
Saat kembali ke rumah Ivan sore tadi tepat jam lima suasana rumah tampak hening. Khaira diantar Valdo tanpa membawa apa pun. Mendengar nasehat oma membuat Khaira tersentuh. Ia tidak bisa berbuat sekehendak hati, karena statusnya bukanlah perempuan lajang, tapi telah menjadi seorang istri.
Dan itu bukan hanya tentang kepatutan, tapi semua ada aturannya, apalagi dalam agama yang ia anut. Oma selalu mengingatkan hal itu, agar jangan sampai berbuat durhaka pada suami.
Para art merasa senang melihat majikan perempuannya sudah kembali. Mereka berbincang bersama penuh keakraban. Khaira merasa terhibur mendengar cerita bi Risma tentang masa kecil Ivan dan kenakalannya di masa lalu.
“Nyonya nggak usah terlalu bersedih. Mungkin di balik ini Allah akan memberikan kemudahan atau rezeki lain untuk menggantikan bayi nyonya dan tuan …. “ bi Risma berusaha menghibur nyonya mudanya yang masih tampak bersedih.
“Terima kasih, bi. Saya berusaha mengikhaskannya,” ujar Khaira sambil tersenyum tipis.
Saat mereka sedang mengobrol tiba-tiba kedatangan Laras. Ia yang berencana mengajak Ivan untuk menjemput mantunya di rumah Hasya terkejut melihat Khaira sudah kembali ke rumah.
“Sayang …. “ Laras segera memeluk menantunya dengan perasaan lega.
“Tante …. “ Khaira membalas pelukan mertuanya dengan hangat.
“Lho kok tante, mama dong,” Laras menatap Khaira dengan raut tak senang, “Kamu sekarang adalah anak mama, bukan hanya menantu.”
“Maaf ma …. “ Khaira tersenyum sambil mencium tangan Laras.
“Syukurlah kamu sudah kembali,” ujar Laras dengan antusias, “Padahal mama baru saja mampir untuk mengajak Ivan menjemputmu.”
“Maafkan saya, ma. Kemaren rasanya terlalu berat buat saya …. “ Khaira kembali berkata dengan suara mulai parau.
“Sudahlah. Semua sudah terjadi. Mama juga kesal sama tingkah Irene. Sebagai orang terpelajar, dia harusnya lebih pandai menjaga sikap,” Laras berkata dengan kesal, “Tapi semua juga ada hikmahnya. Mama senang, semenjak menikah denganmu Ivan semakin dewasa.”
Khaira tercenung. Ia kini membenarkan apa yang dikatakan oma, bahwa makin ke sini, perilaku Ivan seperti almarhum Abbas.
“Apa pun masa lalumu dan ujian yang telah kamu jalani, tetaplah bertahan bersama Ivan. Dia lelaki yang baik,” Laras menatapnya dengan lekat, “Bukan berarti karena dia putra mama, tapi bersamamu mama yakin Ivan akan menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab.”
“Saya bukanlah perempuan sempurna, ma. Semua orang tau hal itu. Dan saya hanya mencoba terus memperbaiki diri menutupi semua kekurangan yang ada pada diri saya ….”
Laras menggenggam kedua tangan menantunya dengan hangat. Ia tersenyum, kebanggaannya atas perilaku menantunya membuatnya semakin menyayangi Khaira.
“Mama tau, kamu memang perempuan terbaik yang dikirim Allah dalam kehidupan Ivan yang jauh dari sentuhan rohani.”
Khaira menatap mertuanya dengan kening berkerut. Selama ini ia memang tidak pernah mengetahui kehidupan pribadi dan masa lalu suaminya. Ia hanya mendengar sekilas tentang kisah asmaranya dengan model dan artis terkenal, itu saja.
“Mama juga mohon maaf atas semua kelakuan Ivan yang telah melakukan perbuatan buruk padamu,” akhirnya Laras menemukan momen yang tepat untuk berbicara dari hati ke hati dengan perempuan yang telah membuat putra semata wayangnya jatuh cinta.
“Maksud mama?” kembali Khaira bingung dengan perkataan Laras.
__ADS_1
“Ivan telah mengakui semua kesalahannya yang telah membuatmu hamil,” Laras langsung mengungkapkan semuanya, “Saat Ivan menceritakan semua, rasanya mama ingin memukulnya. Ia sangat menyesali semua perbuatannya….”
