
Semua Keluarga berkumpul menikmati menu hidangan yang sangat komplit. Ira dan Hasya sengaja menyediakan menu masakan nusantara serta makanan kekinian, dari bakso, sate hingga jajanan pasar semuanya tersedia.
Senyum kecut muncul di bibir Hasya saat melihat para tetangga dekat Khaira mulai berdatangan, khususnya tetangga samping rumah.
Ivan dan Khaira menyambut tetangga mereka dengan ramah. Ternyata yang tinggal di kompleks itu masih banyak pasangan muda yang belum mempunyai keturunan, ada juga yang masih lajang dan masing-masing pekerja kantoran bahkan ada juga yang pengusaha. Hanya tante Ratna dan suaminya yang lebih dewasa dibanding mereka.
Keduanya akhirnya duduk bersama menemani tamu kompleks mereka berbicara ringan seputar kegiatan mereka sehari-hari. Mereka rupanya banyak mengenal Ivan, dan tidak menyangka bakal akan tinggal satu kompleks dengan pengusaha entertainment nomor satu itu.
Ivan hanya tersenyum mendengar percakapan tamu yang juga memuji dirinya yang berhasil membawa perusahaannya menjadi yang terbaik di negeri ini.
“Sudah berapa lama menikah, kok nggak ada di infotainment-nya?” Leksono seorang pengusaha garmen yang masih lajang merasa penasaran dengan kehidupan pribadi Ivan, karena ia termasuk mengidolakan Sandra yang selalu tampil seksi dan menyegarkan pemandangan.
“Keluarga istri tidak suka dengan acara infotainment. Saya pun mulai membatasi diri untuk pemberitaan,” ujar Ivan santai.
Tatapan Leksono berpindah pada Khaira yang terlibat percakapan hangat dengan tante Ratna yang malam ini penampilannya lumayan tertutup dengan spasmina yang ia tutupkan di rambutnya yang dicat warna coklat. Suaminya pun tampak menimpali perbincangan keduanya sambil tertawa penuh kehangatan.
“Saya jadi penasaran bagaimana anda bisa berpisah dengan Sandra dan memilih gadis biasa yang sangat di luar ekspektasi kita akan seorang perempuan?” Leksono pengusaha yang bergerak di bidang pertambangan itu merasa heran dengan pilihan Ivan.
Ivan tersenyum mendengar pertanyaan Leksono seperti dirinya di awal pertemuannya dengan Khaira. Ia tak akan membagi kisah dengan istrinya cukup ia dan beberapa gelintir orang yang tau. Kini ia penasaran dengan isi percakapan antara Khaira dan pasangan tetangga dekatnya itu, tapi ia tidak nyaman dengan Leksono yang kini terus menatap Khaira berusaha mencari keistimewaan istrinya.
“Kita tidak akan tau, di mana hati kita akan berlabuh. Begitu pun jodoh dan takdir, semua akan menemukan jalannya sendiri,” jawab Ivan serius.
“Wah, pandai sekali kau berpujangga. Aku yakin pasti istrimu bukan perempuan biasa.” Leksono semakin penasaran mendengar perkataan Ivan.
“Nggaklah. Istriku perempuan sederhana, karena dia memilihku itulah yang membuatnya istimewa.”
Leksono tersenyum mendengar jawaban penuh makna Ivan. Keduanya terus terlibat pembicaraan serius, hingga akhirnya Leksono pamit pulang karena ada janji dengan teman klubnya.
Fatih duduk bergabung bersama Ariq dan Ali yang masih terlibat obrolan hangat dengan tante Ratna dan suaminya. Tamu-tamu kompleks yang lain sudah pada pulang.
“Jadi mas Iqbal ini ya yang melamar di hotel kami?” Fatih menatap suami tante Ratna dengan penasaran.
“Benar tuan Fatih,” mas Iqbal terkejut mengetahui bahwa pemilik hotel syariah yang terkenal itu adalah saudara kembar tetangga baru mereka.
“Panggil Fatih aja nggak apa mas, usia saya masih di bawah mas Iqbal,” Fatih merendah saat berbicara dengan mas Iqbal yang usianya memang di atas mereka dan kelihatan lebih dewasa.
Mas Iqbal tersenyum melihat keramahan para pengusaha muda di depannya. Ia merasa bersyukur bertetangga dengan Ivan dan Khaira, melihat penampilan keluarga besar itu membuat hatinya tenang, karena istrinya pun mulai merubah cara berpakaiannya.
Tante Ratna nyaris tidak percaya begitu mendengar perbincangan antara suaminya dan Fatih yang ternyata adalah saudara kembar Rara.
