
Khaira duduk bersama Laras di taman belakang. Ia memang berniat mengunjungi rumah mertuanya begitu turun dari rumah mereka. Ia tidak ingin Laras kecewa karena keputusannya meninggalkan rumah yang telah Ivan serahkan atas namanya.
“Mama tidak bisa menyalahkan Ivan atas keputusannya,” Laras merasa serba salah.
Khaira diam tak menjawab. Ia yakin bahwa Laras telah mengetahui semuanya. Apalagi Laras sangat senang mengetahui bahwa ia telah memiliki seorang cucu walau pun itu bukan dari menantu kesayangannya.
Memang benar apa kata orang, darah itu kental. Dan Khaira merasakannya sendiri, betapa Laras memuji Bryan sebagai cucu yang sangat tampan, mewarisi ketampanan sang daddy yang membuatnya bangga.
“Mama harap kamu kuat menjalani semua,” Laras menatap Khaira dengan perasaan berkecamuk, “Kalian sudah sama-sama dewasa, dan bisa mengambil keputusan yang terbaik untuk kehidupan kalian.”
“Maafkan aku ma, karena tidak bisa mempertahankan pernikahan kami,” Khaira berkata dengan getir.
“Itu sepenuhnya bukan kesalahanmu,” Laras menatapnya sekilas, “Sebenarnya mama tidak percaya kamu yang mendorong Bryan ke dalam air, tapi kenyataannya Ivan menyaksikan sendiri.”
Khaira tercekat. Semua telah menuduhnya dengan sadis. Bagaimana mungkin ia mampu membela diri, jika orang yang paling ia percaya telah menolak kebenaran yang ia katakan.
Suasana hening beberapa saat. Hanya hati masing-masing yang berbicara mengungkapkan perasaan yang berbeda.
“Claudia sudah berjanji pada mama untuk mengikuti kepercayaan kita jika tiba masanya untuk menikah dengan Ivan.”
Khaira terhenyak mendengar perkataan Laras. Berarti dia orang terakhir yang mengetahui kebenaran ini bahwa sudah ada percakapan tentang kelanjutan hubungan suaminya dan sang mantan.
“Ia rela menjadi istri kedua jika Ivan mau menikahinya,” Laras menghela nafas pelan, “Ivan tidak ingin menduakanmu, walau pun ada keinginannya untuk memberikan pengakuan pada Claudia dan memberikan keluarga yang utuh pada Bryan.”
Jantung Khaira berdetak semakin cepat mengetahui bahwa Ivan pun memiliki keinginan yang sama untuk meresmikan hubungannya dan Claudia demi Bryan putra semata wayang dan darah dagingnya.
“Maafkan saya ma. Mungkin ini yang terbaik bagi kami … “ hanya kata-kata itu yang mampu diucapkan Khaira saat berpamitan pada mertuanya yang tak lama lagi juga akan menjadi mantan.
“Maafkan Ivan ya sayang …. “ Laras memeluknya dengan erat, “Mungkin jodoh kalian hanya sampai di sini.”
Dengan lunglai Khaira turun dari rumah Laras menuju mobil Valdo yang telah menjemputnya sejak awal dan akan mengantarkannya kembali ke rumah oma.
Hasya yang berada di dalam mobil bersama sang suami dapat melihat kesedihan yang tergambar di wajah adiknya. Ia tidak ingin berkomentar lagi. Ia biarkan Khaira mengobati lukanya seorang diri. Ia yakin dengan berjalannya waktu Khaira pasti mampu melewati semuanya.
Hari ini Khaira malas untuk beraktivitas yang membuatnya bertemu dengan orang banyak. Ia telah menyerahkan pengelolaan Kara Jewellery pada Fatih, begitupun pengelolaan Kafe. Ia ingin menyendiri dan berbagi kehidupan dengan orang-orang yang tidak beruntung di luaran sana. Ia sudah tidak memikirkan diri sendiri lagi.
Dengan santai ia mengendarai mobil lama milik almarhum Abbas yang selalu dipelihara mang Kodir di rumah oma. Khaira tidak tau sudah berapa jauh jarak yang ia tempuh saat azan Magrib membuatnya memutar mobil untuk singgah di sebuah masjid yang berada di dalam sebuah kompleks.
Begitu memasuki masjid hatinya merasa tenang. Ia heran melihat jemaah yang berdatangan masih sangat muda belia, baik yang perempuan maupun yang laki-laki.
Setelah melaksanakan salat Magrib, tiada keinginan Khaira untuk kembali ke mobil. Di sini ia merasakan ketenangan dan kedamaian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Sejenak ia bisa melupakan kenangan tentang Ivan dan kesedihannya.
Seorang perempuan yang usianya di atas Khaira menghampirinya yang masih memejamkan mata sambil duduk menenangkan diri.