Khaira terdiam. Sekilas bayangan malam itu kembali melintas dalam benaknya. Ia menatap Laras yang tampak sedih saat menceritakan pengakuan Ivan.
“Percayalah, Ivan sangat tulus mencintaimu,” ujar Laras lirih.
Tanpa sadar air mata Khaira menetes mendengar pengakuan Laras. Ia bersyukur memiliki mertua yang mempunyai sifat penyayang dan lemah lembut.
“Ivan sempat menceritakan bahwa sebelum kami datang meminangmu, ia bermimpi ketemu almarhum Abbas,” mata Laras berkaca-kaca saat mulai bercerita.
Khaira terdiam. Ia mulai mengingat kembali saat Abbas menemuinya dalam mimpi hingga memberikan tangannya pada seorang lelaki yang tidak tampak wajahnya.
“… Ivan mengatakan kalau Abbas menitipkan kamu padanya. Abbas ingin Ivan bisa menggantikan dirinya untuk membuatmu bahagia ….” Laras berkata dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Ia turut merasakan kesedihan yang kini dialami menantunya. Ia pun pernah merasakan di posisi yang sama merasa kehilangan saat suami tercinta telah dipanggil Yang Maha Kuasa.
“Kalian berdua sama-sama kehilangan. Ivan sangat menghargai Abbas dan kamu pun mencintai Abbas,” Laras menatapnya dengan lekat, “Sudah saatnya kalian berdua saling menguatkan. Abbas akan bahagia kalau kamu berbahagia.”
Khaira menghapus butiran air mata yang mengalir tak mampu ia bendung. Ia sedih mendengar ucapan Laras.
“Cobalah buka hatimu … apalagi Ivan adalah suamimu. Ia sangat mencintaimu, mama tau itu.” Laras membelai bahu Khaira yang masih terisak dalam tangisnya.
Setelah mampu mengendalikan perasaannya, akhirnya Khaira menghela nafas perlahan.
Laras memeluk menantunya dengan perasaan lega. Kini tidak ada lagi beban yang menggantung di dadanya semua sudah ia ungkapkan pada Khaira, dan ia yakin Khaira akan membalas semua perasaan Ivan terhadapnya.
Mereka bercengkrama selama beberapa saat hingga waktu Magrib tiba. Khaira segera mengakhiri perbincangan mereka dan kembali ke kamarnya.
Ia menatap sekeliling kamar, berusaha menghilangkan rasa nyeri mengingat peristiwa yang membuat ia kehilangan bayinya. Tapi teringat pesan oma, bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini bukan tanpa sebab, karena sudah menjadi kudrat dan iradat dari sang Maha empunya hidup, yang di genggaman-Nya semua bisa terjadi.
Makan malam itu Khaira nikmati bersama dengan ketiga art dengan hati yang mulai tenang. Ia berjanji akan mencoba untuk membuka hati pada suaminya.
Setelah menelpon Hasya beberapa saat, akhirnya Khaira mulai mengantuk. Ia tidak tau jam berapa Ivan akan kembali dari kantor. Ia segera membaringkan diri di peraduan begitu matanya sudah tidak bisa diajak kompromi. Beberapa saat kemudian ia pun terlelap dalam buaian.
Khaira mencoba bangkit, tapi pelukan tangan kekar begitu kuat membuat ia susah untuk bangun dari tempat tidur. Padahal azan Subuh sedang bergema. Ia menghela nafas pelan. Ingin membangunkan suaminya, ia merasa kasihan karena melihat Ivan terlihat lelah, hingga dengkurannya terdengar.
Khaira mengubah posisi tubuhnya hingga berhadapan dengan Ivan. Ia menatap lekat wajah tampan yang tampak tenang dalam tidurnya. Bagaimana mungkin ia menggantikan posisi Abbas dengan lelaki pemaksa yang kini jadi suaminya. Sifat keduanya sangat bertolak belakang.
Khaira menggelengkan kepala. Bagaimana mungkin ia membandingkan keduanya? Ia harus melepaskan semua kenangan tentang Abbas. Sekarang Ivan lah suaminya, orang yang harus ia taati. Dan ia berdosa jika masih memikirkan lelaki lain dalam hidupnya.