“Jadi usaha oma-nya mbak Sasya itu apa?” tante Ratna menatap Hasya yang kini mulai menunjukkan keramahan padanya, karena ia tau bahwa tante Ratna bukanlah sejenis perempuan penggoda, walau pun pada kenyataannya melihat keseharian tante Ratna membuat kepala lumayan berdenyut.
“Oma mengelola gerai Kara Jewellery. Sekarang sudah diwariskan pada Rara. Adek lah yang mengelola Kara Jewellery,” jawab Hasya.
__ADS_1
Tante Ratna tertegun. Ia menatap Khaira yang sedang asyik dengan ponselnya sedang chat dengan Agnes, menceritakan tentang rumah barunya. Perasaan tante Ratna jadi tidak enak, teringat ucapannya tempo hari.
“Gerai emas dan permata yang terkenal itu ya?” tante Ratna terkejut mendengar ucapan Hasya. Karena ia tau, gerai perhiasan itulah yang terbaik di Jakarta yang selalu direkomendasikan orang penting.
Hasya mengangguk tanpa beban.
“Maafkan saya de, karena mengira ade jualan on-line sama omanya,” saat Khaira menatapnya tante Ratna langsung mengucapkan permohonan maaf secara tulus.
Hasya tertegun mendengar ucapan tante Ratna yang meminta maaf pada Khaira yang menanggapinya biasa saja.
“Lho tante nggak salah kok. Saya memang jualan dan promosinya secara on-line kok,” Khaira menjawab santai. Ia tidak ingin membuat tante Ratna merasa malu.
Percakapan antara mereka terus berlanjut, dan tante Ratna merasa gembira saat suaminya menceritakan bahwa Fatih siap menerimanya bekerja di Grand Horisson yang kebetulan chef-nya yang asli Perancis sudah resign karena ingin kembali ke negara asalnya.
Om Sadewo, tante Laras, oma Marisa dan bu Ila masih terlibat percakapan ringan. Dalam hati kecilnya tante Indah cukup mengagumi eksterior dan interior kediaman rumah Ivan.
Saat memasuki rumah, tante Indah dan Irene mulai mengritisi bagian rumah yang tidak cocok di mata keduanya.
“Perasaan mama sih biasa aja. Masih banyak juga yang lebih dari ini.” Tante Indah mulai menyampaikan apa yang ia lihat.
“Lumayan juga sih ma.” Irene cukup kagum, “Beruntung juga ya janda itu. Baru nikah juga udah dapat rumah dengan fasilitas lengkap ini. Nggak sia-sia dia ngobral tubuhnya.”
“Benar pa yang kau katakan,” tante Indah sependapat dengan Irene, “Kok bisa-bisanya Ivan tergoda dengan janda bahkan menghamilinya … Mama nggak habis pikir.”
“Kalau Ivan tertarik padaku, nggak masalah kok jadi nomor dua. Simpanan juga nggak pa-pa.” Irene berkata semaunya membuat tante Indah tertegun, “Yang penting tajir.”
“Bagaimana menurut mama?” Irene menatap mamanya meminta pendapat.
“Laki-laki itu semuanya sama. Nggak tahan dengan godaan perempuan. Titik kelemahan mereka sama, jika lihat perempuan menggoda mereka akan mudah takluk.”
“Benarkah ma?” Irene sangat tertarik dengan ucapan mamanya. Terbersit sesuatu dalam pikirannya.
“Mama sudah melihatnya sendiri di lingkungan kerja,” ujar Indah dengan perasaan sedih.
“Apa mama juga masuk di bagian itu?” kejar Irene cepat.
Indah menggelengkan kepala dengan cepat. Hal yang tak bisa ia ungkapkan pada putrinya, bahwa terkadang ia dan suami pun berada di posisi itu hanya untuk mengamankan jabatan. Senyum misterius terbit di wajah Irene.
Kini ia berjalan mengitari rumah Ivan dengan mamanya Indah. Walaupun mencibir tapi dalam hati kecilnya cukup mengakui bahwa rumah Ivan tidak bisa digolongkan ke rumah sederhana, apalagi melihat fasilitas yang disediakan di dalam rumah itu.
Dengan santai ia melihat-lihat kamar serta fasilitas yang ada tanpa rasa sungkan. Melihat kamar tidur utama ia melongo. Interior serta isi dalamnya menyaingi kamar bintang lima yang biasa tempatnya menginap saat ada kegiatan kantor.
Irene membaringkan tubuhnya di kasur yang aromanya sangat nyaman dan menenangkan. Pikiran nakalnya mulai bermain. Ia membayangkan kalau dirinyalah yang dipilih Ivan menjadi pasangannya, tentu disinilah mereka akan memadu kasih setiap malam.
