Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 87


__ADS_3

Saat memasuki ruangan Hani berusaha menahan langkah Faiq. Ia merasa sungkan berada dalam ruangan yang sama.


“Apapun yang terjadi, mas tidak akan membiarkan kamu sendirian.” Faiq menggenggam jemari Hani dengan erat.


Seorang dokter muda  cantik menyambut kedatangan keduanya. Sedikit banyak dr. Valerie sudah mendengar riwayat amnesia yang diidap Hani dari dr. Thomas.


“Selamat siang tuan Al Fareza, nyonya Hani…” dr. Valerie menyapa keduanya dengan ramah.


“Selamat siang juga, dokter…” Hani membalas sapaan dr. valerie.


Dr. Valerie mulai membuka sesi awal dengan tanya jawab seputar kehidupan Hani dan Faiq. Dengan gamblang Faiq menceritakan kehidupan rumah tangga mereka dengan menceritakan yang manis-manisnya saja. Ia akan menutup kisah masa lalu yang hanya membuat penyesalan yang tak berkesudahan.


Hani tercenung mendengar cerita Faiq. Genggaman tangan Faiq yang tidak melepas jemarinya mengalirkan kehangatan di hatinya.  Ia merasakan sikap yang tulus dari Faiq terhadapnya. Bayangan Adi tiba-tiba melintas di benaknya.


Hani meraba perutnya yang rata, yang ada di pikirannya bahwa ia akan melahirkan tanpa suami di sampingnya. Ia telah membawa si kembar serta dalam keadaan hamil besar saat meninggalkan rumah, karena Adi lebih memilih bersama Helen karena tidak mengakui bayi yang ia kandung.


Tetapi lelaki asing di sampingnya bersikeras mengakui bahwa ia istrinya, dan mereka telah menikah bahkan ia baru melahirkan anak kembar mereka.


“Walaupun istri saya tidak mengingat saya, tapi saya akan selalu berada di sisinya dan memulai dari awal untuk memperjuangkan cinta kami serta membesarkan buah hati kami yang baru berusia tiga bulan.” Faiq memandang Hani dengan lekat, dan tanpa sungkan Faiq mengecup jemarinya di depan dr. Valerie.


“Bagaimana nyonya Hani, apa yang anda rasakan setelah mendengar pengakuan suami anda?” dr. Valerie memandang Faiq dengan penuh kekaguman.


Hani mengerutkan keningnya melihat pandangan kekaguman yang ditunjukkan perempuan muda yang ada di hadapannya terhadap lelaki yang mengaku suaminya.


“Bagaimana dengan anda sendiri, dokter?” Hani membalikkan pertanyaan dr. Valerie dengan santai.


“Ssa..ya…” dr. Valerie gelagapan mendapat serangan balik Hani.


Senyum terukir di bibir Faiq melihat Hani yang menunjukkan sikap tidak suka atas perlakuan dr. Valerie terhadap dirinya.


Hani merasa gerah berlama-lama di ruangan dr. Valerie. Pertanyaan lebih banyak diajukan kepada Faiq ketimbang dirinya. Tampaknya Faiq merasa senang dan antusias menjawab semua pertanyaan yang diajukan perempuan muda itu.


“Teruskanlah wawancara kalian. Saya akan pulang sekarang.” Hani bosan karena dr. Valerie lebih antusias berkomunikasi dengan Faiq ketimbang dirinya.

__ADS_1


“Sayang, semua ini untuk kebaikanmu…” Faiq menahan lengan Hani yang sigap berdiri.


“Aku bukan pesakitan. Silakan kalian lanjutkan.”


Tanpa menunggu persetujuan Faiq, Hani melangkah meninggalkan ruangan dr. Valerie. Bukannya ia cemburu, tapi ia jengah menghadapi sikap sok perhatian yang dipertontonkan di hadapannya.


“Maafkan saya, dokter. Saya harus menyusul istri saya…” Faiq bangkit dari kursi.


“Silakan simpan nomor saya untuk konsultasi selanjutnya…” Dr. Valerie bangkit dari kursi dan mengulurkan kartu namanya.


Ia memandang kepergian Faiq dengan perasaan senang. Lelaki muda itu telah mengingatkan ia dengan seseorang di masa lalunya.


“Ini baru permulaan, masih ada pertemuan selanjutnya.” Dr. Valerie tersenyum misterius.


“Sayang…” Faiq meraih tangan Hani yang berjalan tampak kesakitan sambil memegang perutnya.


