat apa yang telah ia temukan. Ia tidak ingin menceritakan semua temuannya kepada sang mama. Jika mamanya tau, ia khawatir rencananya tidak akan berjalan lancar.
Jika ia berhasil membuat Khaira kembali di sisinya, disaat itulah ia akan menceritakan semua pada mamanya. Ia yakin mamanya akan sangat bahagia mengetahui bahwa ia telah menjadi seorang nenek dengan dua cucu sekaligus.
“Kamu sudah makan?” Laras melihat Ivan yang berjalan dengan cepat menuju kamarnya di lantai atas.
“Masih kenyang Ma,” Ivan menjawab cepat.
Ia ingin segera beristirahat. Badan dan pikirannya terlalu lelah setelah menjalani hari dan mengetahui kebenaran yang telah ditutupi darinya. Ia tidak akan mundur, akan terus memperjuangkan semua miliknya.
Setelah sampai di kamar Ivan langsung membersihkan diri dan menjalankan kewajibannya. Mulai hari ini ia akan lebih bersungguh-sungguh untuk memohon pada Sang Pemilik Hati agar melembutkan hati istrinya untuk menerima dirinya kembali.
Seharian Ivan tidak melakukan aktivitas apa pun. Ia masih menunggu informasi dari beberapa orang yang telah ia pekerjakan untuk mengetahui lokasi keberadaan Khaira dan kedua anaknya.
Laras tidak banyak bertanya melihat Ivan yang masih di rumah hingga jam 10 pagi. Ia tau kesedihan yang dialami putranya, dan ia tidak bisa berbuat apa-apa selain mendokan yang terbaik untuk putranya.
Setelah kembali dari salat Zuhur di masjid kompleks, Ivan kembali ke kamarnya untuk mencari informasi tak peduli dari mana pun atau siapa pun.
Sebuah pesan gambar masuk. Ivan mengernyitkan dahi, melihat nomor dari negara luar yang masuk ke ponselnya. Dengan perasaan enggan ia membukanya.
“Apaan ini?” Ivan merasa orang yang mengiriminya gambar bermaksud iseng padanya. Karena gambar yang ia terima adalah gambar hotel Marina Bay Sands.
Tapi beberapa gambar muncul lagi tak lama setelah gambar pertama ia buka. Dengan enggan Ivan membuka gambar yang masuk beberapa saat kemudian.
“Astaga Edward,” senyum tipis muncul di bibir Ivan begitu melihat ada wajah Edward pada gambar kedua.
“Ya Allah ... Rara ... Embun ... Fajar .... “ serasa mendapat durian runtuh Ivan langsung menghubungi nomor Edward.
“Apa?” suara Edward langsung terdengar menyambutnya.
“Kirim jetmu untuk menjemputku sekarang,” nada arogan Ivan membuat Edward langsung tertawa.
“Kirim sahammu 5 % ke rekeningku,” jawab Edward seketika.
“10% cash begitu aku sampai dengan selamat,” Ivan tertawa mendengar jawaban Edward.
Ia tidak akan melewatkan kesempatan kali ini. Walau pun hanya mengamati dari jauh, yang penting ia selalu berada di dekat Khaira dan anak-anaknya itu sudah cukup baginya untuk saat ini.
Dengan cepat ia menghubungi Rusli untuk segera mengantarnya ke bandara. Kali ini ia tidak boleh terlambat. Kemana pun Khaira dan si kembar berada di situlah ia, Ivan akan menjadi bayangan bagi ketiganya.
“Ma, aku akan ke Singapura untuk perjalanan bisnis,” ujar Ivan saat menghampiri mamanya di taman belakang yang sedang asyik berkebun.
“Berapa lama?” Laras menatap Ivan dengan lekat.
Ia merasa heran, tidak tampak raut kesedihan di wajah Ivan, malah sorot kebahagiaan tergambar jelas di sana.
