Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 193 S2 (Mulai Membiasakan Diri)


__ADS_3

Mengetahui istrinya sudah kembali ke rumah adalah hal terbaik yang Ivan rasakan. Setelah percakapan mereka tadi, pikiran Ivan bekerja cepat. Ia tidak akan membiarkan Khaira beraktivitas seorang diri di luar tanpa pengamanan. Apalagi setelah accident yang mengakibatkan mereka kehilangan janin yang sedang dikandung istrinya.


Ia tidak tau, berapa banyak perempuan di luar sana yang menginginkan posisi Khaira sebagai istrinya. Melihat kelakuan Irene, ia sadar bahwa banyak hal yang harus ia benahi dalam menjaga pergaulannya di lingkungan sosial, dan yang pasti ia harus menjaga perasaan istrinya  yang walau pun sampai saat ini hati istrinya masih belum bisa ia miliki. Dan Ivan tidak ingin hal negatif terjadi pada istrinya.


Ivan segera menelpon Hari untuk meminta jasa pengamanan dan pengawalan untuk istrinya selama berada di luar rumah. Ia pun akan meminta Khaira untuk menggunakan sopir yang akan mengantar jemputnya selama melakukan aktivitas di luar rumah.


Senyum langsung terbit di wajah Ivan setelah setengah jam kemudian Hari memberikan kabar baik, bahwa apa yang ia inginkan sudah siap dan akan langsung bekerja hari ini juga.


Saat membersihkan diri di kamar mandi, senyum tak hilang dari wajah Ivan. Pagi ini merupakan pagi yang indah untuk memulai sesuatu yang baik. Melihat Khaira yang sudah kembali membuatnya bersemangat untuk menjalani hari.


Kini ia mulai memahami karakter tertutup istrinya. Khaira tidak pernah berkata ia suka atau tidak secara langsung, tetapi dari sorot matanya sudah ketauan kalau ia suka akan terpancar langsung dari mata beningnya, begitu pun kalau ia kesal dan marah.


Yang membuatnya lebih berbahagia kini tidak ada lagi penolakan pada diri Khaira saat ia ingin bersentuhan fisik dengannya. Dan Ivan akan melakukannya secara perlahan-lahan. Ia tau, Khaira tidak pernah disentuh oleh siapa pun kecuali dirinya. Trauma atas perbuatannya masih terlihat jelas. Saat ia ingin memeluk bahkan menciumnya, tubuh istrinya akan langsung menegang dan kaku.


Ivan sadar dirinya lah yang harus banyak bersabar dan membimbing istrinya untuk menerima keberadaan dirinya secara utuh. Ia tidak bisa mengharapkan istrinya agresif seperti perempuan yang pernah singgah dalam hidupnya.


Keluar dari kamar mandi ia melihat Khaira keluar dari walk-in closet membawakan pakaian yang akan ia kenakan pagi ini. Senyum langsung mengembang di wajah tampannya. Dengan santai ia berjalan mendekati istrinya sambil menggerak-gerakkan lengan, sekalian pamer tubuh sixpacknya.


Khaira yang menyiapkan pakaian kerja Ivan seperti biasa tetap santai, hingga ia melihat suaminya yang baru keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk membuatnya tidak nyaman.  Aroma wangi sabun mandi menguar di penciumannya.


Wajahnya mulai memerah menyadari Ivan yang berdiri di dekatnya sambil menggerak-gerakkan lengan. Ia tidak berani memandang wajah suaminya yang masih berdiri di sampingnya. Ia hendak beranjak untuk segera keluar dari kamar. Pikirannya hanya satu ingin keluar dari situasi yang agak horor untuk menyiapkan sarapan buat sang suami


“Mau kemana?” suara Ivan menghentikan langkahnya.


“Aku akan menyiapkan sarapan untuk kita,” ujarnya pelan tanpa memandang wajah Ivan yang kini tepat berada di hadapannya.


Ivan berusaha menahan senyum melihat ketegangan mulai menyelimuti Khaira. Ia tidak akan membiarkan istrinya berlalu begitu saja. Kali ini ia harus sedikit tegas.

__ADS_1


“Tidak usah. Ada bi Risma yang bertanggung jawab,” suara Ivan terdengar seperti sebuah perintah baginya, “Mulai hari ini kamu tidak hanya menyiapkan pakaianku tapi membantuku hingga selesai berpakaian.”


Khaira memandang wajah Ivan dengan kening berkerut. Tampak senyum tipis di sudut bibir suaminya membuat Khaira menahan nafas. Rasanya ingin menolak, tapi takut dosa. Bukankah ia sudah berjanji dengan oma dan mertuanya untuk mulai mencoba membuka hati pada suaminya. Dengan pasrah Khaira mengikuti semua yang diinginkan Ivan.


“Bantu aku memasang kemeja dan dasi ini,” Ivan mulai mendekatkan diri pada Khaira saat melihat istrinya masih mematung dengan wajah mulai memerah.


Khaira  mulai memasangkan kancing kemeja di tubuh sixpack suaminya. Aroma wangi maskulin memanjakan indera penciuman Khaira. Ia tak sanggup memandang mata kelam yang terus menatapnya saat memasang dasi. Keringat dingin mulai bercucuran di kening Khaira.


