Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 278 S2 (Kali Kedua)


__ADS_3

Dihari ketiga Ivan merasa lega melihat Khaira yang sudah bisa menggerakkan lengan dan kakinya. Walau pun hanya melihat dari kejauhan tapi ia tak berkecil hati. Melihat Khaira sudah mulai beraktivitas dengan bantuan Fatih atau Ali ataupun saudaranya yang lain Ivan sudah merasa bahagia.


Ia  tidak akan menuntut untuk bersama kembali. Jika memang mereka tidak ditakdirkan bersatu dalam ikatan keluarga untuk mengasuh si kembar ia ikhlas, dan akan menjalaninya walau pun berat. Ia yakin, awalnya akan terasa berat tapi  lama-kelamaan akan terbiasa.


“Mas, apa yang terjadi tiga hari yang lalu?” Kini Khaira teringat dengan peristiwa yang menyebabkan ia sekarang  berbaring di rumah sakit.


“Apa maksudmu?” Ali yang siang itu menemani Khaira berusaha menyembunyikan fakta tentang kecelakaan yang terjadi.


“Siapa yang menabrak kami kemaren?”  Khaira memandang Ali yang disibukkan dengan ponselnya yang terus berdering, “Mass …. “


Ali menatap Khaira sejenak. Ia sudah sepakat untuk merahasiakan perbuatan Claudia hingga Khaira bisa pulih seperti sedia kala.


“Mas, aku merasa ada yang mendorongku dan Fajar  sehingga selamat dari tabrakan itu,” Khaira menatap Ali dengan penuh harap, “Aku tidak ingin merasa berhutang budi dengan orang yang telah menyelamatkan kami.”


Ali tercekat. Bagaimana ia harus mengatakannya pada Khaira, bahwa pelakunya adalah Claudia, sedangkan yang menyelamatkan mereka adalah Laras. Dua-duanya orang yang terlibat dalam kehidupan Ivan dan pernah bersinggungan dengannya.


“Sehatkan dirimu dulu. Nanti mas akan membawamu menemui orang yang telah menyelamatkan dan menghindarkan kamu serta Fajar,”  Ali berkata pelan, “Orang yang tak sengaja menabrakmu mengalami cacat permanen. Dia tidak mampu berjalan, karena kakinya patah dan mengalami gegar otak.”


“Astagfirullahal’adjim …. “ Khaira terkejut mendengar ucapan Ali, “Apa aku mengenalnya?”


“Sudahlah jangan dipikirkan. Kamu harus segera sembuh, kasian si kembar nanyain bundanya terus,” Ali tidak ingin mengungkap kebenarannya. Ia tidak ingin menambah beban pikiran Khaira.


Sudah tiga hari Laras menjalani operasi karena ada pembekuan darah di otak. Tak henti zikir  Ivan kumandangkan untuk kesembuhan mamanya. Ia  merasa prihatin dengan kondisi mamanya yang sampai saat ini belum sadarkan diri.


“Ya, Allah jika ini hukuman atas segala kesalahan yang telah hamba perbuat mohon berikan pengampunan untuk hamba-Mu ini yaa  Allah ….”


Ivan meneteskan air mata saat di tengah kesunyian malam menghadap sang Khalik untuk mencurahkan segenap beban di dadanya.


“Berikan kesembuhan kepada mama ya Allah …. Janganlah Engkau uji hamba-Mu di luar batas kesanggupan hamba yaa Allah ….”


Ivan terpekur dengan air mata yang mengalir semakin deras. Tiada tempat untuk mengadukan semua permasalahan yang ia hadapi kecuali sang Pemilik Kekuasaan yang semuanya berada dalam genggaman-Nya.


“Ehm …. “ terdengar samar-samar suara  di keheningan malam.


Ivan memandang ke bed tempat mamanya terbaring koma setelah menjalani operasi. Ia melihat jemari mamanya yang mulai bergerak-gerak.


“Ya, Allah … mama …. “ dengan cepat Ivan bangkit dari tikar sembahyang.


“Van …. “ lirih suara Laras memanggil namanya.


Segera  Ivan memencet bel untuk memanggil petugas yang  piket di malam itu, tak lupa bibirnya mengucapkan syukur atas keadaan Laras yang terbangun dari komanya.


