Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 271 S2 (Tampang Sangar Hati Hello Kitty)


__ADS_3

Walau tanpa berbicara Ivan dan Khaira bekerja sama  menjaga si kembar yang suhu tubuhnya belum ada perubahan signifikan. Ia menghubungi pihak paviliun perawatan anak untuk mengganti bed si kembar menjadi yang double untuk mempermudah Khaira mengawasi keduanya.


Senyum terbit di wajahnya, saat petugas datang membawa bed double untuk si kembar. Ia segera menggendong Embun, karena Fajar masih rewel dalam pelukan Khaira.


Khaira terkejut melihat beberapa petugas datang mendorong double bed untuk si kembar. Ia memandang Ivan dengan dahi berkerut yang dibalas Ivan dengan senyuman sambil menganggukkan kepala.


Setelah petugas berlalu Ivan segera meletakkan Embun kembali. Ia mendekati Khaira yang sudah tampak kelelahan karena si kembar hari ini benar-benar rewel.  Ariq  dan  Ira baru saja pulang setelah membawakan makanan serta  pakaian ganti untuk Khaira dan si kembar.


Tanpa berkata  Ivan berjalan mendekati Khaira.  Ia mengulurkan tangannya meraih Fajar yang masih rewel dengan isaknya yang tertahan.


“Biar aku yang menggantikanmu. Istirahatlah sejenak …. “ Ivan menatap Khaira lekat.


Dari sorot bening itu tidak ada penolakan, yang tergambar hanya kesedihan dan kelelahan yang membuat binar indahnya meredup.


Khaira melepaskan Fajar dari gendongannya. Tanpa berkata apa pun ia melangkah ke kamar mandi. Ia ingin mandi untuk menyegarkan tubuhnya yang terasa lelah. Selesai mandi Khaira  mengambil wudhu untuk melaksanakan salat Asar. Saat keberadaan mas Ariq dan mbak Ira, ia melihat Ivan keluar untuk salat Asar di mushola.


Saat keluar dari kamar mandi, Khaira melihat Danu sedang berbicara serius dengan Ivan.  Ia segera melaksanakan salat Asar karena waktunya sudah hampir habis.


“Nona Laura terus menanyakan keberadaan Bos,” Danu berbisik khawatir Khaira mendengar pembicaraan mereka, “Ia penasaran karena sudah lama tidak bertemu dengan Bos. Apa yang harus saya katakan?”


“Jangan membicarakan sesuatu yang membuang waktu,” Ivan langsung memotong ucapan Danu sambil menandatangani beberapa berkas kontrak kerjasama perusahaan periklanan.


“Bagaimana Mbak Rara, apa sudah ada perkembangan yang lebih baik?” Danu mencuri pandang pada Khaira yang baru selesai melaksanakan salat Asar.


“Menurutmu?” Ivan membalikkan pertanyaan Danu.


Keduanya yang duduk berdampingan di sofa memandang Khaira yang mulai menyiapkan makanan untuk si kembar.


“Ayah …. “  rengekan Embun yang mulai mencari keberadaannya  membuat Ivan bangkit dengan cepat.


Ivan  langsung meraih Embun yang sudah duduk sambil menangis. Khaira berusaha menenangkannya. Mendengar rengekan Embun membuat Fajar membuka mata.


“Bunda …. “ Fajar mengusap matanya mencari keberadaan Khaira.


“Sini sama ayah …. “ Ivan membelai punggung putrinya dengan lembut.


Setelah Embun mulai tenang, ia duduk di bed dan meraih Fajar yang kini  duduk sendiri. Keduanya tampak anteng dalam pangkuan Ivan.


“Ma’em dulu sama bunda ya …. “  Khaira berkata dengan lembut.


Ivan merasa sikap Khaira mulai hangat, walau pun durasi bicaranya masih sedikit. Tapi ia tidak peduli yang penting komunikasi mereka sudah mulai tercipta.


Danu memandang dari tempatnya duduk saat ini. Ia dapat melihat  kesungguhan Ivan dan perhatian bosnya terhadap Khaira. Ia turut mendoakan dalam hati agar Allah segera menyatukan bos beserta bunda dan si kembar. Karena berkas yang ditandatangani Ivan sudah selesai, Danu pun pamit undur diri.

__ADS_1


Dengan telaten Khaira menyuapi si kembar.  Ia tak mempedulikan tatapan Ivan yang tertuju padanya, fokusnya hanya si kembar.


