
Semenjak kehadiran Bryan di rumah, Ivan selalu pulang lebih awal dari biasanya. Sebelum jam enam sore dia sudah berada di rumah. Bryan yang awalnya bersikap kaku mulai tampak terbuka dan bersemangat.
Khaira masih mempersiapkan menu makan malam dengan santai, ketika tangan kokoh melingkar di pinggangnya. Ia tersenyum menyadari kehadiran Ivan.
“Lagi masak apa?” suara bariton itu menghentikan aktivitas Khaira.
“Mas, nggak enak diliatin Bryan,” Khaira berusaha melepaskan pelukan Ivan.
Ia merasa tidak nyaman karena Bryan ikut menyaksikan kegiatannya memasak di dapur sore ini. Bryan pun ingin dibuatkan menu makan malam sate ayam serta puding mangga. Ia merasa senang karena Bryan semakin akrab dan dekat dengannya.
“Nggak pa-pa,” dengan santai Ivan mendaratkan kecupan di pipinya.
“Masss.... “ Khaira melototkan matanya, “Kamu tidak lihat kesedihan di wajahnya.”
Ivan segera melepaskan pelukannya dan berjalan menghampiri Bryan. Ia merasa bahagia karena Bryan mulai terbiasa dan lebih akrab dengan Khaira.
“Bagaimana kabar jagoan daddy?” Ivan berdiri di hadapan Bryan sambil mengelus kepalanya dengan penuh kasih sayang.
“Baik daddy,” Bryan menjawab datar.
Melihat semua perlakuan Ivan terhadap Khaira membuatnya sedih. Ia melihat kasih sayang yang begitu tulus diperlihatkan kedua orang dewasa itu di hadapannya. Sedangkan mommynya terlalu sibuk dengan diri sendiri bahkan sering mengabaikannya. Hanya Mercy-lah satu-satunya orang yang selalu perhatian dan menemaninya dalam menjalani hari.
Ketiganya masih terlibat percakapan ringan menjelang makan malam. Khaira melayani Ivan dan Bryan saat mereka mulai menikmati makan malam.
“Wah, maafkan aku tiba terlalu malam,” suara perempuan menghentikan kegiatan mereka.
“Mommy .... “ Bryan terlihat gembira menyadari kehadiran Claudia di antara mereka bertiga.
Khaira terkejut melihat Claudia dengan tas travelnya sudah ada di hadapan mereka. Ia tau, hari ini tepat tiga minggu kepergian Claudia bersama George. Ia menatap Claudia tanpa berkedip.
“Aku minta maaf, pesawat kami delay selama 3 jam di Singapura. Karena sudah terlalu malam, aku malas kembali ke apartemen,” Claudia berkata dengan santai.
Khaira menghela nafas pelan. Ia melirik Ivan yang tetap santai menikmati makan malamnya, tidak terusik dengan kedatangan Claudia.
“Bagaimana kabarmu sayang?” Claudia menghampiri Bryan dan mulai mendaratkan ciuman di kepala putranya.
“Aku baik mommy,” Bryan merasa senang karena mommy-nya telah kembali.
“Mari ikut makan malam bersama kami,” Khaira mulai menawari Claudia untuk makan malam bersama mereka.
Claudia mengalihkan tatapan pada Ivan yang tampak asyik menikmati makan malam tanpa mempedulikan keberadaannya.
“Apakah selera makanmu mulai berubah?” Claudia berusaha menarik perhatian Ivan, “Bukankah kamu tidak menyukai masakan seperti ini?”
Khaira terdiam mendengar ucapan Claudia yang ditujukan pada Ivan. Ia dapat melihat Ivan tak menanggapi ucapan Claudia.
“Masakan aunty Rara enak,” Bryan tak bisa menyembunyikan rasa senangnya menikmati setiap menu yang dibuatkan Khaira untuknya yang berbeda dan bervariasi setiap hari.
“No, Bryan. Daddy menyukai masakan western dan selalu membuatkan mommy setiap hari,” tatapan Claudia tak beralih pada Ivan yang kini telah menyelesaikan makannya.
