Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 222 S2 (Jangan Pernah Menyangsikanku)


__ADS_3

Ivan berjalan pelan menuju tempat tidur.  Ia  duduk di pinggir sambil memandang wajah Khaira yang masih tampak sembab. Ia merasa sedih melihat keadaan istrinya.  Keputusannya pergi ke Singapura dan menyembunyikan keadaan putranya telah membuat masalah hingga menjadi asbab kepergian oma. Walau semuanya dikembalikan kepada takdir, tapi tetap saja sebagai makhluk lemah tidak bisa menerima dengan ikhlas.


Ivan membelai rambut istrinya perlahan. Ia tidak akan mampu untuk berpisah dengan Khaira. Ia sangat mencintainya. Terlepas ada Bryan diantara mereka ia akan berusaha memberikan pengertian kepada ipar-iparnya yang lain bahwa Bryan dan Khaira adalah dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya dan akan ia perjuangkan agar selalu berada di sisinya. Ia tidak peduli harta benda yang ia miliki, karena keduanya adalah yang paling penting dalam hidupnya.


Perlahan Ivan naik ke tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di samping Khaira. Matanya belum bisa terpejam, apalagi beberapa jam yang lalu ia sempat terlelap di sofa ruang keluarga hingga Ariq datang membangunkannya.


Ia menghela nafas berat. Begitu banyak  permasalahan yang ia lalui hari ini. Ia yakin ipar-iparnya masih menyalahkan dirinya akan kepergian oma. Ivan pun mengingat perkataan Khaira bahwa ia siap menerima apa pun keputusannya, dan memintanya mengobati Bryan sampai sembuh.


Ivan menggelengkan kepala tidak ingin berasumsi sendiri atas perkataan Khaira. Hanya istrinya yang mampu menguatkan disaat ia terpuruk. Untuk dua orang paling berharga dalam hidupnya, ia akan mengenyampingkan hal lain.


Ivan memiringkan tubuhnya menghadap Khaira. Ia dapat melihat wajah istrinya semakin tirus beberapa hari belakangan ini. Ia mulai mengutuk diri sendiri, karena dari awal keberangkatannya tidak melibatkan Khaira.


Perlahan  ia membelai rambut  Khaira. Ivan terkejut menyadari istrinya  memotong rambut  hitam ikalnya tinggal sebatas bahu. Ia memegang ujung rambut Khaira. Ia tidak tau sejak kapan istrinya memotong rambut.


Jemarinya mengusap mata Khaira yang merah dan bengkak. Seharian tadi ia dapat melihat kesedihan yang tak bisa hilang dari wajah sang istri. Apa lagi ia tau, oma Marisa-lah yang selama ini mendampingi Khaira semenjak ditinggal kedua orangtuanya.


Bagaimana mungkin ia membuat masalah baru disaat istrinya sedang berduka seperti ini, belum lagi ipar-iparnya yang selalu melindungi Khaira jika ada masalah yang terjadi dalam rumah tangga mereka. Keluarga istrinya selalu melibatkan diri dalam sekecil apa pun masalah yang mereka hadapi.


Azan Subuh bergema. Ivan tak bisa lagi memicingkan mata. Perlahan ia bangkit dari tempat tidur. Membersihkan diri sejenak sekalian mengambil wudu di kamar mandi. Ia segera mengenakan sarung dan baju koko yang sudah diantar Roni tadi malam.


Saat turun ke bawah ia melihat ipar-iparnya sudah bersiap ke masjid bersama paman Hanif.  Walau pun wajah Ali dan Fatih memandangnya dengan raut tak bersahabat, Ivan tak peduli.


“Selamat pagi paman .... “ ia menyapa paman Hanif yang tersenyum ramah padanya.


Paman Hanif menganggukkan kepala kemudian melangkah berlalu yang diikuti ketiga ponakannya. Ivan berjalan beriringan dengan Valdo di belakang keempatnya.