Ivan melihat pipi Khaira semakin tirus dan pucat. Matanya tampak cekung terlalu banyak menangis. Perasaan bersalahnya semakin besar. Ingin ia merengkuh dan memberikan kehangatan untuk mengobati segala luka yang pernah ia buat. Tapi benteng yang dibangun Khaira begitu kokoh. Belum ada celah yang bisa membuatnya masuk.


Begitu piring sudah bersih, senyum tipis tersungging di wajah Khaira. Ia mencium  Embun dan Fajar bergantian. Tatapan lembut yang ditujukan Ivan padanya tak mempengaruhi Khaira.


“Cepat sehat ya sayang …. “ ujarnya lirih.


Aroma parfum lembut yang terhirup penciumannya membuat Ivan memejamkan mata sesaat. Ia menginginkan masa itu kembali lagi.


Ivan baru selesai melaksanakan salat Isya di dalam ruangan. Malam ini hujan turun dengan deras, membuatnya tidak bisa melaksanakan salat di Mushola. Ia memandang ke bed, Khaira tertidur dengan posisi duduk di samping Fajar.


Ivan berjalan mendekat, dan duduk di pinggir bed. Tatapannya lekat memandang Khaira yang menggenggam tangan mungil Fajar. Tampak sisa-sisa air mata yang masih menggantung di sudut matanya.


Jemari Ivan mengusapnya dengan pelan.  Jika seandainya waktu dapat diulang kembali, Ivan ingin kembali ke masa lalu, tidak akan ia biarkan Khaira melangkah sendiri. Apa pun yang terjadi ia akan selalu berada di sisinya. Tak akan ada duka dan airmata Khaira. Ia akan selalu memberikan kebahagiaan seperti janjinya sejak awal pada almarhum Abbas. Entah sedalam apa luka yang ia buat, sehingga Khaira menutup rapat pintu hatinya untuk menerima dirinya kembali.


Dengan pelan Ivan mengangkat Khaira dan membaringkannya di sisi Fajar. Ia segera menyelimuti ketiganya dengan perasaan berkecamuk.  Ia berusaha memejamkan matanya yang terasa lelah, karena sudah ketiga malamnya  ia menjaga ketiga orang yang sangat ia sayangi. Sambil melafalkan zikir dan doa, akhirnya Ivan bisa memejamkan mata.


Botol susu yang berada di tangan Khaira terlepas saat dokter melakukan room visit dan menyatakan bahwa si kembar positif DBD dan kini dalam fase kritis. Ia mematung dengan air mata langsung meluncur bebas. Rasanya ia tidak sanggup berdiri dengan kokoh.


Ivan yang masih mendengar penjelasan dokter terkejut saat melihat kondisi Khaira yang pucat dengan air mata berlinang berdiri pucat di sampingnya.


“Maaf dokter,” dengan cepat ia merangkul Khaira dan membawanya duduk di kursi samping bed  si kembar.


Ia merasa lega, karena bed si kembar telah diganti  yang lebih besar agar keduanya bisa disatukan di tempat yang sama. Membuat ia bisa fokus merawat keduanya sehingga memudahkan Khaira untuk membersihkan si kembar dan ia bisa lebih dekat.


“Terima kasih dokter,” Ivan berkata lirih.


Setelah dokter keluar dari ruangan, ia menghampiri  Khaira yang kini menangis dalam diam menggenggam jemari montok Embun.  Ia turut merasakan apa yang dirasakan Khaira. Ingin rasanya ia memeluk tubuh ramping  yang kini sangat terpuruk setelah mengetahui kondisi si kembar untuk sekedar saling menguatkan.


“Kita akan melalui ini bersama,” Ivan duduk di bed menatap Khaira lekat, “Yakinlah, si kembar akan pulih seperti sedia kala.”


Keinginannya untuk memberikan tempat bersandar  dan berbagi kesedihan dengan Khaira hanya dapat ia luahkan di hati. Ia tidak ingin berbuat melampaui batas seperti yang diingatkan Khaira kemarin.


Perasaannya tercabik-cabik melihat Khaira terus mencium Embun  dengan air mata yang terus mengalir menganak sungai. Ia tidak tau apa yang dapat ia lakukan untuk keluar dari  suasana yang terasa menyiksa ini. Tiada lagi celotehan manja Embun serta aktivitas Fajar yang suka membongkar mainan barunya. Tiga hari yang benar-benar berat dan menguji mentalnya sebagai seorang ayah siaga.


