
Saat Ivan telah memarkirkan mobil bertepatan dengan suara azan yang menggema di masjid yang kebetulan posisinya di samping tanah lapang tempat parkir mobil.
“Kita salat dulu Yang …. “ Ivan merapikan baju batik yang ia pakai karena sedikit kusut.
“Ya Mas … “ Khaira mengikuti langkah Ivan menuju masjid.
Setelah melaksanakan salat Zuhur, keduanya segera melangkahkan kaki memasuki rumah yang menjadi tempat pelaksanaan pernikahan Roni.
“Rumahnya sudah banyak perubahan dari terakhir mas kemari,” ujar Ivan sambil mengaitkan jemarinya pada jemari Khaira.
“Mas pernah kemari?” Khaira menatap suaminya heran.
“Benar. Waktu itu kami mencari tempat untuk lokasi syutting iklan serta beberapa film pendek,” ujar Ivan tersenyum.
Mengingat sudah hampir delapan tahun ia tidak menginjakkan kaki ke Indramayu. Banyak perubahan yang terjadi setelah kini ia menginjakkan kaki kembali.
Melihat senyum lebar yang muncul di bibir Ivan membuat Khaira melengos. Ia melepas genggaman jemari suaminya. Ia tau apa yang ada di pikiran suaminya. Masa lalu berwarna yang pernah dialami suaminya membuat goresan kenangan menyedihkanpun melintas di benaknya.
“Yang …. “ Ivan terkejut menyadari perubahan wajah istrinya.
Dengan cepat ia merangkul pinggang Khaira agar tidak berjalan menjauh darinya. Ia tau apa yang ada dipikirkan Khaira. Ia tak ingin merusak momen manis yang baru terbina dengan perhatian yang Khaira berikan sepanjang perjalanan menuju kediaman Roni.
“Alhamdulillah Bos datang!” seruan Hari mengejutkan Ivan dan Khaira yang memasuki pekarangan rumah.
“Assalamu’alaikum …. “ Khaira langsung mengucap salam melihat Hari yang senang menyambut kedatangan mereka berdua.
“Wa’alaikumussalam,” Hari menjawab dengan senyum lebarnya, “Langsung masuk Bos, udah ditunggu mempelai pria dari tadi.”
“Terima kasih Har,” Ivan tersenyum sambil menganggukkan kepala.
Ia kembali menyatukan jemarinya dengan Khaira yang masih mengamati suasana di dalam tenda yang telah terpasang dekorasi yang lumayan mewah.
“Van …. “ suara perempuan memanggilnya membuat Ivan menoleh.
Khaira tertegun. Tampak Sandra dengan penampilannya yang selalu membuat lelaki tak bisa berpaling berjalan mendekati mereka. Perutnya kelihatan berisi, mungkin usia kehamilannya diperkirakan lima bulan. Kecantikannya tidak pernah pudar seperti pertama kali Khaira bertemu di gerai perhiasan miliknya.
Khaira merasa genggaman tangan Ivan semakin kuat di jemarinya. Akhirnya ia pun berhenti karena Sandra kini berdiri tepat di hadapan keduanya.
“Apa kabarmu?” tatapan Sandra begitu lekat pada Ivan.
Ia tak mempedulikan kehadiran Khaira yang berdiri dengan tangan saling berkaitan dengan Ivan. Pandangannya hanya fokus pada Ivan.
“Aku dan keluargaku sangat baik,” jawab Ivan datar menatap Sandra sekilas kemudian mengalihkan pandangan sambil mengulas senyum pada Khaira.
Tak ayal Khaira membalas senyum suaminya sambil menganggukkan kepala. Ia harus menunjukkan di depan Sandra bahwa mereka pasangan mesra. Dengan santai ia merapatkan tubuhnya pada Ivan. Eh ….
Ivan mencium tangan Khaira yang berada dalam genggamannya. Ia merasa bahagia melihat ketulusan yang tergambar dari senyum istrinya. Tatapannya kembali pada Sandra yang tidak senang melihat perlakuannya pada Khaira.
“Wah, kelihatannya kamu sedang hamil sekarang,” Ivan melihat perut Sandra sekilas, “Selamat ya …. “
“Aku menikah siri dan mengandung anak Michael,” ujar Sandra sambil mengerling Khaira sekilas, “Sekarang kami telah berpisah.”
Tidak ada nada kekecewaan atau pun kesedihan yang terpancar di wajah Sandra saat mengatakannya, malahan kelihatan kalau ia senang dengan kondisi yang ia alami.