Dr. Rustam  beserta asistennya datang dengan cepat setelah mengetahui kondisi Laras. Ia melakukan pengecheckan standar untuk melihat perkembangan pasiennya.


“Alhamdulillah, nyonya Laras sudah melewati masa kritisnya,” ia berkata dengan wajah sumringah, “Kita akan melihat perkembangannya dua hari ke depan.”


“Terima kasih dokter,” Ivan merasa bahagia karena mamanya telah sadar kembali. Ia meraih jemari Laras dan menciumnya dengan perasaan lega.


Sementara itu, Ariq dan Fatih yang malam itu  menjaga Khaira masih  belum tidur. Keduanya terlibat percakapan serius. Seorang perawat yang mereka tugaskan khusus mendampingi  Khaira sudah terlelap beberapa menit yang lalu.


“Aku merasa kasihan pada Ivan atas kondisi mamanya,” ujar Ariq pelan, “Semoga tante Laras segera pulih kembali.”


“Kalau seandainya tante tidak mendorong Rara … aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi,” Fatih pun menyambung dengan  prihatin, “Kita berhutang budi dengan tante Laras.”


“Claudia memang racun yang mematikan,” Ariq berkata sambil menggelengkan kepala, “Entah bagaimana Ivan bisa terlibat dengan perempuan seperti itu.”


“Deg …. “


Khaira merasakan jantungnya berdetak cepat mendengar percakapan yang terjadi antara Ariq dan Fatih.


“Ivan sempat mengatakan kalau Claudia menjalani hukuman tahanan rumah di Singapura saat aku membawa Rara dan si kembar check up di Mounth Elizabet.”


“Atas dasar apa ia ditahan?” Fatih penasaran mendengar ucapan Ariq.


“Aku tidak tau pasti,” Ariq mengangkat bahu, “Seharusnya satu bulan lagi masa tahanannya berakhir.”

__ADS_1


“Mungkin ada yang menjamin sehingga dia bisa keluar dan membalas perbuatan Ivan dengan menyakiti orang-orang yang ia sayangi.”


“Sampai kapan kita akan menyembunyikan semua ini dari Rara?”  Fatih menatap Khaira yang tampak terlelap dalam tidur.


“Jika kondisinya mulai stabil dan sudah bisa berjalan kembali, kita akan membawanya melihat tante Laras,” Ariq sudah memutuskan.


“Semoga saja tante Laras bisa melewati masa kritisnya. Kasian Ivan, dia tidak mempunyai keluarga lagi selain mamanya.”


Perasaan sedih hadir menggerogoti batin Khaira. Ia tidak bisa memejamkan mata setelah mendengar pembicaraan keduanya. Kini ia tau cerita sebenarnya dibalik peristiwa tabrakan yang menyebabkan ia kini harus berbaring di rumah sakit dengan kondisi memar di sekujur tubuhnya.


Pagi itu setelah mengunjungi  Khaira yang masih terlelap dalam tidurnya, Ivan sempat berbincang dengan Fatih dan Ariq. Ia menceritakan bahwa mamanya telah terbangun dari koma dan sudah bisa berkomunikasi walau pun dengan bahasa isyarat.


“Yang sabar ya …. “ Ariq menepuk pundak Ivan  untuk menyemangatinya agar tetap tabah dan kuat menjalani musibah ini.


“Terima kasih mas. Saya kembali ke ruangan mama. Assalamu’alaikum …. “ Ivan pamit dari hadapan keduanya.


“Wa’alaikumussalam …. “ Ariq dan Fatih menjawab kompak.


Ivan merasa lega, mamanya sudah bisa berkomunikasi lebih lancar tanpa menggunakan bahasa isyarat lagi.


“Van, bagaimana keadaan Rara dan Fajar?” suara Laras masih terdengar lemah.


“Fajar baik-baik saja. Rara yang masih dirawat karena memar di sekujur tubuhnya,” Ivan berkata dengan penuh kesedihan, “Dia belum bisa berjalan sendiri masih menggunakan kursi roda.”


“Maafkan mama ….” Laras menitikkan air mata.


“Itu bukan kesalahan mama,” Ivan tak ingin membuat mamanya bersedih, “Semua akan baik-baik saja. Akulah yang salah melangkah sejak awal ….”


