
Hani dan Faiq baru selesai melaksanakan salat Subuh. Kebahagiaan tampak tergambar di wajah tampan Faiq.
Saat Hani mencium kedua tangannya, dengan cepat Faiq mengecup keningnya, “Terima kasih atas semua pengorbanan yang telah kamu lakukan...”
Hani menatap lekat wajah suaminya, “Semua sudah jadi kewajibanku. Walaupun sebagai istri aku belum sempurna. Aku mohon mas dapat memaklumi semua kekuranganku…”
“Sayang, maslah yang belum bisa menjadi suami sempurna untukmu. Kita akan selalu bersama membesarkan anak-anak kita. Semoga Allah selalu membimbing dan meridhoi semua niat dan cita-cita kita.”
“Aamiin ya Rabbal aalamiin…..”
Senandung merdu si kembar mulai terdengar di telinga keduanya. Dengan cepat Hani membereskan mukena dan melipat sajadah keduanya.
Faiq segera mengambil putranya yang kini matanya telah terbuka lebar. Matanya berbinar saat tubuh mungilnya sudah berada dalam dekapan Faiq.
“Wah, mas dan mbak sudah pada bangun bobo ya…” Hani mengambil putrinya yang kini tersenyum memandang wajahnya.
“Putri cantik papa sudah bangun?” Faiq duduk di samping Hani yang menyus*kan putri imutnya.
“Ya papa…” Hani menjawab dengan suara imutnya.
“Mimik cucunya jangan diabisin ya, papa juga masih butuh nutrisi.” Goda Faiq.
“Ih, mas ini.” Hani cemberut mendengar perkataan absurd suaminya.
“Nggaklah sayang. Mas akan sabar menunggu dua tahun masa inisiasi untuk si kembar.” Ia menatap Hani dengan lekat.
Senyum Hani langsung terbit di bibir mungilnya mendengar ucapan Faiq. “Telima kacih papa…”
“Bunda dan bayinya sama-sama menggemaskan. Jadi pengen lagi…” Faiq jadi senang menggoda istrinya.
“Mas…” rajuk Hani kesal.
“Ya, sayang. Pengen lagi ya…” Faiq menaik-naikkan alisnya membuat Hani semakin kesal.
“Lihat tuh dek, papa kurang kerjaan.”
__ADS_1
Mata bening Hani yang membulat saat memandangnya membuat keusilan Faiq menjadi-jadi. Ia merasa senang membuat istrinya kesal.
“Benar, dek. Papa masih kurang ngerjain bunda.”
Dengan santainya Faiq menggelitik tubuh mungil putranya yang tertawa kesenangan. Ia tidak melihat wajah Hani yang sudah merah seperti kepiting rebus.
Ketukan di pintu kamar menghentikan percakapan tak bermutu di antara kedua. Sambil menggendong putra kecilnya Faiq membukakan pintu.
Tampak Marisa sudah datang membawakan segelas susu untuk menantu kesayangannya. Ia melihat wajah putranya yang tampak segar dengan rambut basah sambil bermain dengan putra kecilnya. Ia tersenyum tipis melihat rona kebahagiaan tergambar di wajah Faiq.
“Eh, cucu oma sudah bangun ya?” Marisa mencuri ciuman pada pipi chubby cucunya yang tertawa lebar karena digoda Faiq.
Marisa mengulurkan tangannya meraih bayi imut yang berada dalam gendongan Faiq. Si bayi tampak kesenangan. Marisa segera mengajak ngobrol bayi montok itu walaupun sang bayi belum paham apa yang ia bicarakan.
“Aduh cucu oma yang tampan. Kalau besar nanti jangan seperti papamu ya…” Marisa mencibir melihat Faiq yang memandangnya dengan wajah berkerut.
“Emang papanya kenapa bu?” Hani memasang telinga mendengar perkataan mertuanya.
“Nggak usah sok jagoan jadi pahlawan kesiangan.” Marisa mencibir Faiq.
“Ra, biar ibu yang gendong putrimu. Kamu bisa berbenah. Acara aqiqahan akan dimulai sehabis Ashar.”
“Siapa saja yang ibu undang?” tanya Faiq sambil menghenyakkan tubuh di samping Hani yang masih menyusui putrinya.
“Keluarga kita saja, juga 3 buah pesantren yang ada di wilayah sini.” Marisa menjelaskan dengan gamblang. “Baju yang akan dipakai sebentar lagi datang. Semua sudah ibu atur.”
“Baik bu.” Jawab Hani pelan.
