
Dengan terpaksa Ivan menghubungi Irene karena ia memerlukan akses untuk mendekati dokter yang bertugas di rumah sakit Mounth Elizabeth. Padahal ia tidak pernah berkomunikasi dengan Irene semenjak terakhir ia mengunjungi Irene dan suaminya keesokan paginya karena tidak datang pada saat resepsi pernikahan mereka.
Kedatangannya bersama Khaira untuk makan bersama di hotel tempat kedua mempelai menginap sebelum pergi berbulan madu ke Korea Selatan. Kehadiran Ivan diantara kedua mempelai dan keluarga inti tante Indah membuat Ivan diperolok sepupunya yang lain. Tapi dengan santainya Ivan menanggapi semuanya. Dari obrolan yang terjadi antara ia dan Rama, Ivan mengetahui bahwa sepupu Rama bekerja sebagai dokter bedah di rumah sakit terkenal se-Asia Tenggara itu.
Dr. Raymond adalah sepupu Rama yang sudah bekerja selama 10 tahun sebagai dokter bedah jantung di rumah sakit Mounth Elizabeth. Ia merasa senang saat dihubungi Rama tentang kedatangan saudaranya yang akan mengunjungi dr. Raymond di rumah sakit.
Pagi itu Ivan dengan menyewa mobil sekaligus drivernya mengikuti kegiatan Khaira. Bukannya Ariq tidak tau keberadaan mantan adik iparnya, tapi ia tidak ingin merusak suasana hati Khaira dan kedua bocah kembar yang selalu antusias saat dibawa ke luar. Hari ini jadwal mereka untuk berkunjung ke rumah sakit Mounth Elizabeth untuk memastikan kondisi Fajar saat mengalami kecelakaan kecil kemaren. Mereka sudah melakukan janji temu dengan dr. Eveline Anderson yang menangani si kembar pasca Khaira dioperasi sesar.
Anwar berada di Singapura kebetulan mengikuti Seminar Dokter Jantung Internasional di Hotel Sheraton Tower, Singapura yang akan diadakan dua hari ke depan. Saat Khaira memberitahunya akan membawa si kembar ke Singapura ia merasa senang dan berjanji akan menemani mereka berjalan-jalan menikmati kota Singapura selama berada di sana.
Ariq merasa senang Khaira ada yang menemani, walaupun demikian ia tak ingin Khaira kelelahan. Ia menggendong Embun yang selalu ingin berjalan sendiri. Ia tak bisa membiarkan si mungil terlepas dari genggaman tangan Khaira. Beda dengan Fajar yang dengan anteng digandeng Khaira hingga ke lobi hotel saat Anwar datang menjemput.
Ariq dan Khaira merasa lega mengetahui bahwa kondisi Fajar baik-baik saja, dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
“Wah, mereka sangat lucu dan menggemaskan,” dr. Eveline tersenyum lebar melihat si kembar yang duduk manis dihadapannya didampingi Ariq dan Khaira, “Tak terasa keduanya sudah dua tahun.”
“Terima kasih dokter,” Khaira senyum melihat sikap ramah yang ditunjukkan dokter Eveline saat berkomunikasi bersama mereka terutama si kembar.
Sementara itu di dalam ruang praktek dr. Raymond dan Ivan tampak berbicara santai. Ivan menceritakan maksud kedatangannya.
“Saya senang dikunjungi saudara jauh,” senyum ramah dr. Raymond menyambut kedatangan Ivan, “Bagaimana kabar Irene dan Rama?”
“Mereka baik-baik saja,” Ivan menjawab sekenanya, karena dia tipe orang yang tidak suka berbasa-basi.
“Jadi Mr. Ivan apa yang ingin anda konsultasikan dalam pertemuan pertama kali ini?” Raymond memandangnya dengan penuh perhatian.
Ivan terdiam sebentar, ia tidak mungkin menceritakan masalah yang terjadi dalam rumah tangganya. Tapi keinginan terbesarnya adalah mengetahui kondisi putra yang tidak pernah ia ketahui keberadaan mereka hingga diusia si kembar sudah dua tahun.
“Ini bukan tentang kesehatanku, tapi putraku,” tandas Ivan.
