
Saat hendak pulang dari gerai kemaren, ketiga pegawainya menceritakan kunjungan seorang lelaki berperawakan gagah yang ingin bertemu dengan dirinya. Ketiganya penasaran ingin mengetahui siapa lelaki itu, tetapi Khaira hanya bungkam tidak ingin menanggapi ke-kepo-an pegawainya.
Dengan santai ia berkemas pulang ke rumah di jemput pak Darmin supir keluarga di kediaman oma Marisa, begitu hari menjelang malam. Ia ingin mendelegasikan pekerjaan pada Andini yang sudah jadi orang kepercayaan Marisa sejak lama. Khaira tidak tau, berapa lama ia akan menetap di luar negeri, mungkin hingga melahirkan.
Di saat itulah ia akan mengakui semuanya pada saudara-saudaranya. Dan ia tidak ingin berpikir terlalu berat, ia akan menjalani semua. Kalau perlu ia akan meminta bantuan Anwar untuk mempertanggung jawabkan janin yang ia kandung walaupun harus terikat kontrak pernikahan.
Yah, itulah jalan satu-satunya yang kini terpikir oleh Khaira. Ia yakin Anwar pasti akan membantunya, dan ia akan membantu Anwar untuk merealisasikan rumah sakit jantung yang ingin Anwar bangun setelah ia kembali ke Indonesia. Kali ini rencana Khaira sudah benar-benar matang. Ia tersenyum mengingat apa yang ia rencanakan lebih masuk akal.
Hari ini Khaira benar-benar malas untuk melakukan aktivitas, tapi keinginannya begitu kuat untuk datang ke kafe setelah beberapa hari ini ia tidak ada selera makan. Mungkin itu pengaruh kehamilan yang sedang ia alami saat ini.
Dengan diantar pak Darmin ia pergi ke kafe. Sesampainya di sana Khaira langsung memasuki pantry menemui Rani. Ia ingin menikmati sayur asam dan ikan pepes. Semalam-malaman ia tidak bisa tidur membayangkan menu yang sudah terasa di tenggorokannya.
“Mau makan di mana mbak?” Rani memandang Khaira yang masih asyik menghirup aroma makanan yang sangat menggiurkan.
“Di teras samping boleh,” Khaira tersenyum membayangkan menikmati makanan yang sudah ia impikan semalaman dengan ditemani sepoi-sepoi angin di teras samping pasti akan lebih nikmat.
“Baik mbak,” Rani mengangguk.
“Temani ya,” Khaira menatapnya penuh harap, “Kalau pelanggan udah sepi ajak Muti dan Gita juga, biar yang lain gantian.”
Rani menatapnya dengan heran, tumben Khaira pengen makan rame-rame gini. Hal yang sudah tidak pernah dilakukan semenjak kepergian Abbas.
Khaira mengerti kebingungan yang tergambar di wajah Rani, “Aku merindukan kebersamaan kita seperti dahulu, sebelum keberangkatanku bersama Afifah dan Junior.”
“Oh …. “ akhirnya Rani tersenyum mengetahui alasan dibalik keinginan bosnya mengajak mereka makan bareng.
Tak lama kemudian Muti, Ari, Budi dan Rani yang muncul sambil membawakan menu sesuai pesanan Khaira lengkap dengan minuman yang menyegarkan.
“Gita masih melayani pengunjung yang baru datang langsung masuk ke ruang VIP,” ujar Rani sambil meletakkan hidangan di hadapan Khaira yang tampak senang dan langsung menghirup aroma yang menyedapkan penciumannya.
“Pengunjung itu mencurigakan,” Budi berkata pelan, “Dengan masker, kaca mata dan topi seperti bandit saja.”
“Benar,” Ari turut menambahkan, “Begitu datang langsung selonong aja tidak ada basa-basi, untung asistennya sopan. Kalau tidak, bisa ku usir pengunjung yang tidak ada akhlak seperti itu.”
“Udah gitu minta pesanan yang sama lagi dengan yang kita makan sekarang. Untung mbak Pur bikinnya banyak,” Rani sempat mengeluh dengan permintaan pelanggan yang agak nyeleneh hari ini.
Khaira tidak mempedulikan obrolan pegawainya, ia langung menikmati menu makan siang dengan sangat lahap. Menu rumahan yang biasa dimasakkan Abbas khusus untuknya telah membangkitkan selera makannya.
