
Mereka menikmati makan dalam diam. Hanya hati dan pikiran masing-masing yang berkecamuk dengan berbagai pertanyaan. Pandangan Linda tak bisa teralihkan pada si mungil yang asyik bermain di samping Faiq. Rasa penasaran mengganggu pikirannya. Kenapa wajah si mungil begitu mirip dengan Adi?
“Sudah berapa cucumu?” tanya Marisa saat makan siang telah selesai. Ia merasa penasaran dengan Linda yang tampak membanggakan anak dan menantunya yang sama-sama dari kalangan berada.
Linda tercenung sesaat, bagaimana ia mengatakan yang sebenarnya. Ia malu mengakui bahwa menantunya yang sekarang adalah istri kedua putranya. “Menantuku sudah 2 kali keguguran. Hingga saat ini mereka belum mempunyai keturunan.” Jawab Linda sendu. Matanya tetap terarah pada si mungil yang asyik sendiri dengan mainannya. Ia dapat melihat perlakuan lembut Faiq yang membelai rambut kriwil si mungil.
“Sekarang mereka sedang menjalani program kehamilan. Sehingga saya harus lebih protektif menjaganya jika hamil lagi. Aku sudah pingin menimang cucu dari menantuku ini.” Senyum sumringah Linda menghiasinya wajahnya yang tetap menarik walau sudah tidak muda.
“Cih..” gumam Faiq kesal sendiri. Rasanya ia ingin menghadiahkan bogem mentah pada Aditama yang kini matanya juga terpaku pada Hasya yang asyik memainkan boneka kelinci yang selalu ia bawa kemanapun pergi.
Fery dan Gigi berpandangan. Rasanya mereka tidak pantas berada di sana. Karena mereka tidak ada kaitan dengan pembicaraan, yang tampaknya mulai diselimuti aura tidak nyaman, “Tuan Darmawan dan semuanya, kami mengucapkan terima kasih atas jamuan ini. Smoga anda selalu sehat.” Ujar Gigi tulus. “Dedek, kita pulang yok.”
Hasya mengalihkan pandangan pada Gigi, sambil menganggukkan kepala, “Papa, dede puyang duyu, ya…” Hasya segera turun dari kursi di samping Faiq dan mencium pipinya sambil tersenyum hingga giginya yang belum semuanya tumbuh nampak lucu. Jemarinya yang montok asyik melambai pada semuanya.
Kesedihan melingkupi hati Adi melihat pemandangan di depannya. Kedua kalinya ia bertemu si mungil yang telah mencuri hatinya. Matanya tak berkedip melihat perlakuan Hasya pada Faiq. Entah kenapa rasanya ia ingin memeluk si mungil dengan erat. Ia sendiri tidak tau, perasaan apa yang mengganggu pikirannya saat memandang si mungil yang cantik dan imut. Matanya telah mengingatkan Adi pada seseorang.
“Tuan Tama, pembicaraan kita, terpaksa ditunda dulu. Nanti akan saya hubungi lagi.” Fery berkata pelan saat berdiri di samping Adi. Rencana awal yang sudah disusun secara matang setahun yang lalu belum bisa terealisasi karena kondisi perusahaannya yang ada di Jepang sedang bermasalah. Oleh karena itu Fery terpaksa menunda pengurusan perizinan perusahaan kontraktornya. Hal itulah yang menyebabkan ia dan Gigi harus bolak-balik ke Jepang untuk mengontrol keadaan perusahaan peninggalan orang tua Fery.
“Baiklah. Ku tunggu informasi selanjutnya.” Adi menganggukkan kepala melihat Fery yang bersiap pergi dengan istrinya dan juga si mungil.
“Yang, kita langsung shopping ya.” Helen mengejutkan Adi yang masih memikirkan si mungil yang bermanja pada Faiq. Wajah imut serta tingkah lucunya telah mencuri hati Adi.