Khaira mengelus dada. Ia merasa Claudia telah menguji kesabarannya dengan menceritakan masa lalu mereka.
“Waktu telah lama berlalu. Setiap orang bisa berubah Claudia,” Ivan menatap Claudia tajam. Ia tidak senang Claudia mengungkit masa lalu yang telah ia kubur dalam.
Claudia tersenyum kecut mendengar jawaban Ivan. Ia merasa kehadirannya tidak diinginkan siapa pun di sini kecuali putranya. Tapi ia akan berusaha mencari celah untuk masuk di antara keduanya.
“Aku akan mengingap di sini malam ini,” Claudia menatap Ivan dengan penuh damba.
Khaira melihat interaksi keduanya dalam diam. Ia dapat melihat makna yang terpancar dari tatapan Claudia pada suaminya. Tetapi Ivan tetap dengan mode dinginnya.
“Sayang, aku ingin istirahat lebih awal malam ini. Dua hari ke depan aku akan pergi ke Bali bersama Roni,” Ivan berkata pelan. Tatapannya beralih pada Bryan, “Selamat malam my son.”
“Yes, dad.” Bryan menganggukkan kepala begitu Ivan berlalu dari hadapan mereka.
__ADS_1
Saat tiba di kamar Bryan, Claudia merasa kesal. Ia tidak menyangka Ivan begitu dingin dan menganggapnya seolah tidak ada. Ia telah berusaha membangun komunikasi dengan melibatkan masa lalu mereka agar Ivan lebih terbuka.
“Mommy akan tinggal bersama kita di sini?” tanya Bryan begitu keduanya telah bersiap untuk tidur.
“Apa Bryan senang tinggal bersama daddy?” kini Claudia menatap lekat putranya yang telah mendekatkannya pada sang mantan.
“Aku senang. Daddy sangat sayang padaku. Aunty Rara juga baik. Dia sering membuatkan aku makanan enak.”
Mendengar pujian tulus yang diucapkan Bryan membuat Claudia tidak senang. Ia harus membuat Bryan membenci Khaira, karena keinginannya hanya satu mengeluarkan Khaira dari kehidupan Ivan.
“Aunty Rara berbuat baik karena terpaksa. Ia tidak mungkin menyukaimu. Kamu bukan putranya,” Claudia mulai memanasi Bryan.
Melihat Bryan yang terdiam membuat Claudia semakin menjadi, “Bagi aunty Rara, kita hanya pengganggu dalam kehidupan rumah tangga mereka.”
“Aku tidak mengerti dengan perkataan mommy,” Bryan menatap Claudia dengan bingung.
“Sudahlah,” Claudia tidak melanjutkan perkataannya, “Mommy sudah capek. Besok kita lanjutkan lagi pembicaraan ini.”
“Baik mommy,” Bryan tidak berani lagi melanjutkan pembicaraan mereka.
Ia tau, mommy-nya seorang yang memiliki temperamen kasar. Jika ia tidak suka dengan perkataan Bryan, tak segan ia akan berkata kasar dan keras padanya. Dan Bryan sangat memahami sifat kasar mommy-nya.
Sementara itu di kamar yang berbeda, Khaira dan Ivan baru selesai melaksanakan salat Isya berjama’ah. Keduanya sudah bersiap untuk naik ke tempat tidur.
“Jam berapa mas dan Roni akan ke bandara besok?”
“Jam sembilan pagi,” ujar Ivan pelan.
Ia langsung membaringkan tubuhnya ke tempat tidur. Ia tau, ada perasaan tidak nyaman yang tampak dari sorot mata Khaira saat melihat kemunculan Claudia di rumah mereka.
“Apa ada yang mengganggu pikiranmu?” Ivan mulai memiringkah tubuhnya menghadap istrinya yang kini telah berbaring di sisinya.
Ia mendengar helaan nafas panjang Khaira. Ia yakin Khaira tak mungkin memulai pembicaraan ini, karena tipe tertutup Khaira membuatnya lebih suka menyimpannya sendiri di dalam hati.