__ADS_1
Tanpa perasaan bersalah Irene membuka krim perawatan yang tertata dengan rapi di meja rias Khaira. Ia melihat semua alat kosmetik yang ada merk terkenal yang harganya hanya kalangan tertentu saja yang bisa membelinya.
Ia mulai membukanya dan hendak menuangkannya ke telapak tangan. Aromanya yang wangi sangat memanjakan.
“Hei, apa yang kau lakukan di kamar kami?” suara bariton itu membuat Irene terkejut sehingga krim yang ia ambil terjatuh dan tertumpah di lantai.
“Maaf, aku ingin mencari kamar kecil.” Irene terkejut menyadari bahwa kini Ivan berada di kamar dan mengetahui keberadaannya.
“Cepat keluar,” Ivan berkata dengan kesal.
Irene masih tak bergeming. Kini ia menatap Ivan dengan berani, “Aku tidak menyangka kau lebih memilih janda itu. Padahal banyak perempuan yang lebih baik dari dirinya.”
“Aku tidak memerlukan nasihatmu. Cepat keluar atau aku akan menyeretmu,” Ivan semakin kesal melihat sikap keras kepala Irene. Sejak remaja ia memang tidak menyukai sepupunya itu. Selain sombong, hidupnya kebanyakan gaya sehingga tidak ada satupun yang membuat Ivan tertarik.
“Apa servis janda itu memuaskanmu?” Irene mencibir Ivan, “Jika kau mau aku bisa memberikan yang lebih darinya. Apa lagi aku masih perawan.”
Dengan kesal Ivan menarik lengan Irene untuk membawanya keluar dari kamar mereka. Tapi hal yang di luar dugaan terjadi. Irene memeluk pinggang Ivan dengan erat.
Khaira yang merasa ingin buang air kecil berjalan dengan cepat menuju kamar. Dengan cepat ia membuka pintu. Matanya membulat tidak percaya melihat keadaan di dalam kamar. Ivan sedang berdua dengan seorang perempuan dalam posisi berpelukan.
“Apa yang kalian lakukan di kamar ini?” Walau pun di hatinya belum ada perasaan terhadap Ivan, tapi perempuan mana yang tidak sakit hati melihat perempuan lain bersama dengan suaminya apa lagi di kamar pribadi mereka.
“Jangan salah paham, Irene hanya ingin ke kamar kecil,” Ivan dengan cepat melapas tangan Irene di pinggangnya.
“Suamimu memiliki daya tarik yang terlalu kuat. Perempuan mana pun tidak bisa menolaknya,” Irene berkata semaunya membuat hati Khaira lebih sakit.
“Jangan terpengaruh apa yang dia katakan,” Ivan merasa khawatir melihat Khaira yang berjalan melewati keduanya dengan mata berkaca-kaca.
Ia tidak menyangka di umur perkawinan mereka yang baru satu minggu, Ivan telah berani membawa perempuan lain masuk ke kamarnya dan bahkan itu sepupunya sendiri. Siapa pun pasti akan berpikiran yang sama, apalagi ia melihat tangan Irene begitu erat memeluk suaminya.
Tanpa Khaira sadari ia menginjak tumpahan hand body yang dijatuhkan Irene karena terkejut mendengar suara Ivan.
“Brak …. “ Khaira jatuh terpeleset dengan tubuh terlentang dan kepalanya membentur lantai.
Ivan terkejut menyadari bahwa istrinya kini tak sadarkan diri akibat terjatuh menginjak lantai yang licin terkena tumpahan hand body. Darah langsung mengalir dari sela-sela paha Khaira. Dengan cepat ia menggendong Khaira. Tanpa mempedulikan kebingungan Irene Ivan membuka pintu dengan kasar.
“Kau akan bertanggung jawab atas yang terjadi pada istri dan anakku. Aku tidak akan mengampunimu,” Ivan berkata dengan penuh amarah pada Irene yang kini mematung melihat kejadian akibat perbuatan isengnya.
“Apa yang terjadi?” Hasya yang masih berberes bersama Ira terkejut melihat Ivan yang menggendong Khaira dengan wajah tegang.
“Rara terpeleset saat ke kamar mandi,” jawabnya cepat, “Aku akan membawanya ke rumah sakit.”
Ariq terkejut melihat Khaira pingsan dalam gendongan Ivan. Dengan cepat ia mengejar Ivan dan membuka pintu mobilnya agar Ivan segera memasuki mobil.
__ADS_1
*** Dukung terus ya. Komentar\, kritik\, like dan vote-nya selalu aku tunggu. Sayang untuk reader semua .... ***