Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 123 S2 (Rencana Perjodohan)


__ADS_3

Ivan terbangun ketika tangannya meraba ke samping tidak ada siapa-siapa di sisinya. Ia mengernyitkan dahi. Baru saja tadi malam ia menghabiskan waktu bersama Sandra di apartemen mewahnya setelah satu minggu tidak bertemu, karena Sandra ada pemotretan di Surabaya.


Seumur hidupnya hingga menjelang 32 tahun, Ivan memang belum pernah berkomitmen dengan perempuan manapun. Karena pergaulan bebas selama ia kuliah di Amerika membuatnya mudah terbawa arus. Ia tidak pernah mengucapkan perasaan suka terhadap perempuan, tetapi kebanyakan merekalah yang datang dan menawarkan kehangatan padanya.


Saat pertama Sandra menjadi model iklan hubungan keduanya biasa, hingga suatu malam saat ada perayaan ulang tahun perusahaan beberapa model yang menjadi brand ambassador perusahaan kecantikan turut mendampinginya saat mendampingi klien.


Ivan yang saat itu tidak menjalin kedekatan dengan siapa pun menerima dengan tangan terbuka, saat Sandra mulai menuangkan anggur ke dalam gelasnya. Para model lain tidak ada yang berani mendekat, karena mereka tau Ivan adalah bos  mereka dan posisi mereka masih di bawah Sandra pendatang baru tapi memiliki jam terbang tertinggi diantara mereka.


Sandra merasa beruntung, karena Ivan tak melepasnya malam itu, hingga akhirnya mereka menikmati malam berdua di kamar hotel president suite yang dipesan Roni, karena sang bos ingin menghabiskan malam dengan model termahal milik perusahaan.


Bergegas Ivan bangkit dari tempat tidur. Suara ponsel miliknya mengganggu ketenangan di pagi Minggu yang lumayan cerah itu.


“Hallo, ma …. “ sambil menahan rasa kantuk Ivan menyapa mamanya yang sudah menelpon sepagi itu.


“Sore ini mama ingin kamu datang ke rumah …. “ suara lembut Larasati selalu membuatnya tenang.


“Apa nggak bisa ditunda dulu, ma. Sore ini aku masih ada acara …. “ Ivan berusaha menolak keingin mamanya. Ia  masih ingin menghabiskan waktu bersama Sandra. Rasanya belum puas ia bermain semalaman. Ia ingin melanjutkan hingga malam nanti sebelum sang kekasih terbang lagi.


Besok pagi Sandra sudah harus terbang ke Singapura, karena sebuah perusahaan kosmetik kembali menggunakan dirinya sebagai brand ambassador. Dan ia tak ingin melewatkan kebersamaan mereka yang kini semakin sulit karena jadwal keduanya yang padat merayap.


“Kalau kamu nggak datang, mama putuskan nggak akan akui kamu sebagai putra mama lagi,”  ancam Laras serius. Ia benar-benar merindukan putra semata wayangnya yang selalu sibuk dan jarang pulang ke rumah.


Ivan tersenyum  begitu ponsel dimatikan sepihak oleh mamanya. Ia sadar. Memang sudah hampir 3 bulan ia tidak pernah mengunjungi mamanya yang tinggal bersama Mimi sepupu tomboynya yang kini baru mulai kuliah.


Notif pesan masuk mengalihkan pemikiran Ivan tentang perkataan mamanya. Ia langsung membuka pesan masuk dari aplikasi.


“Yang, maafkan aku yang ninggalin kamu sendirian. Subuh tadi aku buru-buru berangkat dengan penerbangan pagi. Syuting iklannya di majukan jam 10. Aku dan Bobby langsung terbang ke Singapura.”


Ivan tidak membalas pesan Sandra. Ia tau, jam terbang Sandra yang tinggi membuatnya tak bisa berbuat apa pun. Toh keduanya belum punya komitmen. Untuk hubungan yang terjalin sekarang hanya take and give dan saling menguntungkan. Ivan mendapatkan kehangatan, sedangkan Sandra memiliki materi yang membuatnya menjadi sosialita ternama di kalangan selebritis.


Ia akan pulang ke rumah sore ini. Ia pun sudah lama merindukan aroma masakan ala rumahan yang selalu disiapkan mamanya saat ia pulang ke rumah. Pagi Sabtu ini memang tak banyak kegiatan yang dilakukan Ivan.


Dengan santai Ivan memarkirkan mobilnya memasuki sebuah kafe kekinian yang dimiliki mantan karyawan sekaligus teman dekatnya Abbas. Semua pegawai kafe sudah mengenal Ivan dengan baik. Sehingga setiap kedatangan Ivan mereka tidak perlu berbasa-basi lagi. Ivan akan langsung menemui Abbas di dalam ruangan kerja sekaligus kantornya.


“Wah, yang sedang menghitung hari … “ tanpa mengucap salam Ivan langsung menghempaskan tubuhnya di sofa dalam ruangan kerja Abbas.