“Van … mama tau, kebahagiaanmu adalah bersama Rara dan anak-anak. Kejarlah kebahagiaanmu. Mama akan selalu mendukung kalian.”


Ivan tersenyum. Ia berusaha menyembunyikan kesedihan di hatinya. Ia akan melepas Khaira seperti permintaannya sejak awal. Mereka akan menjadi tim yang solid untuk membesarkan si kembar walau tidak bersama.


“Ma … “ suara Ivan tercekat saat mengatakannya, “Aku akan mengikhlaskan Rara …. “


“Apa maksudmu …. “ Laras tak percaya mendengar suara Ivan yang terdengar seperti orang yang putus asa.


“Apa yang kamu katakan nak …. “  Laras menggelengkan kepala melihat Ivan yang mulai tidak percaya diri untuk memperjuangkan  Khaira dan si kembar kembali.


“Aku telah mengingkari janji pada almarhum Abbas maa …. “ tak terasa airmata Ivan menetes mengingat almarhum sahabatnya, “Aku tidak mampu membahagiakan Rara …. “


Ivan menjatuhkan kepalanya di samping tubuh mamanya. Pundaknya terguncang menahan sesak serta kesedihan akan rumah tangga yang tidak mampu ia perjuangkan.


Jemari Laras membelai rambut putra semata wayangnya. Ia dapat merasakan kesedihan yang dialami Ivan. Dadanya sesak menyaksikan Ivan menangis. Seumur hidupnya ini kali kedua menyaksikan keterpurukan putranya.


“Ya Allah … hamba rela menukar nyawa demi kebahagiaan putra hamba satu-satunya ya Allah,” Laras memejamkan mata berdo’a lirih dalam hati, “Berikan putra hamba kebahagiaan ya Allah … agar hamba-Mu tenang saat meninggalkan dunia ini ya Allah …. “


Ivan tidak menyangka ustadz Hanan dan mertuanya  KH. Abdullah datang membezuk mamanya dan Khaira. Keduanya datang ke rumah sakit karena mertua ustadz Hanan selalu kontrol jantung satu bulan sekali. Saat menebus obat ia melihat Ariq yang  berjalan melewati mereka.


Dari percakapan yang terjadi diantara mereka, ustadz Hanan mendapat informasi tentang kecelakaan yang terjadi membuatnya terkejut. Karena setelah mengunjungi si kembar satu minggu yang lalu bersama sang istri mereka lost kontak.


“Tuan Ivan, kondisi nyonya Laras drop …. “ panggilan perawat membuat Ivan yang masih berbincang dengan ustadz Hanan dan mertuanya langsung terhenti.


Dengan tergesa-gesa Ivan memasuki ruangan mamanya. Ia melihat tim dokter sedang melakukan tindakan medis.


“Nak … “ suara Laras terdengar melemah.


“Mama, mama akan sembuh. Fajar dan Embun masih membutuhkan mama …. “ Ivan berusaha menyemangati mamanya.


“Ma … ma … Ra … ra …. “ suara Laras mulai terputus-putus.


“Mama ingin bertemu Rara?” Ivan menatap mamanya dengan lekat.


Laras mengangguk dengan lemah. Tangannya menggenggam jemari Ivan dengan kuat.


“Biar saya yang memanggil ustadzah Aisya kemari,” perasaan ustadz Hanan sudah tidak nyaman.

__ADS_1


Ia dan mertuanya berpandangan melihat kondisi Laras yang semakin menurun. Keduanya yakin berdasarkan pengalaman menghadapi orang yang sakaratul maut bahwa nyonya Laras tidak akan mampu bertahan.


“Assalamu’alaikum …. “ ustadz Hanan langsung menerobos masuk ke ruangan Khaira yang kebetulan Fatih, Ali dan Ariq sudah berkemas untuk membawa Khaira kembali ke rumah.


Lima hari di rumah sakit sudah membuat kondisi Khaira pulih, hanya tinggal  luka kecil dan memar yang tidak terlalu dikhawatirkan. Untuk yang lain ia sudah bisa beraktivitas seperti biasa.


“Wa’alaikumussalam …. “ semua menjawab kompak.


“Tante Laras ingin bertemu ustadzah Aisya sekarang,” ustadz Hanan yang biasanya tenang dalam berbicara kini  tampak tegas.


