Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 226 S2 (Tamu Tak Beradab)


__ADS_3

Khaira merasa tidak nyaman dengan kehadiran Claudia di rumahnya saat ini. Padahal ia sudah merencanakan akan membawa Bryan bertamu ke rumah Hasya. Tetapi nampaknya Claudia mengurung Bryan, sehingga ia tidak bisa berinteraksi selama dua hari ini.


Yang ia lihat dari  kamar mereka di lantai atas, Claudia membawa Bryan berjalan-jalan di sekeliling rumahnya dan bersantai di dekat kolam renang. Khaira merasa heran, apa Claudia tidak bekerja, padalah hari ini bukanlah hari libur.  Tapi Khaira tidak mau ambil pusing. Ia akan mengikuti sampai di mana permainan Claudia akan berakhir.


Karena tidak mempunyai kegiatan lain, Khaira memasuki perpustakaan. Ia ingin memeriksa laporan gerai dan kafe yang telah dikirimkan melalui emailnya. Sudah tiga minggu ia melewatkan waktu untuk memeriksa laporan bulanan karena kesibukan barunya menemani keseharian Bryan.


Ketukan di pintu menghentikan pekerjaannya. Khaira menutup laptop dan mengalihkan pandangan ke arah pintu.


Dengan santai Claudia memasuki ruangan. Matanya nyalang menatap perpustakaan yang tertata dengan estetik. Ia merasa betah tinggal di rumah ini. Senyum penuh misteri tersungging di bibirnya.


“Aku tidak menyangka, setelah berpisah kehidupan Ivan semakin mapan,” tanpa dipersilahkan Khaira, Claudia langsung menghenyakkan tubuhnya di kursi yang berhadapan dengan meja kerja Khaira.


Khaira menatap Claudia sekilas. Ia tidak tertarik menjawab perkataan Claudia. Ia melanjutkan pekerjaan dengan membuka kembali laptopnya.


“Ivan benar-benar menjadikan kamu seorang ratu di rumahnya,” Claudia berkata dengan sinis, “Seharusnya aku-lah yang berada di posisi itu. Ku lihat kau sangat menikmati semua kemewahan yang diberikan Ivan.”


“Bukankah tugas seorang suami membahagiakan istrinya?” tukas Khaira cepat, “Aku tidak ingin mengetahui hubungan kalian di masa lalu. Aku bahagia mas Ivan memilihku sebagai istri.”


Ucapan  Claudia tidak mempengaruhi Khaira. Ia menjawab dengan santai dan  tetap melanjutkan pekerjaan mulai menghitung pemasukan dari kedua tempat yang menjadi tambahan keuangannya yang tersimpan dengan aman, belum lagi saham dari hotel yang semakin meluas jaringannya di bawah pengelolaan  Fatih.


“Seharusnya Ivan bisa memberikan separuh hartanya padaku. Aku telah melahirkan seorang putra untuknya,” Claudia mulai menaikkan kakinya di atas meja kerja Khaira, sehingga pahanya terekspos, “Kamu saja yang hanya menjadi istri pajangan buatnya telah dihadiahi sebuah gerai perhiasan ternama.”


Khaira mengerutkan keningnya mendengar perkataan Claudia. Ia menaikkan sudut bibir mendengar perkataan Claudia yang tak berdasar. Tapi ia malas menanggapi, tidak mendatangkan manfaat baginya mengomentari perkataan Claudia.


“Tak ku sangka Alex bisa move on dariku,” melihat Khaira yang tak bereaksi membuat Claudia semakin terpancing, “Selama di Boston kami satu tahun tinggal bersama. Banyak kenangan manis yang terjadi. Tidak mungkin Alex melupakan semuanya.”


Khaira mulai menghela nafas. Kesedihan sempat terselip di hatinya  mendengar cerita masa lalu Ivan. Tapi mau bagaimana lagi. Ia harus kuat, ini hanya sebagian ujian dalam pernikahannya.


“Akulah perempuan pertama yang mengisi kehidupan Alex,” Claudia merasa bangga karena berhasil membuat Khaira merasa tidak tidak nyaman.


“Mas Ivan tidak senang masa lalunya diungkit,” Khaira membalas tatapan Claudia dengan senyum tipis, “Kami sudah sepakat untuk  menatap masa depan tanpa melibatkan masa lalu yang tak berarti.”


“Video dan foto-foto lama kami sangat banyak,” Claudia kesal karena Khaira berhasil menahan emosinya dan tak terpancing dengan ucapannya, “Alex seorang yang memiliki stamina yang kuat. Aku masih ingat saat-saat kami menghabiskan waktu bersama .... ”


“Walaupun nona Claudia memperlihatkan semuanya dihadapanku tidak akan berarti apapun,” Khaira merasa gerah menghadapi sikap Claudia, “Sebagai tamu seharusnya anda bisa bersikap lebih sopan nona. Sebagai tuan rumah saya berusaha menjamu anda dengan baik. Baru kali ini saya menemui tamu yang tidak beradab.”


