
Ivan tidak menyangka saat tiba di pusat kerajinan Sekarbela banyak pejabat daerah yang hadir untuk menyaksikan pengambilan video proses pembuatan perhiasan emas serta permata maupun mutiara-mutiara yang ada.
“Tuan Ivan silakan masuk, mbak Rara .... “ Dewo menyambut kedatangan mereka dengan perasaan senang.
Seorang staf perempuan dengan berpakaian dinas pemerintahan setempat menghampiri Ivan dan Khaira. Wajahnya tampak ramah dan menyenangkan.
“Permisi, saya dari bagian humas pemda ingin berbicara pada pak Ivan. Kenalkan nama saya Irma.”
Ivan memandang perempuan muda itu sekilas, “Katakan saja apa yang ingin anda sampaikan.”
Irma melirik Khaira sekilas, “Maaf bapak, tim kami hanya ingin bertemu dengan anda.” Ia bersikeras tanpa memandang Khaira.
“Pergilah mas. Aku akan menunggu di ruangan mas Dewo,” Khaira mengelus lengan Ivan, “Aku juga ingin melihat-lihat bengkel pengolahan di belakang.”
“Baiklah sayang,” Ivan menganggukkan kepala.
Dengan perasaan setengah hati ia melangkah meninggalkan Khaira di ruang kantor Dewo. Ia berjalan mengikuti Irma yang mulai berbincang sok akrab dengannya.
Ternyata Ivan dipertemukan dengan beberapa pejabat penting di sebuah ruangan yang merupakan aula yang biasa digunakan sebagai tempat pameran perhiasan lokal. Di sana telah menunggu bapak Bupati, Ketua DPRD setempat serta dinas terkait yang akan menyukseskan Wonderfull Lombok Sumbawa.
“Kami menginginkan dalam film dokumenter tersebut memasukkan unsur peninjauan oleh pejabat daerah serta pejabat terkait,” pak Ilyas selaku Kepala Humas Pemda Lombok menyatakan keinginanannya pada Ivan, “Selain itu peninjauan pihak pengusaha yang telah membina industri rumah tangga pengelola pusat kerajinan di sini juga akan menambah nilai plus jika bisa kita film-kan.”
“Kalau itu saya rasa susah pak,” Irma langsung menginterupsi atasannya, “Kita tidak tau, pengusaha mana yang telah bekerja sama dengan pengrajin lokal untuk memasarkan perhiasan serta permata di Pusat Kerajinan Sekarbela ini.”
“Saya kira itu bisa diatur. Tim kita kan banyak. Pilih yang berpenampilan terbaik, nanti dia akan berakting seolah-olah pengusaha yang sedang berkunjung dan memberikan pembinaan dan pelatihan di bengkel miliknya Dewo Anggara,” Idris yang merupakan staf UMKM dari Dinas Perindustrian Lombok turut menyampaikan pendapatnya.
“Apakah anda bisa mengkoordinasikan dengan tim anda pak Ivan?” pak Ilyas meminta kepastian pada Ivan tentang keinginan yang baru ia sampaikan.
“Baiklah pak. Saya akan menemui sutradara saya,” Ivan mengangguk cepat.
“Saya akan mendampingi mas Ivan,” dengan cepat Irma bangkit dari kursi ketika Ivan meninggalkan ruang pertemuan, “Saya akan memberikan ide-ide yang mungkin diperlukan sutradara mas Ivan.”
Tanpa mempedulikan keberadaan Irma di sampingnya Ivan berjalan dengan cepat. Ia segera menghampiri Bagong cs., yang mulai mempersiapkan peralatan syuttingnya. Ia berkata seperlunya menyampaikan keinginan pihak terkait yang telah ia dengar berusan.
Irma menjelaskan dengan terperinci apa yang menjadi keinginan atasannya. Ia merasa senang perkataannya didengar para lelaki ganteng yang berada dalam studio mini yang telah dibuat Bagong cs.
