Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 231 S2 (Luka Tapi Tak Berdarah)


__ADS_3

Khaira terduduk lunglai menyadari kenyataan bahwa Ivan telah meninggalkannya demi seorang anak yang ia miliki di masa lalu. Ia tak mampu berbuat apa-apa. Ujian kali ini membuatnya benar-benar terpuruk.


Ia menekan dadanya yang terasa nyeri. Perasaan sedih terasa menghunjam ke jantung. Ia merasa kecewa atas tuduhan keji Ivan terhadapnya. Rasa sayangnya terhadap Bryan begitu kuat, tetapi Ivan menyangsikannya. Khaira yakin bahwa Claudia  yang mendorong kursi roda Bryan, karena tidak ada orang lain lagi diantara mereka berdua.


Teringat perkataan Cladia yang menceritakan rahasia besar yang tak pernah Ivan ungkapkan padanya membuat Khaira merasa terpuruk ke lubang yang paling dalam. Setelah tiga tahun pernikahan terjalin antara ia dan Ivan baru ia ketahui bahwa ada rahasia yang Ivan sembunyikan darinya.


“Ya, Allah kuatkan hamba-Mu menjalani cobaan ini,” Khaira menepuk dadanya berulang-ulang. Ia berusaha melupakan perkataan Claudia yang benar-benar membuatnya terpuruk untuk kesekian kali. Bagaimana tidak, Claudia membawa rekaman pembicaraan yang terjadi antara ia dan Sandra tentang peristiwa kematian Abbas.


“Kamu tidak akan pernah berbahagia bersama Alex,” itulah perkataan Claudia yang masih memprovokasinya  sepeninggal Ivan berangkat ke kantor.


Dengan santai Khaira tersenyum membalas ucapan Claudia. Ia masih asyik menyiram bunga mawar yang mulai bermekaran di taman samping.


“Ada satu rahasia yang Alex sembunyikan dalam pernikahan kalian,” melihat Khaira yang santai membuat Claudia semakin gencar, “Alex tidak pernah mencintaimu.”


“Kamu bisa menyaksikan sendiri perlakuan mas Ivan terhadapku,” jawab Khaira santai.


“Kamu tidak tau, Alexlah penyebab kematian calon suamimu,” ujar Claudia seketika.


Dengan membawa perasaan luka yang teramat dalam, Khaira bangkit dari keterpurukannya. Ia segera membasuh wajahnya dengan air dan mengambil wudhu, bertepatan dengan azan Magrib.  Ia terpekur di tikar sembahyang, menyadari bahwa kini tidak ada lagi Ivan yang selalu mengimami salat saat ia berada di rumah.


Air mata Khaira kembali terjun bebas. Ia tidak pernah menyangka bahwa Ivan juga penyebab kepergian Abbas. Kenyataan yang benar-benar pahit. Ia merasa seperti langit menimpa kepala mengetahui kenyataan sebenarnya.


Ia sadar, semua yang ia alami memang atas izin Allah, dan hanya kepada Allah-lah tempat ia mengadukan semua kepedihan yang ia alami. Tapi mengetahui peristiwa tragis yang menimpa Abbas membuat ia tak bisa menghapus butiran air mata yang kembali tergenang.


Suara ribut samar-samar terdengar hingga ke kamarnya. Khaira masih enggan untuk bangkit dari duduk setelah melaksanakan salat Isya. Ia merasa nyaman mengadukan semua permasalahan yang ia hadapi kepada Sang Pemilik jiwa raganya.


Ia tidak meminta Ivan untuk kembali padanya, ia hanya meminta untuk dikuatkan dalam menjalani ujian yang kini menderanya. Ia tau, sekuat apapun ia berusaha menahan suaminya, tapi jika yang ingin dipertahankan sudah tidak ada rasa, tentu saja semua akan berakhir sia-sia. Apa lagi mendengar cerita Claudia membuat perasaannya semakin tak menentu.


Ketukan di pintu kamar membuat Khaira mengakhiri khalwatnya bersama sang pemilik kekuasaan. Dengan mata merah ia turun ke bawah. Ia terkejut melihat keempat saudaranya dan iparnya Valdo sudah duduk dengan wajah tegang di ruang keluarga.


“Ini yang aku khawatirkan. Perempuan itu ular berbisa,” Hasya langsung berkata dengan emosional.


“Hanya gara-gara kamu tidak bisa memberikan Ivan seorang anak, bukan berarti jadi alasan Ivan meninggalkanmu,” Ali mengeluarkan pendapatnya.


“Apakah Ivan mengatakan akan menceraikanmu untuk menikahi Claudia yang telah memberinya seorang anak?” pertanyaan Fatih membuat Khaira tercekat.


Ia tidak tau harus mengatakan apa. Tapi dari ucapan Ivan siang tadi, ia yakin tinggal  menunggu waktu Ivan mewujudkan pertanyaan Fatih barusan.


