
Ivan menggandeng tangan istrinya memasuki rumah baru yang telah ia janjikan dan mulai hari ini akan mereka tempati bersama. Ia berharap di rumah inilah ia bisa menghabiskan waktu bersama istri dan anak-anak mereka berbagi kasih sayang dan cinta hingga di penghujung usia kelak.
Rumah yang ia beli sangat luas dibangun dua lantai, 5 kamar dengan fasilitas komplit di setiap kamarnya. Selain itu juga ada ruangan khusus gymnastik yang sangat luas dengan alat-alat olahraga lengkap sebagai penunjangnya.
Halaman rumah cukup luas baik depan maupun belakang. Di halaman belakang selain dibuat kolam renang, juga ada kolam ikan yang letaknya di dalam taman yang ditata sedemikian rupa menjadi tempat yang nyaman buat bersantai.
Tanpa melepaskan genggaman tangan istrinya, Ivan membawa Khaira berkeliling untuk melihat-lihat fasilitas yang ada di rumah baru mereka.
Melihat perubahan sikap Ivan, membuat Khaira cukup tersentuh. Selama tiga hari sebelum kepindahan dari rumah oma, hal-hal kecil tak luput dari perhatian Ivan. Ia selalu menyiapkan susu untuk bumil serta menyiapkan apa pun yang diinginkan istrinya.
Keringat mulai mengalir di pelipis Khaira, lima belas menit berjalan mengitari pekarangan cukup melelahkan baginya.
“Kamu capek?” Ivan melihat keringat yang mulai mengalir dan nafas istrinya yang terdengar ngos-ngosan.
Khaira mengangguk. Ivan langsung menggandengnya membawanya duduk di taman sambil melihat ikan-ikan yang beraneka warna di dalam kolam. Ia mengambil sapu tangan di saku celana dan menghapus keringat yang menganak sungai di dahi istrinya.
Khaira merasa tidak nyaman. Ia menahan tangan Ivan untuk mengambil sapu tangan yang ada dalam genggamannya.
Ivan tersenyum dan meraih tangan Khaira. Ia menggenggam dan merema*nya lembut. Tatapannya lekat memandang wajah istrinya yang kini sudah tidak ada lagi sorot kebencian, walau terkadang raut kesal masih tergambar jika keinginannya tidak terpenuhi.
“Kita akan mulai dari awal di rumah ini,” ujar Ivan lembut, “Aku tidak akan memaksamu untuk menerimaku dengan cepat. Aku ingin kamu merasa nyaman bersamaku. Itulah yang jadi prioritasku sekarang.”
Khaira terdiam. Ia mengalihkan pandangan dari wajah tampan suaminya. Tatapan Khaira memandang ke dalam kolam ikan melihat kejernihan air yang mengalir di sana.
Ivan merangkul pundak Khaira. Ia merasa bersyukur selama tiga hari kebersamaan di rumah oma sedikit banyak ia jadi mengetahui sifat asli istrinya yang memang tipe pendiam dan jarang mengungkapkan perasaan.
Tapi ia sangat perhatian dengan saudara-saudaranya, selalu melibatkan diri untuk hal-hal kecil dan tidak segan membantu para art di dapur. Walau pun pada dasarnya sifat manja Khaira seperti yang diceritakan Ariq tidak kelihatan selama ia menginap bahkan tinggal sekamar bersama istrinya.
“Aku sengaja menyiapkan rumah ini untuk kita dan anak-anak kelak,” Ivan menatapnya dengan lekat, “Apa kamu menyukainya?”
“Apa tidak terlalu berlebihan?” akhirnya Khaira menyampaikan juga ganjalan di pikirannya melihat fasilitas yang telah dipersiapkan Ivan di rumah mereka yang lebih lengkap di banding rumah oma maupun saudaranya yang lain.
“Aku ingin kamu merasa nyaman,” ujar Ivan pelan.