Ia menatap Helen dengan perasaan kosong. Dengan lemah ia mengangguk menuruti kemauan Helen. Akhirnya mereka berpamitan pada Darmawan sekeluarga. Mereka bertiga segera beranjak meninggalkan restoran itu menuju mall terdekat.
“Darimana kamu mengenal balita itu?” rasa penasaran mengganggu Marisa melihat keakraban putranya dengan si mungil yang telah mencuri perhatiannya.
“Namanya Hasya Berliana Putri.” Jawab Faiq. “Ia putri yang tidak diakui ayah kandungnya, sehingga kedua orangtuanya bercerai. Aku yang memutus perkara perceraiannya.”
“Bagaimana ayah kandungnya tidak mengakui perbuatannya sendiri?” Marisa kesal mendengar perkataan Faiq.
__ADS_1
“Tapi bukankah yang tadi itu orang tuanya?” Darmawan ikut nimbrung percakapan Faiq dan istrinya. “Walau harus ayah akui, tidak ada kemiripan dengan wajah keduanya.”
“Ayah benar. Wajah keduanya tidak mirip dengan anak itu.” Timpal Marisa. “Jadi namanya Hasya. Lantas pasangan suami istri tadi…?”
“Aku mengenal keduanya sebagai sahabat orang tua Sasya. Mereka sudah menikah, tetapi belum dikaruniai anak. Sehingga kemanapun mereka pergi, Sasya selalu dibawa, dan diakui sebagai putri mereka.”
“Wah kasian sekali nasibnya. Setiap terjadi perceraian selalu anak yang jadi korban.” Marisa berkata lirih. “Tapi kenapa dia bisa memanggilmu papa?”
Faiq mengingat kembali pertemuan awalnya dengan si mungil, “Pertama bertemu, dia berlari menghampiriku dan langsung memanggil papa. Saat itu aku langsung menyukainya. Ia sangat imut dan menggemaskan.” Tutur Faiq.
“Mungkin ia merindukan sosok seorang ayah.” Ujar Marisa cepat. “Terkadang tiap anak beda, kamu saja saat pertama kali belajar berbicara, yang diucapkan pertama kali ayah bukan ibu, kadang ibu jadi sebel sama ayahmu. Berarti kamu dan si mungil ada kemiripan.” Marisa mengingat kembali masa kecil Faiq yang dibalas Darmawan dengan senyuman.
Faiq tersenyum mendengar ucapan Marisa. “Waktu memutus perkara perceraian orangtuanya, si dedek baru berusia enam bulan. Dan ayahnya tidak mengakui keberadaan Sasya dan menuduh bundanya berselingkuh.” Ia berkata dengan lirih.
Marisa menatap Faiq dengan tatapan curiga. “Apa perasaan ibu tidak salah. Kamu tertarik pada janda itu?” pertanyaan ibunya mengejutkan Faiq yang masih membayangkan wajah Hasya.
Faiq mengangguk tegas, “Saat pertama melihat perempuan itu, aku langsung menyukainya. Dia tampak rapuh, dan sangat menyedihkan.”
“Mungkin itu bukan cinta, hanya sekedar perasaan kasihan sebagai sesama manusia.” Marisa berusaha membantah Faiq dan Darmawan. Ia ingin meyakinkan putranya agar tidak salah dalam memilih pasangan hidup. Karena jika salah, maka kebahagiaan akan menjadi taruhannya.
Faiq menggelengkan kepala dengan yakin, “Aku memang telah jatuh cinta padanya. Perasaan ini masih bertahan, dan sudah 1 tahun aku menunggu untuk mengungkapkan padanya.” Bayangan Hani dengan senyum dan mata teduhnya terlintas di benak Faiq.
Marisa melongo mendengar pengakuan Faiq. Ia tau, Faiq selalu bertanggung jawab setiap yang ia katakan. Rasa penasaran menyelimuti hatinya.