Perasaan hangat menyelinap di hati Ivan, saat jemari Khaira mulai bermain di tubuhnya, walau pun hanya sekedar memasang kancing kemeja, dan kini mulai memasang dasi.


Tingginya yang hanya 165 sangat jauh dengan Ivan yang hampir 190 cm. Terpaksa Ivan membungkukkan badan agar bisa menyamai istrinya. Khaira pun berjinjit karena jangkauannya belum maksimal.


Ivan tersenyum melihat upaya  merapikan dasi yang sudah terpasang. Detak jantungnya berlari cepat saat jarak keduanya begitu dekat. Aroma parfum  lembut yang digunakan istrinya membuat perasaan Ivan tak menentu.


Setelah  terpasang, Khaira merasa lega. Ia langsung melepas tangannya dari dasi yang sudah menyempurnakan penampilan suaminya.


Khaira terkejut. Ia berusaha menjauhkan wajahnya. Tapi jemari Ivan sudah menahan tengkuknya dengan tangan kanan, sedangkan tangan  kirinya langsung merangkul pinggang  istrinya.


Jantung Khaira berdetak semakin cepat, saat merasakan tubuh kokoh suaminya menempel rapat dengannya. Bibir Ivan langsung menguncinya membuat Khaira tak bisa menolak. Ia menahan nafas saat lidah Ivan mulai mengobrak-abrik isi di dalam mulutnya. Ciuman Ivan sangat lembut tidak menuntut seperti biasa.


Ivan melepas ciumannya sesaat saat melihat Khaira mulai kesulitan bernafas. Mata hitamnya menatap wajah istrinya dengan lekat.


“Bernafaslah dengan benar,” ujarnya pelan sambil tangannya mengelus bibir istrinya.


Saat Khaira mulai menarik nafas dengan wajah semakin merah, Ivan kembali mendekatkan wajah keduanya. Ia langsung mengakrabi telaga madu yang kini menjadi candunya. Tangannya mulai bergerilya kemana-mana.


Sesuatu yang lembut dan menempel di dada bidangnya membuat Ivan merasa tertantang untuk melakukan hal lain. Jemarinya dengan lincah mulai turun menelusup mencari sesuatu yang begitu menarik perhatiannya.

__ADS_1


Khaira terkejut. Ia segera menarik wajahnya menjauh dari wajah Ivan. Tangannya dengan cepat menahan tangan Ivan yang sudah menemukan spot untuk olahraga jemarinya.


Ivan berusaha menahan gairah yang sudah memenuhi kepalanya. Kali ini ia harus berhenti. Masih ada  kesempatan di lain waktu. Senyum menenangkan langsung terbit di wajah Ivan begitu tatapan keduanya saling terikat satu sama lain.


“Jangan khawatir, aku akan menunggumu siap,” Ivan berkata dengan suara berat.


Jemarinya membelai rambut Khaira dengan lembut. Ia harus bersabar untuk mengurangi rasa trauma istrinya. Dan ia mulai berpikir cepat, agar Khaira semakin terbiasa dengan sentuhan-sentuhan yang ia berikan.


Khaira menundukkan wajahnya dengan perasaan tak menentu. Sesuatu yang hangat mendarat di keningnya. Khaira memberanikan diri menatap wajah suaminya. Tatapan hangat itu membuat perasaannya semakin tak menentu.


Ivan tersenyum menenangkan. Tangan kokohnya kembali merangkul Khaira ke dalam pelukan. Setelah puas memeluk istrinya, Ivan segera melepaskan Khaira.


“Aku telah menyiapkan supir pribadi dan pengawal untukmu,” ujar Ivan sambil menatapnya lekat, “Aku tidak ingin sesuatu yang membahayakan dirimu berkeliaran di luar sana selama kita berjauhan.”


Khaira membalas tatapan Ivan. Ia merasa gerak-geriknya dibatasi jika harus ada pengawalan terhadap dirinya.


“Aku bisa menjaga diri sendiri,” Khaira berusaha menolak dengan halus.


Ivan menggelengkan  kepala dengan cepat, “Kali ini kamu tidak boleh menolak perkataanku. Aku tidak ingin peristiwa Irene terjadi lagi padamu,” tegas Ivan.


Khaira terdiam. Ia tau,  apa yang dikatakan Ivan terlalu berlebihan. Untuk menghindari perdebatan ia terpaksa menganggukkan kepalanya.


“Aku mencintaimu. Aku tidak ingin sesuatu yang membahayakan menimpamu di luaran sana,” ujar Ivan serius.


“Terima kasih. Aku menghargai apa yang mas Ivan lakukan untukku,” Khaira berkata dengan lirih. Percuma saja ia menolak, Ivan tidak akan menyetujui apa pun yang akan ia katakan.


 

__ADS_1


*** Dukung author terus ya. Kritik\, saran\, komentar dan like serta votenya selalu author tunggu\, untuk keberlangsungan kisah Ivan dan Khaira. Sayang reader semua .... ***


__ADS_2