“Apa kamu rela dengan semua perbuatan mereka padamu?” Hasya menatapnya dengan perasaan berkecamuk. Tak tega ia melihat kesedihan di wajah adiknya.


“Aku pasrah mbak. Mungkin mas Ivan memang menginginkan anak. Dan jodoh kami hanya sampai di sini,” Khaira masih berusaha membela suaminya, “Ada anak yang mengikat mereka berdua …. “

__ADS_1


Ia tau kesalahan bukan sepenuhnya pada Ivan. Khaira sadar diri, ia bukan perempuan sempurna. Bukan keinginannya tidak mempunyai anak, tapi kenyataannya bahwa Ivan memang memiliki seorang putra dari hubungan masa lalunya.


“Mana janjinya dulu?” Hasya masih emosi, “Ia tidak akan menuntut anak darimu, dan akan menjagamu kecuali maut yang memisahkan.”


Mendengar ucapan Hasya membuat Khaira tak bisa lagi menahan tangisnya. Ia kembali bersedih, menyadari bahwa Ivan sudah tidak lagi berada di sisinya dengan rahasia besar yang tidak mungkin ia ceritakan pada saudaranya. Musibah yang ia hadapi sekarang ibarat sudah jatuh, tertimpa tangga lagi.


Melihat kembarannya yang begitu terpukul, Fatih langsung memeluk Khaira berusaha memberikan kekuatan pada kembarannya itu.


“Sudahlah,” Ariq berusaha mengingatkan Hasya untuk mengontrol emosinya.


Ia menatap Khaira yang masih terisak-isak di pelukan Fatih. Tak terasa air matanya menetes melihat nasib malang yang menimpa adik perempuan mereka untuk kesekian kali.


“Apa yang ingin kamu lakukan sekarang? Mas tau, kamu seorang perempuan yang kuat. Kita akan selalu saling menguatkan. Jangan pernah merasa sendiri. Kesedihanmu dan deritamu adalah kesedihan dan derita kami juga,” Ariq menepuk pundak Khaira berusaha menguatkan.


“Kita akan selalu mendukung apa pun keinginanmu,” Ali juga berkata pelan, “Jika kamu ingin menyusul Junior ke Jepang, kami akan memfasilitasinya. Semua demi kebaikanmu. Kamu bisa memulai pendidikan atau hanya sekedar refreshing untuk melupakan semua peristiwa buruk yang telah terjadi.”


“Jangan habiskan air matamu untuk lelaki tak bertanggung jawab seperti Ivan. Masa depanmu masih panjang. Kamu masih muda.” Ariq berkata dengan pelan begitu Khaira mulai tenang duduk di sampingnya.


Melihat  semua saudara yang berada di sisinya membuat Khaira terharu. Ini bukan kali pertama ia mengalami ujian kehidupan. Dan ia merasa bersyukur semua saudaranya tak pernah membiarkan ia terpuruk sendiri.


“Dari awal saat perempuan itu datang memasuki rumahmu aku sudah merasa khawatir,” Hasya berkata dengan pelan.


Khaira terdiam, begitu pun saudaranya yang lain. Ia masih mengingat saat empat bulan yang lalu Ivan membawa Bryan untuk tinggal bersama karena alasan kesehatan Bryan yang tidak baik. Ivan juga telah memfasilitasi Claudia dengan memberinya segala kemewahan dengan alasan karena dia orang yang telah melahirkan Bryan.


Ali mengangguk membenarkan perkataan Hasya, “Sudah banyak kejadian seperti itu,” timpalnya.


“Aku mempercayai cinta Ivan padamu. Tapi keinginan yang kuat untuk memiliki anak dan kebetulan ia telah mempunyai anak di masa lalu membuat Ivan terobsesi,” Ariq berkata dengan pelan, “Ia ingin memiliki seseorang yang akan mewarisi semua harta yang ia miliki.”


“Sebenarnya mereka bisa program bayi tabung,” Valdo menyela pembicaraan istri dan iparnya.


“Mas tau, kalau ade diperkirakan sulit untuk mempunyai anak?” Hasya menatap Valdo seketika, “Dr. Riska telah mengatakan itu padaku.”


“Kapan?” kini semua mata memandang Hasya dengan sorot penasaran karena baru mendengarnya kali ini.


“Tiga minggu yang lalu kami berdua sama-sama mengikuti seminar  Kesehatan Ibu dan Anak di hotel Sartika. Saat itulah dr. Riska menceritakan keadaan ade.”


Khaira menelan ludah dengan getir. Ia sudah mengetahui hal itu saat Ivan berjanji akan tetap setia padanya walau pun tanpa keturunan yang akan menguatkan pernikahan mereka.


“Apa yang kamu inginkan sekarang?” Hasya menatap Khaira dengan lekat.


Khaira menggelengkan kepala dengan lemah. Ia belum bisa memutuskan sekarang, semuanya serba cepat dan di luar kendalinya.

__ADS_1


“Jika kamu yakin dan ikhlas menjalani takdirmu untuk berpisah dengan Ivan. Kita akan mengurus semuanya dengan cepat,” ujar Ali kemudian.