__ADS_1
Sementara itu di dalam ruangan VIP, dari balik kaca mata hitam, masker dan topi yang menutupi wajahnya membuat Ivan dengan leluasa mengamati perempuan masa depan yang sedang mengandung anaknya.
Ia tersenyum puas melihat Khaira yang menikmati makan siang dengan bersemangat. Hari-hari belakangan ini ia selalu mengikuti kemana pun Khaira pergi. Roni yang tidak tau aktivitas yang dilakukan bosnya hanya diam, tidak berani berkomentar.
Hari lah yang paling sibuk, karena dia yang selalu memonitor pergerakan Khaira. Begitu ia melihat sosok Khaira, maka dengan segera ia melaporkan pada Ivan, yang langsung mengikuti dari belakang.
Namun Ivan tidak ingin bertindak terlalu agresif, ia masih mempelajari cara membuat Khaira membuka hati dan menerima cintanya. Memang semua butuh waktu, tapi Ivan berusaha belajar pada sosok almarhum Abbas. Dan ia ingin Khaira memberikan hati padanya secara utuh.
Khaira tidak menyadari sosok di dalam ruangan yang melihatnya dengan lekat. Ia benar-benar menikmati menu yang dihidangkan, sehingga ketiga pegawainya menatap dengan heran melihat selera makannya yang luar biasa.
“Apa mbak Rara nggak khawatir kelebihan berat lagi?” canda Muti seraya tertawa melihat Rara yang kini telah menyelesaikan makannya.
“Nggak masalah kok. Aku akan bepergian lama, mungkin aja makanan luar nggak cocok jadi di sana bisa diet juga,” jawab Khaira santai.
Ivan cukup puas walau pun hanya memandang dan mendengar Khaira yang bercanda dari balik pintu yang menjadi pembatas mereka berdua. Ia hanya ingin memastikan bahwa Khaira dan anak yang dikandungnya tidak kekurangan sesuatu apa pun.
Morning sickness yang dialami Ivan membuatnya menderita. Tapi setiap berada di dekat Khaira ia merasa baik-baik saja, bahkan selera makannya sekarang juga meningkat karena melihat sang pujaan berada dekatnya. Walau pun ia belum bisa menyentuhnya tapi melihatnya saja sudah membuat Ivan bahagia.
Ia masih asyik mengamati tingkah laku Khaira dan teman-temannya yang tidak menyadari bahwa ada dirinya di ruangan tersebut. Senyum tipis terbit di wajah Ivan melihat Khaira tertawa kecil mendengar candaan Budi. Tapi pandangannya agak terganggu melihat Ari yang menatap Khaira dengan sorot penuh makna, dan ia dapat melihatnya dengan jelas, karena hanya tirai tipis yang menutupi dirinya di balik kaca yang membatasi ruang di mana dirinya dan Hari berada.
Ia merasa setiap menatap wajah Khaira semakin cantik dan enak dilihat. Atau karena mengandung aura kecantikannya semakin meningkat. Dan Ivan tak ingin mengalihkan pandangannya walau sedetik.
Ivan menatap Hari dengan kesal, karena kesenangannya terganggu oleh pertanyaannya yang tidak bermanfaat.
“Apa kamu sudah bosan bekerja padaku?” dengus Ivan kesal.
Hari terdiam, “Wah bos kalau sudah bucin susah cari obatnya,” batin Hari sambil meraih air kopi yang barusan ia pesan karena lelah menunggu bos yang sedang kasmaran.
Akhirnya keduanya sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ivan yang dengan santainya melihat setiap gerak-gerik Khaira, dan Hari yang akhirnya hanya memainkan ponsel.
Hati Ivan merasa tersentuh ketika melihat Khaira membelai perutnya dengan pelan. Walau pun belum kelihatan, tapi Ivan merasa kehangatan mengaliri perasaannya. Ia tidak salah telah melabuhkan hati dan perasaannya pada Khaira janda temannya sendiri, walau pun ia tau belum bisa meluluhkan hati Khaira untuk menerima dirinya.
Ponsel Ivan berdering, tampak Roni memenuhi layar ponselnya. Ivan mengerutkan keningnya. Tidak biasa Roni menghubunginya secara langsung jika tidak ada sesuatu yang mendesak.
“Ada apa Ron?” Ivan sebenarnya merasa kesal, di saat ia menikmati kebersamaan dengan Khaira yang sedang mengandung benihnya selalu ada saja gangguan.
“Bos diminta berangkat ke Makassar sekarang. Tuan Chairul ingin membatalkan kontrak dengan pihak advertising karena hasil yang ditampilkan tidak sesuai dengan sample awal,” ujar Roni dengan raut khawatir.