Hingga perjalanan pulang dari masjid kompleks tidak banyak percakapan yang terjadi di antara mereka. Hanya Ivan dan Valdo yang berbicara tentang pekerjaan mereka masing-masing. Tidak ada yang membahas masalah Bryan, karena itu bisa memicu kemarahan saudara Khaira yang lain.


Saat tiba di rumah, paman Hanif mengajak Ivan dan ponakannya untuk duduk bersama membahas masalah Ivan dan putranya. Valdo ikut duduk bersama mereka di beranda rumah. Ia ingin mendengar setiap percakapan yang terjadi antara Ivan dan ipar-iparnya.


“Paman tidak ingin terjadi perpecahan dalam keluarga ini. Orang tua kalian orang baik. Mereka menjaga kalian dengan penuh kasih sayang .... “ paman Hanif menghela nafas perlahan. Ia  menatap Ivan dengan pandangan penuh makna, “Seperti pesan oma kalian, jika kamu mulai merasa tidak senang dengan pasanganmu, dan tidak bisa lagi menghargai segala kekurangan pada pasangan kalian, kembalikan dia pada keluarganya secara baik-baik...”


“Masalahku dengan Rara tidak serumit itu paman,” Ivan menyela dengan cepat perkataan paman Hanif, “Kami tidak akan berpisah. Tapi aku akan membawa putraku bersama kami.”


“Kamu .... “


“Biarkan Ivan menyelesaikan perkataannya,” paman Hanif memotong Ali yang langsung bereaksi mendengar perkataan Ivan.


“Aku mencintai Rara, tetapi aku tak bisa melepaskan kewajibanku pada putraku Bryan,” Ivan berkata dengan muram mengingat kondisi putranya, “Apa lagi dia dalam kondisi tidak sehat. Bantulah kami berdua melewati semua ini. Dan mohon dukung saya untuk membantu kesembuhan Bryan.”


Semua terdiam mendengar perkataan Ivan. Mereka masih memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi. Mana mungkin mereka membiarkan Ivan dan Khaira melalui semuanya berdua.


“Kamu harus bisa menjamin bahwa ibu Bryan tidak akan menganggu keutuhan rumah tanggamu,” ujar Ariq cepat.


“Kenapa kalian menuduh Claudia serendah itu?” Ivan tidak terima Claudia dituduh saudara Khaira.

__ADS_1


“Van .... “ paman Hanif menyela pembicaraan mereka, “Kita tidak pernah tau dan membaca apa yang ada di pikiran orang, seperti kamu yang tidak bisa mengetahui apa yang tersembunyi di hati ibunya Bryan.”


“Aku mengenalnya dengan baik. Ia perempuan berpendidikan. Tidak akan terjadi apa pun dalam rumah tangga kami.”


Hanif menatap Ivan dengan serius,  “Setiap melihat  Rara, paman melihat sosok almarhumah bunda kalian. Kehidupan Rara mengalami ujian yang cukup berat. Paman hanya mendoakan semoga ia tetap kuat menjalani semuanya.”


“Apa maksud paman?” Ivan tak mengerti dengan perkataan paman Hanif.


“Semoga kamu bisa memberikan kebahagiaan dalam kehidupannya,” mata paman Hanif mulai berkabut mengingat perjuangannya mendampingi almarhumah Hani semasa hidup. “Sekali kamu membuat luka di hatinya, akan sulit baginya untuk menerimamu kembali. Itulah yang paman lihat kesamaan almarhumah bunda kalian dan Rara.”


“Aku akan selalu menjaga keutuhan rumah tangga kami,” pungkas Ivan yakin.


“Kami akan memegang kata-katamu,” Ali membalas perkataan Ivan dengan tajam.


Hanif kembali menghela nafas dan menghembuskannya secara perlahan. Ia menatap ponakan-ponakannya, Valdo dan Ivan bergantian.


“Kalian sudah sama-sama dewasa dan berkeluarga. Paman percaya pada kalian, semoga keluarga kita semua selalu dalam lindungan Allah dan bisa melewati setiap ujian dalam rumah tangga masing-masing.”