“Doakan saja Ma, hanya itu yang ku perlukan,” jawab Ivan seketika.
“Mama selalu mendoakan yang terbaik untukmu,” Laras mengusap pundak Ivan dengan perasaan sedih.
Ia berharap Ivan menemukan kembali kebahagiaan yang pernah ia miliki sebelumnya. Itulah harapan orang tua untuk kebaikan anak-anaknya.
Dengan penuh semangat Ivan memasuki mobil yang sudah terparkir di halaman rumah. Dalam perjalanan menuju bandara, kebahagiaan Ivan terganggu mendengar lagu lama beraliran slow rock yang diputar Rusli di dalam mobil. Tapi ia tetap menyimak bait-demi bait yang dinyanyikan penyanyi rock terkenal masa itu.
Akhirnya semua telah sirna
Getar asmara pun pudar di dalam dada
Dan di antara kita telah tak ada
Rasa saling seia-sekata
Hari ini atau esok lusa
Kita kan berpisah untuk selama-lamanya
Agar takkan lagi kurasa
__ADS_1
Duka derita hidup bersama
Usah lagi perpisahan jadi beban di hati
Takkan lagi ada harapan kita tuk kembali
Biar semua hilang
Bagai mimpi-mimpi
Biar semua hilang
Usah kau sesali
Biar semua hilang
Bagai mimpi-mimpi
Biar semua hilang
Usah kau sesali
Hari ini atau esok lusa
Kita kan berpisah untuk selama-lamanya
Agar takkan lagi kurasa
Duka derita hidup bersama
Usah lagi perpisahan jadi beban di hati
Takkan lagi ada harapan kita tuk kembali
Biar semua hilang
Bagai mimpi-mimpi
Biar semua hilang
Usah kau sesali
Biar semua hilang
Bagai mimpi-mimpi
Biar semua hilang
Usah kau sesali
Biar semua hilang
Bagai mimpi-mimpi
Biar semua hilang
Usah kau sesali
Biar semua hilang
Bagai mimpi-mimpi
Biar semua hilang
Usah kau sesali
“Tidak! Semua tidak akan hilang. Semua akan kembali seperti di awal. Kita akan memulai bersama si kembar,” Ivan membatin dalam hati begitu lagu yang diputar telah berakhir, “Aku akan bertahan hingga kamu menerimaku kembali .... “
“Bos,” Rusli merasa heran melihat Ivan yang termangu berdialog dengan pikirannya sendiri padahal mereka sudah tiba di bandara, “Apa nggak jadi berangkat?”
“Hah?” dengan cepat Ivan bangkit dan segera keluar dari mobil, “Maaf bonusmu kali ini ku potong.”
“Apa salah saya Bos?” Rusli menatap heran karena merasa tidak melakukan kesalahan.
“Lagu yang kamu putar barusan membuat ku kehilangan semangat,” jawab Ivan datar.
“Astaga .... “ Rusli menepuk dadanya tak percaya mendengar perkataan Ivan.
Senyum tipis terbit di wajah Ivan melihat raut menyedihkan yang tergambar di wajah Rusli yang polos dan lugu.
“Padahal bonus kali ini untuk membeli kerbau buat abah di kampung Bos,” Rusli menatap Ivan dengan wajah sedih.
“Ha ha ha .... “ Ivan tak bisa menahan tawa mendengar perkataan Rusli, “Aku akan membelikan sepasang kerbau buat abahmu di kampung. Tetap kerja yang semangat.”
Senyum lebar langsung tergambar di wajah polos Rusli. Ia tau Ivan tak pernah ingkar janji. Ia bos yang royal pada pegawainya.
“Terima kasih Bos. Semoga Allah selalu melindungi, dan Bos segera menemukan kebahagiaan.”
__ADS_1
“Aamiin .... “ Ivan meninggalkan Rusli dan berjalan menuju terminal khusus private jet yang akan menerbangkannya langsung ke Singapura.