“Apa yang ia katakan padamu sebelum kepergiannya?” Ariq jadi penasaran karena tidak mengetahui kronologis kejadian antara Ivan dan adiknya.


“Mas Ivan menyerahkan rumah ini, dan mungkin tidak akan kembali dalam waktu yang lama…. “ bayangan wajah Ivan saat mengatakannya membuat hati Khaira kembali tergores.


“Apa kau ingin tetap tinggal di sini?” Fatih bertanya dengan cepat.


Khaira menggeleng. Terlalu banyak kenangan yang ada di dalam rumah ini. Semuanya tentang yang manis dan indah.


“Aku akan membereskan semua pakaianku. Mulai besok aku ingin kembali ke rumah oma,” akhirnya Khaira membuat keputusan terbesar dalam hidupnya.


Ia tidak ingin menatap ke belakang, cukup baginya menjadi bagian dari rumah ini dalam waktu tiga tahun. Ia memutuskan tidak akan pernah kembali ke rumah ini, rumah yang telah memberinya rasa senang, bahagia bahkan rasa sakit yang bersamaan membuatnya kembali jatuh dalam kesedihan.


Mereka berbincang hingga tak terasa malam semakin larut hingga jam dinding berdentang sebanyak 10 kali. Hasya berkali-kali menguap menahan kantuk. Melihat wajah-wajah saudaranya yang penuh kekhawatiran membuat senyum tipis terbit di wajah Khaira. Ia benar-benar bersyukur Allah memberikan ia saudara yang sangat pengertian dan selalu berada di sampingnya ketika dirinya merasa terpuruk sendiri.


Melihat senyum yang mulai terbit di wajah Khaira, membuat saudaranya merasa sedikit lega. Walau pun mereka menyadari tidak semudah itu Khaira melupakan kesedihan akibat perpisahan dengan lelaki yang telah mengisi sepenuh hatinya.


Saat kembali ke dalam kamar, hati Khaira merasa kosong. Tiada lagi kehangatan dan kemesraan yang akan tercipta di kamar ini. Semuanya telah berakhir mulai hari ini.


Khaira membongkar lemari yang berisi dokumen penikahan yang ia miliki bersama dengan Ivan. Ia  mengambil buku pernikahan miliknya dan Ivan. Dengan perasaan sedih ia mulai mengeluarkan tas kecil  untuk menempatkan buku nikah yang telah ia keluarkan. Tidak banyak yang Khaira bawa, karena semua yang ada di dalam rumah ini adalah pemberian Ivan.


Khaira mulai melepas cincin kawin serta kalung pemberian Ivan. Ia tidak ingin membawanya, karena hanya membuatnya kembali bersedih mengingat kegagalan rumah tangga yang ia jalani bersama Ivan.


Semua perhiasan ia satukan ke dalam kotak yang masih tersimpan utuh di dalam lemari yang berada di walk-in closet, ponsel pemberian Ivan pun ia satukan di sana. Tidak ada keinginan Khaira untuk membawanya. Biar semua terkubur di rumah ini bersama dengan cintanya yang telah tumbuh subur pada sang suami.


Pagi-pagi sekali Khaira menemui Bi Risma untuk menyampaikan keinginannya yang akan segera pergi dari rumah.


“Apa nyonya tidak menunggu tuan?” walau pun Khaira tidak bercerita tapi, bi Risma dapat melihat semua tindakan Ivan saat berbicara dengan Khaira di ruang makan.


Ia sangat menyesalkan sikap gegabah Ivan yang memutuskan semuanya dalam keadaan emosi. Tapi ia bisa apa? Dirinya hanyalah seorang asisten rumah tangga yang digaji untuk mengurus rumah tangga yang tentu saja saran dan pendapatnya tidak akan didengar oleh sang empunya rumah.


“Maafkan saya bi, jika selama di rumah ini membuat bi Risma dan teman-teman yang lain merasa tidak nyaman,” Khaira berkata lirih.


Ia sudah merasa dekat dengan asisten senior di rumah mereka. Tapi kenyataan berkata lain, kedekatan yang ada tidak bisa bertahan lama. Ia harus menyudahi semuanya.


Bi Risma meneteskan air mata saat Khaira memeluknya dengan erat, berusaha membuang rasa sedih yang tiba-tiba hadir.


“Nyonya tidak bersalah, semua ini ujian hidup. Nyonya harus kuat,” bi Risma berkata dengan getir.


Ia sangat menyayangi nyonya mudanya yang baik hati dan ringan tangan selalu membantu mereka jika tertimpa musibah, dan selalu memberikan bonus yang berlebihan di saat hari raya.

__ADS_1


“Kami akan selalu merindukan nyonya …. “


Khaira berusaha menghapus deraian air mata yang jatuh tak terkendali saat ia mulai melangkahkan kaki meninggalkan rumah yang penuh kenangan kemesraan yang terjadi antara ia dan Ivan.


__ADS_2