Khaira masih di dalam ruangan tempat pengolahan permata serta mutiara yang baru dikeluarkan dari cangkangnya. Dengan antusias ia menyampaikan keinginan serta hal-hal yang perlu diperbaiki dalam mengolah perhiasan serta mutiara-mutiara yang akan dikirim di gerai miliknya.
Dewo dan pegawainya sangat senang atas kunjungan Khaira. Caranya dalam memberikan pengarahan serta motivasi dalam membuat perhiasan yang lebih berkelas sangat menarik.
Tanpa segan Khaira meladeni mereka yang ingin berfoto bersama dengannya. Ia senang berbagi pengalaman dan pengetahuan yang ia dapat selama mengikuti pameran di Paris serta berbagi pengalaman saat pameran di Bali kemarin.
Sementara itu Bagong, Ivan, pak Ilyas, Dewo, Adam, Meli dan dua staf lain beserta Irma mengadakan rapat dadakan sebelum syutting dilaksanakan.
Irma menyarankan salah satu istri pejabat yang hadir berperan sebagai pengusaha sekaligus pembina yang akan diambil videonya saat bersama pengrajin di bengkel milik Dewo.
“Saya tidak setuju,” dengan cepat Dewo memprotes usul Irma, “Kebetulan pengusaha Kara Jewellery ada di sini, langsung saja ambil gambar bersama beliau.”
__ADS_1
“Kara Jewellery?” Irma menatap Dewo tak mengerti.
Ivan ingin memprotes. Dia tidak ingin istrinya dilibatkan dalam pembuatan film dokumenter yang akan melibatkan orang banyak.
“Ya, mbak Khaira Setyawan. Beliau berada di sini kebetulan menghadiri acara pameran perhiasan di Bali tiga hari yang lalu. Beliau juga telah mengikuti pameran di Paris yang telah membawa beberapa sample berlian serta mutiara yang telah dibuat pengrajin lokal,” Dewo bercerita panjang lebar.
Bagong dan Hari hanya berpandangan melihat Ivan yang wajahnya mulai berubah, apalagi Ilyas mulai bertanya mendetail tentang profil sang pengusaha yang sangat diidolakan para pengrajin di pusat kerajinan Sekarbela.
Akhirnya disepakati bahwa Khaira ikut syutting dibengkel bersama dengan pengrajin yang akan diambil gambarnya. Empat jam ini Ivan tidak bisa menahan kekesalan hatinya. Aksesnya untuk menemui sang istri sangat sulit.
Ia akhirnya mengikuti Parjo, Bagong dan krunya mengambil gambar saat Khaira memberikan pengarahan seperti yang dilakukannya diawal kedatangannya ke bengkel. Yang lebih membuatnya kesal beberapa pejabat serta Dewo-lah yang mendampingi sang istri saat syutting berlangsung.
“Nyonya tidak hanya cantik tapi juga fotogenic.” Parjo memandang beberapa slide yang menampilkan gambar Khaira pada bosnya, “Walau tanpa polesan berarti wajah naturalnya sangat enak dipandang.”
Hati Ivan makin panas, saat break ia tidak bisa menemui sang istri. Beberapa pejabat dinas Perindustrian dan UMKM sedang berbincang di sebuah ruangan tertutup yang hasilnya akan disiarkan di radio pemerintah daerah setempat.
Saat Dewo dan Irma memasuki studio mini Bagong, Ivan memasang muka datarnya. Melihat gaya sok akrab keduanya membuat Ivan muak. Keinginannya hanya satu membawa istrinya kembali secepatnya.
Saat selesai salat Magrib-pun, Khaira sudah tidak ada di ruangan tempat wawancara. Hari yang ia tugaskan mengawal istrinya mengatakan kalau Khaira sedang pengambilan gambar terakhir bersama pejabat setempat.