“Wah, tumben bos nongkrong jam segini. Apa nggak kepagian? Selimutnya nggak ada?” Abbas tersenyum melihat wajah Ivan yang tampak kesal.

__ADS_1


“Kampret.” Ivan melempari Abbas dengan kotak tissu yang terletak di atas meja.


Abbas tertawa lirih mendengar makian Ivan. Ia sudah tidak heran lagi dengan umpatannya. 5 tahun ia bekerja sebagai bawahan Ivan membuatnya mengenal sosok Ivan luar dalam. Ia begitu menghormati Ivan yang tidak pernah perhitungan dalam menggajinya. Hingga setelah modalnya cukup, Abbas mengundurkan diri dan mulai menekuni bisnis kafe yang kini menjamur di seantero negeri.


“Makanya, punya pasangan itu diikat biar nggak ngeluyur terus. Kalau udah pusing gini siapa yang bisa disalahkan?”


Ivan termenung sesaat. Ia tau, perkataan Abbas banyak benarnya. Tapi mau bagaimana lagi. Ia sendiri belum siap untuk berkomitmen. Ia masih suka melihat yang cantik, walaupun hati dan tubuhnya hanya milik Sandra seorang.


“Kamu ikut aku lagi ya ….” tiba-tiba Ivan bangkit dari sofa dan duduk di hadapan Abbas yang masih memeriksa laporan bulanan kafenya.


Abbas mengernyitkan dahinya tak mengerti mendengar ucapan Ivan yang di luar dugaannya.


“Aku serius. Berapa pun gaji yang kamu minta akan aku penuhi. Kafe ini bisa kamu serahkan pada gadis itu.”


Abbas menggelengkan kepala, “Bukankah pegawaimu banyak. Pilih saja salah satunya. Aku sudah nyaman usaha sendiri,” tolak Abbas cepat.


“Roni terlalu kaku. Mau pilih yang lain, aku malas seleksi dari awal. Kalau kamu mau, gaji dan bonus akan ku tambah ….” Ivan masih berusaha membujuk Abbas.


“Maafkan aku, Van. Kamu bos yang terbaik. Tapi aku ingin mencari rejeki yang halal. Aku nggak ingin jadi obat nyamuk antara kamu dan Sandra. Apalagi melihatmu berpeluh-peluh dengan Sandra yang nggak peduli tempat dan waktu, bikin dosaku makin numpuk.” Abbas berkata sekenanya.


Ivan mencibirnya, “Kamu masih muda. Sudah seharusnya kamu menikmati segala fasilitas yang kuberikan. Jika kamu terikat pernikahan, kamu nggak akan bebas untuk menikmati segala kesenangan ini. Aku akan memberikan beberapa nomor hp model ku yang bisa kamu bawa. Kamu bebas pilih yang mana kamu suka. Mereka selalu stand by ….”


Abbas menggelengkan kepala dengan cepat, “Aku tidak ingin bermain-main dengan perempuan. Cukup Rara perempuan satu-satunya yang akan menjadi pendampingku, sehidup sesurga.”


“Kamu kuno, Roni terlalu jaim. Punya anak buah nggak ada yang bisa diajak main. Ayolah ….” Ivan mendengus tak senang, “ … semua biaya pernikahan termasuk akomodasi, transportasi dan lain-lain untuk keperluan honeymoon juga akan aku tanggung. Kamu cukup bawa diri. Ku pastikan calon pengantinmu akan kagum dengan pesta pernikahan yang kamu berikan. Kapan lagi kamu bisa memberikan kemewahan yang belum tentu bisa diterima gadis itu.”


Abbas tersenyum lebar mendengar tawaran menggiurkan yang berusaha Ivan lakukan untuk mengajaknya kembali bekerja bersama.


“Van, aku hanya ingin mengingatkan. Rubahlah visimu dalam memandang kehidupan. Cobalah untuk berkomitmen. Kita nggak tau, sampai berapa lama umur kita dipinjami Yang Kuasa. Nggak mungkin kamu akan hidup seperti ini selamanya kan?”


“Ustadjah mana yang membuatmu berubah seperti ini. Apa karena gadis berpakaian kuno itu?” Ivan merasa kesal mendengar ucapan Abbas yang tidak tertarik sedikit pun dengan penawarannya, “Kehidupan seperti apa yang akan kau tawarkan setelah pernikahan dengannya nanti. Apa kamu yakin cukup hanya mengandalkan kafe sekecil ini?”


“Insya Allah cukup. Yang penting berkah. Aku ingin memberikan rejeki yang halal pada istriku dan anak-anak kami kelak.” Mata Abbas menerawang jauh membayangkan wajah ayu Rara yang tak lama lagi akan menjadi pendampingnya.


