Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 174 S2 (Menuju Halal)


__ADS_3

Suasana malam ini di rumah oma Marisa benar-benar ramai. Semua saudara Khaira berkumpul dan menginap di sana. Suara anak-anak yang bermain dan berlari-larian membuat masing-masing baby sitter sibuk mengawasi.


Karena besok akad nikah, maka malam ini diadakan pengajian di rumah oma Marisa, begitu pun di rumah tante Laras. Semuanya berharap saat pelaksanaan ijab qabul tidak ada kendala dan gangguan apapun.


Dengan memakai kemeja koko Ivan duduk berdampingan dengan Denis, Fahri dan  ustadz Imron  yang merupakan imam masjid di komplek tempat tinggal Laras.


Laras sengaja mengumpulkan semua saudaranya untuk bersama-sama mendoakan kelancaran bagi putra semata wayangnya yang akan menempuh hidup baru. Saat melihat Ivan duduk memakai peci hitam dengan koko putihnya tak terasa air matanya menetes. Wajah suaminya begitu mirip dengan Ivan. Ia berharap Ivan akan menemukan kebahagiaan dan kekal sampai akhir bersama calon menantu yang memang ia idamkan sejak awal pertemuan.


“Semoga nak Ivan bisa menjadi imam dan pemimpin yang baik bagi istri dan anak-anaknya jika sudah terjadi ijab qabul esok,” ustadz Imran menyalami Ivan saat acara doa bersama telah selesai dan ia pamit pulang.


“Terima kasih atas doa dan  semua bantuan yang ustadz  berikan,” Ivan membalas jabat tangan ustadz Imron dengan hangat.


Kembali ia duduk bersama Denis dan Fahri. Ketiganya terlihat obrolan ringan, dari masalah pekerjaan hingga jodoh masing-masing.


“Maafkan aku, karena tidak mengetahui kondisi istrimu,” Ivan akhirnya teringat dengan Fahri yang belum lama menduda.


“Terima kasih,” Fahri tersenyum tipis, “Jodoh, rejeki dan maut semua sudah di atur Allah, tinggal bagaimana kita menjalaninya. Seperti doa ustadz Imran buatmu, aku pun mendoakan yang sama, semoga Allah melindungi rumah tangga yang akan kamu bangun.”


“Aamiin ya Rabbal alaamiin …. “ Denis menjawab dengan cepat.


“Aku tidak menyangka kamu bisa meraih hatinya dengan cepat. Tapi, mungkin memang dia jodoh yang ditakdirkan Allah untukmu.”


Ivan tau makna dibalik perkataan Fahri. Ia berusaha tidak menanggapinya hanya membalas dengan senyum.


“Jodoh memang rahasia ilahi, kita tidak akan pernah tau siapa yang akan menjadi jodoh kita,” Denis berkata dengan bijaksana, “Yang pasti jika memang berjodoh, jagalah dengan baik, jangan disia-siakan. Ingat itu!”


Ivan memandang Denis sambil mengacungkan jempolnya. Ia tenang, karena Denis sudah bisa move on dari calon istrinya, dan ucapan bijak Denis membuat ia bersemangat menjalani hari esok.


Sementara di kediaman oma Marisa pengajian juga baru selesai. Kini Ariq dan saudaranya segera berbenah. Besok pagi pernikahan akan dilaksanakan di hotel Horisson tepat jam 9 pagi. Kemudian resepsi disepakati mulai jam 7 malam, Khaira sudah tidak bisa menolak, sepenuhnya itu sudah kesepakatan kedua belah pihak.


Rheina  menyimpan dua buah gaun pengantin yang akan digunakan Khaira untuk akad dan resepsi pernikahan esok. Ia merasa senang karena semua selesai pada waktunya. Walau kemaren ia sempat kesal karena terjadi accident atas gaun yang akan digunakan Khaira, beruntung ia dan pegawainya mampu mengatasinya.


Saat itu ia baru kembali habis mengantar Ivan ke depan, Rheina terkejut mendapati Irene yang menarik  payet batu swarovski penghias gaun yang akan digunakan Khaira untuk akad. Ia curiga Irene akan melakukan sesuatu yang negatif.


“Apa  yang kau lakukan?” bentak Rheina kesal.


Sontak Irene terkejut tidak menyangka Rheina akan kembali secepat itu. Dengan cepat ia melepaskan tangannya dari gaun yang mulai kusut akibat payet batu swarovski yang ia tarik secara paksa.


“Ku … ku lihat masih ada benang yang belum dirapikan,” Irene menjawab dengan gugup karena perbuatannya diketahui sang pemilik butik.


“Dengar ya mbak, gaun ini sudah siap pakai. Jadi jangan membuat masalah. Jika tidak ingin saya laporkan pada tante Laras cepat keluar dari tempat ini,” Rheina menatap Irene dengan mata melotot.