“Maafkan aku dan Rara. Kami akan menemui Roni,” Ivan mulai merasakan hawa berbeda mendengar ucapan Sandra, “Mari sayang …. “
__ADS_1
Sandra merasa kesal melihat sikap dingin yang ditunjukkan Ivan. Kabar terakhir yang ia dengar sang mantan telah berpisah. Ia hanya terdiam melihat Ivan yang berjalan dengan cepat menggandeng istrinya menghampiri Roni yang sudah berdiri melihat kedatangannya.
“Alhamdulillah, Bos sampai ke rumahku,” Roni langsung memeluk Ivan merasa bersyukur atas kedatangannya, “Ku harap Bos bersedia menjadi saksi dalam pernikahanku.”
Ivan melihat kiri dan kanannya. Roni membawanya mendekat pada meja yang sudah ada tiga orang empat orang lelaki dewasa yang menunggu kedatangannya.
“Nak Ivan …. “ suara lelaki parobaya kembali membuat Ivan menoleh arah suara yang sepertinya ia kenal.
“Om Guna …. “ Ivan menyapa lelaki parobaya yang ternyata adalah ayah Sandra yang masih ia kenal. Dan waktu telah membuatnya semakin menua.
“Om Guna adalah paman Miska calon istriku. Beliau-lah yang akan menjadi wali nikah kami,” Roni berbisik pelan melihat Ivan yang wajahnya langsung berubah melihat orang-orang dari masa lalu yang tidak ingin ia temui.
Ivan berusaha mencari keberadaan Khaira di tengah ramainya keluarga besar Roni dan istrinya yang menyaksikan prosesi ijab kabul. Ia merasa kesal karena sosok Khaira tidak nampak di hadapannya.
Begitu ijab qabul telah selesai dan menyalami kedua belah pihak, Ivan segera melangkah untuk mencari keberadaan istrinya. Badannya terasa semakin tidak nyaman, keringat dingin terus mengalir membasahi kemeja batiknya.
“Nak Ivan …. “ om Wiguna berusaha menghadang langkah Ivan yang bergegas meninggalkan kursi tempat prosesi pernikahan telah dilaksanakan.
Dengan menahan kekesalan Ivan menghentikan langkah. Ia tidak tau apa yang diinginkan ayah Sandra yang telah menahan langkahnya. Ia berprasangka baik dan berusaha menghargai lelaki sepuh yang kini telah berdiri tegak di hadapannya.
“Ada apa om?” Ivan langsung mengajukan pertanyaan tak ingin terjebak terlalu lama dengan orang yang tidak ada kaitan dengan dirinya.
“Apa nak Ivan sudah bertemu dengan Sandra?” om Wiguna memandangnya penuh harap.
“Sudah,” Ivan meengangguk cepat, “Selamat ya, sebentar lagi om akan segera mendapat cucu.”
“Nak Ivan, Sandra sudah berpisah dengan suaminya.”
“Dia sudah mengatakannya,” jawab Ivan cepat matanya mulai memandang orang-orang yang berada di dalam tenda berusaha mencari sosok istrinya.
Ivan tersenyum tipis. Kini ia menyadari maksud pembicaraan ayah Sandra. Dengan cepat ia menggelengkan kepala.
“Bukankah kalian pernah dekat dan saling mencintai. Om tau, kamu pernah menyiapkan lamaran untuk Sandra …. “ om Wiguna berusaha membujuk dan membuka hati Ivan.
“Maafkan saya Om. Saya telah menikah dan memiliki keluarga sendiri. Apa yang terjadi antara saya dan Sandra itu hanya masa lalu yang telah lama saya lupakan,” Ivan berkata dengan cepat.
Akhirnya yang ia cari ketemu. Ia melihat Khaira sedang berbincang dengan Roni dan istrinya bersama Hari di dekat meja tamu VIP.
“Permisi Om,” tanpa menunggu jawaban om Wiguna Ivan langsung mengarahkan langkahnya mendekati Khaira yang kini tinggal berdua Hari, karena Roni dan istrinya mulai menduduki kursi pelaminan.
“Yang …. “ Ivan langsung menggamit pinggang ramping istrinya.
Keringat dingin masih bercucuran di wajah Ivan. Rasanya ia ingin segera berlalu dari keramaian pernikahan Roni, tapi ia merasa tidak nyaman dengan para tamu yang masih berdatangan memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai.
Khaira menatap wajah Ivan dan meraih jemari Ivan yang masih terasa dingin tidak ada perubahan sama sekali. Ia semakin khawatir.
“Pak Hari, apa anda mengenal dokter yang berada di sekitar sini?” Khaira tak bisa menahan diri lebih lama.
“Siapa yang sakit?” Hari merasa heran dengan permintaan nyonya bos.
“Mas Ivan kondisinya tidak baik,” Khaira berkata dengan penuh kecemasan.