Tanpa terasa air mata Khaira menetes lagi. Ia membiarkan bulir-bulir mengalir tanpa ada keinginan untuk menghapusnya. Ia menatap wajah Ivan yang tampak lelah. Kelihatan kalau ia tidak cukuran, cambang dan kumis tumbuh di wajahnya yang biasa mulus seperti jalan tol.
__ADS_1
Jemarinya mulai menyentuh wajah tampan yang kini masih terlelap dalam mimpi. Hidungnya yang tinggi seperti perosotan, bibirnya yang akhir-akhir ini sering mencuri ciuman darinya. Debaran jantung Khaira mulai terasa berdetak dengan cepat.
Tiba-tiba mata Ivan terbuka. Pemandangan yang menyejukkan saat ia terbangun di pagi hari. Sudah seminggu ini ia merindukannya. Tatapan keduanya saling mengunci.
Khaira tidak menyangka bahwa Ivan akan terbangun. Ia merasa malu karena ketauan menatap bahkan menyentuh wajah suaminya. Belum sempat Khaira menurunkan tangannya, Ivan langsung meraihnya dan mengecupnya dengan lembut.
“Aku sangat merindukanmu,” ujar Ivan pelan.
Tatapan matanya yang teduh membuat Khaira tergetar. Ia dapat melihat tatapan yang biasa Abbas arahkan padanya kini tergambar di mata Ivan. Ivan kembali merengkuhnya dengan erat ke dalam pelukan. Rasanya ia belum puas mengobati rasa rindu setelah seminggu di tinggal istrinya.
“Jangan pernah pergi meninggalkanku. Aku sangat mencintaimu …. “ Ivan mengungkapkan apa yang ia rasa di hatinya, “Walau pun perasaan itu belum ada di hatimu, cobalah untuk tetap bertahan di sampingku.”
Khaira terdiam. Ia tidak tau bagaimana perasaannya saat ini. Tapi hatinya mulai tersentuh oleh perlakuan Ivan yang memperlakukannya dengan hangat dan penuh kelembutan.
Setelah puas memeluk istrinya dan memberikan ciuman yang dalam di kening Khaira, akhirnya Ivan bangkit dari pembaringan.
“Kita akan salat Subuh bersama, bersiaplah ….” Ia tersenyum menatap Khaira sambil berjalan menuju kamar mandi.
Akhirnya Khaira pun bangkit dari pembaringan dan membereskan tempat tidur mereka untuk segera menjalankan kewajiban salat Subuh.
Setelah melaksanakan salat Subuh berjamaah dan doa yang telah dilantunkan Ivan, keduanya saling berdiam diri.
Akhirnya Khaira bergeser maju dan mulai mengulurkan tangan untuk menyalami suaminya.
Ivan memandang wajah istrinya dengan lekat, dan menyambut tangan Khaira. Senyum tipis terbit di wajahnya merasakan ciuman hangat di tangannya.. Saat Khaira melepaskan tangannya, Ivan langsung menangkup wajahnya dan memberikan ciuman hangat di keningnya.
Khaira memejamkan mata saat merasakan kehangatan yang mendarat di keningnya.
Setelah melepaskan tangan pada wajah istrinya kini Ivan memeluk Khaira dengan erat. Tangannya membelai pundak istrinya dengan mesra. Setelah beberapa saat Ivan melepaskan pelukannya. Mata keduanya bertatapan saling mengunci.
“Mulai hari ini kita akan memulai kembali dari awal,” Ivan berkata dengan lembut, “Aku tidak akan membatasi aktivitasmu.”
Khaira menatap wajah Ivan dengan raut tanya.
“Tetap jalani aktivitasmu seperti biasa\,” Ivan mengu*** senyum saat menyadari kebingungan di mata bening istrinya\, “Aku tidak akan membatasi aktivitasmu di gerai atau pun di kafe.”
Senyum terbit di wajah Khaira mengetahui arah pembicaraan suaminya. Kini Ivan dapat melihat binar itu mulai kembali di mata bening istrinya.
“Yang penting kamu ingat, bahwa kamu telah mempunyai seorang suami yang bernama Alexander Ivandra.” Ivan merasa puas saat mengatakan itu bertepatan dengan tatapan Khaira yang langsung melotot padanya.
__ADS_1
*** Akhirnya up lagi. Moga besok khilaf dan up nya banyak. Dukung terus ya .... ***