
Siang itu Faiq bersama Rudi baru selesai bertemu dengan klien mereka di sebuah restoran ternama yang berada di komplek mall megah. Pada saat hendak kembali menuju kantor, mobil berhenti karena terjadi tabrak lari.
“Mengganggu perjalanan saja.” Rutuk Rudi kesal.
Terpaksa Rudi meminggirkan mobil dan mematikannya. Tanpa berkata pada Faiq ia langsung turun mendekati kerumunan. Tiga menit kemudian ia kembali menghampiri Faiq dengan wajah tegang.
“Bos, ibunya Hesti tersenggol mobil. Keadaannya pingsan.”
“Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit?”
“Justru itu bos. Nggak ada yang berani bertanggung jawab. Yang bawa mobil belum mempunyai SIM, masih dibawah umur.”
“Anak jaman sekarang merepotkan saja.”
Terpaksa Faiq mengikuti langkah Rudi. Keduanya memecah kerumunan. Tampak Hesti yang memangku kepala ibunya yang dalam kondisi tidak sadarkan diri.
“Apa yang terjadi?” Faiq berjongkok di samping Hesti.
“Ibu disenggol mobil anak itu, mas.” Hesti bercerita dengan berurai air mata sambil menunjuk seorang anak gadis tanggung yang berdiri ketakutan di tahan dua orang satpam mall.
“Ayo kita bawa ke rumah sakit. Untuk apa berlama-lama di sini. Tidak baik membiarkan ibumu seperti ini.” Faiq berkata dengan cepat.
“Terima kasih, mas masih peduli dengan kami.”
Perasaan Hesti langsung membuncah bahagia melihat kepedulian Faiq pada musibah yang ia dan ibunya alami.
Faiq tiba-tiba berubah pikiran, “Rud, kamu bawa mobil Hesti dan mengantarnya ke rumah sakit. Aku akan mengikuti dari belakang.”
Rudi terpaksa menuruti perintah Faiq untuk membopong Dewi yang sedang dalam keadaan pingsan. Ia paham dengan keinginan Faiq dan tidak merasa keberatan sama sekali.
Di dalam mobil Hesti merasa dongkol, karena Faiq lebih memilih menyetir sendiri, dan tidak mengizinkan ia dan ibunya ikut di dalam mobil yang ia bawa.
Tanpa banyak bicara Faiq mengurus semua administrasi penginapan Dewi di rumah sakit. Ia menunggu di aula saat dokter mulai mengobservasi kondisi Dewi.
Menurut dr. Leo Sinaga, akibat benturan yang keras Dewi mengalami patah tulang atau dalam istilah medis disebut fraktur tulang. Ia hanya menunggu di ruang administrasi tidak mengikuti Rudi dan Hesti yang membawa ibunya hingga ke ruang rawat inap.
__ADS_1
“Kamu tidak usah menyalah artikan bantuan yang diberikan Faiq.” Ujar Rudi datar saat keduanya memasuki ruangan tempat Dewi ditempatkan.
Hesti tersenyum tipis, “Terima kasih atas nasehatmu. Tapi aku tidak bisa menjamin. Perasaan tidak bisa dibohongi.”
Rudi kesal mendengar jawaban Hesti. Tanpa pamit ia melangkah cepat meninggalkan Hesti yang menatapnya dengan sinis.
“Aku akan kembali ke rumah.” Faiq melirik jam di pergelangan tangannya, “Sudah janjian dengan si kembar main bola di taman.”
Rudi tersenyum mendengar ucapan Faiq. Ia yakin pikiran Faiq sudah normal kembali. Dan ia tak lupa selalu mendoakan kebahagiaan untuk keluarga mereka.
Begitu Faiq sampai di rumah jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Melihat istri dan anak-anaknya yang sudah siap menanti kedatangannya membuat Faiq bahagia.
“Mas mandi dulu, gih…” Hani berusaha menahan Faiq yang ingin mencium Hasya yang duduk manis di sampingnya.
“Papa beyum mandi.” Hasya mendorong Faiq yang sudah duduk di sampingnya.
“Tuh kan, mas. Dedek aja tau papanya bau…” gurau Hani sambil tersenyum tipis.