__ADS_1
Ivan merasa geram. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Chairul Anam termasuk klien superior bagi perusahaannya. Sudah banyak keuntungan serta relasi baru atas rekomendasi Chairul yang menggunakan perusahaan miliknya serta model yang bernaung di bawah perusahaannya.
“Siapkan keberangkatanku 3 jam lagi,” akhirnya Ivan bangkit dengan perasaan dongkol.
Ingin rasanya ia berjalan mendekat, tapi ia berusaha menahan diri. Biarkan waktu yang akan berpihak dan menyatukan ia dan Khaira dalam ikatan cinta yang tak akan terpisahkan.
“Rasa-rasanya aku mengenal laki-laki yang baru keluar dari ruangan itu.” Rani terpaku melihat Ivan yang sudah berjalan menuju pintu dan akhirnya menghilang di tengah keramaian pengunjung kafe yang mulai berdatangan di jam makan siang.
“Apakah menurutmu itu tuan Ivan?” Ari menebaknya dengan cepat, karena ia tau yang punya akses keluar masuk ruang makan VIP hanya Ivan.
Khaira tercekat. Ivan kemari dan mengikutinya. Perasaan khawatir langsung menyergapnya. Ia tidak bisa berlama-lama keluar dari sarang. Ia harus cepat kembali dan mempersiapkan keberangkatannya besok, dan itu tidak bisa ditunda-tunda lagi.
Ivan yang baru tiba jam sembilan pagi dengan penerbangan pertama dari Makassar merasa terkejut mendengar laporan Hari bahwa pesawat yang membawa Khaira, Afifah dan Junior baru saja terbang lima menit yang lalu dan akan transit di Singapura selama dua jam.
“Astaga,” Ivan merasa geram, “Kau pikir bisa mempermainkanku. Ternyata kau harus ku ikat secepatnya agar tidak melarikan diri lagi.”
Kini kesabarannya telah habis. Semalaman ia tidak bisa tidur. Setelah mengurus permasalahan dengan tuan Chairul akibat ganti model dadakan sehingga iklan yang dibuat tidak maksimal membuat Ivan turun tangan.
Tuan Chairul meminta pembuatan ulang iklan produk mereka. Ivan tidak keberatan dan ia menyanggupi semua permintaan Chairul, hingga kerja sama kedua belah pihak tetap terlaksana, dan Ivan dapat kembali ke Jakarta dengan tenang.
“Dan ada kabar lain yang menurut saya kurang baik buat tuan,” Hari berkata dengan hati-hati, takut memicu kemarahannya bosnya yang gampang tersulut.
“Cepat katakan!”
“Tadi malam terjadi percakapan antara nona Rara dan temannya yang di Amerika. Nona meminta bantuan temannya untuk merawat bayi yang sedang dikandungnya dan mengakui bayi itu miliknya,” Hari menatap Ivan dengan serius.
Yoga memang patut diacungi jempol karena berhasil menyadap ponsel Rara sehingga hasil pembicaraannya dengan Anwar dapat terekam semua, dan Ivan tidak kecewa membayarnya mahal karena telah memberikan informasi yang sangat berharga.
Darah Ivan terasa mengalir dengan cepat ke ubun-ubun. Khaira benar-benar membuat adrenalinnya terpacu cepat. Dan ia tidak akan melepaskannya begitu saja.
“Antarkan aku ke perusahaan tuan Ariq sekarang!” tegas Ivan.
Ia akan mengakui semua perbuatannya pada Ariq, dan ia siap untuk bertanggung jawab. Ia tidak ingin terjadi sesuatu apa pun pada janin yang sedang dikandung Khaira. Apa lagi mendengar rencana yang telah disusun Khaira membuat harga dirinya dijatuhkan ke jurang yang paling dalam.
“Kali ini aku tidak akan membiarkanmu lepas begitu saja,” batin Ivan dengan amarah yang sudah hampir memecahkan kepala. Ia benar-benar tidak menyangka Khaira akan mengambil keputusan senekat itu. Ia tidak akan membiarkan siapa pun mengambil miliknya yang paling berharga. Apa lagi ia sudah meng-claim kepemilikannya dan sudah menandai miliknya.
__ADS_1
Dukung terus ya. Author semangat kalau baca kritik dan saran dari readerku tercinta. Apalagi ditambah like dan votenya. Buat semangat halu author semakin meningkat. Sayang untuk reader semua ....