“Ah, kalian berdua sama-sama keras kepala. Semoga pernikahanmu berjalan lancar,”  ujar Ivan akhirnya mengalah, “Padahal kamu dan Roni adalah asisten yang dapat ku andalkan. Tapi yah … semuanya sudah ku coba tawarkan padamu.” Ivan mengalah.


Ia sadar, Abbas adalah lelaki yang teguh pendirian dan dapat dipercaya. Tapi  mau bagaimana lagi, ia tak mampu merubah keinginan Abbas untuk kembali bekerja padanya.

__ADS_1


Karena bujukannya tak menemukan hasil akhirnya ia bangkit dari kursi. Tak sadar jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Ivan  hendak pamitan, tapi Abbas menahan langkahnya untuk makan siang bersama. Akhirnya mereka berdua menikmati makan siang sambil berbincang ringan seputar masalah bisnis yang mereka geluti.


Tepat jam 4 sore mobil Ferrari Ivan memasuki pekarangan rumah mewah kediaman mamanya. Suasana tampak sepi. Ia tak melihat sosok Laras yang biasa menikmati suasana santai di taman belakang rumahnya. Langkah Ivan membawanya kembali ke ruang tengah.


“Den Ivan …. “ bi Surti asisten  tertua di rumah itu menyambutnya dengan penuh suka cita.


“Iya, bi. Maaf sudah lama nggak mampir kemari. Mama mana?” Ivan tersenyum ramah pada bi Surti yang sudah mengabdi di rumah itu puluhan tahun.


“Eh, putra mahkota baru nongol sekarang. Kirain sudah lupa jalan pulang.” Laras yang baru keluar dari kamarnya tersenyum mencibir ke arah putra semata wayangnya.


Ivan tidak menganggapi perkataan mamanya. Ia langsung memeluk perempuan setengah baya itu dengan sepenuh hati.


Laras akhirnya menggandeng Ivan membawanya kembali ke taman belakang. Banyak hal yang ingin ia bicarakan dengan Ivan dan semuanya penting, tak bisa ditunda-tunda lagi.


“Hal penting apa yang ingin mama sampaikan padaku?” tanya Ivan langsung begitu keduanya duduk dengan santai menghadap kolam ikan hias yang tampak menyegarkan dengan aneka ikan warna-warni yang berada di dalamnya.


Laras menatapnya dengan lembut. Jemarinya membelai pundak kokoh Ivan dengan penuh kasih. Kelembutan seperti inilah yang membuat Ivan tak mampu menolak setiap keinginan mamanya.


“Mama sudah semakin tua. Kapan kamu membawa calon mantu mama kemari. Mama juga sudah pengen menimang seorang cucu. Teman-teman mama sudah banyak yang memiliki cucu ….”


Ivan terhenyak. Perbincangan seperti inilah yang sedapat mungkin ia hindari. Ia menatap wajah mamanya dengan lekat. Aura kecantikan masih tergambar jelas di wajahnya yang kini semakin tua dimakan usia.


“Mama jangan khawatir, masa itu pasti datang,” Ivan tersenyum berusaha meyakinkan mamanya, walaupun ia sendiri tidak yakin dengan apa yang ia katakan.


Laras kini duduk dengan tegak dan menggenggam tangannya erat, “Berjanjilah pada mama. Paling lama 6 bulan waktu yang mama berikan untukmu membawa kekasihmu datang kemari. Mama nggak akan mempermasalahkan siapa pun gadis itu. Keinginan mama hanya satu melihatmu bahagia dalam ikatan pernikahan dengan gadis yang kamu cintai.”


Cinta ….


Ivan terpaku.  Apakah perasaan yang terjalin antara ia dan Sandra  selama ini dikatakan cinta? Semuanya mengalir begitu saja. Ia dan Sandra sama-sama insan dewasa yang membutuhkan kehangatan. Mereka berdua take and give tanpa ada keinginan untuk mengekang aktivitas satu sama lain.


“Mama tau kamu sudah mempunyai kekasih. Dan mama tidak mempermasalahkan bobot, bibit dan bebet gadis itu. Yang penting jalanilah dengan serius. Kamu sudah dewasa, bukan waktunya untuk bermain-main lagi.”


Ivan mengangguk pelan.  Bibirnya tidak sanggup untuk menjawab ucapan Laras. Otaknya berpikir keras. Ia harus mampu menghadapi dan mengendalikan kondisi ini.


“Jika dalam waktu 6 bulan kamu tidak mampu membawa kekasihmu datang kemari. Maka bersiaplah, mama akan menjodohkanmu dengan putri kenalan mama.”


Sepanjang perjalanan pulang dari rumah mamanya menuju apartemen, Ivan merasa kepalanya berdenyut kuat. Titah sang Ratu tidak bisa diabaikan. Tampaknya skenario yang ia susun selama ini, pelan-pelan harus ia rubah. Dan ia harus mulai menyusun planning jangka pendek maupun jangka panjang untuk menjalani amanat sang Ratu.

__ADS_1


__ADS_2