Claudia tersenyum sinis mendengar perkataan tajam Khaira, “Aku dan kau punya hak yang sama. Rumah ini juga rumah anakku. Jadi aku bebas  berbuat apa pun yang aku mau.”


“Bukankah mas Ivan telah memberikan apartemen dan memberikan sepertiga harta miliknya untuk keperluan hidupmu?” Khaira berusaha memancing untuk mengetahui apa yang ada di pikiran Claudia.


“Kau pikir aku senang menerimanya? Sementara kalian hidup nyaman di rumah megah ini tanpa terganggu dengan lingkungan apartemen yang sangat jauh dari suasana tenang dan nyaman.”

__ADS_1


Khaira tersenyum menanggapi perkataan Claudia, “Ketenangan dan kenyamanan itu kita yang membuatnya nona. Anda tidak akan pernah merasa puas jika tidak  mensyukuri apa yang telah anda peroleh.”


“Aku tidak tau bagaimana kau merubah Alex sehingga menuruti semua keinginanmu,” Claudia menatapnya dengan kesal. Ia merasa bahwa Khaira bukan lawan yang ringan. Ia harus menyusun rencana baru untuk membuat Ivan kembali padanya.


Dengan kasar Claudia bangkit dari kursi berjalan menuju pintu dan menutupnya dengan kasar. Ia benar-benar kewalahan dengan serangan balik dari perempuan yang sejak pertemuan pertama ia pandang sebelah mata.


Khaira tetap tenang menghadapi kelakuan Claudia. Ia merasa perempuan yang ada di hadapannya memang tidak memiliki rasa malu. Dan ia harus memasang strategi agar tidak jatuh dalam perangkapnya. Ia memandang kepergian Claudia dengan perasaan waspada.


“De, kenapa nggak jadi main ke rumah?” suara Hasya begitu nyaring ketika Khaira menghubunginya via ponsel untuk mengatakan bahwa mereka tidak jadi berkunjung.


“Masih ada mommy-nya Bryan menginap di rumah,” jawab Khaira enteng.


“Apa? Bule kutilang darat itu menginap di rumahmu? Astagfirullahaladjim de, hati-hati kamu. Pasti dia punya niat yang tidak baik.” Hasya langsung nyerocos mendengar perkataan Khaira, “Kenapa tidak kamu usir pulang?”


“Mba, walau bagaimana pun tamu adalah raja,” Khaira menahan senyum mendengar komentar Hasya, “Apalagi dia mommynya Bryan.”


“Raja aniaya,” tukas Hasya cepat, “Aku mulai berpikir jangan-jangan dia memperalat putranya untuk mempengaruhi Ivan.”


“Mba, nggak boleh suudzon .... “


“Ya udah ... Mba pesan kamu hati-hati ya. Jangan sampai lengah, siapkan amunisi untuk menghadapi musuh.”


Setelah melaksanakan salat Zuhur, Khaira kembali ke ruang perpustakaan. Ia merasa nyaman bekerja di sana. Suasananya nyaman, tempatnya juga tenang. Merasa lelah Khaira merebahkan badannya di sofa. Jendela ia buka lebar-lebar sehingga angin sepoi-sepoi membuatnya merasakan ngantuk yang tidak tertahan.


Claudia dan Bryan masih berbincang  di taman samping rumah ketika melihat mobil yang dikendarai pak Imron memasuki rumah. Ia dapat melihat bayangan Ivan dari dalam mobil. Dengan cepat ia meminta Mercy membawa Bryan kembali ke kamar.


Perasaan lega dan senyum terbit di wajah Ivan begitu kembali ke rumah. Ia sangat merindukan sosok sang istri serta Bryan. Ia yakin bersama Khaira kondisi Bryan semakin membaik.


Saat kembali ke kamar, Ivan tidak melihat sosok istrinya. Ia mengganti pakaian dengan baju kaos oblong. Ia telah mempercepat kepulangannya yang terjadwal jam 5 sore. Begitu kegiatan selesai jam 10 siang, ia langsung meminta Roni untuk menyiapkan kepulangannya.


Saat berdiri di depan jendela kamar yang menghadap ke kolam renang Ivan melihat sosok yang sedang berenang. Ia menajamkan pemandangannya.


“Siang-siang begini nekad berenang .... “ Ivan menggelengkan kepala setelah menyadari bahwa Claudia-lah yang berada di kolam renang tersebut, “Seperti tidak ada pekerjaan.”


Ivan turun kembali ke bawah. Kebetulan ia berpapasan dengan Mercy yang membawakan jus sirsak buat Bryan.


“Selamat siang tuan,” Mercy menyapanya dengan sopan.


Ivan menganggukkan kepala, “Bagaimana keadaan Bryan nona Mercy? Apa ada keluhan lain selama ini?”