Raymond menatap Ivan sambil mengerutkan keningnya. Ia belum memahami perkataan Ivan. Karena saat Rama menelponnya tadi pagi hanya menceritakan bahwa sepupu istrinya ingin mengunjunginya, sehingga ia mengatur jadwal visit room untuk menemui saudara yang dimaksud.
“Aku ingin mengetahui kondisi putraku,” akhirnya Ivan tak bisa menyembunyikan keinginannya yang teramat besar.
Ia menceritakan kecelakaan kecil yang terjadi pada putranya, alasan yang membuatnya tak bisa mendampingi Khaira dalam melakukan pemeriksaan sekilas ia katakan. Ivan tak ingin Raymond mencurigainya.
“Untuk yang lain, ku harap kamu mengerti. Tapi sebagai orang tua aku hanya ingin melindungi putra kami,” Ivan mengakhiri kisahnya.
“Baiklah,” Raymond manggut-manggut, “Aku akan menemanimu menemui dr. Eveline Anderson. Dialah yang menangani pasien anak-anak.”
“Terima kasih Ray. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu,” Ivan merasa lega saat Raymond memberikan jawaban yang membuatnya merasa bahagia.
Satu jam kemudian, keduanya sudah berada di dalam ruang praktek dr. Eveline yang sudah kosong dari pasien lainnya.
“Selamat siang dr. Raymond,” dr. Eveline tersenyum ramah melihat dua lelaki gagah berada di dalam ruangan prakteknya.
“Maafkan saya dr. Eve,” Raymond memanggil dr. Eveline dengan panggilan kesehariannya, “Perkenalkan saudara saya Alex. Beliau dari Indonesia sengaja menemui anda untuk berkonsultasi perkembangan putranya.”
Ivan memandang kedua dokter dihadapannya yang masih berbasa-basi sambil memperkenalkan dirinya. Ia hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala saat dr. Eveline memandangnya dengan ramah.
__ADS_1
“Apa yang bisa saya bantu tuan Alex?” kini tatapan dr. Eveline memandangnya dengan antusias.
“Saya ingin mengetahui kondisi putra saya yang menjadi pasien anda dok,” Ivan langsung menyampaikan keinginannya.
“Pasien saya sangat banyak. Mungkin anda bisa menyebutkan namanya?” dr. Eveline tersenyum melihat kegelisahan yang tergambar di wajah tamunya.
“Fajar,” Ivan langsung menjawab seketika.
Dr. Eveline terdiam sesaat. Pikirannya bekerja cepat. Dua jam yang lalu ia baru saja memeriksa pasien yang bernama Fajar. Mungkinkah?
“Fajar Putra Setyawan?”
“Benar,” jawab Ivan cepat.
“Anda tak perlu khawatir. Ia baik-baik saja,” senyum dr. Eveline mengembang sempurna, “Kedua bocah kembar itu sangat menggemaskan. Saya yang menanganinya saat kelahiran keduanya dua tahun yang lalu.”
Ivan tercekat. Ia tak mampu berkata. Hal ini lah yang tidak pernah ia ketahui. Ia tidak menyangka bahwa di rumah sakit inilah Khaira telah melahirkan kedua bocah kembar mereka tanpa dirinya mendampingi.
“Keadaan nyonya Aisha saat itu tidak baik-baik saja,” ingatan dr. Eveline kembali ke dua tahun yang lalu saat menangani si kembar.
Ia mendengar dr. Philips yang menangani ibu sang bayi yang dalam keadaan koma selama 6 jam pasca operasi. Tapi karena ia terfokus pada si kembar, dr. Eveline hanya mendoakan yang terbaik buat ibu kedua bayi kembar yang ia tangani.
Perasaan sedih kembali menerpa Ivan membayangkan kesusahan yang dialami Khaira saat melahirkan bayi kembar mereka. Ia larut dalam lamunan yang membuat matanya berkabut membayangkan ia tak berada di sisi Khaira saat itu.
“Si kembar kondisinya sangat baik. Mereka menjadi pasien kesayangan kami semua. Cantik dan tampan,” dr. Eveline membayangkan kedua bayi merah yang baru saja dilahirkan kini sudah menjadi bocah yang menggemaskan.