“Assalamu’alaikum …. “ sapaan ramah membuat Khaira membuka matanya.
“Wa’alaikumussalam,” jawab Khaira cepat.
__ADS_1
Perempuan itu duduk di sampingnya, membuat Khaira segera menegakkan tubuh dan memandang wajah di depannya dengan bingung.
“Adek ini dari luar kota ya?” senyum ramah masih terpancar di wajahnya yang bersih, “Perkenalkan nama saya ustadzah Fatimah istri dari ustadz Hanan al Farouq pemimpin pondok pesantren Al-Ijtihad di sini.”
“Oh ya, maafkan saya ustadzah, karena lancang menumpang salat tanpa permisi dengan pimpinan pondok di sini ….” Khaira merasa tidak nyaman sekarang. Ia bergegas membuka mukena untuk segera berlalu dan kembali pulang.
“Adek jangan salah sangka,” ustadzah Fatimah menghalangi Khaira yang ingin bangkit dan berlalu.
Khaira mengurungkan niatnya setelah melihat ketulusan yang tergambar dari perempuan di hadapannya.
“Saya dapat merasakan bahwa adek bukan orang sini. Tempat ini jauh dari keramaian, sangat berbahaya kalau melanjutkan perjalanan di malam hari melewati wilayah sini,” ustadzah Fatimah menatapnya dengan lekat.
“Apa tidak masalah saya menumpang malam ini?” Khaira bertanya dengan penuh harap, “Di sini saya menemukan ketenangan dan kedamaian….”
“Mari ikut saya. Akan saya perkenalkan dengan para ustadzah yang masih lajang dan tinggal di kompleks pesantren ini,” ustadzah Fatimah berkata dengan ramah.
“Alhamdulillah. Terima kasih ustadzah,” Khaira merasa lega karena menemukan tempat yang memberikan ketenangan dan kenyamanan bagi hatinya yang sedang sekarat.
Ustadzah Fatimah menganggukkan kepala dengan santun. Khaira mengikuti langkah ustadzah Fatimah menuju ruangan tempat penginapan bagi ustadzah yang belum bekeluarga..
Ia merasa bahagia mendapat sambutan dari beberapa ustadzah yang usianya lebih muda darinya dengan penuh hormat. Mereka sempat berkenalan dan beramah tamah. Melihat para perempuan muda yang berwajah teduh dengan perilaku santun membuat Khaira merasa berada di rumah sendiri.
Saat azan Subuh berkumandang Khaira langsung terbangun. Ia menatap sekelilingnya, para ustadzah muda sudah tidak ada satu orang pun yang tinggal di penginapan tempatnya berada. Khaira pun bangkit menuju masjid yang kini di penuhi para santiwan dan santriwati yang berbaris dengan teratur karena waktu salat telah masuk.
Setelah melaksanakan salat Subuh dan mendengar kultum yang disampaikan ustadz Hanan selaku pimpinan ponpes membuat perasaan Khaira semakin nyaman dan tenang. Pilihannya untuk mampir menumpang salat telah memberikan jalan baginya menemukan ketenteraman.
Senyum terbit di wajahnya menyadari rencana yang akan ia lakukan. Ia ingin membantu untuk melengkapi segala fasilitas yang sangat memprihatinkan. Di asrama para ustadzah ia juga melihat matras yang sudah tidak layak pakai serta selimut yang cukup memprihatinkan.
“Bagaimana perasaan adek?” tutur lembut ustadzah Fatimah menyapa Khaira yang berdiri melihat kolam ikan yang tersedia di belakang pondok.
“Alhamdulillah ustadzah, saya merasakan ketenangan di sini,” Khaira tersenyum, “Apa boleh jika saya ingin tinggal lebih lama di sini?”
Ustadzah Fatimah menatap Khaira dari ujung rambut ke ujung kaki. Ia tau perempuan muda yang berdiri di hadapannya nampak bukan perempuan sembarangan. Dari pakaian yang melekat di tubuhnya kelihatan bermerk semua.
“Kalau adek nyaman, kami merasa senang,” ustadzah Fatimah menatapnya dengan lekat.
Khaira merasa bersyukur dalam hati mendengar jawaban ustadzah Fatimah. Khaira merasa mendapatkan saudari perempuan baru. Ia melihat perpaduan sosok Ira kakak iparnya serta Hasya yang ceplas-ceplos bersatu dalam wujud ustadzah Fatimah.
Ia akan memulai hidup barunya di sini. Ia akan membantu sekuat tenaga. Ia ingin mengabdi pada ponpes ini dengan apa pun yang ada pada dirinya.
“Apakah saya boleh memberikan sedikit bantuan bagi pondok ustadzah?” Khaira langsung menyatakan keinginannya untuk memberi bantuan sesuai yang telah ia survey peruangan santriwan dan santriwati yang telah ia lihat tadi.