__ADS_1
Khaira menghela nafas. Jutru ia yang merasa tidak nyaman. Ivan sangat memperhatikan segala fasilitas di rumah agar dirinya merasa nyaman, sedangkan ia sampai saat ini belum bisa memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri yang baik bagi suaminya.
“Kita ke dalam lihat kamar yang akan kita tempati …. “ tanpa menunggu jawabannya, Ivan langsung menggandeng tangan Khaira.
Saat memasuki ruang keluarga melalui pintu samping, para art yang terdiri dari 7 orang sudah berkumpul menyambut keduanya.
“Selamat siang tuan, nyonya ….” seorang art perempuan yang lebih senior menyapa keduanya dengan penuh hormat.
Ivan menganggukkan kepala sambil tersenyum ramah pada para art yang sudah menunggu mereka sejak tadi.
“Mari ku kenalkan dengan art di sini. Beliau ini namanya bi Risma, kepala art di sini ….,” Ivan mengenalkan satu demi satu art yang bekerja di rumah mereka yang terdiri atas 4 orang perempuan dan tiga orang laki-laki, hingga tukang kebun serta satpam dan sopir yang akan menemani keseharian serta aktivitas mereka sehari-hari.
Perasaan Khaira berdebar saat Ivan membawanya ke kamar utama yang berada tidak jauh dari ruang keluarga tempat mereka saat ini berada. Jemarinya masih berada di dalam genggaman Ivan yang membuatnya merasa hangat.
Dengan pelan Ivan membuka kamar tidur utama. Aroma sejuk, wangi dan menenangkan langsung menyambut keduanya saat berada di dalam kamar yang akan menjadi tempat istirahat mereka mulai malam ini dan malam-malam selanjutnya.
Kamar itu sangat luas, interiornya melebihi fasilitas president suite di hotel terkenal. Dengan tempat tidur double king size, serta meja rias yang Khaira yakin harganya tak bisa ia bayangkan. Furnitur yang menghiasi kamar juga terlihat elegan dan mewah membuat Khaira menghela nafas dalam hati.
Ivan telah menyiapkan semuanya secara mendetail. Ia ingin memberikan lingkungan yang nyaman bagi istri dan anak-anaknya yang kelak bakal hadir menemani mereka.
Puluhan jam tangan mewah tersusun dengan rapi di dalam rak kaca, begitu pun sepatu-sepatu milik Ivan berderet dengan sempurna. Tersedia juga beberapa tas serta sepatu-sepatu perempuan dari merk yang sangat terkenal. Khaira tidak menyangka Ivan telah mempersiapkan semua tanpa sepengetahuannya. Sofa panjang serta meja kecil membuatnya walk-in closet tampak semakin estetik.
Kamar mandi juga tidak kalah dengan hotel bintang lima yang dilengkapi dengan bathtub yang sangat elegan. Perlengkapan mandi laki-laki dan perempuan tertata di tempat yang berbeda. Khaira hanya menyampaikan kekaguman dari dalam hatinya saja. Ia tidak ingin Ivan menjadi besar kepala jika ia ungkapkan pujian secara langsung.
Tapi dari sudut matanya Ivan dapat melihat sorot kepuasan yang terpancar di wajah istrinya dan itu membuatnya cukup senang. Ia membimbing Khaira dan membawanya duduk di tempat tidur berukuran double tersebut. Keduanya saling bertatapan.
“Kamu nggak usah khawatir,” Ivan berkata dengan lembut, “Aku tidak akan memaksamu melakukan apa pun yang kamu tidak suka.”
Khaira menatap wajah suaminya dengan perasaan berkecamuk. Ia teringat ucapan oma dan mbak Hasya yang mengingatkan untuk tidak menolak keinginan suami.
Ivan tersenyum melihat kebingungan di wajah istrinya yang kini menunduk dengan wajah memerah. Ivan mengangkat dagu Khaira dengan tangan kanannya.
“Aku memahami kegelisahanmu. Semua memang butuh waktu. Dan aku akan memberikan waktu untukmu. Kita akan melakukannya jika kamu siap,” Ivan tak bisa menahan senyumnya, “Percayalah padaku ….”