Karena tak ingin larut dalam kesedihan, akhirnya Ivan mengakhiri sesi konsultasi itu. Ia tidak mungkin bertanya terlalu jauh pada dr. Eveline tentang peristiwa kelahiran si kembar. Satu-satunya orang yang akan ia temui untuk melihat dokumen kelahiran mereka adalah ustadz Hanan. Ia yakin, Khaira melengkapi dokumen miliknya di tempat ustadz Hanan.
Kini ia tidak khawatir lagi setelah mendengar langsung dari dokter yang telah memeriksa kondisi Fajar, buah cintanya dengan Khaira yang mulai detik ini tak akan ia biarkan jauh dari pandangannya.
“Saya permisi,” Ivan menatap Raymond yang berdiri di sampingnya, “Terima kasih atas waktumu, Bro.”
“You are welcome,” Raymond menepuk bahunya penuh kehangatan, “Jangan ragu, jika ada permasalahan langsung hubungi aku.”
Ivan memeluk Raymond sebelum meninggalkan rumah sakit Mounth Elizabeth. Kini ia merasa lega saat kembali ke mobil. Ia tidak ingin hal lain lagi. Pikirannya kini terfokus pada Khaira dan si kembar.
Ia menghubungi Edward untuk menanyakan posisi terkini Khaira dan si kembar. Ia merasa beruntung memiliki sahabat pengertian seperti Edward yang selalu siaga saat ia butuhkan. Tiga menit kemudian pesan masuk ke ponsel.
Dengan cepat Ivan membuka ponselnya. Senyum kecut tergambar di wajahnya melihat Khaira menggandeng Embun, sedangkan Fajar berada di gendongan Anwar. Mereka berempat memasuki Vivocity seperti keluarga kecil yang berbahagia.
Walaupun kesal, tapi Ivan tidak bisa berbuat apa-apa. Dengan perasaan kesal ia meminta driver mengantarnya ke pusat perbelanjaan teramai di Singapura tersebut.
Setelah keluar dari rumah sakit, Ariq tidak bisa menemani Khaira dan si kembar untuk menikmati keramaian kota Singapura, ia harus menghadiri penutupan seminar internasional perusahaan IT yang ia hadiri. Besok siang mereka harus kembali ke Indonesia, karena Ariq akan mengadakan rapat tahunan di perusahaannya.
Anwar dan Khaira menemani si kembar bermain di area bermain anak. Si kembar tampak senang melihat ramainya suasana di tempat bermain. Ivan mengamati semua kegiatan mereka dari kejauhan. Dengan menggunakan masker dan topi membuat sosoknya tidak dikenali.
Hati Ivan seperti dicubit melihat pemandangan yang tersaji di hadapannya. Ia yang seharusnya mendampingi Khaira dan si kembar, tapi posisi itu kini dilakukan oleh lelaki lain yang tidak ada hubungan sama sekali dengan mereka.
“Ya, Allah permudahlah jalan hamba untuk menyatukan keluarga hamba yang tercerai berai,” bisik hati Ivan dalam hati sambil mengusap matanya yang terasa perih tak kuat melihat semua yang ada di hadapannya.
__ADS_1
Sementara itu Khaira membuka ponsel karena ada pesan yang tiba-tiba masuk. Ia tersenyum melihat pesanan ustadzah Fatimah yang tertulis dengan rapi di gambar yang baru ia terima.
“Aku bawa dede Embun dulu. Ada pesanan dari pondok,” Khaira menghampiri Anwar yang masih menemani Fajar bermain mobil mini. Keduanya tampak akrab sekali, “Titip Fajar ya ....”
Anwar menganggukkan kepala. Ia merasa senang mendapat kesempatan membawa Khaira dan si kembar berjalan-jalan menikmati suasana Singapura. Keinginannya untuk menaklukkan hati perempuan yang telah memiliki si kembar ini masih sangat besar. Ia tetap berharap suatu saat Khaira membuka hati dan menerima kehadirannya dalam kehidupan mereka.
Ivan mengikuti langkah Khaira dan Embun yang mulai menjauh dari area bermain anak dengan tetap menjaga jarak aman agar Khaira tidak curiga.
Dengan santai Khaira menggandeng Embun memasuki pusat perbelanjaan. Ia singgah untuk mengambil troli yang akan mempermudahnya selama memilih barang yang akan dibeli. Embun kelihatan senang saat ditempatkan di atas troli. Khaira tersenyum mendengar Embun yang mulai berceloteh sambil bernyanyi dengan ceria.