“Namanya Hanifah az-Zahra dia mempunyai saudara kembar bernama Hanif az-Zaidan. Selain putri kecilnya dia mempunyai dua anak laki-laki kembar berumur 5 tahun. Perceraian mereka diakibatkan orang ketiga, dan suaminya menuduh ia berselingkuh hingga melahirkan Hasya.” Faiq bercerita panjang lebar.
“Wah, tragis sekali hidupnya. Sangat menyedihkan…” Marisa turut merasa prihatin mendengar cerita Faiq.
“Ibu tau, mantan suaminya itu adalah Aditama putranya tante Linda. Dia menuduh mantan istrinya selingkuh hingga hamil Sasya. Dan ia tidak mengakui kalau Sasya adalah darah dagingnya sendiri.”
__ADS_1
“Apa?” Sontak kedua suami istri itu terkejut mendengar cerita Faiq. Mereka jadi prihatin atas nasib bocah cantik yang tidak diakui ayah kandungnya sendiri.
“Pantas saja wajahnya sama persis dengan Tama. Aku melihatnya.” Ujar Darmawan menggeleng-gelengkan kepala tak percaya. “Walau tanpa tes DNA aku yakin, siapapun yang melihatnya akan percaya.”
“Apa Tama tau bahwa Sasya itu putrinya. Ibu melihat Tama dan Linda selalu melihat Sasya sejak awal mereka berada di sini tadi…”
“Saya tidak tau tau masalah itu. Tetapi berdasarkan penuturan pengacara mereka, jika Hani tetap ingin menjadi istrinya, ia harus menggugurkan kandungannya yang baru berusia dua bulan.”
“Astagfirullahaladjim…” Marisa menutup mulutnya tak percaya, “Berarti mereka berpisah saat istrinya sedang hamil.”
Darmawan manggut-manggut, “Melihat kejadian tadi, aku yakin, Linda dan Tama tidak menyadari bahwa Sasya adalah darah daging mereka sendiri.”
Marisa menganggukkan kepala. “Apalagi yang kamu ketahui tentang orang tua Sasya…”
“Aku hanya ingin bertanggung jawab dan melindungi mereka, karena perasaanku begitu kuat.” Faiq menghela nafas dengan berat mengingat penderitaan yang dialami Hani. “Tante Linda tidak senang mempunyai menantu dari kalangan biasa, sehingga ia tidak meyetujui saat suaminya menjodohkan Tama dan Hani.”
“Berarti yang dikenalkan Linda tadi adalah istri mudanya.” Marisa berusaha merangkai kejadian di depan matanya secara tepat, “Ternyata sifat angkuhnya tidak berubah dari dulu. Ia masih suka membeda-bedakan kehidupan orang lain. Apa pekerjaan menantu Linda?”
Faiq mengangguk mendengar ucapan ibunya, dan ia berusaha menjawab pertanyaan yang dilontarkan Marisa berdasarkan yang ia tau, “Namanya Helen, mantan sekretarisnya.”
Darmawan memandang Faiq dengan seksama. Ia berpikir dengan cermat, mendengar ucapan Faiq. Setelah terdiam beberapa saat ia berkata, “Apapun pilihanmu ayah setuju. Kalau memang niatmu menikah karena ibadah, dan telah menemukan cinta sejatimu, maka perjuangkanlah.”
“Ibu juga setuju dengan ayah. Gadis kecil itu telah mencuri hati ibu. Bawalah mereka secepatnya ke rumah.” Marisa jadi bersemangat mendengar cerita Faiq. Ia benar-benar tidak menyangka kalau Linda sahabat baiknya menyembunyikan fakta sebenarnya. Dan ia sakit hati mendengar perlakuan Linda terhadap menantu dan cucu-cucunya.
“Alhamdulillah. Terima kasih atas restu ibu dan ayah.” Faiq merasa lega karena kedua orang tuanya menyetujui pilihan hatinya. Tinggal ia yang berjuang untuk mendapatkan hati Hani.
__ADS_1