
Ivan dan Edward menuju lift untuk kembali ke kamar. Perasaan kesal dan marah masih tergambar di wajah tampannya. Edward berusaha menenangkan Ivan. Ia tau, jika tidak ditemani Ivan akan berbuat nekad dengan menghancurkan apa pun yang ada di sekitarnya.
Keduanya telah memasuki lift yang akan membawa Ivan. Pintu lift yang sudah hampir tertutup kini terbuka. Mata Ivan kembali membulat melihat Khaira dengan santai memasukinya bersama Anwar dan kedua body guard yang dengan setia mengikutinya kemana pun.
“Cih!” batin Ivan dengan perasaan dongkol. Ia otomatis mundur ke belakang melihat rombongan yang memasuki lift, membuat lift yang tadinya luas kini harus berdempetan.
Jantung Ivan berdetak dengan cepat, saat Khaira terdorong hingga menabrak dadanya. Aroma wangi parfum lembut langsung menguar di penciumannya. Waktu terasa berhenti, dan Ivan ingin merasakan lebih lama lagi dalam posisi yang membuatnya tampak intim.
Khaira maju dengan cepat, dan bergeser merapat pada Anwar. Ia merasa tidak nyaman, apalagi sejak Ivan menuduhnya membuat Khaira kehilangan respect padanya.
“Jam berapa berangkat besok? Aku akan mengantarmu ke bandara.” Suara Arman memecah kesunyian.
Edward mengerling Ivan yang masih tampak tegang memejamkan mata sambil menyandarkan tubuhnya di dinding.
“Sore aku akan kembali,” jawab Khaira pelan.
“Baiklah. Besok aku akan menjemputmu ke kamar.” Anwar tersenyum tipis, “Aku akan menepati janji pada masmu untuk menjagamu tanpa kekurangan satu apa pun.”
Khaira memandang Anwar dengan tersenyum tipis tidak menanggapi.
Anwar yakin suatu saat dia bisa memiliki hati janda ayu teman kuliah yang sempat jadi gebetannya, walau pun pada akhirnya jodoh belum berpihak pada mereka.
“Sesampainya di rumah langsung hubungi aku ya. Pendidikanku tinggal 3 bulan lagi selesai. Jika kembali ke tanah air, aku langsung mampir ke rumahmu,” ujar Anwar kemudian.
“Ngapain? Mau ngelamar?” Khaira tak bisa menahan gelak tawanya saat mengatakan itu.
“Kalau situ udah siap, sekarang pun ok.” Anwar membalas perkataan Khaira dengan serius, “Aku akan menunggumu sampai kapan pun.”
Tubuh Khaira terdorong ke depan saat Ivan maju dan sengaja menabrakkan tubuhnya begitu lift berhenti. Pembicaraan unfaedah antara keduanya membuat hati Ivan bertambah panas.
“Sorry …. “ Edward merasa tidak enak. Ia memandang Anwar yang menahan lengan Khaira supaya tidak jatuh tersungkur.
“Dasar batu,” cetus Khaira kesal.
Akhirnya Anwar mengantar Khaira hingga ke depan kamarnya. Ia tersenyum pada kedua body guard yang sudah stay dengan anggukan penuh hormat.
“Terima kasih Anwar. Sampai bertemu besok. Semoga bermimpi indah,” ujar Khaira santai.
“Boleh dong aku nimbrung di mimpimu,” goda Anwar.
__ADS_1
“Kamu pasti sudah tau siapa yang memenuhi mimpiku,” Khaira membalas godaan Anwar seketika.
“Yah kapan-kapan deh aku mampir di mimpimu, kalau masih ada ruang kosong yang tersisa.”
Keduanya saling melempar senyum dengan penuh arti, hingga akhirnya sosok Arman menghilang di dalam lift yang akan membawanya kembali ke kamar inapnya.
Khaira tidak menyadari empat pasang mata menatapnya dari kursi sofa di lobby dekat kamarnya.
“Apa yang akan kau lakukan sekarang?” Pertanyaan Edward membuat Ivan mengerutkan keningnya sesaat.
“Kalau kamu di posisiku apa yang akan kamu lakukan?” Ivan membalikkan pertanyaan Edward.
“Aku akan menghampirinya. Melakukan apa pun yang aku mau, hingga dia menyerah dan pasrah.” Edward menjawab sekenanya.
“Aku akan melakukan itu.” Ivan bangkit dari kursi sambil menghela nafas berat.
“Jangan konyol!” Edward menghadang langkah Ivan, “Kamu benar ingin menemuinya?”
“Aku tidak bisa menundanya lagi,” geram Ivan, “Perempuan itu bisa membuatku gila.”
“Ha ha ha …. “ Edward tertawa lebar, “Tidak bisa kubayangkan bakal ada badai Marina yang menghantam hotelku malam ini.”
“Apa kau tidak lihat dua lelaki yang menjaganya?” Edward melirik 2 lelaki yang berdiri dengan tegap di depan kamar Khaira.
“Aku tidak percaya melihatnya. Sehebat apa orang yang memberikan perlindungan pada janda itu?” dengusnya semakin emosi.