Tepat jam 8 malam syutting berakhir, makanan sudah disiapkan instansi terkait, sehingga semua langsung menikmati nasi yang telah disediakan begitu pun Ivan dan bawahannya.
Dengan wajah datarnya Ivan menunggu Hari yang berjalan bersama Khaira menuju mobilnya begitu suasana mulai sepi.
“Maaf ya mas, aku tidak tau jadi seperti ini,” Khaira tersenyum manis sambil menyentuh tangan sang suami.
Khaira merasa heran melihat sikap Ivan yang begitu dingin padanya. Saat ia mendekati, dengan cepat Ivan berjalan menjauhinya. Khaira jadi tak habis pikir, kesalahan apa yang ia perbuat sehingga sang suami mengacuhkannya.
Ponsel Ivan berbunyi, tanpa memandang istrinya ia berlalu dan keluar dari kamar. Wajahnya tetap dingin tak bersahabat.
Melihat sikap suaminya Khaira terpaku. Ia tidak tau harus berbuat apa agar suaminya kembali seperti sedia kala. Setelah melaksanakan salat Isya ia terpaku, bingung tidak tau harus melakukan apa.
Ponselnya tiba-tiba berdering. Ia terkejut melihat panggilan vc mbak Rheina. Dengan cepat Khaira menyambutnya.
“Assalamu’alaikum mbak .... “ tanpa semangat Khaira menjawab panggilan iparnya.
“Eh, pengantin baru loyo amat,” suara cempreng Rheina makin membuatnya nelangsa, “Kok nggak semangat, ada masalah apa?”
Akhirnya Khaira mulai menceritakan peristiwa yang ia alami seharian ini, hingga perubahan sikap Ivan sejak mereka kembali ke hotel tempat mereka menginap. Ia galau menghadapi perubahan sikap sang suami yang sangat drastis.
“Ha ha ha ....” Rheina langsung tertawa mendengar curhat Khaira, “Bos Ivan cemburu. Baru juga syuting film dokumenter, apalagi kalau kamu syutting berhari-hari seperti sang mantan, bisa kebakaran jenggot dia.”
“Mbakk!” Khaira kesal mendengar celotehan Rheina, “Aku harus bagaimana?”
“Apa dia sekarang ada bersamamu?”
“Barusan keluar,” jawab Khaira lesu.
__ADS_1
“Kita bikin bos Ivan mati gaya,” ujar Rheina membuat Khaira penasaran.
Sementara itu di kamar yang menjadi markas Bagong cs, mereka berdiskusi tentang hasil akhir film dokumenter yang telah selesai dibuat. Dari pihak Adam meminta durasi hanya 10 menit dari berbagai lokasi yang telah diambil.
“Dari sekian gambar yang ada aku hanya tertarik pada yang ini, asli .... “ Parjo berkata sambil memperlihatkan slide demi slide yang ada.
Semuanya tersenyum kecuali Ivan begitu gambar Khaira yang tersenyum sambil mengacungkan kedua jempolnya.
“Benar mas Parjo. Saat melihat nyonya syutting ku pikir tak kalah dengan model terkenal dan artis yang ada. Aktingnya natural tidak dibuat-buat. Saat pengambilan gambar pun nyonya tampak santai,” Bagong menambahkan.
“Kalau sampai Indra melihat akting nyonya, bisa-bisa ia meminta nyonya membintangi filmnya yang baru.”
“Kita ke sini untuk membahas proyek yang sudah selesai. Kenapa jadi melebar kemana-mana...?” cetus Ivan tidak senang. “Kurangi durasi Khaira di film dokumenter ini. Cukup tampilkan satu saja dan tak lebih dari tiga detik.”
Parjo geleng-geleng kepala mendengar perkataan bosnya yang begitu posesif sama sang istri, “Untung saja nyonya Rara istri yang taat dan patuh pada suami. Sungguh beruntung bos memiliki istri seperti nyonya,” monolognya dalam hati.