Hani berusaha melepas tangan Faiq yang mencengkeramnya dengan erat. Matanya membulat protes menatap Faiq yang tersenyum melihat dengan tingkahnya.


“Kenapa kamu nekat berjalan?” Faiq menatapnya dengan lembut. “Kursi rodanya sampe tertinggal di ruang dr. Valerie.”


Sesampai di dalam ruangan Faiq segera meletakkan Hani di tempat tidur. Dengan cepat ia mendaratkan kecupan di kening Hani. Mata Hani membulat atas kelakuan Faiq.


“Sayang, mungkin kamu melupakan apa yang pernah terjadi antara kita. Tapi mulai hari ini dan seterusnya hal-hal manislah yang akan mas lakukan untuk kamu dan anak-anak. Jadi jangan pernah meragukan perasaan mas terhadapmu dan anak-anak.”


Hani terdiam mendengar omongan Faiq. Ia memang tidak mengingat sedikitpun tentang Faiq, tapi ia enggan untuk bertanya tentang hal-hal yang masih mengganggu pikirannya. Menu makan siang sudah tersedia di nakas samping tempat tidur Hani.


“Sekarang sudah waktunya kamu makan siang.” Ujar Faiq pelan.


Hani melihat setiap gerak-gerik Faiq yang tampak telaten menuangkan air minum ke dalam gelas putih serta mempersiapkan menu makan siang.


Faiq mengangkat baki yang berisi menu makan siang untuk istrinya. Kini ia sudah mempersiapkan semuanya di atas meja. Dengan pelan ia berjalan menghampiri Hani.


“Ayo mas bantu untuk turun. Setelah makan si kembar akan segera  diantar kemari.”

__ADS_1


Hani tidak bisa menolak keinginan Faiq, ia menghenyakkan tubuhnya di sofa. Ia berinisiatif untuk menyuapi Hani, sebelum Faiq sempat meraih sendok dengan cepat Hani mengambilnya.


“Saya bisa sendiri…”


Tatapan mata Faiq tak teralihkan. Walaupun Hani belum bisa menerima kehadirannya, tapi ia akan selalu berusaha mendampingi istrinya walau apapun yang terjadi.


“Mas tidak makan?” Hani menatap Faiq yang tetap setia duduk di sampingnya.


Perasaan bahagia terselip di dada Faiq mendengar Hani yang sudah memanggilnya mas. Ia yakin kebahagiaan keluarga kecilnya akan kembali, dan ia akan bersabar menunggu saat itu.


“Mas akan makan setelah kamu selesai.”


Hani sengaja tidak menghabiskan makanan yang tersedia, ia tau Faiq juga belum makan siang, sehingga ia menyudahi makannya. Walaupun Faiq berusaha mengulurkan sendok yang berisi nasi dan lauk pauknya ia menolak. Akhirnya Faiq menghabiskan makan siang istrinya yang masih banyak.


Belum lama Faiq menghubungi perawat untuk mengantarkan bayi kembar mereka ke dalam ruangan, 10 menit kemudian si kembar sudah berada di dalam kamar mereka, diantar seorang suster yang ber-nametag Inggit.


“Selamat siang suster.” Hani menyapanya dengan sopan sambil mengulas senyum.


“Selamat siang juga, nyonya.” Ia tersenyum memandang Hani, “Putra-putri anda sangat menggemaskan.”


“Terima kasih.”


“Jika ASI-nya banyak, nyonya bisa memberikan pada kedua bayi anda,” ujar suster Inggit. “Karena nyonya sudah pulih, tolong dijaga asupan gizi anda, agar bisa menghasilkan ASI yang berkualitas.”


Dengan spontan Hani menunduk. Ia merasa ASI-nya belum berproduksi, apalagi ia baru 3 hari terbangun dari tidur panjangnya.


“Selama ini kami masih memberikan sufor pada si kembar. Untuk selanjutnya sebagai orang tua tentu anda lebih paham dari kami.”


“Ya, sus. Saya mengerti.” Hani memandang sepasang bayi yang masih tertidur pulas.


“Si kembar belum mempunyai nama. Mas sudah berencana akan memberikan nama pada keduanya saat kamu sadar. Kita sekalian melaksanakan aqiqahan untuk keduanya.” Faiq memandang Hani dengan lekat.


Perasaan Hani tergetar. Ia belum mengenal lelaki yang mengaku suaminya. Tetapi perhatian dan sikapnya sangat berbeda dengan Adi yang selalu bersikap dingin dan kaku tanpa perasaan.

__ADS_1


 


 


__ADS_2