__ADS_1
Akhirnya Khaira mengangguk. Wajahnya yang tampak tegang dengan rona memerah perlahan mulai normal. Ia mulai memberanikan diri membalas tatapan lelaki yang ia juluki batu tersebut dengan dada berdebar.
Tatapan Ivan beralih pada telaga madu yang selalu ia rindukan. Dengan perlahan ia mendekatkan wajahnya. Tanpa penolakan Khaira membiarkan Ivan mengakrabi telaga madu yang sudah menjadi candu baginya. Ia memejamkan mata merasakan riak-riak kecil yang kini mulai hadir di hatinya saat berdekatan dengan ayah dari bayi yang ia kandung.
Setelah puas menjelajah dan mengeksplor telaga madu miliknya Ivan mengakhiri tautan kedua bibir. Ia tersenyum melihat rona wajah Khaira kembali memerah. Ia langsung memeluk tubuh Khaira dengan erat memberikan kehangatan pada hati istrinya yang masih berselimut salju.
“Sekarang beristirahatlah. Aku tidak ingin kamu dan bayi kita kelelahan, “ Ivan menatapnya lekat sambil membelai bibir Khaira dengan jemarinya.
Khaira tidak tau harus berkata apa. Ia hanya terdiam mendengar semua yang dikatakan dan dilakukan Ivan padanya.
“Aku masih ada urusan di kantor. Secepatnya aku kembali. Jika memerlukan sesuatu tekan saja bell ini.” Ivan menunjukkan bell yang terletak di samping tempat tidur, “Besok kita akan mengumpulkan semua saudara kita untuk syukuran pindahan rumah ini.”
“Benarkah?” Khaira merasa senang mendengar bahwa besok Ivan akan mengundang saudaranya datang syukuran rumah baru mereka.
Ivan mengangguk cepat. Perasaannya lega melihat keantusiasan Khaira mendengar rencananya untuk mengundang keluarga besar mereka berkunjung di rumah yang kini mulai mereka tempati.
Setelah kepergian Ivan pintu kamar diketuk. Perlahan Khaira berjalan menuju pintu. Ia terkejut melihat bu Risma datang membawakan makan siang serta susu untuk ibu hamil.
“Selamat siang nyonya ….” Bi Risma tersenyum ramah padanya, “Tuan meminta saya mengantarkan makan siang untuk nyonya.”
“Kenapa repot, bi. Padahal saya baru saja ingin keluar …..” Khaira tersenyum dengan perasaan tidak nyaman.
“Tidak apa-apa nyonya. Kami tau nyonya dalam keadaan hamil muda, tuan sudah mengingatkan jangan membiarkan nyonya kelelahan.”
“Terima kasih bi,” Khaira akhirnya tersenyum dengan perasaan lega, “Saya akan melaksanakan salat Zuhur dulu baru makan.”
“Baik nyonya. Kalau perlu apa-apa jangan sungkan untuk meminta,” bi Risma merasa senang melihat keramahan nyonya muda mereka.
Ia yang sudah lama mengikuti Laras sangat senang ketika Ivan memintanya untuk mengurus rumah yang akan ia tempati dengan istrinya.
Dalam bayangan bi Risma, istri tuan mudanya adalah perempuan sombong yang sering mereka lihat di televisi. Tapi saat bertemu pertama kali, kini ia percaya ucapan Laras yang mengatakan bahwa istri Ivan adalah menantu idaman yang sudah ia inginkan sejak pertemuan pertama kali. Dan bi Risma merasa bahagia karena tuan mudanya telah menemukan perempuan yang tepat untuknya.
Khaira tertidur dengan nyaman. Ia tidak menyadari berapa lama terlelap, saat terbangun dari sudut matanya ia melihat Ivan berbaring di sisinya dengan tangan memeluk tubuhnya erat.
__ADS_1
Dukung author terus ya. Jangan lupa vote, like, kritik dan saran untuk keberlanjutan kisah cinta Khaira dan Ivan dalam berumah tangga.