Percakapan itu berakhir ketika Hasya muncul untuk mengajak mereka sarapan pagi bersama. Mereka tau, bahwa paman Hanif tidak bisa berlama-lama menginap bersama mereka di rumah peninggalan oma.


Sesampai di ruang makan, Ivan tidak melihat keberadaan Khaira.  Ia menghampiri Hasya yang mempersiapkan baki berisi sarapan dan segelas jus serta beberapa brownies.


“Mbak, biarkan aku membawanya. Ini buat Rara  kan?” Ivan langsung menebaknya.


Hasya mengangguk cepat, “Ya, aku baru dari atas. Ia masih kelihatan lelah, seharian kemaren tidak ada makan.”


Setelah Ivan berlalu dari hadapan mereka, paman Hanif kembali mengingatkan Ariq dan saudaranya yang lain.


“Cobalah beri kepercayaan pada Ivan untuk mengurus semuanya. Kalian tidak boleh berprasangka negatif, harus selalu husnudzon. Insya Allah semuanya akan baik-baik saja. Biarkan mereka menyelesaikan permasalahan dalam rumah tangga mereka. Ivan tau apa yang akan ia lakukan, kalian cukup melihatnya saja.” Hanif mengakhiri nasehat untuk ponakannya.


Sesampainya di dalam kamar Ivan tak melihat keberadaan Khaira di tempat tidur. Ia berjalan menuju kamar mandi  membuka pintu,  tidak terlihat sosok istrinya hanya tertinggal aroma wangi sabun dan shampo.


Ivan mengerutkan keningnya karena tidak menemukan Khaira di kamar mandi. Ia melihat pintu yang menuju rooftop terbuka lebar dengan hembusan angin yang kuat menerobos masuk ke kamar mereka. Senyum terbit di wajah Ivan. Kini ia yakin keberadaan istrinya.


Dengan membawa baki berisi sarapan Ivan berjalan  ke luar. Ia melihat Khaira yang berdiri menyandarkan tubuhnya di pagar pembatas dengan memejamkan mata.  Ivan segera meletakkan baki di atas meja yang berada di rooftop yang lumayan luas.


Pemandangan dari atas kamar istrinya sangat menyegarkan. Ia menatap ke bawah, ponakan-ponakan mereka sedang bermain bersama pengasuh di taman samping rumah yang dipenuhi bunga-bunga kesayangan almarhumah oma yang tampak berkembang dengan indah.


Ivan menatap istrinya yang tidak memakai penutup kepala. Rambutnya masih tergerai basah. Dengan baju rumahan dan rambut barunya, tampak perubahan Khaira seperti anak kuliahan. Ivan tersenyum melihat perubahan penampilan baru istrinya yang baru ia sadari sekarang.


“Sayang .... “ Ivan memeluk Khaira dari belakang dan menghirup aroma wewangian yang menguar dari rambut istrinya.


Khaira terkejut menyadari bahwa Ivan sudah berdiri di belakangnya. Ia masih enggan bertemu apalagi berbicara dengan suaminya. Hatinya masih terasa sakit atas kebohongan yang dilakukan Ivan.


“Jangan seperti ini .... “ Ivan mengeratkan pelukannya di pinggang Khaira, “Bicaralah ....”

__ADS_1


Khaira menghela nafas pelan. Ia melepaskan kedua tangan Ivan yang memeluk pinggangnya kemudian membalikkan tubuh sehingga keduanya berhadapan dengan jarak dekat.


“Aku sudah mengatakan semuanya. Apa pun menurut mas baik lakukanlah .... “ suara Khaira bergetar berusaha menahan tumpahan air mata.


Ivan hendak meraih wajah Khaira dengan tangan kanannya. Dengan cepat Khaira mundur dan berjalan menuju kursi santai yang ada di beranda rooftop tersebut.  Ia menghenyakkan tubuhnya di kursi dengan pandangan menerawang jauh.