“Alhamdulillah kalau adek ada niat baik seperti itu. Kami sangat berterima kasih.”
Percakapan antara Khaira dan ustadzah Fatimah berakhir. Khaira segera pamit untuk mewujudkan segala keinginannya untuk membantu sarana yang sangat mendesak yang diperlukan ponpes al-Ijtihad.
Tepat jam lima sore Khaira kembali ke rumah oma Marisa yang sekarang ia tempati bersama Fatih dan Azkia.
__ADS_1
Ternyata semua saudaranya berkumpul lagi di sana. Mereka merasa khawatir karena seharian menghubungi ponsel Khaira tidak ada sambutan sama sekali.
“Kamu kemana de?” Hasya langsung memeluknya begitu Khaira tiba di ruangan keluarga.
“Aku telah menemukan tempat yang nyaman untuk memulai kehidupan baru,” ujar Khaira sambil menghempaskan tubuhnya di samping Ali.
“Maksudmu?” Hasya langsung mencecarnya dengan pertanyaan lain.
Akhirnya Khaira menceritakan kegiatannya dari sehari yang lalu saat menginap di ponpes yang sangat sederhana dan letaknya di pinggiran kota dengan waktu tempuh tujuh jam perjalanan dari tempat tinggal mereka.
Khaira meminta bantuan para saudaranya menjadi donatur tetap untuk membantu biaya operasional ponpes yang sangat sederhana dengan siswa yang jumlahnya hampir 100 orang. Ia segera menceritakan keinginannya untuk menetap dan mengabdikan dirinya di pesantren menjadi pelayan umat.
Mendengar perkataan Khaira yang penuh semangat membuat saudaranya merasa bahagia. Kini Khaira telah menemukan jati dirinya kembali. Walau pun masih tampak kesedihan di wajahnya, tapi semua tertutupi dengan rencana-rencana yang ia buat untuk kehidupannya yang akan datang.
Selama satu minggu Khaira mengajak Azkia untuk berbelanja sesuai daftar yang telah ia buat, sementara saudaranya yang lain memberinya modal untuk menutupi biaya yang diperlukan. Begitu ia sampai di rumah, 5 box mobil besar telah menunggunya di halaman rumah.
Dengan senyum lebar Khaira turun dari mobil melihat barang-barang yang ia perlukan telah tersedia bahkan melebihi ekspektasinya.
Saat melangkah tiba-tiba kepalanya terasa berat. Khaira tidak mampu menopang tubuhnya. Untung saja Azkia cepat menahan tubuhnya hingga tidak jatuh ke tanah.
“Ade .... “ Hasya yang baru turun dari mobil langsung menjerit melihat Khaira yang lemah tak berdaya.
“Apa yang terjadi?” Fatih yang baru pulang dari hotel terkejut menyadari saudarinya yang pingsan dalam pelukan istrinya.
“Jangan-jangan .... “ ujar Valdo sambil menatap Hasya yang langsung membulat matanya mendengar ucapan suaminya.
Mereka berempat langsung membawa Khaira ke rumah sakit terdekat untuk mengetahui apa yang terjadi pada adik kesayangan mereka.
Ariq berdiri di depan pintu IGD menunggu dokter yang memeriksa Khaira di dalam ruangan. Ali berjalan mondar-mandir tidak sabar menunggu hasil observasi dokter terhadapa Khaira.
Senyum mengembang di wajah dokter yang bername tag Indri Samosir saat Hasya dan Valdo bangkit dari duduknya begitu melihat sang dokter keluar dari ruang periksa.
“Selamat, nyonya Khaira positif hamil 6 minggu. Dan tampaknya bukan hanya satu, tapi dua.”
“Subhanallah,” mata Ariq berkaca-kaca mendengar ucapan dr. Indri.
“Alhamdulillah ... “ Ali langsung sujud syukur mengetahui adik perempuan mereka kini telah mengandung.
“Allahu Akbar,” Fatih merasakan kebahagiaan luar biasa mendengar berita yang disampaikan dokter Indri.
“Ade .... “ tangis Hasya langsung pecah mendengarnya.
Valdo memeluk istrinya yang kini menangis tersedu saking bahagianya atas kondisi Khaira yang kini masih belum pulih dan memerlukan penanganan khusus.
“Pokoknya adek nggak boleh melakukan apa pun. Kita harus menjaganya jangan sampai kehilangan lagi.”
“Dia akan ku bawa pulang ke rumah. Ira akan mengurusnya,” Ariq langsung memutuskan akan membawa Rara bersamanya, “Ku harap Yang Kuasa akan memberikan kesehatan dan keselamatan mereka hingga lahir ke dunia.”
__ADS_1
“Aamiin ya Rabbal ‘alaamiin .... “ semuanya kompak mengaminkan dengan wajah duka di awal kini dipenuhi kebahagiaan.