Ketukan di pintu membuat keduanya menoleh serentak. Rheina datang sendirian dengan membawa paper bag di kedua tangannya.


“Bagaimana keadaan si kembar?”  ia mendekati Khaira yang masih terdiam mematung sambil membelai rambut Fajar.


Khaira sudah tidak mampu menahan diri, ia bangkit langsung memeluk Rheina dengan erat. Tangisnya  pecah seketika.


“Hei, apa yang terjadi?” Rheina tidak menyangka  dengan kelakuan Khaira.

__ADS_1


“Aku tidak sanggup menyaksikan si kembar … hu … hu … huuu ….”


Ivan menekan dadanya yang terasa sesak. Ia tidak kuat melihat kesedihan Khaira dan mendengar tangisannya di pelukan Rheina.


Dengan langkah lunglai ia ingin mencari angin di luar. Begitu ia membuka pintu Ali tepat di luar ruangan. Tanpa rasa sungkan Ivan langsung memeluk Ali dan menumpahkan beban yang terasa berat di pundaknya.


“Eh …. “ Ali terkejut melihat Ivan yang tampak rapuh dan memeluknya dengan erat.


“Aku tidak sanggup melihat Khaira dan si kembar menderita …. “ suara Ivan terdengar bergetar saat mengungkapkan perasaannya pada Ali yang merasa khawatir.


“Apa yang terjadi?”  Ali menepuk pundak Ivan untuk memberinya kekuatan. Ia dapat melihat keseriusan Ivan dalam menjaga si kembar.


Kini keduanya duduk di kursi panjang di luar ruang inap si kembar. Mata Ivan memerah menahan kesedihan. Ia membuang rasa malu saat memeluk mantan abang iparnya yang paling keras dan sinis padanya.


“Si kembar positif DBD. Dokter mengatakan bahwa keduanya kini berada dalam fase kritis ….” tak terasa air mata Ivan kembali menitik saat mengatakan itu.


“Kita harus berdoa agar penyakit si kembar segera diangkat Allah,”  tak ayal Ali merasa simpatik melihat kerapuhan Ivan.


“Seandainya penyakit mereka bisa dialihkan, aku siap menggantikan si kembar,” Ivan mengusar rambutnya dengan kedua tangan dengan air mata yang tak berhenti.


“Ini ujian kalian sebagai orang tua,” Ali berkata dengan bijak.


Kekesalannya atas semua perbuatan Ivan di masa lalu langsung sirna melihatnya terpuruk seperti ini. Ia memahami kesedihan Ivan.


“Ayo masuk. Aku ingin melihat si kembar,” Ali menepuk pundaknya.


“Aku malu jika Rara melihatku seperti ini,” Ivan berkata dengan tidak bersemangat.


“Kamu itu … brewokan seperti preman. Anakknya sakit DBD sudah cengeng seperti ini. Tampang sangar, hati hello kitty …. “ Ali berkata pelan agar Ivan tidak terlalu terpuruk dengan kondisi si kembar.


“Terserah mas Ali mau ngomong apa ….” Ivan tidak peduli.


“Bersihkan dulu wajah ancurmu. Sebentar lagi mas Ariq dan Fatih beserta mbak Ira dan Kia akan berkunjung,” Ali berkata santai.


Mendengar perkataan Ali perasaan Ivan sedikit lega. Ia ingin kembali ke rumah untuk menemui mamanya dan menceritakan semuanya. Ia tidak bisa menyembunyikan kebenaran ini selamanya. Mamanya harus tau, bahwa ia telah memiliki sepasang cucu kembar.


“Mas, aku akan pulang ke rumah mama sebentar.”


Ali mengerutkan dahi, “Bagaimana kalau Embun mencarimu?”


Walaupun hatinya sedih, tapi mendengar ucapan Ali membuat semangat Ivan bangkit. Ia yakin restu saudara Khaira mulai ia genggam. Karena Ali yang paling keras menentang hubungannya dan Khaira sejak awal.


“Aku akan menceritakan tentang si kembar pada mama,” Ivan berkata dengan serius, “Selama ini aku masih menyembunyikan keberadaan mereka pada mama.”

__ADS_1


“Itu urusanmu,” Ali menjawab datar, “Jangan berharap lebih hubunganmu dan Rara. Itu yang harus kau pahami.”


Ivan tercekat. Mas Ali masih saja menyangsikan keinginannya untuk kembali. Tapi ia tak peduli, perjuangan masih panjang. Sekarang saatnya meminta doa mama untuk kelancaran semua.


__ADS_2