“Masih wangi ini.” Faiq membaui dirinya sambil mengangkat keteknya kiri dan kanan membuat Hani tak bisa menahan senyum.
“Wah, bunda udah makin pinter sekarang. Papa makin tambah sayang…” Faiq mengedipkan sebelah matanya menggoda Hani.
“Kalau sudah seperti ini, pasti ada maunya.” Hani mulai memanyunkan bibirnya, membuat Faiq semakin gemas.
Faiq tertawa kecil mendengar ucapan Hani. Candaan ketiganya berakhir begitu si kembar datang menghampiri mereka dan menagih janji Faiq untuk pergi ke taman bermain bola.
Faiq baru selesai melaksanakan salat Isya bersama Hani dan ketiga anaknya ketika ponselnya berdering. Ia mengerutkan kening, tak biasa mendapat telpon di malam hari.
“Mas, kenapa nggak diangkat?” Hani menatap Faiq yang tidak peduli.
“Biarin aja, nomornya juga nggak terdaftar di sini.” Faiq melirik sekilas.
“Angkat aja, mas. Siapa tau penting.”
Akhirnya Faiq menjawab panggilan dari nomor yang tak dikenal. Saat mendengar suara perempuan dan memastikannya Faiq terdiam.
__ADS_1
“Assalamu’alaikum, mas.” Suara Hesti terdengar sendu dari ponsel Faiq.
“Langsung hubungi Rudi, semua urusan sudah ku limpahkan padanya.” Faiq langsung menutup ponselnya agak kesal.
“Siapa mas?” Hani keheranan melihat wajah Faiq yang kelihatan kesal saat menyimpan ponselnya di nakas samping tempat tidur.
“Orang kantor.” Faiq menjawab cepat. Ia tak ingin Hani salah paham kalau ia menceritakan kejadian sebenarnya.
Setiap menyebut nama Hesti wajah Hani langsung berubah, dan Faiq sangat menjaga hal itu. Ia tak ingin mengecewakan istrinya.
Sudah ketiga kalinya Hani menemukan kuintansi obat-obatan dari saku jas kerja Faiq. Ia ingin menanyakan kepada Faiq perihal kuitansi itu, tapi melihat Faiq yang sudah beberapa hari ini pulang malam membuat Hani membatalkan niatnya.
“Sayang, sore ini mas akan berangkat ke Surabaya ada rapat bulanan showroom di sana yang tak bisa mas wakilkan.” Ujar Faiq saat pagi itu mereka sarapan bersama.
“Berapa lama mas di sana?” Hani merasa sedih karena akan ditinggal suaminya.
“Hanya dua hari. Secepatnya mas akan kembali.” Faiq tersenyum menyadari wajah istrinya yang berubah sendu.
Faiq bangkit dari kursi dan memeluk Hani dari belakang. Ia mencium ujung kepala istrinya yang tertutup jilbab.
“Setelah ini mas nggak akan ninggalin kamu dan anak-anak lagi.”
Hani memandang wajah suaminya dengan sendu. Ia berharap semoga suaminya selalu dalam perlindungan Allah dan dijauhkan dari segala mara bahaya.
“Sebelum mas berangkat, jam dua siang akan pulang ke rumah.”
“Baiklah, mas.” Hani mencium tangan Faiq yang sudah bersiap untuk ke kantor.
Setelah kepergian Faiq, Hani kembali ke kamar untuk mempersiapkan keperluan dan beberapa stel pakaian yang akan dibawa Faiq selama di Surabaya
Jam sudah menunjukkan pukul dua siang. Faiq sudah bersiap untuk kembali ke rumah. Kebetulan hari ini Rudi mendampingi pak Arman yang mewakili Faiq menemui klien di hotel Ritz Carlton.
Saat Faiq mulai memasuki mobil, ponselnya kembali berdering. Dengan cepat Faiq mengangkatnya.
“Assala’mualaikum…” Faiq memberi salam terlebih dahulu.
__ADS_1
“Mas, mohon ke rumah sakit sekarang. Ibu akan segera melakukan bedah ortopedi. Andre sedang keluar kota.” Suara Hesti terdengar putus asa.