Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 122 S2 (Alexander Ivandra)


__ADS_3

Seorang lelaki muda pemilik New Star Corp. Di usianya yang menjelang kepala tiga masih senang dengan kesendirian. Ia sangat menikmati hidup dan segala fasilitas yang ia miliki. Mempunyai seorang kekasih model dan artis terkenal membuatnya merasakan bahwa dunia sudah berada di dalam genggaman.


Alexander Ivandra telah mengembangkan usaha almarhum ayahnya semenjak Hartanto meninggal dunia lima tahun yang lalu. Kini ia tinggal bersama Larasati, seorang ibu  yang selalu mendukungnya menjadi lebih baik.


Mobilitas yang tinggi di keseharian hidupnya membuat Ivan bertemu dengan Abbas, seorang pemuda biasa yang masih duduk di bangku mahasiswa UI jurusan Ekonomi semester akhir. Saat itu ia dan pak Dibyo sang supir sedang terburu-buru ke hotel Sangri-La untuk menemui klien dari Paris yang ingin bekerja sama untuk pembuatan  iklan.


Pak Dibyo yang diburu Ivan tanpa sadar menabrak seorang pengendara motor yang sedang menyeberang jalan. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, tabrakan maut tak dapat dielakkan.


Dengan menelpon asistennya Roni, Ivan dan pak Dibyo meneruskan perjalanan menuju tempat yang telah ditentukan. Roni menyelesaikan semua permasalahan yang ditinggalkan bos besarnya.


Seharian Roni mengikuti Abbas yang tampak tegar menyaksikan kondisi ayahnya yang sangat mengenaskan.  Ia merasa kagum melihat ketabahan Abbas dalam menghadapi musibah. Ia juga melihat seorang perempuan muda berpakaian tertutup yang selalu berada di sisinya serta perempuan paro baya yang tak berhenti mengeluarkan air mata.


Hingga dokter menyatakan bahwa kondisi pasien sudah tidak bisa diselamatkan, ia melihat Abbas tersungkur di samping brangkar pasien. Perempuan muda yang berada di sampingnya juga turut menangis sambil memeluk perempuan setengah baya yang berpakaian seperti perawat.


Roni terus menginformasikan segala sesuatu yang dilihatnya pada Ivan.  Tanpa diketahui siapa pun Roni mengikuti Abbas beserta ibu dan Khayra yang membawa almarhum Hasan kembali ke rumah untuk prosesi penyelenggaraan jenazah hingga pemakamannya. Semua tak luput dari perhatian Roni.


Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore saat pemakaman selesai. Roni kembali mengikuti dengan mobilnya saat mobil yang dinaiki ketiga orang yang jadi incarannya meninggalkan kompleks pemakaman.


Roni kembali ke perusahaan untuk melaporkan semua hasil pengamatannya saat mengikuti korban tabrak maut yang telah dilakukan bosnya. Ia turut merasakan kesedihan pihak keluarga walaupun ia tidak terjun langsung untuk menyampaikan sepatah dua kata untuk penghiburan bagi keluarga yang ditinggalkan.


“Bagaimana keadaan keluarga korban?” pertanyaan Ivan langsung menyergap daun telinganya begitu ia menghenyakkan tubuh di hadapan meja kerja Ivan.


“Sangat memprihatinkan,” sahut Roni dengan wajah tak bersemangat. Ia menghela nafas berat, “… almarhum memiliki seorang anak lelaki yang masih kuliah semester akhir. Istrinya seorang perawat di rumah sakit swasta.”


Ivan termenung sesaat. Ia tidak menyangka ketergesaan mereka kali ini mendatangkan musibah hingga menghilangkan nyawa seseorang.


“Bagaimana urusan dengan kepolisian?” Ivan memijit dahinya yang terasa nyeri tiba-tiba saat mengajukan pertanyaan itu.


“Aku menelpon sahabatku Ridwan  yang bertugas sebagai satlantas untuk mengurus semuanya.”

__ADS_1


Ivan menghela nafas berat. Ia akan bertanggung jawab untuk menanggung biaya kehidupan keluarga almarhum. Dan rencana awal yang akan ia lakukan adalah menemui anak dari almarhum Hasan yang telah menjadi korban tabrak maut.


Siang itu Abbas dan Khayra sedang duduk di kantin kampus setelah perbaikan skripsi mereka. Keduanya merasa bahagia karena tidak banyak revisi serta coretan yang diberikan pak Arham selaku dosen pembimbing skripsi mereka.


Keasyikan mengobrol, keduanya tidak menyadari saat sesosok tubuh tegap menghampiri keduanya dan langsung menegur Abbas.


“Selamat sore, saya ada keperluan dengan dia,” ujar Roni langsung tanpa basa-basi begitu sampai di hadapan keduanya sambil mengarahkan pandangan pada Abbas.


Seketika Khayra dan Abbas berpandangan, karena merasa asing dengan sosok tegap di depannya. Akhirnya Abbas kembali memandang Roni yang masih berdiri tegak.


“Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Abbas seketika.


Roni mengangguk cepat. Ia menatap perempuan muda yang memandang Abbas dengan kening berkerut. Ia yakin keduanya adalah sepasang kekasih, karena selama ia mengikuti keseharian Abbas, perempuan muda itu selalu ada di sampingnya.


“Bosku  yang  menyebabkan tabrakan maut yang telah menimpa ayah anda ingin bertemu,” ujar Roni cepat.


Ia tak ingin membuang waktu terlalu lama di lokasi kampus itu, para mahasiswa mulai berdatangan karena jam kuliah telah berakhir. Roni melirik jam di pergelangan tangannya mulai bergeser ke angka lima.


Abbas memandang Khaira, “Bagaimana menurutmu. Apa aku boleh menemuinya?”


“Cih …. “ batin Roni kesal. Keduanya telah membuang waktunya. Ia membalas tatapan Khaira yang tajam padanya, “Gadis yang berani dengan mata yang indah ….” gumannya dalam hati.


“Pergilah, aku akan menunggu di sini. Karena masih ada janji dengan Rika,” ujar Khaira lembut sambil memasukkan bundelan skripsi ke dalam tas ranselnya.


“Aku akan mengantarmu lebih dulu.” Abbas bersikeras untuk mengantar Khaira pulang.


Dengan cepat ia merapikan beberapa buku yang masih tergeletak di atas meja  dan segera memasukkan ke dalam tas ranselnya.


Roni melihat pergerakan keduanya yang kini berjalan berdampingan menuju tempat parkir. Tiba-tiba Abbas berbalik menghadap ke arahnya.

__ADS_1


“Apa saya boleh tau di mana  saya bisa menemui bos anda, tuan?” tanya Abbas seketika.


“Mana nomor ponselmu? Aku akan menghubungimu satu jam kemudian,” ujar Roni sambil mencatat nomor ponsel Abbas.


Ia tak mengalihkan tatapan pada keduanya  yang menghilang diantara mobil yang terparkir. Keterkejutan Roni semakin menjadi  melihat Khaira yang naik berboncengan menggunakan motor matic yang dikendarai Abbas.


Dari penampilan walaupun terkesan sederhana dengan pakaian yang menutup seluruh tubuh, tapi yang melekat di tubuh gadis yang bersama Abbas kelihatan kalau ia bukan keturunan sembarangan. Yang membuatnya heran, gadis itu tidak keberatan menaiki motor matic yang sudah kelihatan usang dimakan usia.


“Gadis yang menarik …. “ guman Roni.


Ia jadi menggelengkan kepala menyadari pemikiran aneh yang tiba-tiba berkelebat di kepalanya membayangkan gadis bermata sayu nan menawan yang duduk di boncengan Abbas.


Dua jam kemudian Abbas sudah duduk di dalam sebuah ruangan kantor yang sangat mewah dan tertata apik. Seumur hidup baru kali ini ia merasakan berada di dalam ruangan yang segar dan ayem seperti di surga.


Dihadapannya duduk seorang lelaki muda dengan perawakan tinggi dengan wajah putih bersih. Sebagai seorang lelaki, ia merasa kagum akan kesempurnaan sosok itu.


“Perkenalkan nama saya Alexander Ivandra. Panggil saja Ivan.”


“Abbas, Abbas Setyawan,” jawab Abbas cepat.


Dengan perasaan berdebar Abbas menyambut uluran tangan lelaki muda itu. Ia tidak  berani berspekulasi maksud dari pertemuan yang diinginkan lelaki muda itu.


“Saya ingin mengganti semua kerugian akibat perbuatan saya yang menyebabkan kematian ayah anda secara materi,” tukas Ivan cepat.


Abbas melongo mendengar perkataan Ivan. Ia memperhatikan setiap gerak-gerik lelaki itu tanpa tau harus berkata apa.


“Tinggalkan nomor rekeningmu. Segala pembiayaan akan langsung saya transfer. Dan kamu bisa menggunakan uang yang saya berikan sebagai modal untuk masa depan dengan ibumu.”


Abbas menggelengkan kepala cepat, “Saya dan ibu tidak memerlukan itu, tuan. Dari perusahaan juga telah memberikan uang santunan. Dan kami yakin semuanya memang sudah takdir Yang Kuasa. Anda tidak perlu merasa bersalah. Semua sudah jalan-Nya.”

__ADS_1


Ivan menatap pemuda di hadapannya. Ia merasa kagum dengan cara berpikirnya yang simpel dan tidak menuntutnya atas kepergian sang ayah. Tapi ia tak mungkin lepas tangan begitu saja atas peristiwa yang telah terjadi.  Sedapat mungkin ia akan membantu pemuda di depannya hingga menjadi mandiri.


Akhirnya Abbas menerima bantuan Ivan dengan bekerja paro waktu di perusahaan advertising milik Ivan hingga ia mampu untuk berdiri sendiri dalam mengelola usahanya kelak di kemudian hari.


__ADS_2