Pukul 11 malam Ivan kembali ke kamar. Ia yakin Khaira sudah tidur. Saat melihat tempat tidur yang kosong dan ruangan yang masih terang benderang ia mengerutkan kening. Biasanya jam segini mereka sedang mengayuh bahtera asmara.
Terdengar pintu kamar mandi terbuka. Ia melengos membuang pandangan saat Khaira keluar hanya menggunakan handuk yang menutupi sebagian paha mulusnya. Tak ayal Ivan menelan ludah menahan gairah yang langsung naik ke kepala.
Teringat kesibukan Khaira sehingga tidak menemaninya saat bersama kru, malah syutting dengan beberapa orang lelaki membuat kekesalan Ivan datang kembali. Ia sibuk membuka beberapa email yang dikirim Roni barusan.
Dengan santai Khaira duduk di meja rias. Rambutnya yang basah mulai ia geraikan. Dari pantulan kaca ia melihat Ivan gelisah sesekali menatap dirinya. Ia mulai memakai krim malam dengan santai sambil bersenandung. Senyum tipis muncul di bibirnya saat melihat Ivan menutup wajahnya dan berbaring di tempat tidur dengan nafas mulai memburu.
Taklama kemudian ponsel Khaira berdering. Ia termenung melihat nama Anwar muncul di layar ponsel. Khaira segera menyudahi aktivitasnya apalagi melihat Ivan yang tidak tertarik mendekatinya. Rencana yang disusun atas saran mbak Rheina nggak mempan, buktinya Ivan menggulung diri dalam selimut.
“Assalamu’alaikum Anwar, tumben malam-malam begini telpon?“Khaira berkata pelan sambil menghela nafas lirih melihat tempat tidur yang kini tampak tenang. Ia merasa bahwa suaminya sudah tidur.
Ivan yang masih menumpuk kekesalannya memasang telinga begitu mendengar Khaira menyebut nama laki-laki yang sempat ia cemburui saat bersama sang istri.
“Bagaimana kabarmu?” Anwar bertanya dengan penuh semangat.
Karena khawatir mengganggu istirahat sang suami, akhirnya Khaira bangkit dari meja rias dan keluar dari kamar menuju rooftop. Ia melupakan kalau hanya memakai handuk.
Mendengar suara istrinya yang menjauh membuat Ivan bangkit dari tempat tidur. Ia melihat bayangan Khaira yang keluar menuju rooftop.
“Kabarku baik. Sekarang aku dan mas Ivan berada di Lombok,” ujar Khaira santai. Kini ia merasa kedinginan karena angin dari arah pantai langsung terasa menusuk kulit.
“Honeymoon ya?” Anwar bertanya dengan serius, “Syukurlah hubungan kalian semakin ada kemajuan.
Mendadak Khaira sedih mendengar ucapan Anwar. Karena tidak mampu dengan rasa dingin Khaira membuka pintu untuk kembali ke kamar. Ia terkejut pintu telah terbuka dengan Ivan yang menatapnya dengan sorot yang tak bisa ia artikan.
Tanpa diduga Ivan langsung memanggulnya di punggung dan menghempaskannya ke tempat tidur.
“Ra, Rara .... “ panggilan Anwar terdengar dari ponsel yang masih berada dalam genggamannya.
Dengan kasar Ivan meraih ponsel Khaira dan melemparnya sembarangan. Ia langsung mengungkung istrinya dan melum** telaga madu yang sudah ia rindukan seharian ini. Rasa cemburu yang berlebihan membuatnya tidak mempedulikan tatapan heran Khaira atas kelakuannya.
__ADS_1
***Hi hi\, author sedang hepi\, jadi Khilaf UP terus. Semoga masih lanjut sebelum besok kembali ke kampung halaman. Doakan perjalanan author lancar ya... Dukung terus kisah Ivan dan Khaira. Sayang reader semua .....***