“Sayang .... “ Ivan mulai mengoperasikan jemarinya mencari spot-spot favoritnya.
“Sayang .... “ Ivan menyadari tatapan penuh makna dari sorot bening di hadapannya, “Aku tau yang ada dipikiranmu. Jangan berpikir yang tidak-tidak.”
Khaira tetap diam tak bergeming. Tapi ia mulai mendekatkan wajahnya pada Ivan. Dengan pelan ia mendaratkan kecupan ringan di seluruh wajah Ivan.
Ivan membiarkan semua perlakuan Khaira padanya. Dengan keberadaan Claudia di rumahnya membuatnya sedikit senang, karena Khaira lebih berani mengekspresikan perasaan padanya yang selama ini selalu ia yang memulai.
“Aku sangat mencintaimu mas .... “ desahnya lirih.
“Aku tau,” Ivan menjawab dengan cepat, “Perasaanku padamu melebihi cintamu padaku.”
Ivan berusaha menahan gairah yang sudah naik ke kepala. Ia ingin melihat sampai di mana Khaira menunjukkan keinginan untuk memadu kasih dengannya di malam ini.
Rasanya Ivan ingin melompat untuk menuntaskan hasrat yang sudah menggunung. Tapi ia masih bersikap pasif, menerima segala sentuhan yang dilakukan Khaira dengan penuh kelembutan.
Permainan Khaira belum berakhir, ia masih memberikan kecupan-kecupan ringan pada wajah dan tubuh suaminya.
Karena tidak tahan Ivan langsung menarik baju tidur yang digunakan istrinya. Ia terpana melihat gaun tidur menerawang yang dipakai Khaira.
“Wow!” mata Ivan dimanjakan pemandangan indah yang sangat menyegarkan untuk dilihat, “Sejak kapan mulai koleksinya?”
Khaira mengu*** senyum mendengar pertanyaan sang suami\, “Kado ulang tahun mbak Sasya ....”
Ivan tertawa senang, “Maafkan aku karena melupakan hari jadimu. Tapi percayalah ... tidak ada satu pun perempuan yang bisa menggantikanmu.”
“Gombal .... “ Khaira tak mempedulikan perkataan Ivan, ia masih melancarkan aksinya.
“Sayang .... “ Ivan mulai tidak tahan dengan sentuhan-sentuhan lembut istrinya, “Kau semakin membuatku gila.”
__ADS_1
Dengan sekali tarikan gaun menerawang yang tidak menutupi tubuh Khaira robek tak berbentuk.
“Mass .... “ Khaira memprotes ulah suaminya.
“Besok dari Bali aku akan bawa gaun itu satu lemari hanya untukmu,” jawab Ivan santai.
“Haa .... ,” Khaira melongo mendengar jawaban Ivan yang kini mengambil kendali permainan.
Malam yang dingin itu terlewati dengan penuh kehangatan oleh kedua insan yang sama-sama mencurahkan rasa cinta dan sayang yang telah terpatri di dalam dada masing-masing dengan sepenuh hati.
Khaira sedang mempersiapkan sarapan pagi. Ia turun ke dapur lebih awal. Setelah salat Subuh ia langsung mempersiapkan kebutuhan Ivan yang akan ke Bali menemui kliennya selama dua hari di sana.
Khaira terkejut saat Claudia muncul bersama Bryan hanya menggunakan baju tidur tipis tanpa lengan setengah paha. Ia merasa sikap Claudia benar-benar tidak sopan.
Dengan santai Claudia duduk di hadapannya, langsung meminum jus jeruk yang terhidang di meja makan.
“Selamat pagi Bryan .... “ sapa Khaira dengan sopan menyapa Bryan yang tampak cerah pagi itu.
“Pagi aunty,” Bryan menyambutnya dengan hangat, “Enak sekali baunya, aunty bikin apa?”
Claudia merasa tidak senang dengan interaksi keduanya. Jika ia tak mengambil alih kendali bisa-bisa Bryan lebih memilih Khaira dari pada dirinya.