Dengan santai Faiq melangkah menuju meja makan yang sudah terisi penuh keluarga mereka yang masih berkumpul menikmati sarapan pagi.
“Wah, yang baru buka puasa seger amat pagi ini, Tong.” Celetukan usil Andi membuat Faiq tak bisa menyembunyikan senyumnya.
“Ya iyalah. Kapan lagi, mumpung ada kesempatan goyang terus…” Iwan turut menimpali ucapan Andi.
Faiq tak menggubris omongan keduanya. Dengan santai ia menikmati nasi goreng telur mata sapi yang sudah disiapkan bi Ningsih begitu ia duduk dengan santai di kursinya.
__ADS_1
“Gimana rasanya?” Iwan mengganggunya lagi.
Faiq tersenyum jahil, “Ya enaklah. Sudah 4 bulan aku puasa. Paling tidak udah nyicil nggak pake dp seperti kamu dan Siska dulu.”
“Skak mat…” Andi langsung tertawa mendengar pembalasan Faiq pada sepupunya.
Jawaban Faiq mengingatkan mereka saat kasus Siska melahirkan Kevin. Iwan sangat tersiksa karena semenjak awal kehamilan, Siska memiliki riwayat lemah kandungan membuat ia harus bedrest selama 9 bulan, ditambah melahirkan dengan cara sesar makin beratlah penderitaan Iwan. Semenjak itulah begitu melahirkan Kevin, hingga kini berusia hampir 6 tahun keduanya belum ada keinginan untuk menambah anak.
“Dasar sepupu durjana.” Ujar Iwan pelan.
Mendengar ucapan Iwan membuat semua yang berada di meja makan tertawa geli. Iwan melirik Siska yang cemberut mendengar candaan receh mereka.
Ia segera menyudahi sarapannya melihat saudaranya juga istrinya yang mulai bangkit meninggalkan meja makan menyisakan Faiq yang tinggal sendirian di sana. Dengan santai Faiq menghabiskan sarapannya.
Faiq menggendong putra kecilnya yang kelihatan anteng dalam dekapannya. Mata bening putranya memandang Faiq sambil tersenyum dengan lesung pipinya yang tergambar jelas.
“Dia sangat tampan seperti papanya.” Siska merasa gemas melihat bayi gembul Faiq.
“Kita bikin satu lagi, yang…” Iwan menatap istrinya penuh harap.
“Nggak mau. Aku tuh kalo hamil kesiksa banget…” Siska mengeluh lirih ingat pengalamannya saat hamil Kevin.
Astri tersenyum, “Kalo aku sih pengen nambah, tapi semenjak hamil Putri yang bermasalah dokter udah langsung mensterilkan rahimku. Tapi syukur alhamdulillah kita sudah memiliki momongan.”
“Benar, mbak. Masih banyak di luaran sana orang menginginkan mempunyai keturunan tapi belum di-kasi aja sama Yang Kuasa.” Siska menjawab dengan antusias.
“Nggak nyangka ya, mas Faiq emang joss tenan. Begitu menikah istrinya hamil, e.. dikasi bonus langsung dua.” Astri mengacungkan dua jempol pada Faiq yang asyik berbicara dengan bayi kecilnya.
Tepat jam tiga sore, semua tamu mulai berdatangan di rumah megah Darmawan. Di pimpin seorang ustadz yang cukup terkenal di kompleks perumahan mereka, acara aqiqahan langsung dimulai.
Acara pembukaan dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dibawakan oleh seorang qari dari ponpes yang direkomendasikan Andi sangat menyentuh kalbu. Kemudian Faiq diminta untuk memberikan sambutan sekaligus menyampaikan maksud dan tujuan acara. Tak lupa ia mengucapkan terima kasih atas kehadiran para undangan untuk mendo’akan bayi kembarnya.
Tak lama kemudian acara dilanjutkan dengan pencukuran rambut si kembar dan diikuti pengesahan nama bagi keduanya.
Faiq dan Hani yang menggunakan baju couple serba putih tampak serasi dengan putra-putrinya yang duduk tidak jauh dari mereka bersama Darmawan dan Marisa. Kini mereka duduk melingkar untuk menentukan nama bagi si kembar.
__ADS_1
Darmawan merasa lega, nama yang ia siapkan untuk cucu laki-lakinya akhirnya disetujui. Sedangkan untuk nama bayi perempuan Faiq sendiri yang memberikan. Akhirnya putra laki-laki Faiq mendapat nama Fauzan Al Fatih yang berarti awal dari kemenangan. Untuk si mungil imut diberikan nama Khaira Althafunnisa yang berarti gadis yang lembut dan penuh kebaikan.