Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 88


__ADS_3

Dengan pelan Hani membelai punggung bayinya. Mendengar saudarinya menangis bayi satunya pun ikut menangis, suaranya lebih tinggi dan melengking.


“Putra papa …” Faiq jadi kelabakan sendiri.


Ia tidak pernah dan belum ada pengalaman untuk menggendong bayi. Sambil mengulas senyum Hani meletakkan putri kecilnya, dan mengambil putranya yang masih menangis. Ia langsung merengkuh bayi mungil dan mengayunnya dengan pelan sambil mencium pipi cubby putranya yang berkulit putih bersih.


Perasaan hangat  menyelimuti hati Faiq. Dengan spontan ia mendekati Hani yang masih mengusap bayinya yang kini tampak tenang di dada Hani. Ia mendaratkan kecupan di kening Hani.


“I love you more….” Bisiknya lirih.


Hani terdiam. Tindakan Faiq di luar dugaannya. Ia merasa sungkan karena ada suster Inggit bersama mereka. Mata beningnya memandang Faiq seketika.


“Suami anda begitu perhatian nyonya.” Inggit memperhatikan keduanya sambil tersenyum. “Hari ini dokter sudah memperbolehkan membawa si kembar pulang. Tetapi tunggu sebentar, karena dokter akan datang mengontrolnya.”


“Terima kasih, sus.” Hani menyunggingkan senyumnya.


“Sama-sama, nyonya. Saya sangat menyukai si kembar. Semoga mereka berdua tumbuh dengan sehat.” Inggit menepuk punggung Hani dengan lembut, “Saya permisi.”


Faiq menganggukkan kepala. Matanya tak teralihkan dari Hani dan putranya. Kini kesempurnaan telah ia miliki dengan seutuhnya. Ia berikrar di dalam hati tidak akan menyia-nyiakan Hani dan anak-anak yang kini telah ia miliki dari benihnya sendiri.


Ketukan di pintu membuat pandangan Faiq teralihkan. Ia membelai kepala istrinya dengan lembut. Pintu terbuka seorang dokter laki-laki didampingi perawat memasuki ruangan.


“Selamat pagi tuan, nyonya. Perkenalkan saya dr. Fahmi, dan saya adalah dokter anak yang telah menangani si kembar selama ini.  Bagaimana kabar si kembar kesayangan kami?”


Faiq pun segera berdiri menyambut dr. Fahmi.


“Terima kasih atas bantuan anda dokter.” Faiq tersenyum sambil menjabat tangan dr. Fahmi.


“Alhamdulillah, kondisi si kembar sudah pulih. Jadi anda berdua bisa membawanya kembali ke rumah.” Ujar dr. Fahmi dengan senyum ramahnya.


Tatapannya beralih pada Hani yang masih menggendong putranya yang kini mulai tertidur pulas.


“Rara…” desisnya hampir tak terdengar.

__ADS_1


Hani tersenyum tipis pada dr. Fahmi yang terpaku memandangnya tanpa berkedip. Faiq memandang dokter yang usianya tampak sebaya dengan istrinya. Hani bersikap santai, sedangkan dokter itu tampak tegang.


Faiq menghampiri Hani, “Sayang apa putra sudah tidur kembali? Mas tidak ingin kamu kelelahan.”


“Aku akan memindahkannya.” Hani tersenyum pada Faiq dan meletakkan putranya ke dalam box bayi.


Dengan pelan dr. Fahmi berjalan menghampiri Hani. Rasanya ia tidak mempercayai penglihatannya.


Faiq merasa bahwa dr. Fahmi mengenal istrinya dengan baik dan mungkin lebih dari kenalan biasa. Sebagai seorang lelaki ia memahami arti yang tersirat dari tatapan dr. Fahmi pada istrinya.


“Apa dokter mengenal istri saya?” Faiq langsung menembaknya dengan lugas.


Dr. Fahmi menghentikan langkahnya. Ia menyadari bahwa ada orang lain diantara mereka. Dengan cepat dr. Fahmi mengalihkan perhatian pada sepasang bayi kembar yang kini tertidur dengan tenang di dalam box.


“Sayang, apa kamu mengenal dr. Fahmi?”  Faiq menatap Hani dengan lembut.


Hani mengangguk pelan, “Kami berteman sejak kecil  hingga SMA, karena kami bertetangga.”


Fahmi menelan saliva yang terasa sangkut di tenggorokan. Ia menatap Hani yang tersenyum padanya. Perempuan yang membuatnya merasakan jatuh cinta untuk pertama kali.