Ketiganya berpandangan. Mereka belum sekalipun membicarakan tentang tante Laras pada Khaira, bagaimana mungkin mereka mengijinkan Khaira untuk bertemu dengannya.


“Mungkin usia tante Laras tidak akan lama lagi …. “ ustadz Hanan tidak bisa menyembunyikan kondisi Laras yang sudah semakin kritis.


“Ya Allah tante … Mas, antarkan aku ke sana …. “ pinta Khaira penuh harap.


“Baiklah. Kita ke sana …. “ Ariq mengangguk menyetujui keinginan Khaira.


Kini mereka berlima sudah berada di dalam ruangan Laras. Wajahnya semakin memucat dengan tubuh semakin dingin.


“Tante …. “ air mata Khaira tak terbendung menyaksikan kondisi mertuanya.


“Nak … ma …af… kan … ma … ma … dan … I … van …. “ suaranya semakin lirih.


“Saya sudah memaafkan tante dan mas Ivan …. “ suara Khaira terisak-isak saat mengatakan itu, “Tante harus sembuh. Fajar dan Embun masih membutuhkan eyangnya … hu … hu … hu …. “


Suasana hening hanya terdengar isakan Khaira yang menggenggam tangan Laras. Ia tidak sanggup menyaksikan Laras yang sedang berjuang.


“Ma … ma … i…ngin … ka …li …an … ber …sa …tu … la …gi.”


“Deg … “


Khaira terkesiap mendengar ucapan Laras.


“Ma …ma … a … kan …ba …ha…gia … “  suara Laras makin pelan terdengar, “Ma …ma …mo …hon … me …ni …kah …lah …”


“Mama …. “ Ivan tidak menyangka mamanya  akan meminta sesuatu yang sulit untuk dikabulkan pihak Khaira dan saudaranya.


“Ma ,,, ma … a …kan …me…ne…pa…ti … jan …ji …pa …da … tan … te … Ma …ri …sa …”


“Tuan Ivan …. “ dokter mulai mengode Ivan akan kondisi mamanya yang semakin menurun dari monitor yang terpasang.


“Baiklah,” Ariq memutuskan, “Demi tante Laras dan si kembar saya menyetujui pernikahan ini.”


“Mas, penghulunya …. “ Ali mengerutkan dahi.


“Saya bisa menikahkan keduanya, selama ada persetujuan dan wali nikah pihak perempuan,” sela KH. Abdullah memotong perkataan Ali.


Khaira terhenyak. Bagaimana mungkin ia menolak. Semua saudaranya sudah memutuskan dan ia harus menuruti keinginan semua, apalagi Laras telah menyelamatkan nyawanya dan Fajar.


“Ra … “ Ali memandangnya dengan prihatin.


“Insya Allah saya siap mas …. “ Khaira mengangguk pasrah.


“Mas kawinnya?” ustadz Hanan memandang Ivan.


Ivan terkejut. Ia tidak menyangka semua akan terjadi secepat ini. Ia tidak ada persiapan apa pun. Ia menatap ustadz Hanan dengan bingung.


“Apa barang berharga yang ada di tanganmu?” Ariq memandang Ivan yang kebingungan dengan pernikahan dadakan yang terjadi.


Laras mengangkat tangannya dengan lemah menunjukkan cincin yang terpasang di jari manisnya peninggalan almarhum papanya Ivan.


“Saya terima nikah dan kawinnya Aisya Setiawan binti Faiq Al Fareza dengan mas kawin sebentuk cincin emas tunai …. “ dengan suara bergetar Ivan menjawab ketika Fatih telah mengucapkan ijab di awal.


Air mata Khaira mengalir deras saat ijab qabul telah terjadi. Ini kali kedua ia menikah kembali dengan Ivan, lelaki yang terlalu banyak memberikan kesedihan dalam hidupnya. Tetapi takdir Allah berkehendak lain. Ia harus menerima dengan lapang dada semua takdir yang telah digariskan dalam kehidupannya.

__ADS_1


Ia merasa dejavu, teringat saat pernikahan yang terjadi antara ia dan almarhum Abbas. Khaira tak bisa menahan kesedihan hatinya. Ia menangis dalam pelukan Ariq menyadari bahwa kini ia tidak sendiri lagi.


__ADS_2