“Aunty bikin nasi goreng sea food. Bryan mau?” Khaira mendekati Bryan sambil meletakkan piring yang masih kosong.
Dengan antusias Bryan menganggukkan kepala. Matanya berbinar melihat makanan yang sangat menggugah seleranya.
“Jangan kau racuni putraku dengan makanan sampah itu,” cetus Claudia tidak senang, “Bry .... dokter tidak mengizinkanmu mengonsumsi makanan seperti itu.”
“Maaf nona, aku sudah konsultasi dengan saudaraku. Makanan apa pun boleh dikonsumsi Bryan, yang penting jangan berlebihan dan tercukupi nutrisinya,” Khaira kesal mendengar perkataan Claudia.
“Mommy .... “ mata Bryan berkaca-kaca mendengar penolakan mommy-nya.
“Dia anakku, bukan anakmu. Terserah aku ingin memberinya apa pun. Dan kau tidak mempunyai hak atas Bryan,” Claudia menatapnya dengan pandangan berapi-api.
Khaira terdiam berusaha menahan diri. Perasaannya sedih mendengar ucapan Claudia. Ia memang tidak mempunyai hak atas Bryan. Tapi kedekatan mereka selama 3 minggu telah membuat rasa sayangnya kepada Bryan mengalir seperti air.
“Ada apa sayang?” Ivan yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka mengejutkan ketiganya yang masih dalam suasana tegang.
Penampilannya benar-benar fresh, dengan kaos kerah dan jeans biru membuatnya seperti pemuda kuliahan. Ia sudah bersiap untuk berangkat.
“Aku tidak suka perempuan itu memberikan Bryan makanan sampah,” Claudia mengadu pada Ivan dengan nada yang dibuat-buat.
Ivan melihat menu sarapan yang terhidang di meja makan. Ia mengernyitkan dahi, semua yang terhidang biasa saja dan tampak segar dengan nutrisi yang sudah dijamin.
“Apa yang dimasak istriku sudah memenuhi standar kesehatan,” ujar Ivan sambil merangkul Khaira yang terpaku tak bergeming, “Setiap apa pun yang dimasak di rumah ini adalah rekomendasi ahli gizi keluarga. Aku tidak mungkin membiarkan makanan sampah tersedia di rumah ini. Jadi jangan pernah berbicara omong kosong di hadapanku.”
Claudia terdiam. Ia merasa di-skak mat langsung Ivan. Tatapannya beralih pada Bryan yang tertunduk dengan kehadiran Ivan. Ia merasa dipermalukan di hadapan putranya sendiri.
“Kita lihat saja nanti,” batin Claudia.
Ia menatap Khaira dengan kesal. Keangkuhan dan kesombongannya semakin menjadi. Ia tidak terima Ivan mempermalukannya di hadapan Khaira dan beberapa art yang masih berada di ruang makan.
“Makanan di rumah ini membuatku pingin muntah,” ia bangkit dari kursi dan berjalan dengan cepat meninggalkan ruang makan.
“Mari kita sarapan bersama,” Ivan mengelus punggung Khaira yang mulai normal kembali setelah Claudia meninggalkan mereka.
“Daddy, apa boleh aku menikmati sarapan yang dibuat aunty?” Bryan menatap Ivan penuh harap.
“Tentu saja. Yang penting obat dan vitamin yang diberikan dr. Chang harus dihabiskan ya,” Ivan tersenyum sambil membelai kepala Bryan yang duduk di sampingnya.
“Terima kasih daddy,” Bryan merasa senang karena Ivan menuruti keinginannya.
Khaira tersenyum menyaksikan interaksi antara keduanya. Ia merasa Claudia telah menabuh genderang perang diantara mereka. Tapi ia tidak gentar. Ia akan melakukan perlawanan sekuat tenaga. Apa lagi secara jelas Ivan telah menunjukkan bahwa tidak ada sedikitpun rasa di masa lalu yang tertinggal di hatinya.
__ADS_1
***Salam hangat readerku tersayang. Dukung selalu karyaku ya .... Jangan lupa komen\, kritik\, saran\, like dan votenya. Happy always ..... ***