Ia tidak pernah menyangka bahwa bayi kembar yang selama ini selalu dalam pantauannya 3 x 24 jam dan menjadi pasien tetapnya adalah anak dari perempuan yang selama ini selalu ia pikirkan.


“Apa ini kelahiran pertamamu?” dr. Fahmi menatapnya dengan penuh perhatian.


“Ini kelahiran ketiga. Putra dan putri kami sekarang berjumlah lima orang.” Dengan cepat Faiq menjawab.


“Wah, selamat ya.” Fahmi berkata dengan tulus. “Aku tidak menyangka setelah terpisah beberapa tahun, kita dipertemukan kembali. Bagaimana kabarmu dan Hanif, Ra?”


Hani mengalihkan tatapan pada dr. Fahmi yang masih menunggu jawabannya.


“Aku dan Hanif baik-baik saja.”


Faiq yang berdiri di samping Hani tidak senang mendengar pembicaraan yang terjadi antara istrinya dan dokter yang telah merawat putra-putrinya.

__ADS_1


Hani kembali memandang kedua anaknya yang tertidur dengan pulas. Ia merasakan tangan Faiq merengkuh pinggang Hani menunjukkan tanda kepemilikannya.


“Bagaimana kondisi bayi kami dokter? Apa sudah bisa dibawa pulang ke rumah?”


Dr. Fahmi memandang Faiq dan menganggukkan kepalanya. “Minggu depan si kembar boleh dibawa kembali ke mari, karena harus diberikan imunisasi polio.”


“Baiklah dokter.” Faiq menjawab cepat, “Terima kasih karena telah merawat bayi kami.”


Fahmi menyambut tangan Faiq yang terulur padanya. Ia dapat merasakan genggaman Faiq yang kuat mengandung arti perlindungan terhadap miliknya, dan ia dapat merasakan itu dari pandangan Faiq yang berkilat tidak suka saat ia menatap Hani walau hanya sekilas.


Tatapan mata Hani terus tertuju pada dua malaikat kecil yang tertidur dengan nyaman. Usapan lembut di bahunya membuat Hani memandang Faiq yang berdiri di sampingnya.


“Apa yang kamu pikirkan, sayang?” Faiq ingin mengetahui apa yang ada di dalam benak istrinya.


“Bagaimana kabar kedua putraku Ariq dan Ali?”


“Apa kamu merindukan mereka?” Faiq menatap lekat mata bening istrinya, “Aku sudah menghubungi dokter. Besok siang kita pulang. Si kembar dan Sasya sudah menunggu di rumah.”


Hani mengerutkan jidatnya. Kenangannya tentang si mungil terhapuskan sama sekali. Di dalam pikirannya pun Ariq dan Ali masih berumur 3 tahun. Semua memori empat tahun terakhir telah terhapus dari ingatan Hani karena cidera otak yang dialaminya.


“Sayang, bertanyalah pada mas tentang apa pun yang ingin kamu ketahui. Mas akan menjawab semuanya.”


Hani terdiam, ia masih ragu untuk bertanya pada Faiq. Ia merasa belum terlalu mengenal Faiq dengan baik, sehingga puluhan pertanyaan yang ada di otaknya hanya sanggup ia simpan di dalam hati.


Melihat Hani yang mulai nyaman dan tidak kaku saat ia dekati membuat Faiq cukup berbahagia. Ia mulai merepotkan diri dan belajar untuk mengganti popok si kecil. Dengan penuh antusias ia membantu membuatkan sufor bagi si kembar serta memperhatikan kebutuhan gizi istrinya.


“Tidurlah, mas akan menjaga keduanya.” Faiq berdiri di samping Hani yang tidak ingin sedetik pun meninggalkan si kembar yang telah tertidur kembali dengan pulas.


“Mas…” Hani menatap Faiq dengan lembut.


“Apa ada yang ingin kamu tanyakan?”   Faiq menatapnya dengan penuh perhatian.


“Maafkan aku, karena tidak mengingatmu.”

__ADS_1


Faiq meraih kedua jemari Hani, “Kita akan memulai semuanya dari awal. Dan mas tidak akan peduli dengan semuanya. Mulai hari ini kita akan menciptakan kenangan baru  dan mengganti kenangan lama yang menyedihkan yang pernah kamu ingat. Hanya ada kita dan anak-anak.”


Hani menganggukkan kepala pelan. Ia harus mulai belajar untuk mempercayai Faiq yang ia lihat sudah bersikap sangat tulus padanya. Dan terus terang setelah seminggu kebersamaan yang terjadi antara mereka membuat ia merasa nyaman.


__ADS_2