
Selesai melaksanakan umroh, Ariq melanjutkan perjalanan membawa keluarga besarnya menuju Turki. Dari Jeddah, pesawat menerbangkan mereka menuju bandara Istanbul Ataturk Airport Turki menggunakan pesawat Turkis*Airlines selama kurang lebih 6 jam. Dari bandara Istanbul dilanjutkan ke Nevsehir Airport dengan waktu yang digunakan selama I jam 30 menit.
Turki merupakan sebuah negara yang terletak di kawasan Eurasia, perbatasan antara Eropa dan Asia. Negara yang beribu kotakan Ankara ini terkenal dengan panoramanya yang indah bak negeri dongeng. Oleh karenanya gak heran lagi kenapa Turki ini sering jadi destinasi utama para pelancong dari berbagai wilayah di dunia.
Turki memiliki salah satu kota yang menyimpan begitu banyak cerita dan sejarah. Cappadocia misalnya. Sebuah kota kecil yang terletak di Anatolia timur ini berisikan pemandangan yang berciri khas dari bebatuan. Keunikan wilayah ini pun menjadi daya tarik sendiri bagi orang-orang yang berkunjung.
Setelah memakan waktu hampir 8 jam, akhirnya Ariq dan keluarga besar tiba di kota Cappadocia yang terletak di distrik kuno timur Anatolia, tepatnya di dataran tinggi utara Pegunungan Taurus, Turki. Kawasan ini juga berada di sekitar hulu dan tengah Sungai Kizilirmak (Sungai Merah).
Untuk memudahkan keluarga dan saudaranya Ariq membawa semua menginap di Cave Hotel Cappadocia. Ia telah memesan tiga kamar terbaik yang telah direservasi sebelum kedatangan mereka.
Berdasarkan hasil pembicaraan dengan Ali dan istrinya, Ariq sengaja memilih menginap di Cave Hotel karena nuansa Romawi Kuno yang begitu kental disajikan hotel tersebut membuat para pengunjung merasakan seperti berada di zaman Kekaisaran Romawi. Selain itu keunggulan dari menginap di Cave Hotel yaitu salah satu pemandangan paling favorit yang dapat dilihat melalui jendela adalah indahnya beragam balon udara warna-warni yang menghiasi wilayah Cappadocia.
Karena kelelahan dalam perjalanan, masing-masing langsung beristirahat di dalam kamar penginapan. Ali memesan layanan kamar untuk makan siang mereka yang sudah terlewat. Mereka berjanji untuk makan malam bersama setelah salat Magrib. Semuanya sudah setuju bahwa jadwal mereka mengunjungi destinasi tempat wisata akan dilakukan keesokan hari.
Ivan tersenyum melihat tiga orang kesayangannya sudah terlelap karena kelelahan melakukan perjalanan lebih kurang 8 jam. Untung saja selama di bandara mereka telah sarapan dan berbekal snack sebagai pengganjal perut, mengingat perjalanan panjang yang mereka lakukan.
Setelah membersihkan diri dan menunaikan kewajiban sebagai seorang Muslim, Ivan langsung bergabung di tempat tidur. Ia mencium kedua buah hatinya dengan penuh kasih sayang. Ia bersyukur, selama melakukan perjalanan kedua bocah tidak rewel dan sangat menikmati setiap tempat yang mereka singgahi.
Tentu saja Ivan memanjakan keduanya dengan membelikan berbagai mainan pada saat di bandara tempat mereka menunggu keberangkatan. Fajar dan Embun sangat bersemangat dan senang karena apa pun yang mereka tunjuk, dengan senang hati sang ayah menuruti keinginan keduanya.
Ia tidak peduli tas travel mereka yang awalnya hanya berjumlah dua sekarang beranak menjadi lima. Yang penting keinginannya untuk membahagiakan dan memanjakan si kembar terealisasi walau dengan pelototan dan penolakan dari mata bening sang istri. Padahal ia pun menawarkan pada Khaira jika ingin membeli cindera mata di bandara yang mereka singgahi.
Tepat pukul 4 sore waktu setempat Khaira terbangun. Ia merasa kegerahan karena seharian belum berganti pakaian. Ia memandang ke tempat tidur, senyumnya terbit melihat Ivan yang tidur di pinggir sambil memeluk Fajar yang kakinya sudah naik ke leher sang ayah. Sedangkan Embun sudah berguling dengan posisi memeluk lengan ayahnya. Ketiganya tertidur dengan tenang dan damai.
