
“Papa cudah puyang?” Hasya berlari kecil ke arah Faiq.
Dengan senang hati Faiq menggendong Hasya dan membawanya hingga ke meja makan. Ali merasa senang karena papanya kembali hadir bersama mereka.
Tanpa berbicara Hani melayani Faiq. Ia mengambilkan nasi goreng beserta telur dadar. Saat Hani berada di sisinya, tangan Faiq dengan cepat meraih pinggangnya. Ia merindukan saat-saat seperti ini.
“Ih, papa peyuk mama…” suara kenes Hasya membuat Faiq terkejut. Ia melupakan bahwa ada anak-anak yang memperhatikan segala tingkah laku mereka.
“Papa kan udah peluk dedek dan mas Ali. Sekarang papa pengen peluk dedek bayi yang ada di perut bunda.” Dengan cepat Faiq melepaskan tangannya. Ia menatap wajah Hani yang memerah karena nggak enak sama ketiganya.
“Kapan kita main ke taman lagi, pa. Ali senang saat papa bawa ke sana.” Ali menatap Faiq dengan penuh harap.
Faiq tersenyum memandang Ali, “Nanti sore, kita akan ke taman. Papa janji.” Tatapan Faiq beralih pada si sulung yang tak bereaksi. “Mas Ariq mau ikut juga kan?”
Ariq diam tak bergeming. Ia tak bersemangat untuk sarapan pagi. Perasaan cemburu hadir, karena Ali dan Hasya yang bermanja pada Faiq.
“Mas Ariq sarapannya dihabiskan.” Hani membelai rambut Ariq dengan lembut.
Faiq berpindah duduk di sampingnya, “Papa tau, mas masih marah sama papa.”
“Mas nggak punya papa. Mas hanya punya ayah dan bunda.” Cetusnya seketika.
Terasa ada sesuatu yang mencubit hati Faiq mendengar ucapan Ariq. Ia merasa sedih mendapat penolakan putra sulungnya. Ia berjongkok di samping Ariq.
“Maafkan papa, nak. Papa sangat bersalah pada kalian. Tapi mas Ariq harus tau, papa hanya mencintai kalian bertiga serta bunda.”
“Nenek dan tante bilang papa hanya mencintai mereka. Papa juga bakal punya anak dengan tante.”
Faiq terhenyak. Sudah terlalu banyak Dewi dan Hesti meracuni pikiran anak-anaknya, sehingga ia mendapat penolakan dari Ariq.
“Percayalah pada papa.” Faiq tersenyum lembut. Tangannya ingin meraih dan membelai kepala Ariq, dengan cepat Ariq menjauhkan kepalanya dari Faiq.
Hani yang menyaksikan penolakan Ariq jadi merasa serba salah. Ia menghampiri Ariq dan memeluknya dengan perasaan sedih. Ia tak menyangka pemikiran Ariq sama seperti dirinya. Tak terasa air mata berjatuhan di pipi Hani, dan Faiq menyadari itu.
__ADS_1
“Lin, bawa Hasya dan Ali ke tempat Wulan. Biar Hanif yang mengantarnya ke sekolah.” Hani merasa ia harus meluruskan permasalahan antara ia dan Faiq. Ia tidak ingin Ariq terbebani dengan kehadiran Faiq diantara mereka.
Ariq memandang wajah Hani dengan sedih. Ia melihat bundanya kembali meneteskan air mata. “Ariq tidak ingin lihat bunda menangis lagi gara-gara papa. Lebih baik Ariq nggak punya papa, jika bikin bunda menangis.”
Serasa ribuan jarum menusuk sanubari Faiq mendengar ucapan Ariq. Ia hanya terpekur menatap lantai. Entah sedalam apa luka yang ia torehkan, sehingga anak sekecil Ariq bisa merasakan kesakitan yang sama dengan bundanya. Tapi ia harus segera menceritakan kebenarannya agar tidak ada kesalahpahaman lagi diantara mereka.
“Mas Ariq, papa memang salah karena membawa tante Hesti ke rumah kita. Tapi papa telah mengantarkan tante Hesti dan nenek kembali ke rumah mereka. Papa kesepian di rumah, karena tidak ada kalian semua.”
Faiq bangkit dari posisinya, kemudian ia memilih duduk di samping Hani yang masih memeluk Ariq.
“Sayang, kamu harus percaya tidak ada sesuatu apapun yang terjadi antara aku dan Hesti.” Ia membelai pundak Hani dengan lembut. Ia berharap Hani tidak menolaknya.
Hani diam tak bergeming. Air mata masih mengalir di pipinya. Sulit ia untuk mempercayai semua perkataan Faiq. Perlakuan serta ucapan kasar Faiq masih terngiang-ngiang di telinganya.
Faiq melihat mata bening istrinya masih mengeluarkan air mata. Jemari Faiq berusaha menghapus butiran air mata selaksa mutiara itu, tapi Hani memalingkan muka. Ia menundukkan wajah menghadap Ariq yang kini menatap wajahnya.
“Mas Ariq, harus bisa memaafkan papa. Nggak boleh menyimpan dendam ya…” Hani mengusap wajahnya sambil menyunggingkan senyum di wajahnya.