Dengan perasaan khawatir Irene berjalan cepat keluar dari ruangan kerja Rheina yang khusus menyimpan gaun pengantin yang akan digunakan dua hari ke depan. Ia merasa malu jika perbuatannya diketahui tante Laras dan Ivan. Mau ditaruh dimana mukanya, dan alasan apa yang akan ia buat jika tante Laras menanyakan kepadanya.


“Wah cantik banget gaunnya,” Ira memuji kerjaan adik iparnya.

__ADS_1


“Dari yang punya sampai gaunnya penuh drama,” ujar Rheina sambil merapikan dua gaun yang sudah siap untuk Khaira esok, sedangkan buat Ivan sudah dibawa Roni siang tadi.


“Maksudmu?” Ira memandang Rheina dengan heran.


“Aku tu ya kesel banget sama tante Indah dan anaknya si perawan tua …. “ gerutu Rheina.


“Eh, nggak boleh gitu, ntar jadi doa lagi.”


“Emang ngeselin! Kita udah cape-cape bikin gaun akad, tau-taunya payet bertabur batu ditariknya hingga kusut.”


“Maksudmu gaun untuk akad Rara mau disabotase?”


“Wah bahasanya ketinggian itu mah …. “


“Emang betul khann?” Ira jadi tak habis pikir mendengar cerita Rheina tentang kelakuan Irene dan mamanya.


“Itulah susahnya dapat suami orang beken, kasian ade. Belum menikah aja cobaannya udah seperti ini, apa lagi kalau sudah menikah, nggak bisa ku bayangkan,” Rheina geleng-geleng kepala mengingat drama  yang terjadi di butiknya hari ini.


“Huss, jangan bicara seperti itu. Kasian ade nanti jadi tertekan.” Ira mengingatkan Rheina agar tidak berkata yang berlebihan.


“Emang betul sih mbak. Ini baru satu, belum lagi dari mantan-mantan yang belum move on ….”


Mendengar ucapan Rheina, Ira jadi teringat omongan Ariq tadi siang saat hendak berangkat ke rumah oma.


Ariq mengatakan kalau ia dan Ali mencurigai dua orang laki-laki serta satu perempuan yang terus memata-matai rumah oma bahkan hotel yang akan menjadi tempat penyelenggaraan akad dan resepsi.


“Semoga firasat mas Ariq dan suamimu tidak terbukti.” Ia berusaha membuang pikiran negatif yang tiba-tiba muncul di benaknya.


“Apa ada sesuatu yang mencurigakan?” Rheina selesai merapikan dan menyimpan kedua gaun pengantin di lemari pakaian Khaira, dan kini duduk di hadapan Ira yang masih membereskan barang hantaran Khaira yang masih belum tersusun rapi.


“Itulah yang sedang mereka rundingkan di depan. Mas Ariq sudah meminta pengamanan berlapis untuk penyelenggaraan pernikahan besok. Ia sengaja tidak membicarakan ini pada Ivan.  Yang  pasti kita akan melihat siapa yang berusaha menggagalkan pesta ini esok harinya.”


Rheina mengangguk mendengar cerita Ira. Rasanya ngeri juga setelah mendengarnya. Ia jadi berpikir, kalau saja yang menikah Khaira dan almarhum Abbas, mungkin pengamanan pestanya tidak seketat ini.


“Jangan sampai ade tau masalah ini. Kita harapkan tidak ada aral melintang di acaranya besok.”


“Aamiin,” Rheina menjawab dengan cepat.


Akhirnya keduanya segera keluar dari kamar pengantin, begitu kamar sudah rapi, karena Ira sudah memindahkan dan menyusun semua barang hantaran yang belum sempat dikemas Khaira ke dalam lemari yang masih banyak kosong.


Khaira baru selesai melaksanakan salat Isya setelah acara pengajian selesai dilaksanakan. Ia masih duduk di tikar sembahyang.  Sejak awal melaksanakan salat ia sudah menahan air matanya. Dan kini saat berdoa, ia sudah tidak mampu membendung air matanya yang tumpah seperti air bah.


Ia menyadari mulai besok statusnya akan berubah, dari jandanya almarhum Abbas akan menjadi istri Alexander Ivandra orang yang paling ia benci, tapi di waktu yang sama ia telah mengandung benih lelaki itu di dalam rahimnya.


Dengan posisi masih duduk di tikar sembahyang, Khaira memejamkan mata. Ia ingin mengingat kenangan bersama Abbas, dan berharap akan berjumpa kembali di alam mimpi. Khaira membiarkan butiran-butiran mutiara yang masih mengalir membasahi pipi. Bibirnya tak mampu berucap, hanya hatinya yang terus berharap  kepada sang Khalik untuk mempertemukannya pada Abbas meskipun hanya lewat mimpi.

__ADS_1


Saat semua sudah memasuki kamar untuk beristirahat, Hasya memasuki kamar adiknya yang besok akan melepas statusnya. Ia baru saja menidurkan Babby A yang agak rewel karena tidak terbiasa tidur di tempat baru.


Dengan pelan Hasya menghampiri Khaira yang masih terpekur di tikar sembahnyangnya. Ia duduk di samping Khaira. Dapat ia lihat adiknya yang masih terisak dengan air mata yang terus mengalir di pipi.