Khaira bangkit dari pembaringan untuk membersihkan diri dan melaksanakan salat Asar karena hari sudah beranjak sore. Ia segera memasuki kamar mandi dengan membawa pakaian ganti yang akan ia kenakan nantinya.
Khaira menyudahi salatnya begitu mendengar suara Fajar dan Embun yang mulai terbangun dari istirahat mereka.
“Ayah, haus …. Mimi syusu ….” suara serak Embun membuat Ivan langsung terbangun.
“Mas mimi juga Ayah …. “ Fajar duduk di hadapan sang ayah yang baru saja membuka mata.
Ivan tersenyum dan bangkit dari tidurnya. Ia memandang sekelilingnya, sudah tidak ada Khaira bersama mereka. Dengan cepat ia beranjak menuju tas travel yang masih tersusun rapi di depan lemari kamar penginapan mereka.
“Mas …. “ Khaira yang masih memakai mukenah mendekatinya, “Si kembar sudah bangun?”
“Benar Bunda. Keduanya kehausan,” jawab Ivan lembut.
Khaira segera mengambil satu tas khusus yang berisi semua perlengkapan botol dan sufor bagi si kembar. Ia mengeluarkan semua yang ada dan menyusunnya di pantry yang terdapat di dalam kamar inap mereka.
Ivan hanya bersandar di meja pantry melihat aktivitas sang istri yang dengan cekatan mempersiapkan susu untuk kedua buah hatinya.
__ADS_1
“Mas sudah Asar?” Khaira melirik suaminya yang masih berdiri tak bergeming memandang semua perbuatannya.
“Sudah,” Ivan berkata sambil tersenyum padanya.
Khaira pun tersenyum dikul*m membalas suaminya. Rasanya memang aneh memandang Ivan yang kini plontos. Jenggot dan kumisnya pun sudah dicukur membuat penampilannya lebih fresh.
“Kenapa Bunda senyum-senyum mencurigakan seperti itu?” Ivan menatap istrinya lekat, ia yakin penampilannyalah yang membuat senyum sang istri tak lekang dari bibirnya.
“Bunda biasa saja,” Khaira berjalan meninggalkan suaminya sambil membawa botol yang sudah berisi sufor buat si kembar.
Ivan penasaran dengan tingkah sang istri. Saat Khaira melewatinya dengan cepat ia meraih pinggang ramping itu dan memeluknya dengan erat.
“Eh!” Khaira terkejut dengan tindakan cepat suaminya.
“Ayah penasaran apa yang Bunda pikirkan …. “ Ivan melepaskan rangkulannya dan menatap mata bening istrinya dengan lekat.
Pandangan keduanya saling mengunci. Ivan memandang Khaira dengan penuh kasih dan perasaan cinta yang semakin besar dari hari ke hari.
“Gak ada,” Khaira berkata dengan enteng.
“Ayah gak yakin …. ” Ivan mendekatkan wajahnya pada Khaira melihat senyum terulas di bibir yang selalu menjadi candunya.
“Ayah …. “ suara Embun menghentikan Ivan yang sudah ingin menjatuhkan bibirnya pada telaga madu yang membuatnya selalu merindu.
“Eh, Ade sama Mas udah pada haus ya, pingin miminya sekarang?” Khaira langsung berjongkok di hadapan keduanya.
Ia segera mengulurkan botol sufor pada Fajar dan Embun, sambil mencium pipi keduanya bergantian.
“Ayah gak disayang juga Bunda?” celetukan Ivan yang berjongkok di sampingnya membuat Khaira mencubitnya dengan gemes, “Aduh …. “
Ivan pura-pura mengaduh kesakitan atas perbuatan istrinya. Ia menggosok-gosok bekas cubitan Khaira dengan mimik muka lucu membuat Khaira kembali mencubitnya.
“Ih, Bunda gak sayang ayah …. “ Embun langsung memeluk dan mencium kedua pipi Ivan dengan penuh kasih sayang. Matanya menatap bundanya dengan kesal.
“Ha ha ha …. “ Ivan tertawa seketika melihat tingkah putrinya yang begitu menggemaskan.
Khaira segera mendekati Ivan yang sedang dipeluk erat Embun. Ia tersenyum sambil memandang wajah suaminya.
“Lihat ni, Bunda juga sayang sama ayah …. “ Khaira mendekatkan wajahnya pada Ivan membuat Fajar dan Embun menatapnya bersamaan.