“Yang, mas hanya kurang istirahat,” sela Ivan cepat.
“Tidak,” Khaira berkata tegas, “Aku ingin mengantar mas ke dokter sekarang.”
__ADS_1
Hari memandang wajah bosnya. Kini ia menyadari apa yang dikatakan Khaira benar. Ia melihat wajah Ivan yang pucat dengan keringat terus mengalir menganak sungai.
“Biar saya yang mengantar Bos dan nyonya ke tempat praktek dokter,” Hari memutuskan dengan cepat.
Ivan segera menyerahkan kunci mobil ke tangan Hari. Badannya memang terasa lemah. Tapi ia tidak ingin membuat Khaira semakin khawatir dengan kondisinya.
Ivan segera menggandeng Khaira untuk berpamitan dengan kedua mempelai. Tak lupa Ivan menyerahkan amplop sebagai kado pernikahan buat Roni dan istrinya yang akan memulai hidup baru yang jumlahnya lumayan untuk menambah modah usaha meubel Roni yang semakin berkembang.
“Terima kasih Bos,” Roni kembali memeluk Ivan dengan perasaan terharu.
Ia merasa bangga dan bahagia karena Ivan telah sudi datang memenuhi undangan bahkan menjadi saksi di pernikahannya.
“Semoga pernikahannya langgeng, keluarganya samawa dan segera dianugerahi keturunan yang saleh soleha …. “ Khaira berkata dengan tulus saat memeluk Miska istri Roni.
“Terima kasih mbak Rara …. “ Miska merasa terharu dengan ucapan dan doa tulus yang diucapkan istri bos suaminya.
“Kami pamit Ron,” Ivan berkata dengan cepat.
“Bos tidak ingin menikmati hidangan yang tersedia?” Roni berusaha menahan Ivan untuk mencicipi menu yang telah disediakan.
“Tak usah Ron. Khawatir kemalaman pulang ke rumah. Kasian si kembar,” Ivan menjawab dengan buru-buru.
“Mas …. “
“Kita cari makan di luar saja,” Ivan berkata pelan saat Khaira merasa keberatan atas ucapannya.
Padahal Khaira bermaksud mengajaknya menikmati hidangan terlebih dahulu agar tubuhnya lebih hangat jika diisi dengan makanan.
Hari sudah menunggu di mobil Ivan ketika melihat keduanya keluar dari rumah mempelai tempat resepsi diadakan. Ketiganya akhirnya meninggalkan kediaman Roni yang semakin ramai didatangi para tamu undangan yang tak putus-putus.
Saat di dalam mobil, Ivan merasa badannya lemah. Ia menyandarkan bahunya di pundak Khaira dan mulai memejamkan mata.
Dari kaca dahboard mobil Hari melihat semua kelakuan bosnya yang tampak bermanja dengan sang istri. Ia tersenyum sambil bersenandung kecil tak ingin mengganggu kemesraan yang sedang terjadi.
Karena ini hari Minggu ternyata banyak praktek dokter yang tutup. Khaira semakin cemas karena sudah satu jam perjalanan mereka tidak menemukan satupun tempat praktek yang buka.
“Kita mampir ke rumah sakit saja Mbak. Biasanya ada dokter jaga,” Hari menyarankan karena kasian melihat Khaira yang semakin gelisah dengan kondisi drop suaminya.
“Terserah pak Hari saja,” Khaira sudah pasrah.
Hari membelokkan mobilnya ke rumah sakit pemerintah kabupaten Indramayu yang selalu standy. Mereka langsung membawa Ivan menuju ruang IGD.
Saat dokter jaga memeriksa kondisi Ivan, beliau hanya mengatakan bahwa Ivan kurang istirahat dan memberikan beberapa obat serta multivitamin yang harus segera dikonsumsi.
“Har, carikan hotel untuk kami menginap,” Ivan merasakan fisiknya sudah tidak mampu untuk melakukan perjalanan.
“Mas, kenapa kita tidak pulang saja. Mbak Sasya dan mas Valdo akan merawatmu,” Khaira berusaha menolak keinginan Ivan.
Ia tidak ingin terlalu lama meninggalkan Fajar dan Embun, apalagi dengan kondisi Ivan yang lemah dan mereka masih tiga jam perjalanan menuju rumah.
“Mas ingin segera berbaring,” Ivan berkata dengan lemah tak bertenaga.
“Baik Bos,” Hari menjawab cepat.
Ia segera memutar mobil begitu memasuki kawasan Grand Trisula Hotel. Setelah memarkirkan mobil, ketiganya segera menuju meja resepsionis.
__ADS_1
*** Apa yang terjadi pemirsah\, sudah banyak yang menantikan adegan pemersatu bangsa. Hayoo ngakuuuuu ***