“Tidak tuan. Bryan semakin bersemangat. Dia senang tinggal di sini. Ia pun menikmati kebersamaan dengan nyonya,” Mercy berkata dengan serius.

__ADS_1


“Syukurlah,” Ivan merasa senang dengan jawaban Mercy. Harapannya sesuai kenyataan. Bryan dan Khaira semakin akrab, “Apa sekarang ia tidur?”


“Benar tuan. Seharian tadi bersama nona Claudia membuat Bryan kelelahan. Ia ingin beristirahat sekarang.”


“Baiklah Mercy. Sampaikan salamku untuk Bryan.”


Pandangannya kini mulai mengitari ruangan, berusaha mencari sosok sang istri. Tapi ia tidak melihat Khaira, suaranya pun tidak ada kedengaran sejak awal ia datang.


“Nyonya kemana bi?” Ivan menghampiri bi Risma yang sedang mempersiapkan jus alpukat sesuai permintaan Claudia.


“Selesai salat nyonya kembali ke atas,” ujar bi Risma cepat sambil meletakkan jus di atas meja, “Tuan ingin makan siang sekarang?”


Tatapannya beralih pada Claudia yang berjalan mendekati Ivan.  Ia terkejut melihat Claudia yang hanya menggunakan bikini yang ditutup dengan handuk kecil duduk di meja makan dengan santai.


“Kamu baru tiba?” Claudia bertanya dengan penuh perhatian pada Ivan sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


Ivan menatap Claudia sekilas. Ia malas menanggapi pertanyaan Claudia. Keinginannya hanya satu bersama sang istri. Sudah lama juga mereka tidak meluangkan waktu untuk dinner romantis, apa lagi semenjak Bryan mulai bersama mereka.


Melihat Ivan yang tidak menanggapi pertanyaannya Claudia merasa kesal. Ia yakin, daya tarik fisiknya masih mampu menarik Ivan untuk mendekat. Tapi Ivan hanya meliriknya tak mempedulikan pertanyaannya.


“Minggu besok saya akan membawa Bryan kontrol pada dr. Farel, Sp.B.Onk.,”  perkataan Claudia menghentikan langkah Ivan.


Ia memandang Claudia datar. Kini Ivan ingat bahwa atas rekomendasi mas Valdo ia meminta Hari mengurus semua keperluan Bryan dan Claudia saat mereka berdua masih berduka atas kepergian oma.


“Baiklah, aku akan meminta Hari untuk mengantar kalian,” Ivan manggut-manggut sambil menghidupkan aplikasi di ponsel untuk mengetahui keberadaan sang istri, “Dia akan melihat jadwal dr. Farel.”


“Apa kamu tidak ingin mengetahui perkembangan Bryan?” Claudia menatapnya lekat penuh harap.


Ivan mengangkat wajahnya mendengar ucapan Claudia, “Aku akan melihat jadwal. Jika ada waktu aku pasti akan menemani Bryan.”


Claudia merasa girang dalam hati mendengar jawaban Ivan. Ia yakin hanya melalui Bryan ia dapat mengendalikan Ivan. Ia tau, figur Khaira terlalu kuat mendominasi kehidupan Ivan, tapi ia optimis dengan keberadaan Bryan semua yang mustahil bisa menjadi kenyataan.


Senyum Ivan terbit saat mengetahui posisi sang istri. Tanpa pamitan pada Claudia, dengan cepat Ivan kembali ke lantai atas untuk menemui sang istri.


Dengan pelan ia membuka pintu ruang perpustakaan yang berhadapan dengan kamar utama mereka di lantai atas. Pandangannya mengitari ruangan yang didominasi warna putih tersebut. Ia melihat sosok Khaira yang tertidur di salah satu sofa dengan nyenyak.


Ivan berjongkok di depan wajah istrinya yang terlelap dalam tidurnya. Dengkuran halus terdengar membuat senyum terbit di wajah Ivan. Karena sofa cukup lebar untuk menampung dua orang, dengan santai Ivan segera merebahkan tubuhnya di samping sang istri. Tangannya ia rentangkan untuk menopang kepala Khaira.


Perasaannya langsung tenang saat sudah berada di dekat istrinya. Ia menatap lekat wajah ayu yang semakin nyenyak dalam tidurnya. Ia tau, bahwa Claudia berusaha memancingnya. Tapi ia sudah memantapkan hati, bahwa hanya ada nama Khaira yang akan selalu tersemat di dalam hati. Tidak ada tempat lagi untuk siapa pun yang ingin singgah di sana. Ia sudah mengunci hatinya hanya untuk sata nama yaitu Khaira istrinya tercinta.


***Hayooo\, rencana apa lagi yang akan dipersiapkan bule kutilang darat untuk merusak hubungan antara Ivan dan Khaira. Dukung terus ya .... ***

__ADS_1


__ADS_2