Ivan merasa di atas angin. Saat bibir Khaira semakin dekat ke pipinya ia langsung memiringkan wajah dan meluma*tnya dengan rakus. Ia sudah sangat merindukan telaga madu yang begitu menggoda untuk ia selami.
__ADS_1
“Ehmp … masss …. “ Khaira menepuk dada Ivan dengan kencang karena kesulitan bernafas atas perbuatan Ivan yang mencium bibirnya dengan penuh gaira*.
Ciuman Ivan terlepas setelah beberapa saat ia melakukannya dengan penuh semangat. Kalau saja Khaira tidak memukulnya, rasanya tak rela ia melepaskan tautan kedua bibir.
“Ayah tenapa gigit bunda?” Fajar memandang keduanya bergantian.
“Ups!” Ivan terdiam mendengar pertanyaan polos putranya.
Tangannya garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Ia menatap penuh harap pada Khaira agar membantunya memberikan jawaban pada putranya.
“Ayah nakal gigit bunda,” Embun berkata dengan mimik wajah yang lucu menatap ayahnya dengan bibir manyun dan berpindah memeluk dan mencium pipi bundanya dengan penuh kasih.
“Sayang Bunda …. “ Khaira memeluk Fajar dan Embun yang merapat padanya dan memandang sang ayah dengan sorot penuh permusuhan.
“Maafin Ayah ya …. “ Ivan merapat pada ketiganya dan memandang Embun dan Fajar bergantian, “Ayah sayang bunda kok.”
Ia langsung meraih ketiganya ke dalam pelukan, dengan tatapan mata yang lekat memandang Khaira penuh harap. Khaira sangat paham arti tatapan sang suami. Ia hanya tersenyum tipis.
Habis Magrib mereka berkumpul di Cave and Resto untuk makan malam bersama. Keakraban penuh kekeluargaan terjadi membuat suasana terasa begitu hangat. Selalu saja Embun dan Fajar yang menjadi pusat perhatian semua dengan celotehan dan gaya imut mereka.
Ivan merasakan kebahagiaan atas kebersamaan yang terjadi dengan keluarga besar istrinya. Walaupun ia pernah membuat luka, tetapi sikap para iparnya kembali seperti dulu. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu menjaga kepercayaan keluarga besar istrinya dan terus mencurahkan kasih sayang pada istri dan si kembar kesayangannya.
Begitu selesai menikmati makan malam bersama dan membahas rencana kunjungan ke tempat wisata esok hari, masing-masing kembali ke kamar inap berhubung hari sudah semakin larut.
Khaira menyelesaikan salat Isya dengan cepat, karena harus bergantian bersama Ivan yang menemani si kembar bermain. Karena tidur siang yang banyak membuat si kembar tidak ada rasa lelah dan masih asyik dengan mainannya yang memenuhi tempat tidur.
Khaira melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 10 malam waktu setempat. Ia memandang si kembar yang masih asyik dengan mainannya masing-masing. Sudah beberapa kali ia menguap menahan kantuk yang sudah tidak tertahankan.
Ia mengelus punggung Fajar yang sibuk membongkar mainan mobil yang bisa dijadikan sebuah robot. Ivan dengan antusias menemani Fajar untuk menyatukan mobil-mobil yang ada menjadi robot sesuai keinginan putranya. Sedangkan Embun berceloteh sendiri dengan peralatan kedokterannya untuk memeriksa boneka bayi yang sedang sakit.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Ivan memandang Khaira yang sudah terlelap di pinggir tempat tidur. Fajar pun tampak hangat dalam dekapan sang bunda.
“Sayang, Bobo dulu ya. Bunda dan mas udah bobo tuhhh …. “ Ivan berbicara lembut pada putrinya.
“Dedenya tatit Ayah, Bu doktel macih pikcaa …. “ Embun masih memegang mainan stetoskopnya dan meletakkan pada perut boneka bayi di hadapannya.
“Ayah gendong aja ya, biar ade dan bayinya bobo …. “ Ivan berusaha membujuk Embun untuk segera tidur.
“Tunggu dedenya cembuh …. “ Embun masih menolak keinginan sang ayah.
Tampaknya rencana untuk bermesraan dengan sang bidadari belum terealisasi saat ini, karena sang putri masih terjaga dengan mainan di tangannya. Ia tinggal menahan perasaan dan menghela nafas dengan berat.
__ADS_1
***Pas Kebetulan Puasa\, he he he. Tar batal puasa karena membayangkan yang ***-***. Moga ntar malem bisa up lagi ya .... ***