Ivan terpaku melihat penolakan istrinya yang kini menghindar dan memilih duduk di kursi tanpa memandang wajahnya.


Perlahan  Ivan berjalan menghampiri Khaira dan berdiri dengan kedua lutut menopang tubuhnya. Kedua tangannya langsung menggenggam jemari Khaira yang berada dalam pangkuan istrinya.


“Percayalah padaku .... “ Ivan menatap wajah Khaira yang kini memandangnya dengan sendu, “Semua ini diluar kendaliku. Aku tidak pernah menduga bahwa hubungan yang terjadi antara aku dan Claudia menghadirkan Bryan di dunia ini.”


Khaira berusaha menarik kedua tangannya, tapi genggaman Ivan terlalu kuat. Ia pasrah dengan apa pun yang akan dikatakan Ivan.


“Aku minta maaf karena tidak jujur dari awal,” suara Ivan terdengar tak bersemangat, “Aku baru mengetahui kalau Bryan adalah putraku dua minggu yang lalu.”


Khaira tetap tak bergeming. Ia tau, mereka berdua memang harus membicarakan ini dengan kepala dingin. Ia berusaha mempersiapkan diri jika kemungkinan terburuk akan terjadi dalam rumah tangganya.


“Bryan divonis mengidap penyakit kanker yang mematikan .... “ suara Ivan seperti tercekat di tenggorokan, “Bagaimana mungkin aku membiarkan ia melewati semua ini sendirian ....”


Khaira terhenyak. Ia menatap wajah Ivan yang kini tak bersemangat. Perasaannya tersentuh mendengar  ucapan Ivan. Ia dapat melihat kesedihan yang terpancar di wajah suaminya. Rasa sakit yang awalnya begitu menyesak di dadanya langsung menguap melihat wajah  Ivan yang tampak muram.


Jemarinya mulai membelai kepala Ivan yang masih berlutut di hadapannya. Ia tidak pernah melihat raut suaminya sesedih sekarang. Bagaimana mungkin ia membiarkan Ivan melalui kesedihan seorang diri.


“Berikan kesembuhan untuk Bryan. Carilah dokter yang bisa membantunya untuk sembuh,” suara lembut Khaira membuat Ivan mendongakkan wajah menatap mata bening istrinya.


“Aku tidak bisa melalui semuanya sendirian,” Ivan menatap Khaira lekat, “Aku mohon dukunganmu.”


“Aku percaya mas dan Claudia bisa melewati semua ini untuk kesembuhan Bryan,” Khaira berkata dengan getir.


Ivan menggelengkan kepala dengan cepat, “Aku tidak membutuhkan Claudia. Aku hanya ingin kau yang selalu ada di sampingku. Kita akan bersama merawat Bryan hingga sembuh.”


Khaira menatap wajah suaminya berusaha mencari sesuatu. Tatapan itu tetap sama, cinta dan perasaan sayang yang tulus masih tergambar jelas.


“Jangan pernah menyangsikan perasaanku. Semuanya masih tetap sama,” Ivan menangkup wajah Khaira dengan kedua tangannya, “Mulai saat ini kita berdua akan menjadi  orangtua Bryan.”


“Bagaimana dengan ....?”


Ivan langsung meletakkan jarinya di bibir Khaira, “Jangan pernah memikirkan orang lain, hanya ada kita berdua.”


Khaira terdiam. Ia berharap apa yang dikatakan Ivan benar. Dan semuanya akan baik-baik saja. Ia harus mempercayai perkataan Ivan.


“Jangan pernah menyangsikan aku,” Ivan berkata dengan lembut, “Kita akan melalui semua ini bersama.”


 

__ADS_1


***Happy weekend readerku tersayang. Semoga tetap setia dengan perjalanan Ivan dan Rara ya ... Jangan lupa kritik\, saran dan like serta vote di hari Senin ya\, Salam untuk semua ....***


__ADS_2