“Kamu harus berpikir jernih. Lakukan strategi untuk memenangkan peperangan.” Edward langsung berbisik padanya. Ivan mendengarkan dengan seksama. Akhirnya ia manggut-manggut menyetujui saran Edward, “Tapi kau tidak akan berbuat yang aneh padanya kan …. ?”
Ivan mendengus mendengar pertanyaan nyeleneh Edward, “Aku hanya ingin bermain-main dengannya. Siapa juga yang mau menyentuhnya.”
“Hati-hati dengan perkataanmu.”
“Apa maksudmu?”
“Jangan sampai termakan omongan sendiri.”
“Aku bukan player sepertimu. Ku pastikan itu tidak akan terjadi. Aku hanya ingin bermain-main dengannya.”
“Jangan bermain api, nanti kau akan terbakar sendiri.”
__ADS_1
Khaira baru selesai menelpon Hasya dan menceritakan tentang kerja sama yang telah ia tanda tangani bersama Peter. Hasya merasa senang mendengar perkataan Khaira. Ia tidak menitip oleh apa pun, karena ia tau adik perempuannya itu bukan tipe orang yang suka keluyuran berburu oleh-oleh.
Setelah menghubungi saudaranya serta Andini, Khaira merasa gerah. Dengan cepat ia memasuki kamar mandi. Untuk menyegarkan tubuhnya, ia berendam di air hangat selama 10 menit. Setelah tubuhnya merasa segar kembali, ia bangkit dan segera berbilas dengan air dingin.
Dengan menggunakan bathrobe dan kepala yang masih terbungkus handuk, Khaira keluar dari kamar mandi. Ia merasa lega sekarang. Suasana kamar yang hening membuatnya bersenandung kecil. Khaira melihat pesan di ponsel. Senyum puas tampil di wajahnya membaca chat Anwar yang telah memerintahkan OB untuk mengantarkan makan malam, karena sejak habis Magrib hingga acara selesai, satu makanan pun tidak ada yang mampir di perutnya. Setelah mandi baru ia merasa lapar.
Karena merasa tinggal sendirian di kamar hotel tersebut, dengan santai Khaira keluar dari kamar. Senyumnya mengembang semakin lebar melihat hidangan yang tertata di meja. Sebelum menikmati makan malamnya, Khaira mengambil kamera untuk mengabadikan keindahan menu hidangan yang tersaji.
Karena handuk di kepala mengganggu aktivitasnya dalam mengambil angle yang tepat, dengan santai Khaira melemparkan handuk ke sembarang tempat. Rambut ikalnya yang panjang melewati bahu tergerai bebas.
Khaira tak menyadari sepasang mata tajam melihat semua aktivitasnya tanpa berkedip. Ia tetap dengan keasyikannya mengelilingi menu makan malam Prancis yang istimewa mengambil angle dari berbagai sudut.
Setelah puas dengan aktivitasnya Khaira kembali mengambil ponsel di kamar. Tanpa melihat kiri kanan, ia kembali menghempaskan diri di sofa menghadapi hidangan yang menggiurkan itu.
Dengan senyum sumringah Khaira menghubungi Anwar ingin menyapa dan mengucapkan terima kasih atas hidangan makan malam yang telah ia terima. Tanpa sadar ia menaikkan kedua kaki ke sofa sambil baring-baring manjah …
“Assalamu’alaikum.” suara Anwar terdengar di tengah kebisingan suara di belakangnya.
“Terima kasih atas kiriman makan malamnya,” senyum Khaira mengembang membuat sosok yang berdiri berjarak 5 meter darinya geleng-geleng kepala melihat tingkah Khaira.
“Ntar ku kirim sekalian orangnya untuk makan malam romantis bersama.” Anwar mulai kembali melancarkan godaannya.
“Jangan lupa mawar seribu tangkai dengan lilin aroma terapi seribu batang,” Khaira menambahkan sambil tertawa lirih.
Tawa Khaira langsung terhenti saat matanya terpaku pada sosok yang memandangnya dengan tatapan yang tak bisa ditebak.
“Ra, Rara …. “ suara Anwar memanggilnya karena pembicaraan mereka telah terpotong.
Khaira bangkit dari sofa. Ia kelabakan, dengan penampilannya yang sangat tidak pantas. Ia mengutuk diri sendiri, kenapa bisa ceroboh hanya menggunakan bathrobe dan handuk di kepala yang sudah ngacir ia lempar sembarangan dan berjalan dengan santai keluar dari kamar.
“Kecantikan yang sempurna,” tak ayal Ivan membatin dalam hati melihat pemandangan yang tersaji di depan mata yang sangat menyegarkan.
Ia menelan ludah dengan suhu tubuhnya yang tiba-tiba memanas. Aroma wangi segar sabun mandi dan sampo menguar hingga sampai ke aroma penciuman Ivan. Ia menelan ludah. Tatapannya tak terlepas dari Khaira yang melihatnya dengan raut penuh kemarahan.
“Apa yang anda lakukan di sini tuan? Perbuatan anda sangat tidak sopan!” Ia mulai berjalan mundur menuju kamar.
Dengan santai Ivan berjalan ke arahnya dan menghadang langkah Khaira. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia akan memulai permainannya. Ia akan membuat janda Abbas tersiksa seperti selama ini yang ia rasakan.
Dukung terus ya, like, vote, kritik dan saran aku padamu .....
__ADS_1