Walaupun di hatinya masih terasa sakit, tapi ia harus memberikan contoh pada si sulung agar mampu bersikap sabar dan bisa memaafkan setiap kesalahan orang lain.
Hani mengangguk pelan. “Sekarang mas Ariq bisa kan temani papa di rumah. Bunda akan ke warung mbah Sarmi. Mas Ariq nggak usah ke sekolah, nanti bunda izinin sama wali kelasnya.”
“Jadi hari ini mas boleh bolos bunda?” Pertanyaan Ariq membuat Hani tersenyum tipis.
Melihat senyum yang tersungging di wajah istrinya membuat perasaan Faiq menghangat. Ia membelai rambut Hani, dan mulai memberanikan diri meraih kepala Hani untuk memberikan kecupan singkat di keningnya. Perbuatan Faiq yang begitu cepat, membuat Hani tak bisa mengelak.
“Mas mau ikut bunda aja, ke warung mbah Sarmi.” Ariq masih menolak untuk bersama Faiq. Ia masih trauma atas ucapan kasar Faiq saat itu.
Hani menatap Faiq sekilas. Faiq membalas tatapannya istrinya sambil mengangguk dengan senyum tipisnya.
“Unda, atu mahu jayan tama papa…” Dengan berlari kecil, Hasya kini berada di hadapan mereka bersama Lina dan mbah Darmi.
Hani segera bangkit dari kursi, “Ayo, mas Ariq ganti pakaian dulu. Bunda juga mau ke kamar.”
__ADS_1
Ariq berjalan diikuti Lina, sedangkan Hani tanpa mempedulikan Faiq langsung ke kamarnya. Ingin rasanya Faiq mengikuti langkah istrinya, tapi apa daya masih satu sandungan yang harus ia lalui, dan ia tak berani ambil resiko. Ia akan mengikuti pepatah Jawa, alon-alon asal klakon….
Hani sudah siap berangkat dengan Ariq. Ia menggunakan baju gamis batik yang dipadukan dengan jilbab senada. Penampilannya sangat sederhana. Namun aura kecantikan begitu nampak di wajahnya. Kehamilannya membuat Faiq tidak bisa mengalihkan pandangan dari wajah istrinya.
Tanpa mempedulikan tatapan Faiq, Hani menghampiri Hasya yang duduk di pangkuan Faiq sambil minum susu dari botol.
“Bunda pergi dulu, sayang. Jangan nakal ya…” Ia mengecup kening Hasya dengan lembut.
Tangan Faiq menahan jemari Hani yang habis mengusap rambut Hasya. Wajah mereka yang dekat membuat Faiq tak menyia-nyiakan kesempatan. Kembali ia mencuri kecupan di bibir istrinya, saat Hani memandang wajahnya. Melihat rona merah di wajah Hani membuat Faiq merasa puas. Ia melepaskan genggamannya begitu Hani menarik tangannya.
Faiq bergegas bangkit dari kursi sambil menggendong Hasya. Ia melihat Hani hendak mengeluarkan motor dari garasi kecil. Sebenarnya ia keberatan melihat Hani yang memilih bekerja membantu bu Sarmi. Tapi ia belum mempunyai keberanian untuk melarang Hani pergi.
“Aku akan mengantarmu ke warung bu Sarmi.” Ujar Faiq membuat Hani menghentikan langkahnya.
“Mas, naik motor aja sama bunda.” Ariq masih menolak tawaran Faiq, membuat perasaan Faiq kembali sedih, tapi ia harus bertahan untuk mengembalikan kepercayaan si sulung.
“Baiklah, papa nggak akan menahan kalian. Hati-hati di jalan.” Faiq tetap mengulas senyum di wajahnya untuk menutupi kekecewaan yang ada.
“Mas, salim dulu sama papa.” Hani berusaha membujuk Ariq agar tetap berlaku sopan pada Faiq. Ia turut merasakan kekecewaan Faiq.
Ariq berjalan menghampiri Faiq. Tanpa berkata apa-apa ia menggenggam tangan Faiq dan langsung menciumnya. Dengan cepat Faiq membelai rambut Ariq dan mengecup keningnya.
Saat Hani hendak melakukan hal yang sama seperti Ariq, Faiq langsung ambil kesempatan dengan memeluknya. Ia tak mempedulikan pandangan Hasya dan Ariq yang melongo melihat perbuatan Faiq terhadap bundanya.
“Aku merindukanmu….” Bisik Faiq lembut di telinga Hani.
Setelah beberapa saat Faiq melepaskan pelukannya, karena Ariq sudah menarik tangan Hani untuk segera pergi.
“Sabar, akan ada waktunya….” Guman Faiq dalam hati, rasanya tak rela ia melepaskan pelukan dari tubuh istrinya yang sangat ia rindukan.
Faiq membukakan pintu pagar agar Hani bisa keluar dengan motornya. Tatapannya tak teralih sedikitpun dari wajah istrinya.
“Papa mencintai kalian.” Ujarnya saat Hani dan Ariq berlalu dari hadapannya.
__ADS_1