Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 40


__ADS_3

Jam baru menunjukkan pukul 2 siang. Hani yang masih santai di kursi kerjanya sambil memeriksa berkas-berkas laporan  keuangan restoran terkejut melihat Faiq yang sudah kembali dari kantor dan memeluknya dari belakang.


Hani menghirup aroma tubuh suaminya dengan perasaan haru. Kemesraan dan kelembutan sikap Faiq membuatnya semakin mencintai lelaki muda itu.


“Aku ingin minta sangu sebelum berangkat. Jam empat sore Rudi akan menjemput ke rumah. Masih ada waktu 2 jam untuk kita ...” Tangan Faiq mulai bergerilya mencari titik-titik favoritnya dari tubuh istri tercinta.


“Ini masih di kantor lho, mas.” Hani tidak menyangka Faiq akan mencumbunya di ruang kerja Hani.


“Tenang aja, sayang. Liat mas udah kunci pintunya.” Faiq langsung menutup tirai kaca di belakang kursi kerja Hani. Tanpa menunggu persetujuan Hani, ia langsung menggendongnya menuju sofa panjang yang biasa digunakan Hani untuk menerima tamu.


Entah kenapa perasaan Hani berat melepaskan kepergian suaminya sore itu. Ia melihat Rudi yang turun menjemput Faiq dan sempat menyapanya dan anak-anak yang mengantar Faiq hingga ke depan pintu.


“Ayah berangkat dulu sayang.” Faiq mencium ketiga anak sambungnya yang turut mengantar Faiq. Ia menatap Hani  sambil mengulas senyumnya, “Ntar aku pulang, siapkan dirimu.” Ia mencium kening Hani selama beberapa menit. Rasanya ia tak sanggup meninggalkan keluarga kecil yang telah memberikan kebahagiaan luar biasa dalam hidupnya.


Dengan berat hati Hani melepaskan kepergian suaminya. Ia berusaha membuang perasaan khawatir yang tiba-tiba menggerogoti perasaannya. Dari pintu rumah Hani melihat Hesti yang turun menyambut kedatangan suaminya.

__ADS_1


“Ya, Allah lindungilah suami hamba dari segala macam fitnah dan keburukan orang-orang yang ingin berbuat jahat pada keluarga kami. Aamiin…” Hani menangkupkan kedua tangannya dan mengusap ke wajahnya.


Malam ini Faiq yang sekamar dengan Rudi sudah bersiap-siap untuk mengikuti acara pembukaan  yang diadakan Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung RI. Pembukaan dan Pembinaan Training of Traineer (ToT) Bimbingan Kompetensi Tenaga Teknis Peradilan Agama Tahun 2021 pada Senin, 29 Maret 2021 di Ballroom Hotel Santika Premier Kota Harapan Indah Bekasi. Acara dimulai sejak pukul 19.30-21.00 WIB.


Adapun tema yang dibahas yaitu “Melalui Training of Traineer Bimbingan Teknis Kompetensi Hukum Acara Peradilan Agama Tahun 2021. Kita Wujudkan Peradilan Agama yang Adil dan Modern Menuju Birokrasi Berkelas Dunia.”


Hesti yang sejak awal sudah menunggu keduanya di lobby hotel tersenyum senang saat melihat Faiq berjalan bersama Rudi menuju ke arahnya. Rudi yang mengetahui sejak awal bahwa Hesti menyukai Faiq hanya diam melihat tingkah Hesti yang lebih caper dari biasanya.


Saat acara pembukaan telah selesai, masing-masing peserta menikmati makan malam bersama. Dengan cepat Hesti berdiri di samping Faiq dan melayaninya dengan sigap.


“Nggak usah, Hes. Aku bisa ambil sendiri.” Faiq berusaha menolak Hesti yang sudah menyendokkan nasi ke piringnya saat mereka mengantri di depan meja panjang yang sudah tersusun  menu terbaik restoran.


“Hati-hati, bos. Ingat keluarga di rumah.” Rudi berbisik dengan pelan, “Nggak nyangka tuh cewek agresif bener…”  Terus terang Rudi jadi ilfiil  melihat perlakuan Hesti pada Faiq.


Faiq tersenyum tipis, “Aku tau. Tenang aja, nggak lama lagi aku bakal resign. Semoga ia segera menemukan jodoh secepatnya.”

__ADS_1


“Aamiin…” Rudi mengaminkan doa Faiq dengan lirih, takut kedengaran Hesti  yang tidak mau jauh dari sisi Faiq.


Setelah menikmati makan malam bersama, para peserta diperbolehkan untuk kembali beristirahat. Kegiatan akan dimulai besok pagi selama 2 hari ke depan. Tanpa membuang waktu Faiq langsung mengaktifkan ponselnya. Ia sudah tidak sabar mendengar suara Hani dan ketiga buah hatinya. Ia memberi tanda pada Hesti untuk tidak mengganggunya, dan Faiq segera melangkah menuju kamar tempatnya menginap.


Dengan kesal Hesti mengepalkan kedua tangannya. Perasaannya benar-benar kesal, karena Faiq tidak mempedulikan kehadirannya. Tingkah Hesti tidak luput dari pengamatan Rudi.


“Jangan sampai perasaan sukamu membuat kamu keluar dari logika. Ingat Faiq sudah menikah. Ada istri dan anak-anak yang menunggunya.” Rudi berusaha mengingatkan Hesti agar tidak mengganggu rumah tangga Faiq.


“Laki-laki kan boleh poligami. Aku siap menjadi istri kedua.” Hesti tak peduli dengan ucapan Rudi. Ambisinya sangat kuat untuk mendapatkan cinta Faiq. “Dan aku akan terus berusaha hingga pak Faiq menerimaku sebagai istrinya. Apalagi aku masih ori. Memang ku akui istrinya sangat cantik juga kaya, tapikan jendes!” Hesti berkata penuh percaya diri.


“Kamu itu perempuan, Hes. Masih banyak lelaki lajang di luaran sana. Apa kamu tidak memikirkan perasaan istrinya. Pernikahan mereka saja baru sebulan, apa kamu tega?”


“Aku nggak peduli.” Hesti melangkah pergi meninggalkan Rudi. Ia kesal dengan perkataan Rudi yang tidak mendukungnya untuk mendekati Faiq.


Rudi hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat sikap Hesti yang sangat keterlaluan. Ia tidak akan membiarkan siapapun mengganggu rumah tangga Faiq. Karena ia tau, perjuangan Faiq untuk mendapatkan simpati Hani hingga mengantarkan mereka ke jenjang pernikahan yang baru seumur jagung.

__ADS_1


 


 


__ADS_2