“De …. “


Khaira membuka kelopak matanya mendengar seseorang memanggilnya. Ia terkejut melihat Hasya sudah duduk di sampingnya.


Hasya tersenyum lembut, “Menangislah jika itu mampu mengurangi beban di pundakmu.” Hasya menepuk pundak Khaira.


Khaira langsung merangkul Hasya dan menumpahkan kembali beban yang masih mengganjal di dadanya.


“Sekarang apa yang kamu pikirkan?” Hasya mulai membelai pundak Khaira berusaha memberinya kekuatan.


“Aku sedih, mulai besok hubunganku dengan a Abbas akan berakhir,” isak Khaira terdengar pilu.


Hasya merasa terenyuh mendengar ucapan Khaira. Sebagai saudara ia pun merasa sedih, apalagi Khaira yang mengalami semua, tentu tidak bisa dibayangkan bagaimana ia menahan semua kesakitannya seorang diri.


“Mbak nggak bisa berkata apa pun, karena mbak juga merasakan kesedihanmu.” Hasya mulai melepas rangkulannya.


Ia menggenggam kedua tangan Khaira. Matanya tertumbuk pada tiga cincin yang melingkari jari adiknya.


“De, mulai malam ini kamu harus melepas segala sesuatu yang berkaitan dengan Abbas,” Hasya tepat menatap di manik mata Khaira.


Ia meminta Khaira  meletakkan kedua jemarinya. Tanpa meminta persetujuan Khaira, Hasya langsung melepas satu demi satu cincin yang melingkar di jemari Khaira. Rasanya ia tak sanggup melakukan itu. Melihat Khaira yang meneteskan air mata karena kenangannya bersama Abbas akan segera lepas bersama cincin yang kini mulai dicabut Hasya satu demi satu, hingga yang tertinggal cincin tunangan yang diberikan Ivan di malam lamaran.


“Sebenci apa pun kamu dengan Ivan, dialah suamimu. Ayah dari bayi yang kau kandung,” Hasya berkata dengan suara bergetar, “Jangan sampai kita melakukan dosa besar karena tidak patuh pada suami.”


Khaira tercekat mendengar perkataan kakaknya. Ia mengetahui itu semua. Dan ia sangat memahaminya karena telah menjalani bersama Abbas. Tapi Ivan ….


Entah sampai kapan ia bisa membuang kebencian yang teramat besar pada sosok yang telah merampas kehormatannya secara paksa bahkan kini meninggalkan benih di tubuhnya, yang tak bisa ia tolak karena terus tumbuh dan berkembang.


“Jangan sampai malaikat mengutuk kita karena meninggalkan tempat tidur tanpa seizin suami,” Hasya menatap adiknya dengan lekat, “Kamu ingat sebagaimana sabda Rasulullah SAW: ‘Seandainya aku boleh menyuruh seorang sujud kepada seseorang, maka aku akan perintahkan seorang perempuan sujud kepada suaminya …..’ Sebagai seorang istri sudah kewajiban kita untuk taat kepada suami.”


Mendengar ucapan Hasya kini isak tangis Khaira mulai terdengar kembali. Ia paham semua yang dikatakan Hasya karena ia dan Abbas selalu membahasnya sebelum pernikahan mereka dilaksanakan.


“… jadi, sebenci apa pun kamu terhadap Ivan, jangan lah pernah menolak keinginannya Ingat antara benci dan cinta itu sangat tipis perbedaannya. Allah mudah membolak-balik hati manusia. Sekarang bisa jadi kamu sangat membencinya, tapi siapa tau besok kamu mencintainya. Apalagi kamu telah mengandung anaknya. Biasanya keinginan kita dengan si jabang bayi akan bertolak belakang. Jadi bersiaplah menghadapi kejutan-kejutan selama kehamilanmu.”


Khaira terdiam. Ia tau, Hasya sedang menjalankan tugasnya sebagai pengganti seorang ibu yang akan membekali putrinya dengan ilmu dasar pernikahan.


“Kita tidak bisa melawan takdir. Sekuat apa pun kita menghindar, tetapi jika Allah menghendaki maka kita hanya bisa menerima dengan ikhlas,” ujar Hasnya pelan, “Apa yang menurut kita baik, belum tentu di sisi Allah itu baik. Begitupun menurut kita buruk, padahal itu lah yang terbaik buat kita di sisi Allah.”


Hasya membelai pundak Khaira yang kini mulai tenang, “Contohlah almarhum bunda. Beliau adalah teladan yang terbaik bagi kita anak-anaknya. Jika kita ikhlas menjalani, insyaAllah Allah akan memberikan kebahagiaan yang hakiki pada kita semua.”


*** Yang sabar ke resepsinya ya .... ***

__ADS_1


Dukung terus, demi cinta pada reader tugas negaranya dikebut besok. Heppy weekend. Semoga author kalap crazy up. Up ... and up ... he he .... 


__ADS_2