Saat ia mulai memasuki area parfum wanita, mata Khaira berbinar melihat apa yang ia cari tepat di depan mata. Saat tangannya hendak meraih parfum sebuah jari lentik meraihnya dengan cepat.
Khaira terdiam. Karena tidak ingin membuat masalah Khaira langsung bergegas dan mendorong troli maju. Ia tidak ingin menyapa Claudia, perempuan yang kini tegak di hadapannya.
Claudia menatap Khaira tajam. Walau pun mereka sudah lama tidak bertemu, tetapi dari jarak dekat Claudia merasa bahwa perempuan yang berpenampilan tertutup di hadapannya bukan orang lain. Ia sangat mengenal aroma parfum serta mata bening itu. Ia menghadang langkah Khaira.
“Permisi Nona, biarkan kami lewat,” Khaira berkata dengan pelan.
“Serapat apa pun kau membungkus dirimu, tak akan bisa menutupi kebusukanmu,” suara Claudia terdengar lantang di telinga Khaira.
“Maaf, saya tidak memiliki masalah dengan Nona,” Khaira tidak ingin menanggapi perkataan Claudia.
“Kau pikir dengan mengangkat anak bisa membuat Ivan kembali padamu,” Claudia tertawa sinis, “Aku merasa kasihan, karena dirimu hanya seorang perempuan mandul.”
Khaira menekan emosi mendengar ucapan sinis Claudia. Ia tidak ingin mempermalukan diri sendiri dengan meladeni Claudia yang seperti orang frustrasi.
Khaira tersenyum tipis mendengar Claudia yang berbicara seenaknya. Ia menatap Embun yang mulai berhenti mengoceh mendengar suara keras perempuan di hadapannya.
“Entah anak siapa yang kau pungut untuk memikat Ivan kembali,” suara tinggi Claudia membuat Embun menangis terkejut.
“Jaga mulut anda Nona!” kini emosi Khaira terpancing mendengar Claudia mengusik buah hatinya, “Kau boleh menghinaku. Tapi jangan usik putriku.”
“Huh! Claudia mencibir. Matanya melirik Embun yang menatapnya dengan raut ketakutan, “Mungkin sekarang kau sedang berbahagia karena Alex telah kembali padamu, dan kamu bisa menikmati semua kekayaan Alex yang seharusnya menjadi milikku.”
Khaira meraih Embun dan menggendongnya dengan cepat. Ia tidak ingin telinga suci putri kecilnya ternodai dengan kata-kata makian dan umpatan dari perempuan masa lalu Ivan.
“Berkatalah semaumu Nona. Dan maaf, kita sangat jauh berbeda. Aku tidak akan memperalat putriku hanya untuk kekayaan yang tidak ada nilainya bagiku. Jadi jangan pernah menyamakan aku dan dengan dirimu,” Khaira membalas tatapan Claudia dengan tajam.
“Kurang ajar!” tangan Claudia sudah terayun mengarah ke wajah Khaira ketika sebuah tangan kokoh menahannya dengan kuat.
Ivan marah melihat apa yang dilakukan Claudia terhadap Khaira dan Embun yang kini mulai menangis dalam pelukan Khaira.
“Jangan sentuh Rara dan putriku!” bentak Ivan membuat nyali Claudia menciut.
“Alex .... “ Claudia terkejut menyadari kehadiran Ivan dihadapannya.
Ia tak percaya mendengar ucapan Ivan yang mengakui bahwa anak perempuan yang bersama Khaira adalah anaknya.
Ivan mencengkeram tangan Claudia dengan keras. Ia tidak menyangka Claudia telah mencela Khaira dan putrinya tepat di depan matanya. Dan ia tidak terima orang lain menghina perempuan dan anak yang akan ia perjuangkan di masa yang akan datang.
__ADS_1
“Bunda .... “ tangis Embun tak berhenti sambil memanggilnya.
Khaira memandang Ivan dan Claudia dengan tatapan sinis. Tanpa berkata apa pun ia meninggalkan troli yang masih kosong tanpa berisi apa pun. Ia menyesal berada di tempat ini, dan harus berjumpa dengan orang-orang dari masa lalu yang telah ia lupakan.